
"Empp...."
"Hmm."
"Om.... Emh."
Berkali-kali Safa menepuk bahu Edzar untuk berhenti, dia sudah hampir kehabisan nafas karena Edzar menggempurnya habis-habisan.
"Haak.... hah.... Hah.... Hah..." Nafas Safa tersengal ketika akhirnya Edzar melepas pagutan di bibirnya. Diakhiri dengan tarikan kecil yang menimbulkan bunyi kecapan erotis yang membuat Safa merinding.
Apa Edzar aslinya memang seagresif ini? Mendadak Safa meremang memikirkannya. Kemana pria kaku yang bisu seperti batu? Yang bicara hanya saat ada perlu.
"Ini hukuman karena kamu mengabaikan saya."
Cup.
"Emh...."
"Ini hukuman karena kamu tertawa dengan pria lain."
Cup.
"Om...!" seru Safa kesal.
"Ini hukuman karena kamu membuat saya cemburu."
Mata mereka saling beradu. Saat ini Safa tengah berada di mobil Edzar, hendak pulang setelah sebelumnya dia menyusul pria itu ke tempat kerja, bahkan menontonnya sidang di Pengadilan.
Setelah kedatangan Bima tempo hari ke rumahnya, Edzar benar-benar ngambek mendiamkannya. Sekalinya berujar nadanya terdengar ketus. Jadi dengan segenap usaha Safa coba membujuk Edzar, meski pria itu baru meresponnya sekarang, setelah Safa hampir menangis dan balik mendiamkan Edzar.
Memangnya siapa yang tidak lelah membujuk orang marah? Apalagi yang marahnya persis anak kecil seperti Edzar. Umur boleh tua, tapi sifatnya mirip bayi yang cemburuan.
Masih mending Bima yang dicemburuin. Kemarin Safa dibuat pusing karena Edzar terus merongrongnya saat menonton Drakor.
Bukan mengganggu dengan cara berisik, tapi pria itu terus mondar-mandir dan berbuat apa saja untuk membuatnya kesal. Seperti mengacak-acak lemari skincare-nya dengan dalih melihat-lihat, bahkan Edzar sampai mencoba beberapa produk untuk dioles ke kulitnya.
Bukan masalah Safa pelit, tapi Edzar tak menutup kembali produk-produk itu dan meninggalkannya begitu saja di atas meja. Tidak tahukah Edzar skincare itu sudah seperti bayi bagi Safa?
Entah apakah dia harus menyesal karena baru mengetahui sifat Edzar yang seperti ini. Pria itu benar-benar menyebalkan. Baru kali ini Safa menemui orang seperti Edzar. Bahkan Kamila saja tak semengesalkan itu.
"Asal kamu tahu saya tidak suka berbagi, termasuk berbagi senyummu pada pria lain."
"Yang punya bibir, kan, Safa. Yang punya perasaan juga Safa. Senyum itu gerakan refleks dari hati."
"Jadi kamu punya perasaan pada Bima?" tanya Edzar sewot.
Safa menghela nafas mencoba untuk sabar. Mulai lagi, batinnya.
"Siapa yang bilang begitu?" tanya Safa malas.
"Tadi kamu bilang senyum itu gerakan dari hati. Berarti kamu punya hati sama Bima," tuding Edzar seenaknya.
"Gak gitu juga hipotesanya....." ujar Safa greget. "Tau, ah. Capek ngomong sama Om. Mending aku pulang sendiri aja. Nyesel aku nyusul ke sini," ketusnya kemudian.
"Kok, jadi kamu yang marah?" heran Edzar.
"Emang situ aja yang bisa marah? Safa juga bisa kali."
__ADS_1
"Kamu panggil saya apa barusan?"
"Kenapa, gak terima?"
"Ai, kamu udah gak sopan, lho."
"Emang Safa pikirin gitu?"
"Ai," tegur Edzar. Dia tidak suka dengan kata 'situ' yang keluar dari mulut Safa.
Melihat Safa yang tak mau menyerah, Edzar pun menghela nafas. "Oke, saya yang salah. Saya minta maaf."
"Ai...." Diraihnya tangan mungil itu dan menariknya ke pangkuan. Mengusapnya halus dengan mata menyorot pada Safa yang merengut menatap jendela.
"Sayang?"
Safa masih diam tak menggubris. Rupanya gadis itu benar-benar marah padanya.
"Saya minta maaf. Mungkin kamu menganggap saya terlalu berlebihan. Tapi saya tidak akan seperti ini seandainya orang yang kamu berikan tawa itu bukan Bima."
Safa menoleh dengan kening berkerut. "Memangnya ada apa dengan Bima?"
"Dia suka sama kamu."
"Apa?"
"Dari tatapannya saja sudah jelas dia tertarik sama kamu."
Hening.
Safa menatap Edzar dengan mulut sedikit terbuka. Matanya berkedip lamat merasa apa yang dikatakan Edzar itu hanyalah omong kosong. Kemudian dia mendenguskan tawa, "Bima itu playboy. Dia suka semua wanita."
"Kamu yang awalnya bukan tipe saya saja bisa membuat saya terpikat. Apalagi orang lain."
Edzar mengalihkan pandangannya ke depan, "Kamu terlalu menarik, jadi saya khawatir," gumam Edzar pelan.
Bukan tanpa alasan Edzar seperti ini. Dia benar-benar takut. Safa masih sangat muda, sedangkan dirinya tinggal menunggu beberapa tahun lagi sudah menginjak kepala empat. Dan saat itu tiba, Safa bahkan belum mencapai usia tiga puluh.
Edzar termenung dengan pikirannya sendiri. Tiba-tiba sapuan halus terasa di genggaman. Dia menunduk mendapati ibu jari Safa mengusap punggung tangannya. Kepalanya menoleh dan menemukan lengkung indah dari bibir terpoles lipstik yang sudah menjadi candunya.
Gadis itu tersenyum dengan sorot selembut cahaya rembulan. Edzar terpesona, jantungnya berdetak tak karuan, darahnya pun berdesir lebih cepat. Kapan terakhir kali dia merasakan perasaan seperti ini. Mungkin sudah sangat lama. Dan tidak ada yang memikatnya sehebat Safa.
Gadis ini bisa membuatnya jatuh hanya dalam waktu singkat. Singkat menurut Edzar, karena dulu dia bahkan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bisa menerima perasaan seseorang.
"Apa Om mengira aku akan berpaling?"
Edzar tak menjawab, namun diamnya membuat Safa mengerti. Gadis itu menarik tangan Edzar hingga tautan mereka kini berpindah ke pangkuannya.
"Jika itu yang Om khawatirkan, Om tenang saja. Asal Om tahu, Om itu cinta pertama aku, hehe."
Edzar mengernyit tak percaya, "Bohong."
"Ya... Om pasti gak percaya. Tapi aku gak pernah seserius ini dalam menyukai seseorang."
Keduanya terdiam saling menatap. Kelegaan menghampiri dada Edzar kala mendengar penjelasan Safa. Entah kenapa dia mudah sekali percaya, biasanya Edzar tak pernah mempercayai orang dengan mudah, bahkan dengan keluarganya pun dia tak cukup terbuka.
"Benarkah seperti itu?"
__ADS_1
"He'em," angguk Safa. "Aku akan terus ada di sisi Om. Kecuali kalau Om ngecewain aku, maka jangan tahan aku untuk pergi," tegas Safa.
Sontak Edzar mengeratkan tangannya dan menjawab lirih, "Tidak akan."
Saya tidak akan biarkan kamu pergi.
"Jadi sekarang gak usah cemburu cemburu lagi, ya?"
"Saya tidak janji."
Plak.
Edzar tersenyum menanggapi geplakan Safa di lengan atasnya. Tidak sakit. Rasanya malah seperti belaian.
Sejurus kemudian dia mendekat dan memberi kecupan di ujung bibir Safa. Gadis itu terkekeh geli merasakan bakal jenggot Edzar bergesekan dengan pipinya. Tangannya terangkat mengusap halus rahang kasar itu. Membuat Edzar tak mampu menahan geraman karena merasa gemas.
Tidak puas, Edzar pun bergeser ke tengah untuk merasakan gumpalan kenyal yang selalu menggodanya. Bentuk bibir Safa yang penuh kerap membuatnya ketagihan. Apalagi aroma mulutnya yang segar dan selalu wangi, rasanya Edzar ingin memakannya habis-habisan.
Safa melenguh saat Edzar menggigit pelan bibirnya. Menyesapnya hingga menariknya dengan lembut. Pria itu tersenyum kala hidung mereka beradu. Lalu mengisyaratkan Safa untuk memeletkan lidahnya yang langsung dilahap dengan rakus.
Nafas mereka terengah, namun keduanya tertawa entah karena apa. Edzar menyapukan jarinya mengusap tepian bibir Safa yang basah karena ulahnya. Mengecupnya singkat sebelum kemudian dia bertanya, "Kamu pakai merek lipstik apa?"
"Kenapa?" tanya balik Safa yang belum sepenuhnya sadar.
"Bagus. Gak luntur meski saya gempur."
Seketika itu juga wajah Safa memerah, rasanya dia ingin menenggelamkan diri di bak mandi guna mendinginkan kepalanya yang panas karena Edzar.
Tok tok tok.
Safa terlonjak mendengar sebuah ketukan di samping kanan Edzar. Serta-merta dia panik mendorong Edzar menjauh. Mengambil cermin yang selalu dibawanya ke mana-mana, meraup tisu di dashboard lalu mengusap bibirnya yang agak berantakan.
Sial, ini masih bengkak.
Dibanding itu, Edzar malah tertawa melihat kerusuhannya. Safa mendelik sebal. Bisa-bisanya pria itu masih santai saat kemungkinan mereka ketahuan mesum. Meski hanya ciuman tetap saja itu tak senonoh.
Edzar menurunkan kaca mobilnya dan munculah bapak-bapak berjubah hitam merah alias Hakim? Safa lupa mereka masih di pelataran Pengadilan Negeri, Edzar baru saja selesai sidang dan bahkan jubah jaksanya belum dilepas sama sekali.
"Pak Ardan?"
"Sudah sudah, tidak perlu keluar. Lagian saya hanya sebentar. Saya mau titip ini untuk Pak Kepala, tolong ya Pak Edzar."
"Ah, tentu."
"Anda sudah mau pulang? Maaf saya tidak sopan mengetuk. Karena tadi saya lihat Pak Edzar sudah masuk mobil, saya pikir sudah pulang, tapi mobilnya masih di sini. Makanya saya samperin."
"Iya, tidak apa-apa, Pak Ardan. Santai saja." Edzar melirik sekilas pada Safa. Gadisnya itu tampak memilin-milin jarinya dengan gugup.
"Itu...." Ternyata Pak Ardan juga melihat ke arah yang sama.
"Ah, ini calon istri saya," ucap Edzar lengkap dengan senyum tipisnya.
Spontan Safa menoleh kaget. Apa katanya? Calon istri?
"Begitu, ya. Ya sudah, Pak Edzar, itu saja. Maaf sudah merepotkan. Kalau gitu saya permisi. Anda juga hati-hatilah di jalan."
"Mari, Mbak." seru Pak Hakim seraya melempar senyum.
__ADS_1
Safa membalasnya dengan anggukan segan. Syukurlah, dia kira apa. Ternyata hanya mau nitip barang.
Tapi, kenapa Edzar menyebutnya calon istri?