
Dalam Bahasa Jepang, 'ai berarti cinta. Apa 'ai yang Edzar maksud sama dengan 'ai yang Safa pikirkan?
Safa menunduk, dia masih saja teringat kebersamaan mereka kemarin malam. Perlakuan Edzar yang lembut dan perhatian, Safa benar-benar tak bisa melupakannya.
Sebenarnya apa yang tengah Edzar lakukan. Jika dia terus bersikap seperti itu, Safa tak bisa menjamin hatinya akan kembali jatuh untuk kedua kali.
"Pumpkin? Kenapa kamu diam saja? Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Safa tersentak, "A-ah... Ti-tidak ada," sahutnya tergagap.
Baskoro menatap gadis itu dengan menyelidik, "Kamu yakin?"
"Tentu," ujar Safa mantap. Tak lupa dia melempar senyum pada pria setengah baya itu.
"Ayah, Bunda, Om, Safa permisi ke kamar sebentar."
"Kamu serius tidak apa-apa, Nak?" Kini giliran Tuan Halim yang bertanya.
"Ayah, Safa tidak apa-apa. Safa hanya butuh tidur siang. Ngantuk."
"Begitu? Ya sudah kamu istirahatlah. Akhir-akhir ini kamu nampak sibuk sekali menggantikan Ayah. Kalau ada sesuatu yang membuat tubuhmu tak nyaman, tolong beritahu segera," ujar Tuan Halim yang langsung diangguki Safa.
Rautnya terlihat sangat khawatir. Beberapa hari ini dia tak mendampingi Safa di kantor, dia juga sudah mendengar perihal kedatangan beberapa investor. Apa Safa baik-baik saja? Meski Pak Anjas bilang semuanya berjalan lancar dan para penanam modal itu memutuskan bertahan, tapi tidak ada yang tahu perasaan gadis itu yang sebenarnya.
Tuan Halim takut putrinya merasa tertekan. Akan lebih baik jika Safa berhenti dan diam di rumah seperti dulu. Untuk itu, saat ini mereka tengah membahas perihal Dava.
Baskoro mengatakan beberapa usulan terkait kasusnya. Pria itu sudah banyak membantu sejauh ini, tentu Tuan dan Nyonya Halim sangat berterima kasih.
Setidaknya mereka menemukan sedikit harapan akan puteranya.
Dibanding itu, Safa tak pernah menceritakan apapun tentang rencananya. Menurut Dava, akan lebih baik jika hanya sedikit orang yang tahu. Dan karena itu Safa memutuskan untuk menyimpannya seorang diri.
Safa memutar-mutar butiran kecil itu dengan jarinya. Pikirannya berkelana pada beberapa hal. Bisakah Safa menyelesaikan ini? Jika dia gagal menemukan sesuatu yang diminta Dava, apa abangnya itu akan mendekam selamanya di penjara?
Tidak, tapi mungkin beberapa tahun ke depan. Dan Safa akan terus dilanda rasa bersalah seumur hidup jika hal itu terjadi. Safa tidak bisa membiarkan ini lebih lama. Dia harus berusaha mencari petunjuk lagi.
Benar.
Safa mengangguk memikirkan itu. Mungkin besok dia akan mulai lagi pencariannya. Untuk sekarang biarkan Safa rehat sejenak. Hati dan pikirannya benar-benar lelah. Dan Safa butuh sesuatu yang menenangkan. Tangannya lantas membuka laci di lemari skincare, mencari-cari sesuatu namun tak menemukannya.
Sebentar, di mana Safa terakhir kali menyimpannya?
Safa terdiam mengingat-ingat. Sejurus kemudian matanya membola. Safa ingat dia meninggalkan obatnya di laci meja kerja di kantor.
__ADS_1
Astaga, apa yang harus dia lakukan. Jika tak segera mengambilnya bisa saja ada seseorang yang menemukannya. Tapi ini hari libur, siapa juga yang berkeliaran di kantor di weekend seperti ini. Lagipula mana mungkin ada yang memasuki ruangannya tanpa izin.
Tapi, Safa harus mengambilnya. Dia sangat butuh itu sekarang.
Safa gegas ganti baju bersiap untuk keluar. Biar dia pikirkan alasan apa yang cocok dikatakan pada ayah bundanya nanti. Safa dandan sekenanya saja, dia hanya menambah olesan bibir sisa pagi tadi. Ingat, walau diam di rumah Safa masih suka bersolek diri. Jadi tidak ada yang namanya penampilan kusut belum mandi.
Iyuhh, bukan Safa sekali.
Safa sudah siap dengan celana jeans panjang dan cardigan tipis yang melapisi tanktop-nya. Lantas dia mengambil tas seukuran dompet memasukkan ponsel dan uang secukupnya.
Sneaker putih sudah terpasang, lekas dia bangkit berniat segera keluar dan meminta izin. Namun suara ketukan di jendela membuat langkahnya urung. Dahi Safa mengkerut menatap beranda kamar. Siapa orang yang nekat menaiki anjungan.
Dengan hati-hati Safa buka jendelanya yang lantas dibuat terkejut oleh kemunculan wajah seseorang. Safa mengusap dada sejenak, jantungnya hampir copot karena ulah Edzar.
Ya, Edzar lah yang mengetuk jendela kemarnya. Sebentar, Safa menunduk menatap kaki Edzar, lalu pada pembatas balkon yang bersisian dengan rumah pria itu. Apa Edzar loncat kemari untuk menemuinya? Tanpa terkilir sedikit pun? Safa saja harus bertaruh nyawa saat melakukannya dulu. Kenapa pria itu nampak baik-baik saja.
"Om, loncat dari sana?" tanya Safa sedikit terbata. Rautnya campuran ngeri dan tak percaya.
Edzar mengangguk ringan dengan lengkung bibir yang membuat Safa silau. Oh, tolong hentikan. Jangan keseringan senyum, bisa-bisa mata Safa jadi buta karena pancaran pesonanya. Gagal sudah rencana move on yang sudah ia rangkap.
"Apa gak sulit? Jaraknya lumayan."
Lagi-lagi Edzar tersenyum, "Ini hal kecil. Mudah bagi saya melakukannya."
Tunggu, kenapa Safa harus kesal? Harusnya dia masa bodo, kan?
"Sombong," ketus Safa.
Edzar tak menanggapi, pria itu melihat penampilan Safa dari atas ke bawah. Lalu mengernyit ketika matanya berhenti di bagian dada.
"Kamu mau keluar?"
"Hm," jawab Safa dengan gumaman.
"Ke mana?"
Safa menghela nafas dan mendecak. Matanya berputar malas dengan tangan bersidekap. "Apa itu jadi urusan Om? Terserah lah aku mau pergi ke mana. Om gak berhak tau."
"Baiklah. Tapi apa harus pakai itu?"
"Apa?" tanya Safa tak mengerti. Keningnya berkerut menatap Edzar.
Edzar menunjuk tanktop gadis itu dengan matanya. Sontak Safa menyilangkan dada menatap Edzar sengit.
__ADS_1
"Maksud Om apa lihat-lihat aku kayak gitu?" seru Safa dengan wajah galaknya yang terlihat lucu.
Ingin rasanya Edzar cubit dan cium pipi sekenyal moci itu. Tapi dia masih sayang dengan wajahnya kalau-kalau Safa mengeluarkan jurus cakarnya.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. "Safa?" panggil seseorang dari luar.
Edzar mengernyit. Itu bukan suara Tuan Halim. Lantas siapa?
Dibanding itu, Safa mendadak panik mendengar suara Baskoro dari luar kamarnya. Aduh, si Om ngapain sih. Safa menatap Edzar menyuruhnya pergi. Namun entah pria itu bodoh atau memang tidak peka dengan isyarat yang Safa berikan. Edzar malah diam mematung hingga Safa harus sedikit mendorong tubuhnya agar sedikit mundur dari jendela.
Safa menarik gorden sedikit, lalu bergegas membuka pintu untuk Baskoro.
"Kenapa, Om?" tanya Safa.
Baskoro melongok ke dalam lalu kembali menatap Safa. "Kamu baik-baik saja? Tadi Om dengar kamu berseru keras?"
"Terus, kamu katanya mau tidur siang? Lalu itu apa? Kamu mau keluar?" lanjut Baskoro bertanya dengan nada heran.
Safa meringis menggaruk rambutnya. Diam-diam matanya melirik ke belakang, lebih tepatnya jendela.yang belum sempat ia tutup.
Apa Edzar masih di sana?
"Itu, Safa lupa ada janji sama Kamila. Rencananya hari ini kita mau kekar endorse. Om tau sendiri beberapa hari terakhir aku gak sempat lagi ngendorse, kan?"
"Begitu? Perlu Om antar?"
"Enggak usah! Safa sudah pesan taksi. Gak enak kalo dicancel."
Bagus sekali Safa. Alasanmu meluncur dengan tepat.
Baskoro mengangguk mengerti, "Baiklah. Hati-hati. Kalau mau dijemput kamu telpon saja Om, ya?"
"He'em." Safa melempar senyum manisnya, membuat Baskoro gemas dan meluncurkan tangannya pada rambut gadis itu.
"Ya sudah, sana bilang ayah bundamu."
"Siap, Kapten!"
"Hahaha." Baskoro tertawa melihat punggung Safa yang menjauh. Dia menatap sejenak ke dalam kamar Safa, lalu menutup pintunya dari luar.
Sementara di pojok luar sana Edzar tengah merengut kesal dengan pikiran yang bercabang. Siapa pria yang Safa panggil Om? Lalu, ke mana gadis itu akan pergi? Dengan pakaian seperti itu pula.
"Mana lumayan besar, lagi." gumam Edzar tanpa sadar.
__ADS_1
Lelaki itu menendang sebal pagar balkon, sebelum meloncatinya dan kembali ke rumah.