
Ayu yang sudah selesai bersiap-siap segera mengambil bekal yang sudah disiapkan bibi art di ruang depan.
Merasa aman ,Jhony yang merasa penasaran pun keluar untuk mengintip dan memastikan sendiri siapa gadis tadi.
Perlahan ia mengendap dan berdiri di balik tembok.
"bi ,aku berangkat dulu ya " ucap Ayu seraya meraih tas kain yang berisi bekal makanan nya
"iya non hati-hati ya " ucap bibi art mengantar kepergian Ayu yang diantar sopir
Sementara Jhony nampak nya ia tak bisa melihat secara jelas sebab pandangan nya terhalang guci besar ,apalagi di sana ada beberapa art yang terlihat hilir mudik , membuat nya tak bisa leluasa berada di tempat itu,ia pun kembali bersembunyi.
Sementara di tempat lain
Nuari dan Yoga yang selesai menghabiskan spaghetti pun terlelap. Nuari merasa lelah karena terus menangis sementara Yoga yang memang kondisinya yang sedang tak fit membuat nya mengantuk setelah perut nya terisi.
Dering ponsel membangunkan Nuari yang baru saja terlelap,ia meraih ponsel lalu terkesiap melihat nama si pemanggil. Cepat-cepat ia mengangkat telpon nya.
"assalamualaikum,mah....gimana keadaan nenek ?" tanya Nuari langsung menembak mama nya dengan pertanyaan yang membuat nya tak tenang itu
"waalaikum salam , Alhamdulillah nenek baru saja siuman dan sekarang sedang di periksa dokter "
"Alhamdulillah....kalau gitu aku mau ke sana ya mah"
"iya sayang,mama juga sudah nelpon kakak mu ,katanya kakak mu juga akan datang ke rumah sakit " ucap Nuri
"iya mah ,kalau gitu udah dulu ya mah , assalamualaikum"
"waalaikum salam "
"huuuuh.... Alhamdulillah...terima kasih ya Allah " lirih nya
"sayang ....yang....bangun " ucap Nuari membangunkan Yoga
"ya ampun sayang ,kamu demam " Nuari terkejut ketika mendapati suami nya demam
"hm...kenapa ?" tanya Yoga yang baru terbangun
"barusan mama ngabarin katanya nenek sudah siuman "sahut Nuari
"Alhamdulillah....ya udah kamu mau ke sana kan "
"tidak ,kamu sedang sakit ,gak apa-apa aku gak ke sana ,aku mau di rumah saja nemenin kamu " ucap Nuari yang merasa tak tega jika ia memaksakan diri untuk pergi sementara suami nya mungkin membutuhkan nya
"tak apa ,hanya demam kok ,aku cuci muka dulu "ucap Yoga
"enggak ,kamu istirahat saja aku gak izinin kamu pergi ,aku bisa melakukan video call untuk melihat keadaan nenek " ucap Nuari lagi
"ya sudah ,maafin aku ya " ucap Yoga merasa bersalah
"loh kok minta maaf ,ini bukan salah mu ,sudah kamu istirahat saja ,oh iya obat yang dari klinik kamu bawa ?" tanya Nuari
"ada di mobil dalam dashboard "jawab Yoga
"ya sudah aku ambil kan dulu ya " Yoga mengangguk
"loh dek ,mana Yoga nya ?" tanya Gibran yang sudah siap hendak pergi ke rumah sakit
"ada di kamar kak,Yoga demam ,jadi aku gak bisa ke rumah sakit " jawab nya
"Yoga demam ?" tanya Aranta
"iya kak ,nanti biar kita video call lan saja sama nenek " ucap Nuari
"terus kamu sekarang mau kemana?" tanya Gibran
"mau ambil obat nya Yoga di mobil "
Akhirnya yang pergi ke rumah sakit hanya Gibran dan Aranta , sementara Nuari menemani Yoga yang kembali demam.
Hari beranjak sore, Yoga masih tergolek di tempat tidur , sementara Nuari sedang membuat bubur dan sup ayam di dapur. Setelah melakukan video call Nuari segera beranjak ke dapur, di dapur pun ia dibantu bibi art.
"makasih ya bi udah bantuin " ucap Nuarri setelah selesai
__ADS_1
"iya non tak apa ,sini biar bibi yang bawa kan " sahut bibi ketika Nuari hendak membawa bubur dan sup buatan nya ke kamar
"maaf ya bi ngerepotin" ucap Nuari lagi
"iya non ,tidak repot kok " sahut bibi lagi
Nuari pun berjalan di ikuti bibi art.
Ceklek'
Nuari membuka pintu kamar nya ,tatapan nya langsung terarah pada Yoga yang masih memejamkan mata nya.
"letakan di sini saja bi " ucap Nuari pada bibi
"iya non " sahut bibi pelan ,lalu meletakan nya di meja nakas
"bibi permisi " ucap perempuan paruh baya itu lalu meninggalkan kamar
"sayang....bangun yuk ,kita makan " ucap Nuari membangunkan Yoga dengan lembut
"hm...kamu sudah makan belum?" tanya Yoga balik
"udah barusan di dapur ,sambil bikin bubur untuk mu " sahut Nuari
"gimana makan nya kalau kamu sambil bikin bubur" tanya Yoga sembari duduk
"ya kan ada bibi, sementara aku makan bibi yang gantiin ngucek bubur " sahut Nuari lagi
"ya ampun ,maaf ya sayang ,aku malah ngerepotin kamu ,kamu sedang hamil harus nya kamu aku layani ,malah sekarang aku yang kamu layani " lirih Yoga
"ih,udah lah kamu gak usah lebay gitu,lagian aku sama sekali gak keberatan kok,ngurus suami yang sedang sakit pahala nya gede loh,aku akan sangat berdosa jika mengabaikan kamu yang sedang sakit "ucap Nuari
"makasih ya sayang ,aku jadi makin cinta "ucap Yoga ,ia merasa bersalah ,bersyukur juga kasihan pada istri nya itu
"iya ,ya udah makan dulu setelah itu minum lagi obat nya " Nuri dengan sangat telaten menyuapi Yoga,meski Yoga menolak nya namun Nuari tetap bersikukuh untuk menyuapi nya
Hingga akhirnya bubur yang di mangkuk pun tandas tak bersisa.
"iya kan biar aku cepat sembuh ,biar nanti gantian aku yang ngurusin kamu,manjain kamu" ucap Yoga berkedip genit
"ah kamu mah ,ya udah ini obat nya minum ya,aku mau ke kamar mandi dulu" ucap Nuari ,lalu beranjak ke kamar mandi ,sementara Yoga segera meminum obat nya
Sementara di rumah sakit ,Dewi yang sudah siuman tengah memakan buah jeruk yang di kupas kan Nuri.
"mulai sekarang mama jangan melakukan apa pun ,diam dan istirahat saja,jika mama mau apa-apa bilang saja pada ku juga para bibi " ucap Nuri
"iya " sahut Dewi masih lemas
Dewi menatap anak menantu nya bergantian ,ia juga melihat pada Gibran dan Aranta.
"jika suatu saat mama pergi,mama ingin melihat kalian tetap bahagia jangan ada yang menangisi kepergian mama " ucap nya tiba-tiba
"mah,...jangan katakan itu" ucap Rifki
"tapi umur kan siapa yang tahu nak" ucap Dewi lagi
"iya aku faham,tapi aku tidak mau mama bicara seperti itu " ucap Rifki tegas
"mas Rifki benar mah, mama jangan bicara seperti itu ,karena kami tidak suka,kami sangat menyayangi mama,apa pun akan kami lakukan untuk kesehatan mama ,jadi jangan pernah katakan hal itu lagi " sambung Nuri
"nek,kelak anak-anak ku juga anak nya Ari akan bermain bersama nenek ,jadi aku mohon nenek jangan katakan itu lagi ya,nenek mau kan bermain bersama mereka ?" tanya Gibran meraih tangan Dewi yang sudah keriput
"tentu saja nenek mau " jawab nya
"maka dari itu,nenek harus tetap sehat untuk kami " sambung Aranta
"terima kasih sayang,nenek sayang kalian "ucap nya
Sementara di tempat lain,Ayu dan dokter Satria hendak pulang , Ayu merasa kecewa karena ketika ia datang hingga ia hendak pulang Evan tak ada di tempat karena katanya ia pulang ke kampung nya secara mendadak karena ayah nya jatuh di kamar mandi dan dilarikan ke rumah sakit.
Namun meski begitu ia tak serta merta menunjukan perasaan nya di depan sang ayah.
"semoga semua nya baik-baik saja " batin Ayu
__ADS_1
Di Bandung ,Evan bisa bernafas lega sebab keadaan ayah nya mulai membaik setelah sebelum nya sempat kritis karena bagian kepala nya terbentur .
"maaf sudah membuat kalian khawatir " ucap ayah Evan
"iya ayah,tak mengapa ,sekarang apa yang ayah ingin kan, insyaallah aku akan lakukan ,ayah ingin makan apa akan aku berikan ?" tanya Evan
"ayah tidak mau apa-apa,yang ayah ingin kan melihat mu bahagia" sahut ayah Evan
"aku akan bahagia jika melihat ayah sembuh,jadi cepat lah sembuh agar aku bahagia " ucap Evan tersenyum menatap ayah nya
"kau ini ,sekarang umur mu sudah berapa,kenapa tak juga mengenalkan calon istri pada ayah mu ini yang sudah semakin tua" tutur ayah nya seakan meminta Evan untuk segera menikah
"hehehe....ayah sabar saja ,aku sedang berusaha kok "
"benarkah ,sudah ada gadis nya ,siapa dan dari mana asal nya ,apa ayah mengenal nya ?" tanya ayah nya antusias
"ya jelas kenal lah ,kan ibu sendiri yang jodohin mereka " timpal ibu nya Evan yang baru saja masuk ruangan
"ibu " gumam Evan
"serius kamu mau sama Rina ?" tanya ayah Evan
"bukan yah ,bukan Rina " saut Evan
"bukan Rina lalu siapa ,jangan bilang kamu menyukai pembantu mu itu ?" tanya ibu nya nampak tak suka
"maksudnya gimana Evan ?" tanya ayah Evan
"iya ayah ,ibu benar,tapi Ayu bukan pembantu ,karena memang dari awal aku tidak pernah mempekerjakannya" ucap Evan yang tak suka jika ibu nya menyebut Ayu pembantu
"kalau bukan pembantu kenapa dia bisa tinggal bersama mu?" tanya ibu nya
"jadi selama di Jakarta kamu tinggal satu atap dengan seorang gadis ?" tanya ayah Evan
"iya ayah " jawab Evan apa ada nya
"astaghfirullah....kenapa kamu lakukan Evan ,bukan kah ayah sudah pernah katakan untuk tak tinggal dengan yang bukan muhrim ?" tanya ayah nya
"maaf ayah ,tapi aku lakukan karena aku kasihan pada nya,aku menolong nya ketika seseorang berusaha menjual nya,dan lagi dia juga sudah terpisah cukup lama dari orangtua kandung nya" tutur Evan
"tapi Alhamdulillah sekarang dia sudah menemukan orang tua nya ,dan kita tak lagi tinggal satu atap ,ayah jangan khawatir" tambah Evan
"dan kini aku yang merasa kehilangan " tambah nya dalam hati
"syukurlah kalau begitu,tapi kamu beneran kan tidak melakukan apapun dengan gadis itu ?" tanya ayah Evan memastikan
"aku berani bersumpah ayah ,kami tidak pernah melakukan hal-hal yang dilarang " ucap nya
"syukurlah kalau begitu"
"tapi ibu tetap mau kamu sama Rina" kekeuh ibu nya
"astaga ibu...apa sih yang sudah di berikan nya pada ibu ,ibu kok sampai segitu nya ingin Evan sama Rina ?" tanya suami nya tak habis fikir
"pokok nya ibu sudah terlanjur suka sama Rina ,titik "
"terserah ibu lah " sahut Evan
"jadi kamu bersedia nikah sama Rina , kalau gitu akan ibu kabari Rina dan keluarga nya kalau kamu sudah setuju" ucap ibu nya nampak antusias
"siapa yang setuju Bu,aku bilang terserah bukan berarti aku bersedia " sahut Evan
"jadi...
"sudah lah Bu,jangan terlalu memaksa kan kehendak,biarlah Evan memilih sendiri calon pendamping nya,kan yang menjalani Evan ,kita doakan saja semoga Evan bahagia dengan pilihan nya,sudah jangan bahas hal ini lagi ayah mau istirahat ,pusing kepala ayah " ayah Evan pun memilih memejamkan mata nya
"ya sudah kalau gitu aku mau cari makanan dulu ya,ibu mau titip apa ?" tanya Evan ingin keluar sejenak
"tak usah ,ibu masih kenyang " tolak nya
"ya sudah "
...***...
__ADS_1