Tarzan Cantik Dokter Idaman Hati

Tarzan Cantik Dokter Idaman Hati
Merasa tidak nyaman


__ADS_3

Saat ini Nuari berada di toilet ruangan nya,ia terdiam di depan cermin seraya terus membasuh muka nya.


Namun air mata nya tak kunjung berhenti,dan selalu keluar hingga gadis itu tak dapat menahan isakan nya.


"hiks....hiks....hiks...."


"kenapa ....nama dan suara nya mirip sekali dengan Yoga ,mata nya juga mirip,tapi....dia bukan lah Yoga ku " ucap nya di sela isak tangis nya


Kenapa Nuari mengatakan begitu ,sebab Yoga yang sekarang jauh berbeda dengan Yoga yang dulu ia kenal,jika dulu Yoga berbadan gendut dengan pipi yang bulat,dan ketika senyum mata nya akan menyipit ,tapi kini Yoga sudah menjelma menjadi seorang laki-laki dengan tubuh tegak,dan kekar,perut buncit dan pipi bulat nya pun sudah tak ada lagi.Wajah nya pun sedikit berubah karena lemak-lemak di wajah nya pun hilang.


"ayo lah berhenti menangis ,mata mu akan semakin bengkak " ucap nya pada diri sendiri seraya terus membasuh wajah nya


Hingga lebih dari setengah jam, Nuari berhasil mengendalikan diri nya agar tak menangis lagi.


Kini ia tengah mengompres kedua mata nya yang terlihat sembab dengan menggunakan irisan mentimun yang ia minta dari OB lewat telfon.


"sepertinya sudah cukup " gumam nya ,lalu meraih alat riasan nya dan mulai memoleskan sedikit makeup ke wajah nya ,meski tipis namun wajah nya nampak terlihat segar,dan tak terlihat sama sekali jika ia habis menangis.


"huuuffthhh....baiklah ,aku sudah terlalu lama di dalam sini ,mereka pasti mengkhawatirkan ku " gumam nya lalu bergegas keluar ruangan nya ,dan kembali ke ruang lab.


Sementara di ruang lab


Yoga sendiri merasa aneh ketika melihat Nuari tadi,juga ekspresi dokter cantik itu saat melihat nya.


Ia merasa tak asing terhadap Nuari,tanpa ia sadari jika Nuari adalah gadis yang selalu ibu nya ceritakan dan foto nya pun seringkali ibu nya tunjukan pada nya,namun karena rasa sakit di kepala nya ketika melihat foto itu ,membuat nya abai begitu saja dan entah kenapa ia malah melupakan nya,dan karena Nuari yang sekarang pun sebenarnya mengalami banyak perubahan, dulu ia nampak polos tanpa riasan ,namun sekarang ia sering menggunakan riasan meski tipis.


"kenapa dokter Nuari lama sekali,ini sudah lebih dari setengah jam loh " ucap dokter Satria


"iya ya ,bagaimana kalau aku melihat nya, takut nya terjadi sesuatu pada nya " cetus Evan


"ya sudah, pergi lah " ucap dokter Satria ,karena tadi pada saat Nuari minta izin ke toilet ,dokter cantik itu beralasan jika ia mendadak sakit perut


Akan tetapi pada saat Evan baru diambang pintu, Nuari sudah berada di depan nya.


"nah ,baru saja aku mau melihat mu " ucap Evan


"maaf aku terlalu lama di toilet,perut ku benar-benar sakit ,tapi sekarang sudah mendingan kok " ucap Nuari berusaha bersikap senormal mungkin


"beneran sudah tak apa-apa ?" tanya Evan


"iya ,kau tenang saja " Nuari pun nyelonong masuk dan kembali menyapa Yoga yang tengah menerangkan bahan-bahan apa saja yang di perlukan untuk pembuatan obat nya


"duh kenapa jantung ku deg-degan lagi sih " batin Nuari saat setelah berada di samping Yoga


"dokter Nuari,bagaimana keadaan mu,jika masih sakit lebih baik dokter Nuari istirahat lah dulu,biarkan ini semua kami yang mengerjakan " ucap dokter Satria


"aku sudah tidak apa-apa kok dok ,setelah minum obat tadi, Alhamdulillah sudah mendingan " sahut Nuari


"ya sudah,tapi kalau sakit lagi ,bilang saja,jangan memaksakan diri " ucap dokter Satria lagi

__ADS_1


"baik dok" sahut Nuari


Dokter cantik itu pun kembali memperhatikan Yoga yang tengah mempraktikkan cara meracik tumbuhan itu,namun bukan ke bagaimana cara meracik nya namun tatapan Nuari terarah pada diri Yoga sendiri.


"kenapa dok ? ada yang aneh dengan wajah ku ?" tanya Yoga melirik sekilas


"ah t..tidak apa-apa" ucap Nuari


"kenapa rasanya familiar sekali dengan nya,dan kenapa tiba-tiba kepala ku juga merasa sakit " gumam Yoga membatin


"apa kau sakit?" tanya Nuari saat melihat Yoga mengernyitkan kening


"tidak apa-apa,aku sering seperti ini " jawab Yoga


Nuari pun hanya mengangguk lalu beralih pada bahan-bahan yang ada di depan nya


Tak ada lagi obrolan dari mereka ,sebab mereka tengah berfokus pada Yoga ,dengan sesekali bertanya jika mereka merasa kurang faham.


Sementara dokter Satria,ia tengah meneliti zat-zat yang terkandung pada semua bahan yang Yoga gunakan,ia melakukan itu karena bahan itu tergolong langka,jadi jika saja ia tahu zat apa di dalam nya,jadi ia bisa dengan mudah mencari bahan lain yang juga sama memiliki kandungan yang sama pula jika sewaktu-waktu bahan-bahan yang Yoga gunakan kehabisan stok.


Kurang lebih lima jam mereka berkutat di ruang lab, sampai melupakan makan siang mereka, akhirnya mereka pun dapat menyelesaikannya.


"astaga ,ternyata sudah sore,pantas saja perut ku keroncongan dari tadi,kita melupakan makan siang kita " ucap Nuari terkekeh setelah melihat jam tangan cantik yang melingkar di lengan kiri nya.


"iya dokter Nuari benar,ya sudah kalau begitu bagaimana kalau kita makan bersama dulu sebelum pulang?" ajak dokter Satria


"ok ,kita let's go....." seru dokter Satria seraya merapikan barang-barang nya ,begitu pun dengan yang lain nya


Singkat nya ,kini mereka sudah tiba di restoran tersebut.


Melihat di daftar menu ada tumis kacang panjang,Nuari dan Yoga pun dengan kompak memesan menu tersebut,namun tanpa sepengetahuan masing-masing.


Saat setelah pesanan datang,keduanya saling lirik karena menu yang mereka pesan sama persis.


"wah...kalian bisa sama an begitu ya ,apa kalian sudah merencanakan nya ?" gurau dokter Satria


"hem...mungkin hanya kebetulan saja dok,kebetulan saya sangat menyukai tumis kacang panjang "sahut Yoga


"kalau kamu ?" tanya Evan menatap Nuari


"aku...."belum sempat Nuari berbicara ,dokter Satria sudah lebih dulu menyela


"pasti suka juga kan,kalau enggak mana mungkin pesan makanan itu " tebak nya


"nah ,betul itu dok" seru Nuari tanpa harus menjelaskan sesuatu yang nantinya akan membuat nya kembali ingin menangis


"kalau begitu ayo tunggu apa lagi ,mari kita makan " lanjut dokter Satria ,mereka pun segera menyantap makanan mereka


Hingga saat nya mereka pulang , Yoga pun memesan kan lagi makanan untuk di bawa pulang.

__ADS_1


"apa makanan tadi belum cukup membuat mu kenyang ?" tanya Evan


"ah ,ini bukan untuk saya kok dok ,untuk calon istri saya ,kebetulan ia juga ikut " sahut Yoga


Deg...


"kenapa rasanya sakit begini...." lirih Nuari dalam hati


"lalu kenapa tadi tak diajak saja,biar dokter Nuari ada temannya ngobrol tadi,kita kan laki-laki semua " ucap Evan


"dia masih lelah karena perjalanan jauh kemarin malam" sahut Yoga lagi


"oh...tapi nanti gimana kalau kita berangkat,gak mungkin kan calon istri mu ditinggal sendiri di sini?" tanya Evan lagi


"dia juga akan ikut ,gak apa-apa kan ?" tanya Yoga sedikit merasa tak enak,karena mungkin biaya akomodasi nya pun akan ditanggung mereka,namun Yoga berfikir jika nanti dia sendiri yang akan membiayai akomodasi nya Renita,karena dirinya memang pihak rumah sakit yang tanggung jawab.


"tentu saja tidak ,kan biar lebih ramai lagi nanti,kasihan kan dokter Nuari kalau calon mu tak ikut dia tak ada teman nya ,cewek nya dia doang" ucap Evan sambil merangkul Yoga


"Alhamdulillah...jika tak keberatan, tapi mungkin untuk ongkos nya biar saya saja yang urus ,kan yang harusnya berangkat cuman saya sendiri " tutur Yoga


"jangan fikirkan itu,karena biaya akomodasi dari mulai keberangkatan,makan selama di sana dan kembali sudah kami tanggung " ujar dokter Satria yang sedari hanya menyimak


"wah kalau begitu jadi saya yang tidak enak ini " ucap Yoga apa ada nya


Sementara Nuari,gadis itu sudah merasa tak nyaman semenjak mendengar ucapan Yoga,meski ia meyakini jika Yoga nya bukan Yoga yang bersama nya,tapi entah kenapa ia merasa sakit mendengar jika Yoga yang bersama nya sudah memiliki calon istri.


"ada apa dengan ku " lirih Nuari membatin


"maaf semua nya, kalau boleh aku mau pamit duluan ya,gak apa-apa kan ,kebetulan mama ku ngirim pesan meminta ku segera pulang " ucap Nuari beralasan


"oh , tentu saja tidak apa-apa dokter Nuari,silahkan ,jangan buat mama mu khawatir,kita juga hendak pulang kok " ujar dokter Satria


"terima kasih dok ,kalau begitu saya pamit , assalamualaikum..." ucap Nuari lalu segera beranjak masuk ke dalam mobil nya


"waalaikum salam ... " sahut mereka


"cantik ,kaya ,baik ,dan sopan,pasti beruntung laki-laki yang kelak menjadi suami nya ,Renita boro-boro ngucapin salam " batin Yoga tanpa sadar sudah membandingkan mereka


"astaga ...ada apa dengan ku " batin nya lagi setelah ia menyadari nya


"kalau begitu saya juga sekalian undur diri" ucap Yoga setelah mobil Nuari hilang di pandangan


"oh baiklah ,ayo saya antar " tawar Evan


"tak usah , penginapan saya dekat kok tinggal belok kanan sedikit dari ujung sana langsung sampai " tolak Yoga


"mari dokter Satria dokter Evan "


...***...

__ADS_1


__ADS_2