
"Jadi begini kak,tadi tuh aku lihat pak Riki sedang di hajar tiga orang ,mungkin pak Riki mau belajar taekwondo agar bisa melindungi diri iya kan pak "Tanya Lia menoleh pada Riki
"Bener begitu Ki ,kok bisa ?" Tanya Ratu menatap tak percaya pada teman nya itu
"Ya....iya ,tapi tadi aku rencana mau pura-pura kalah dulu sebelum aku membalas menghajar mereka ,eh Lia keburu datang " Lirih Riki memberi alasan
"Loh,aku fikir pak Riki gak bisa adu jotos " Ucap Lia pelan
"Jadi sebenarnya kalian sudah saling kenal nih cerita nya ?" Tanya Ratu pada kedua nya
"Iya kak ,pak Riki ini guru aku di sekolah " Jawab Lia mendahului Riki
"Kamu masih ngajar ,saja rupanya " Gumam Ratu menggelengkan kepala
"Ya iya emang mau ngapain lagi," Sahut Riki cuek
"Aku kira kamu sudah sibuk di perusahaan"
"Udah ,jangan bahas itu"Sahut Riki yang tak ingin membahas tentang nya
Ia segera mengganti baju nya dengan baju Dobok. Dobok merupakan baju yang wajib dikenakan untuk seni bela diri taekwondo yang dieja menjadi 'Tae Kwon Do' atau 'Taekwon-do'. Model baju taekwondo sendiri konon terinspirasi dari pakaian tradisional Korea 'Han dobok' atau Han-bok' yang sudah dimodifikasi dengan mengedepankan sisi fleksibilitas.
Setelah selesai Riki langsung meminta Lia untuk menyerang nya ,tanpa ragu Lia segera menerima tantangan guru nya itu. Riki sendiri juga merupakan atlet bela diri. Sudah banyak penghargaan juga kejuaraan yang ia ikuti. Dan di setiap kejuaraan tersebut Riki selalu memenangkan nya. Namun semenjak kematian sang ayah lima tahun yang lalu, ia berhenti menjadi atlet dan malah beralih profesi menjadi seorang guru. Padahal ia sendiri menduduki posisi CEO di perusahaan mendiang ayah nya. Ia yang merupakan anak pertama dari istri pertama maka perusahaan itu jatuh ke tangan nya ,sementara saudara nya yang dari istri kedua hanya mendapatkan rumah dan villa. Meski hanya rumah dan villa ,tapi kedua nya merupakan bangunan yang mewah,villa tersebut juga sering disewakan.
Meski Riki jarang dan bahkan tak pernah datang ke perusahaan,ia tetap memantau nya. Di sana ada orang kepercayaan nya yang akan menghandle semua urusan kantor. Perusahaan nya sendiri bergerak di bidang ekspedisi.
Sudah lebih dari dua puluh lima menit ,namun dari keduanya masih sama-sama bertahan ,tak ada yang terkena pukul juga tendangan. dengan kata lain keduanya imbang.
Ratu dan murid-muridnya duduk melingkar menonton pertandingan tersebut.
"Lia emang hebat ya ,gak salah kalau dia lebih cepat naik tingkatan ketimbang kita "
"Iya ,kamu bener"
Ratu yang dapat mendengar nya pun menyetujui pendapat anak murid nya. Akan tetapi tiba-tiba terkesiap ketika Lia terjatuh karena ia tak sengaja menginjak sesuatu.
__ADS_1
Bruk'
"Aduh " Lirih nya sambil mengusap-usap bagian belakang nya
"Kamu tidak apa-apa?" Riki menjulurkan tangan nya untuk membantu kita bangun
"Gak apa-apa kok pak ,hanya kaget saja " Lia pun meraih tangan guru nya
"Ini apa?" Gumam Lia seraya meraih dan memperhatikan benda putih menggeliat, itu terasa kenyal ketika Lia menyentuh nya
"Astaga " Lia segera melempar benda tersebut
"Kenapa ?" Tanya Riki terheran melihat tingkah Lia ,karena ia sama sekali tak melihat apapun yang dilihat Lia
"Khikhikhi ......." Suara cekikikan terdengar diatas nya ,Lia pun mendongak
"Oy,ngapain nangkring di sana,kamu yang iseng lempar ulat sagu ini kan? Dapat darimana kamu ulat seperti itu ? Bisa-bisa nya kamu lempar ke aku ?" Seru Lia tanpa sadar ,semua yang melihat nya pun terheran-heran melihat nya ,mereka saling berbisik
Riki pun mengikuti arah pandang nya,ia bingung pada siapa gadis itu berbicara.
"Ini anak kenapa coba ?" Batin nya
"Nah ini dia yang dicari-cari akhirnya pulang juga. Darimana kamu Oma cariin dari tadi ,gak tahu pergi nya , tau-tau udah datang dari luar ?"Tanya Dewi
"Hehehe.....dari rumah Vania ,Oma " jawab Raffa. "Bener kan ,aku gak bohong,kan aku abis nganter Vania pulang " lanjut nya dalam hati
"Tuh kan Oma ,bener kan apa kata ku ,dia pergi ke rumah Vania " Sambar Atha yang baru datang dari dapur. Ia sudah selesai makan siang
"Ya ampun,Raffa. Kamu tuh gak pernah berubah ya "Lirih Dewi gemas
"Ya sudah sana kamu makan dulu"Ucap Dewi. Ia lalu pergi ke depan
"Ok Oma,yuk !" Ajak nya pada Atha
"Kamu saja ,aku sih udah "Ucap Atha
__ADS_1
"Kenapa gak nunggu aku sih ,aku malas kalau makan sendiri " Keluh Raffa merajuk
"Ya salah sendiri kenapa malah tiba-tiba pergi gak bilang-bilang lagi" Ujar Atha mencebik,Raffa gak menyahut ia langsung pergi begitu saja
"Hm, kebiasaan. Orang lagi ngomong malah pergi gitu aja " Gumam Atha
"Eh ,tapi kamu serius sama Vania ?" Tanya Atha yang malah mengikuti Raffa ke meja makan
"Ya serius lah, kalau enggak mana mungkin aku ngejar-ngejar dia dari dulu,dari dia orok lagi " Sahut Raffa
"Kenapa nanya begitu? Jangan-jangan kamu juga suka sama Vania ?" Tanya Raffa dengan tatapan tajam
"Wohoho.....santai bro ! Enggak lah ,ngaco saja ,aku hanya nanya karena kasihan sama Chika "
"Chika ? Kenapa dengan nya ?" Tanya Raffa ,saat ini ia sedang menyendok nasi
"Kalau kamu serius sama Vania ,jangan PHP in Chika lah" ucap Atha
"Siapa yang PHP ,orang aku dari dulu cuman nganggap dia teman saja kok " Sahut Raffa tak merasa
"Tapi dari sikap kamu , Chika jadi salah faham ,ia fikir kamu suka sama dia" Ucap Atha lagi
"Tau dari mana kalau Chika baper sama aku ?" Tanya Raffa
"Aku pernah denger saat Chika curhat sama teman nya " Sahut Raffa
"Memang nya sikap ku yang bagaimana sih kok dia bisa baper ?" Tanya Raffa lagi
"Kamu itu loh ,bego apa gimana sih ,ya cewek mana saja juga pasti bakalan baper kalau kamu sikap nya baik banget kaya gitu , apa-apa pasti diperhatiin" Atha mendengus kesal pada sepupu nya itu
"Terus aku harus gimana ,masa aku harus marah-marah dan jutekin dia sih ?"
"Ya gak gitu juga kasja !" Pekik Atha semakin dibuat emosi oleh Raffa
"Hah? Kasja? Siapa kasja ?" Tanya Raffa
__ADS_1
"Tau ah ,pusing aku ngomong sama kamu " Atha pun pergi meninggalkan Raffa yang menggaruk kepalanya bingung
Bersambung....