
Malam hari
Seperti yang di katakan Nuari jika malam ini ia dan Yoga tidur terpisah namun masih dalam satu kamar yang sama,hanya saja Nuari tidur di tempat tidur sementara Yoga di bawah dengan beralaskan karpet bulu yang tebal,awal nya ia memang tidur di sofa ,hanya saja ia merasa tak nyaman karena ukuran sofa nya tak sesuai dengan tinggi tubuh nya yang mengakibatkan kaki nya menggantung.
Jadi nya Yoga membawa karpet bulu yang berada di ruang keluarga ke kamar nya.
Nuari terbangun saat tangan nya meraba sisi tempat tidur nya terasa kosong,ia lupa jika dirinya yang meminta Yoga untuk tak tidur di tempat tidur bersama nya.
Nuari menolehkan kepala nya melihat ke arah sofa ketika ia sudah mengingat nya ,namun tak menemukan keberadaan suami nya.
"Yoga kemana,apa dia tersinggung dan marah makanya dia tak tidur di kamar " lirih nya yang belum mengetahui jika Yoga tidur di bawah
"aku harus mencari nya,mungkin Yoga tidur di kamar tamu" fikir nya
Ketika ia sudah menurunkan kedua kaki nya ke lantai ,ia terdiam melihat Yoga yang sudah tertidur sangat lelap tanpa selimut.
Hati nya meringis,ia merasa kasihan juga merasa bersalah pada Yoga , akhirnya Nuari menyelimuti Yoga dengan selimut nya,tak hanya itu Nuari pun memilih tidur di samping Yoga seraya memeluk nya,entah kenapa saat ini rasa mual nya tak ia rasakan.
"maafkan aku " batin nya lirih
Entah sadar atau tidak , Yoga pun membalas memeluk Nuari dengan mata terpejam ,dan akhirnya Nuari pun tertidur dengan wajah menempel pada d*da bidang suaminya itu.
Berbeda dengan Nuari di kamar lain Rifki terlihat sangat gelisah,sebab Nuri sudah larut malam belum juga pulang,terakhir Nuri mengabari sekitar satu jam yang lalu katanya ia masih berada di jalan tol, tapi sampai saat ini belum juga ada tanda-tanda kepulangan istri nya itu. Bahkan ponsel nya pun sudah tak dapat di hubungi.
"Ya Allah sayang....jangan bikin aku khawatir ,cepat lah pulang " lirih nya
Beberapa kali Rifki keluar dan berdiri di balkon kamar nya untuk melihat ke arah gerbang,namun keadaan di sana nampak sepi dan gelap hanya terlihat beberapa sosok pocong yang tengah melompat-lompat di pekarangan rumah nya salah satu diantara nya adalah bang Popo.
"hmm.....ck...tahu begini aku gak ngizinin dia pergi,Ya Allah ....lindungi istri ku " tak pernah putus doa nya untuk sang istri ,Rifki pun akhirnya memilih untuk menunggu nya di ruang tamu
Rifki berjalan menuruni anak tangga lalu berjalan ke dapur untuk mengambil minum,karena tenggorokan nya terasa kering.
Setelah minum, ia pun menuju ke ruang depan dan duduk di salah satu kursi yang menghadap ke arah pintu.
"sampai satu jam lagi dia belum juga pulang, aku pasti kan tidak akan lagi mengizinkan nya pergi jauh tanpa ku" ucap nya
Meski usia mereka sudah tak muda lagi namun rasa cinta nya terhadap Nuri tetap besar malah semakin kuat dan tak ingin kehilangan nya,semakin dimakan usia kebucinan Rifki pada Nuri malah semakin akut.
Brooommm......
Terdengar suara deru mesin mobil memasuki pekarangan,Rifki pun segera melompat dari duduk nya dan langsung membuka pintu.
Terlihat Nuri keluar dari dalam mobil,Wowo yang selalu berada di atap mobil pun juga turun dan segera menghilang,mungkin pulang ke sarang nya,karena genderuwo itu akan datang jika Nuri memanggil dan membutuhkan bantuan nya,namun meskipun begitu Wowo selalu tahu apa yang terjadi dengan Nuri tanpa harus Nuri sendiri yang berbicara.
"assalamualaikum....mas kok di luar belum tidur ?" tanya Nuri segera meraih tangan kanan Rifki lalu mencium nya
Tanpa menjawab Rifki langsung memeluk Nuri,membuat Nuri terkejut.
"mas ,kenapa ...?" tanya Nuri
"kamu marah karena aku pulang terlalu larut malam? maaf ya mas tadi di jalan tiba-tiba ban nya kempes aku jadi harus ganti dulu " tutur Nuri di pelukan Rifki
"mas...bicara dong,minimal jawab salam aku , gak baik loh mengabaikan ucapan salam " ucap Nuari mengusap punggung Rifki,ia jadi merasa bersalah karena sudah pulang terlalu larut
Namun Nuri terkesiap saat merasakan tubuh Rifki bergetar.
"mas ,kamu nangis ?" tanya mendongak
__ADS_1
"waalaikum salam....aku hanya takut kamu pergi meninggalkan ku,itu saja " sahut nya
"Ya Allah mas....aku gak akan pergi ninggalin kamu kok,apa alasan nya coba,hanya takdir yang mengharuskan ku pergi,selama Allah masih memberikan ku umur panjang,maka selama itu pula aku akan terus di samping mu " ucap Nuri yang merasa tak habis fikir dengan suami nya itu
"kenapa ponsel mu tak aktif lalu siapa yang mengganti ban mobil mu?" tanya Rifki tag sudah bisa mengontrol emosi nya
"kita masuk dulu,gak enak tuh dilihatin para hantu " ucap Nuri melirik para hantu yang tiba-tiba terdiam melihat pada nya
"ah iya ,yuk "
Mereka pun segera masuk dan mengunci pintu. Berjalan beriringan dengan lengan Nuri yang di gandeng Rifki erat. Nuri yang sudah terbiasa dengan sikap Rifki itu pun tak mempermasalahkan nya.
Tiba di kamar Nuri segera merebahkan tubuh nya di tempat tidur karena lelah.
"kamu pasti sangat lelah " ucap Rifki seraya meraih kaki Nuri lalu memijat nya pelan
"maaf ya mas aku harus pulang larut malam " ucap Nuri yang masih merasa tak enak
"iya sayang,tapi lain kali kalau ada tawaran dan lokasi nya cukup jauh kamu jangan ambil tawaran itu,kecuali jika bersama ku ,aku benar-benar khawatir takut kamu kenapa-kenapa di jalan, apalagi kamu kan perempuan akan sangat beresiko bepergian sendiri ke tempat jauh " ucap nya tanpa berhenti memijat kaki istrinya
"kan aku tidak benar-benar pergi sendiri mas,ada Wowo yang selalu standby tadi dia juga yang bantu aku ganti ban " tutur Nuri
"iya sih,tapi tetap saja aku yang di rumah merasa khawatir "
"ya sudah makasih pijitan nya mas ,aku mau mandi dulu,gak enak udah lengket banget bau keringet" ucap Nuri seraya menyentuh punggung tangan Rifki
"mandi nya air hangat ya,ini sudah malam banget takut kamu sakit ,dan satu lagi jangan lama-lama mandi nya "
"baik suami ku .....muach..."
Nuri beranjak menuju kamar mandi ,sementara Rifki menuju lemari pakaian dan menyiapkan pakaian tidur Nuri.
Keesokan pagi nya
Ketika suara adzan berkumandang Yoga mengerjapkan mata,ia terkejut ketika terbangun sudah ada Nuri dalam pelukan nya. Namun kemudian ia tersenyum, satu tangan nya terulur mengusap rambut hitam Nuari.
"dasar bumil bikin galau orang saja,tapi aku makin cinta " gumam nya pelan
"uuuhhh...." Nuari menggeliat, samar-samar ia mendengar suara adzan ,lalu tak lama kemudian ia membuka mata dan matanya langsung terpaku pada Yoga yang tengah menatap nya
"aaahhh.....jangan liatin aku kaya gitu, malu...." lirih nya lalu menyembunyikan wajah nya tenggelam pada ketiak Yoga,hingga pria itu bergidik geli dibuat nya
"hihihi....malu kenapa sayang...duh geli..."
"wajah ku pasti jelek saat bangun tidur" jawab nya dengan masih menyembunyikan wajah nya di ketiak Yoga
"enggak kok, kamu tetap cantik meski baru bangun tidur "
"aiihh... gombal..." cetus Nuari
"bukan gombal tapi kenyataan nya begitu kok,kamu wanita tercantik yang pernah aku lihat bahkan saat bangun tidur pun kecantikan mu tetap terpancar" ujar Yoga lagi
"ah terserah lah,ayo kita wudhu " ucap Nuari seraya bangkit dari tidur nya
"kenapa kamu jadi ikutan tidur di bawah,bukan nya kamu mual mencium bau ku ?" tanya Yoga seraya membereskan bekas tidur nya
"aku gak tega lihat kamu tidur di bawah,maaf ya ...aku juga gak tahu kenapa aku seperti itu,aku tak ada maksud apa-apa " ucap Nuari menunduk
__ADS_1
"iya ,tak apa aku mengerti kok,ya sudah sana kamu duluan wudhu nya,kalau wudhu bareng-bareng aku takut bablas "
"kok bablas maksud nya" tanya Nuari
"tuh ,udah bangun saja,nanti malah bablas " ucap Yoga seraya menunjuk bagian bawah tubuh nya yang nampak menyembul dari balik kolor nya
"isshh....kamu mah " Nuari lalu pergi ke kamar mandi sementara Yoga terkekeh di tempat nya
"semoga saja gak ada drama bau lagi " doa Yoga lirih
Beberapa saat kemudian setelah kedua nya selesai mengerjakan shalat.
"sayang ,kamu ganti baju saja gak usah mandi " ucap Nuari
"hah ,kok gitu,bau dong aku nanti" seru Yoga terkesiap
"aku lebih suka bau kamu yang gak mandi " jawab Nuari
"lah..." Yoga terbengong mendengar nya
"pokok nya kamu jangan mandi ,awas kalau kamu ketahuan mandi di belakang ku " ancam Nuari
"i...iya..iya ..." sahut Yoga meringis
"iya in saja lah ,nanti mandi di kantor saja,dia kan gak bakal tahu" batin nya
"dan jangan coba-coba kamu mandi di kantor ya " ucap Nuari yang seakan bisa membaca isi hati Yoga
Yoga terkesiap
gluk'
"kok dia bisa tahu isi hati ku "batin Yoga lagi
Matahari sudah mulai naik,semua penghuni rumah sudah bersiap untuk beraktivitas,Aranta seperti biasa ia akan ikut dengan Gibran,apalagi siang nanti Gibran ada pertemuan dengan klien nya di sebuah resto,sementara Rifki hari ini memilih cuti karena ingin menghabiskan waktu bersama Nuri sebagai ganti hari kemarin yang tak bertemu seharian.
Kini tinggal Yoga dan Nuari yang nampak berdebat,Nuari memaksa ingin pergi kerja sementara Yoga tak membolehkan nya,karena nama nya rumah sakit apalagi semua pasien nya merupakan hewan membuat nya semakin protektif.
"sayang kamu kan sedang hamil ,kalau ada virus atau bakteri dari hewan-hewan itu dan menulari mu dan berimbas pada calon baby kita gimana ?" ucap Yoga
"ya tapi kan aku sudah lama cuti nya " lirih Nuari
Nuri dan Rifki hanya memperhatikan kedua nya,mereka tak mau terlalu ikut campur urusan mereka kecuali jika berdebat nya sudah sangat ekstrim hingga sampai pukul-pukulan baru mereka turut campur.
"begini saja kamu boleh pergi ke rumah sakit,tapi kamu harus memakai masker dan menjaga jarak dengan hewan-hewan itu,dan jangan pulang larut apalagi sampai kecapean " ucap Yoga pada akhirnya membolehkan karena merasa tak tega melihat ekspresi Nuari
"menjaga jarak ...?gimana sih , bagaimana aku harus memeriksa dan mengobati jika harus jaga jarak ,dasar Yoga,ah bodo lah ,aku iya in saja,daripada gak jadi pergi" batin Nuari lalu mengangguk
"ya sudah aku antar kamu ke rumah sakit,nanti pulang nya aku jemput lagi " ucap Yoga seraya meraih kunci mobil nya
Setelah berpamitan pada Nuri dan Rifki , Nuari dan Yoga pun meninggalkan rumah itu .
"dan sekarang hanya tinggal kita berdua " seringai Rifki menatap Nuri
"ekhem... jangan lupa masih ada mama di sini" celetuk Dewi yang baru menghampiri mereka
"eh iya ada mama" cengir Rifki menggaruk tengkuknya
__ADS_1
...***...