
Aranta juga Gibran pun sama terkejutnya ,hingga mereka melepaskan pelukan mereka,lalu berjalan ke luar.
"loh dokter Daniel kenapa dengan kening nya ?" tanya Aranta
"ini ...tadi kejedot pintu " sahut nya lalu beralih menatap Gibran
"kamu siapa kenapa seenak nya main peluk-peluk?" tanya nya menatap tajam
"aku suami nya,jadi gak apa-apa dong peluk istri sendiri" sahut Gibran santai
"hah...a...apa ...suami... kamu jangan bercanda ya ,mana buktinya kalau kamu suami nya " tanya Daniel nampaknya tak percaya begitu saja
"lihat lah,sama kan,jika kurang jelas perhatikan buku nikah ini baik-baik" ujar Gibran seraya menunjukan cincin yang melingkar di jari manis nya dengan Aranta ,ia bahkan memberikan buku nikah yang sengaja ia bawa ,sebab ia tahu jika istri nya tengah di dekati oleh dokter itu,makanya Gibran cepat-cepat pulang setelah urusan nya di luar negeri selesai
"ja...jadi..."
"ya ,aku sudah menikah ,maka dari itu aku tak pernah meladeni mu dokter Daniel...maafkan aku ,bukan nya aku kejam ,aku hanya menjaga nama baik ku juga suami ku, aku harap dokter bisa mengerti" ucap Aranta , Daniel sendiri nampak shock sebab ia tak pernah menyangka jika dokter cantik idaman hati nya itu telah dimiliki pria lain,ia pun tak pernah memperhatikan cincin yang melingkar di jari manis dokter cantik itu
"sayang ,aku laper deh,kita makan yuk,kamu juga belum sarapan kan?" ajak Gibran
"ehm... iya baru saja aku mau sarapan,perawat datang memberi tahu ku kalau ada pasien,jadi nya aku cepat-cepat ke sini dan menunda sarapan ku,tahu nya suami ku pasien nya "
"apa...su...suami...jadi mas ganteng ini suami nya Bu dokter ?" tanya perawat yang tadi nampak terkejut ,tangan nya yang membawa makanan untuk Aranta pun nampak gemetar saking terkejutnya
"iya, perkenalkan dia suami ku Adnan " ucap Aranta
"kalau begitu terima kasih ya mbak,maaf merepotkan " Aranta pun meraih makanan itu lalu membawa nya ke ruangan nya di ikuti Gibran di belakang nya
Daniel dan perawat itu pun nampak masih terdiam di posisi nya,hingga membuat Wewe pun gemas pada kedua nya.
Dengan sengaja Wewe pun meniup wajah kedua nya membuat mereka terkesiap.
"kok bau ******,dokter kentut ya ?" tuduh perawat itu menutup hidung
"enak saja kentut ku gak bau ****** ya, sembarangan saja kalau ngomong,kamu kali yang kentut " tuduh Daniel balik
"loh kok dokter malah balik nuduh aku kentut sih,udah jelas-jelas bau nya dari arah dokter " seru perawat itu lagi
"heh .... mana ada ya " seru Daniel tak terima
"hey...kalian sedang apa ribut-ribut di depan ruangan dokter Aranta?" tegur salah satu dokter wanita paruh baya
"eh Bu bidan ,maaf ini loh dokter Daniel masa nuduh aku kentut,mana kentut nya bau ****** lagi " adu nya
"lah ...dia yang nuduh saya duluan Bu" seru Daniel tak terima
"sudah-sudah kalian ini masih pagi saja sudah ribut,awas nanti jodoh loh" seloroh bidan itu
Keduanya pun saling tatap lalu kemudian
"hiiiyy.... amit-amit " keduanya bergidik geli
"hahaha....sudah lah....Susi lebih baik kamu kembali kerja sana,dan anda dokter Daniel juga kembali lah ke ruangan mu " ucap bidan tersebut lalu berlalu meninggalkan mereka
"ada-ada saja " gumam bidan senior itu menggeleng
Terdengar suara gelak tawa dari dalam ruangan itu,membuat hati Daniel nelangsa.
"nasib...nasib....sekalinya suka sama perempuan ternyata dia sudah menikah,mau cari dimana lagi perempuan seperti dokter Aranta " lirih nya lalu pergi meninggalkan tempat itu
Sebenarnya tak sulit untuk nya mencari pasangan,karena paras nya yang lumayan tampan pun sering jadi incaran kaum hawa, hanya saja dia yang terlalu pemilih membuat nya tak juga mendapat kan kekasih.
Sementara di tempat lain
Yoga nampak kebingungan sebab obat yang ia bawa sudah mau habis,sementara stok nya ada di rumah penginapan,itu pun hanya tinggal beberapa botol saja,sementara ekspedisi mereka di desa tersebut belum mencapai tengahnya.
"kenapa?"tanya Evan
"ini .... sepertinya obat nya gak akan cukup deh,di penginapan pun tinggal beberapa botol saja" ucap nya
__ADS_1
"wah terus bagaimana dong,apa mau kita ambil dulu yang di penginapan atau habiskan dulu yang kita bawa lalu lanjut lagi besok nya ?" timpal Yudi
"kalau ngambil dulu ke penginapan seperti nya akan memakan waktu deh,dari sana ke sini kan lumayan jauh juga " sambung Nuari
"ya sudah kalau begitu kita selesaikan saja sampai obat nya habis,nanti kita lanjut lagi besok nya" ucap Evan memberi ide
"ya ... sepertinya memang begitu " sahut Yoga
"ya sudah sepertinya tak sampai sore hari kita akan selesai,yuk tetap semangat...." seru Nuari
Mereka pun kembali melakukan pekerjaan mereka sampai obat nya habis. Sampai waktu menjelang ashar obat mereka pun habis dan mau tidak mau mereka menyudahi pekerjaan mereka.
"akhirnya habis juga "lirih Joni dan Jono
"kalian sudah membereskan barang-barang kalian ?" tanya Evan pada mereka
"sudah " sahut mereka bersama
"baiklah,kalau begitu mari kita pamitan pada penduduk " ajak Evan lagi
Mereka pun akhirnya beramai-ramai menuju balai desa untuk berpamitan pada pemimpin desa tersebut.
Setelah selesai berpamitan mereka pun akhirnya pergi meninggalkan daerah itu dengan berjalan kaki menuju sungai yang kemarin mereka lewati.
Seperti biasa mereka membawa sesuatu dari hasil perburuan warga dan beberapa sayuran juga buah-buahan dari para warga sebagai rasa terima kasih.
"hati-hati dengan langkah mu " seru Yoga membuat kedua gadis yang berjalan di depan nya menoleh
Renita menatap sinis pada Nuari,ia berdecih dalam hati.
"iya sayang,aku selalu berhati-hati kok " sahut Renita membuat Nuari merasa jengah,gadis itu pun kembali membalikan tubuh dan berjalan menghampiri Evan di depan nya
Yoga sendiri merasa bingung,tujuan nya memang pada Nuari,namun ia lupa jika Renita juga berjalan di samping Nuari.
Hingga sampai mereka di sungai yang waktu itu mereka pun kembali membuka sepatu mereka lalu mereka mulai menyebrang.
"akhirnya.... sampai juga kita di sini" ucap Joni dan Jono ketika mereka sudah sampai di Jeep
Akan tetapi tiba-tiba saja seekor kucing hutan tiba-tiba menyebrang membuat Evan menginjak rem karena terkejut.
"awas...." seru Joni dan Jono
Ckiiiittt....
"astaga ....apa itu tadi " pekik nya
"sepertinya kucing hutan " sahut Nuari yang juga sama terkejutnya
"tapi kok besar banget,anak harimau kali " ucap Joni dan Jono
"entahlah, mungkin benar anak harimau,sudah lah yang penting kita tidak apa-apa " ucap Nuari seraya memperhatikan semak dimana hewan tadi menghilang
Evan pun kembali melajukan Jeep nya, kali ini ia lebih berhati-hati agar kejadian seperti tadi tak terulang.
"untung saja kita tadi tak menabrak kucing tadi ya,coba kalau tertabrak bisa celaka kita,kata nenek ku pamali kalau nabrak kucing apalagi sampai mati" ucap Evan
"sebenarnya itu tadi kucing atau anak harimau sih ?" bingung Joni dan Jono
"apa pun itu yang penting kita semua baik-baik saja begitu pun dengan hewan tadi " sambung Nuari
"iya juga ya...kenapa kita malah pusing dengan hewan itu" lirih Joni dan Jono lagi
Beberapa saat kemudian mereka akhirnya sampai.
Yoga langsung memeriksa persediaan obat-obatan nya,sementara yang lain malah rebahan di lantai yang terasa dingin.
Evan dan Nuari pergi ke dapur untuk membawa minum,sedangkan Renita,gadis itu segera menuju ke kamar nya.
"aku gak nyangka kita bakal bermalam di sana,badan aku pegal-pegal semua " ucap Evan
__ADS_1
"kita memang harus siap dengan segala kemungkinan,masih bagus kita bermalam di rumah penduduk,coba kalau kita kemalaman di hutan" sahut Nuari
"iya kamu benar,kamu bisa mijit gak?" tanya Evan tiba-tiba
Nuari mengerutkan kening
"aku cuman bertanya kok,jangan terlalu serius begitu " tutur Evan terkekeh,ia merasa lucu saat melihat ekspresi Nuari yang nampak bingung
Ia tahu jika Nuari pasti akan keberatan jika ia meminta di pijit oleh nya,akan tetapi ia pun tak punya maksud dan tujuan lain,entah kenapa ia malah kefikiran untuk kembali membuat Yoga merasa panas.
"hm...baiklah, kebetulan aku sering mijitin nenek aku,tapi di pijit nya di luar saja ya biar yang lain lihat juga" ucap Nuari akhirnya
Sungguh Evan tidak menduga jika gadis itu bersedia, padahal ia juga tak terlalu serius.
"ok ,anggap aku ini kakak mu ya,karena mulai sekarang kamu adalah adik ku " ucap Evan tiba-tiba
Ia mengatakan hal itu bukan tanpa alasan,ia memang mencintai gadis itu,tapi ia juga tak ingin memaksakan diri,dan ia akan berusaha untuk mengubah perasaan nya itu menjadi perasaan sayang seorang kakak pada adik nya.
"adik?" tanya Nuari
"ya...adik ,kau mau kan jadi adik ku,jujur aku melihat mu seperti aku melihat adik perempuan ku,dan aku ingin menganggap mu seperti adik ku sendiri " ucap Evan tulus
"memangnya berapa umur adik mu ?" tanya Nuari
"umur nya sama dengan ku, karena kita kembar ,tapi di usia 15 tahun dia pergi untuk selama-lamanya" lirih Evan ,pria tersebut pun mendongak sebab ia tak ingin air mata yang sudah menggenang jatuh
"adik mu sudah meninggal?" tanya Nuari
"ya , dia meninggal karena kecelakaan,dan satu yang ku sesali aku tak ada di saat kecelakaan itu terjadi,coba saja kalau saat itu aku ada bersama nya ,mungkin aku sudah bisa menolongnya dan saat ini pasti dia masih ada "tutur Evan
"aku turut berdukacita,maaf jika aku malah kembali mengingat kan mu pada adik mu " ucap Nuari merasa tak enak
"iya , tak apa ,baiklah aku mau mandi dulu,biar pas kamu pijitin aku gak bau keringat" ucap Evan lalu berlalu menuju kamar mandi
"huuuuh....adik ya ... baiklah" gumam Nuari
Menjelang petang semua nya tengah berkumpul di ruang tengah.
Evan tersenyum smirk saat melihat Nuari keluar dari kamar nya ,ia pun segera meminta gadis itu duduk di dekat nya.
"ayo sini " pinta nya
"iya ,baiklah " meski merasa canggung Nuari pun melangkah kan kaki nya menghampiri Evan
"udah ,jangan dibuka,begini saja " ucap Nuari saat Evan hendak membuka pakaian nya
"hehehe.... iya baiklah" Evan terkekeh
"kalian mau ngapain ?" tanya Yudi
"mau di pijit lah,badan ku pegal-pegal nih " sahut Evan santai
"wuiihh....mantap tuh " timpal Joni dan Jono
Nuari pun segera memijit kedua pundak Evan,membuat Evan merem melek merasakan nya.
"pijitan mu enak ya ternyata,...ya...itu ...ya ...uuhh....mantap ..." racau Evan
Melihat hal itu pun sontak saja membuat darah pada diri Yoga mendidih,dengan wajah yang merah padam karena emosi ia pun beranjak keluar.
Melihat Yoga sudah termakan oleh permainan nya,Evan pun meminta Nuari menghentikan pijitan nya.
"sudah cukup ,terima kasih ya " ucap Evan
"loh ,udahan ?" tanya Nuari
"iya udah,gak lihat kamu ,tuh si Yoga ngambek,samperin gih,kesempatan kamu buat deketin dia,mumpung belatung nangka nya gak ada " bisik Evan
"ah....aku mengerti sekarang, terima kasih ya,kamu memang kakak ku yang paling the best" puji Nuari lalu beranjak menyusul Yoga
__ADS_1
"anything for you my sister" lirih Evan tersenyum tipis
...***...