
"Hahaha....haduh sayang kamu tuh ada-ada saja ,hampir aku bingung untung saja aku langsung ngerti,padahal tadi aku sempet mikir sejak kapan kamu melihara singa dan harimau" Yoga sampai terbahak sambil menyetir mobil nya
"Ya abis nya aku kesel banget,untung saja aku masih waras ,coba kalau aku sama gila nya dengan tuh belatung nangka,mungkin udah aku jedotin dia ke kap mobil " Sahut Nuari kembali merasa kesal mengingat bagaimana Renita dengan mudah nya mengatakan jika ia ingin jadi madu nya
"Tapi tadi kamu keren banget tahu,dia sampai gemetar ketakutan dan langsung nolak " Ucap Yoga seraya tersenyum menggelengkan kepala nya
"Iya dong,menghadapi orang seperti itu tidak akan mempan dengan kata-kata kasar tapi langsung tembak dia melalui mental nya. Untung saja aku masih simpan foto-foto aku bersama para hewan menggemaskan itu" Ucap Nuari lagi
"Padahal tadi aku udah nunggu mama nampar Tante tadi ,aku gak suka dia godain papa terus " Celetuk Raffa
Nuari dan Yoga tersentak,mereka melupakan sang putra yang masih memasang telinga di kursi belakang. Pasutri tersebut saling lirik.
"Kirain mama kamu tidur "
"Aku gak ngantuk kok ,aku mau tidur nya nanti saja kalau sudah ngantuk " Sahut Raffa
Nuari tersenyum masam mendengar ucapan putra nya.
"Ya iya lah kalau sudah ngantuk ya tidur " lirih Nuari lalu kembali melihat ke depan
Sebelum mereka menuju bandara , kedua nya mampir dulu untuk berpamitan pada Silvi dan keluarga nya. Yoga juga sudah menghubungi pihak rental mobil jika ia sudah selesai menyewa mobil nya. Mobil akan di bawa setelah mereka sampai di bandara, seseorang sudah menunggu mobil tersebut untuk dikembalikan ke tempat rental.
Sementara itu Evan terus mengusap perut Ayu yang kini sedang duduk berjemur di depan rumah.
Evan merasa lega karena tidak ada sesuatu yang terjadi pada istri nya. Semalam ketika Ayu keluar dari bilik toilet ,seorang ibu paruh baya terjatuh kepala nya membentur lantai hingga pingsan. Ayu terkejut dan langsung berteriak meminta tolong. Ia begitu panik karena ibu itu tak sadarkan diri, perut nya pun bereaksi karena ia begitu panik.
"Sekarang gimana perut nya ,masih sakit ?" Tanya Evan tanpa melepaskan tangan nya dari perut sang istri
"Enggak " Jawab Ayu
"Kalau masih sakit bilang ya,jangan ditahan itu bisa bahaya buat kamu juga bayi kita " Ucap Evan menatap Ayu ,Ayu pun mengangguk
Semalam Evan langsung membawa Ayu ke rumah sakit bersamaan dengan ibu paruh baya yang juga dibawa keluarga nya ke rumah sakit yang sama.
__ADS_1
Beruntung kandungan Ayu tidak bermasalah , semuanya baik-baik saja.
Evan kemudian membawa Ayu masuk ke dalam rumah. Hari ini ia diminta tetap di rumah oleh mertuanya,Satria. Sebagai ganti nya Satria lah yang berangkat ke rumah sakit. Mereka memang sudah sepakat untuk bergantian menjaga Ayu. Tak ingin sekalipun Ayu ditinggal sendirian di rumah meski ada beberapa art di sana.
Ayu bak seorang putri yang selalu dilayani setiap keinginan nya.Hal itu pun menjadikan nya semakin manja baik pada Evan maupun sang ayah. Meskipun begitu mereka sama sekali tak merasa terbebani dengan sikap manja Ayu. Seperti halnya saat ini Ayu merasa pegal di kaki nya ,ia dengan manja nya meminta Evan memijit kaki nya yang mulai bengkak.
"Sayang,kaki aku sakit , pegel. Pijitin dong !" Pinta nya
"Dengan senang hati. Sini kaki nya " Evan segera menarik perlahan kedua kaki Ayu lalu di simpan di atas pangkuan nya,mereka duduk di sofa. Evan yang duduk bersandar sementara Ayu merebahkan tubuh nya
"Gak kekencangan kan pijitan nya ?" Tanya Evan
"Enggak kok ,kurang kenceng malah" Sahut Ayu
"Jangan kenceng-kenceng,nanti bekas pijitan nya akan sakit ,segini juga cukup " Ucap Evan
"Ya sudah deh ,terserah pak dokter saja " Ayu mencebik
"Kapan kamu periksa kandungan lagi ?" Tanya Evan
"Dua hari lagi. Sekarang kan sudah mendekati lahiran jadi periksa nya dua Minggu sekali ,apalagi kata bidan nya kan bayi aku kecil jadi harus terus di kontrol berat badan nya " Tutur Ayu
"Padahal ini perut kamu gede gini ya, tapi bayi nya kecil " Evan terus mengusap perut istrinya
"Entah lah ,kata bidan nya sih wajar "
"Padahal gak apa-apa ya bayi nya kecil ,asal pas lahir bayi nya sehat dan normal mulus tanpa ada kurang apapun " Ucap Evan.
"Mungkin kalau bayi nya kurang berat badan dari berat normal nya akan rentan terkena penyakit atau apalah aku juga ngerti,aku gak terlau menyimak ucapan bidan nya waktu itu ,karena aku tengah terharu melihat bayi kita di layar monitor "Waktu itu ketika bidan menjelaskan tentang berat badan bayi di dalam kandungan nya ia tak memperhatikan sebab perhatian nya teralihkan pada layar monitor dimana di sana bayi nya sudah terbentuk dengan sempurna. Saat itu juga yang mengantar Ayu adalah Satria,sebab Evan tengah pergi ke luar kota untuk melakukan seminar.
Beberapa hari kemudian
Raffa tengah menyusun batu-batu kecil di halaman belakang rumah nya. Di sana terdapat banyak bebatuan berukuran kecil. Entah bagaimana cerita nya anak itu selalu mengumpul kan batu ketika ia bepergian. Pernah suatu hari ketika Raffa melakukan karya wisata bersama sekolah nya ke Taman hiburan. Di sana terdapat kolam dengan air mancur di tengah nya ,di tengah-tengah air mancur itu terdapat batu-batu bulat berwarna warni. Raffa masuk ke kolam yang memang sangat dangkal lalu mengantongi batu-batu itu. Sontak saja para petugas di Taman hiburan itu segera menegur nya. Beruntung Nuari yang saat itu memang ikut menyertai putra nya segera memberi pengertian jika putra nya memiliki hoby mengumpulkan batu. Tentu saja Nuari juga memberikan ganti rugi meski hanya sekedar batu.
__ADS_1
"Ya ampun itu anak mau sampai kapan bawain batu. Tiao pergi ke suatu tempat pasti yang dibawa batu " Gumam Nuari gemas
"Raffa sayang masuk yuk,gerimis nak " Seru Nuari di ambang pintu.
"Iya mah,sebentar lagi" Raffa dengan cepat menyusun batu-batu itu
Setelah nya Raffa pun menghampiri Nuari.
Meski bingung dengan hobi sang putra, baik Nuari maupun Yoga tak pernah melarang nya. Karena jika difikir-fikir apa yang dilakukan putra nya malah mempercantik taman belakang rumah nya ,apalagi di sana juga terdapat beberapa tumbuhan pakis hutan dan keladi yang sengaja ditanam.
"Mah ,papa mana?" Tanya Raffa
"Ada di ruang kerja nya sayang ,ada apa memang nya?" Tanya Nuari
"Enggak kok cuman nanya saja,oh iya mah kok kak Ridwan dan Luna pulang aku gak tahu?" Tanya Raffa menanyakan kedua anak Riswan dan Merlin
"Kan kita di Pontianak sayang,jadi tidak tahu ketika mereka kembali ke Jepang" Ucap Nuari .Ia yang mengetahui rencana kepulangan kakak angkat nya merasa menyesal karena lupa ngasih tahu Raffa.
"Oh gitu ,pantas saja "
"Tapi kapan-kapan kita ke Jepang ya mah ajak Atha juga Lia sekalian nenek dan kakek ,pokok nya semuanya kita ajak "Pinta Raffa
"Iya , insyaallah kalau waktu nya pas kita sekeluarga akan berangkat ke Jepang,tapi mama gak bisa janji ya "
"Iya mah "
Raffa memang anak yang tak pernah menuntut jika menginginkan sesuatu. Dan karena itu pula Nuari dan Yoga selalu berusaha untuk memenuhi keinginan nya.
Saat anak dan ibu itu berjalan masuk ke dalam rumah , tiba-tiba terdengar suara ledakan.
DUARRR'
bersambung...
__ADS_1