Tarzan Cantik Dokter Idaman Hati

Tarzan Cantik Dokter Idaman Hati
Jadi senewen


__ADS_3

Bunga yang dulu sempat layu dan hampir terlepas dari tangkai nya kini terlihat segar kembali. Hal itu pula yang terjadi pada Evan saat ini. Ia yang baru saja terpuruk hati nya karena mengikhlaskan sang pujaan hati kini seolah menemukan kembali tujuan hidup nya.


Dengan semangat empat lima ,Evan melangkah menuju mobil nya yang terparkir di parkiran khusus dokter,akan tetapi tiba-tiba ponsel nya berbunyi,ia yang hendak membuka pintu mobil nya pun mengurungkan niat nya dan memilih mengangkat panggilan itu.


"dokter Satria " gumam nya ,Evan pun segera menekan tombol hijau


"iya dok ............baiklah akan aku selidiki,iya dok tak apa " ucapan Evan lalu menutup panggilan telepon nya


Evan menghela nafas panjang,dengan raut muka yang sedikit lusuh , berbanding terbalik dengan ekspresi sebelum nya.


"kenapa harus saat ini juga sih " keluh nya ,ia pun mau tidak mau menerima perintah atasan nya untuk menuju rumah sakit tempat Ayu bayi dilahirkan


Sementara itu dokter Satria nampak menyungging kan senyum nya melihat mobil Evan yang sudah berlalu. Pria paruh baya itu tahu jika Evan mulai ada rasa pada putri semata wayang nya,namun ia tak ingin terlalu terburu-buru apalagi ia sendiri tahu bagaimana perasaan Evan pada Nuari ,namun karena melihat dari gelagat juga sikap Evan pada Ayu membuat nya yakin jika pria berlesung pipi itu menyukai putrinya, sebagai seorang ayah,ia tentu ingin yang terbaik untuk anak satu-satunya maka dari itu dokter Satria ingin mengetes seberapa serius nya ia membantu nya membuka tabir siapa penculik putri nya.


Sementara itu


Yoga dan Nuari baru saja memasuki area perumahan , perasaan Yoga sudah tak enak semenjak memasuki gerbang perumahan.


Jantung nya semakin berdebar kala gerbang pagar besi yang menjulang mulai terlihat.


"sayang kenapa kamu seperti nya gelisah begitu?" tanya Nuari


"ti..tidak ,siapa yang gelisah, aku hanya menahan pipis " sahut Yoga beralasan


"ya ampun sayang ,tahan sebentar lagi ya " ucap Nuari yang rupanya percaya saja dengan alasan suaminya itu


"iya sayang" sahut Yoga meringis senyum


Beberapa saat kemudian mobil pun memasuki gerbang rumah ,mata Yoga melirik ke arah tembok pagar ,namun ia tak melihat apa pun. Ya iya lah hanya orang tertentu saja yang bisa melihat ,dasar Yoga.


Keduanya pun segera keluar dari mobil, dengan perasaan tak menentu Yoga berjalan masuk ke dalam rumah dengan menggandeng lengan Nuari.


"assalamualaikum...." ucap Nuari dan Yoga


"waalaikum salam ...." sahut Dewi


"rumah sepi ,kemana semua orang ?" tanya Nuari


"kakak mu di kamar,papa belum pulang ,mama mu katanya malam nanti baru pulang " sahut Dewi seraya membawa cucu dan cucu mantu nya ke ruang keluarga


"kalian mau minum apa ?" tanya Dewi


"ah nenek kaya sama tamu saja pake nanyain minum apa segala,nanti juga kalau haus aku ambil sendiri" cebik Nuari


"bukan begitu,kamu kan lagi hamil ,nenek gak mau kamu kecapean " ucapan nenek nya


"cuman ngambil minum gak capek kok " saut Nuari lagi


"ah kamu tuh selalu saja bisa jawab " ucap Dewi seraya mencubit hidung cucu nya gemas, Nuari terkekeh


"ya sudah kalau gitu kalian istirahat saja sana " ucap Dewi


"ya sudah kita ke kamar ya nek ,aku juga gak tahu kok malah jadi ngantuk rasa nya " ucap Nuari


"iya ,sana kalian istirahat" ujar Dewi lagi


Nuari dan Yoga pun akhirnya pergi ke kamar mereka.


Di dalam kamar Yoga berjalan ke arah jendela dan melihat ke luar lebih tepat nya ke arah gerbang.


Tatapan nya menelisik,ia penasaran juga takut ,karena memang sebenarnya Yoga memang tipe orang penakut.


Yoga terkesiap saat tiba-tiba saja sepasang lengan putih memeluk nya dari belakang.


"kamu lihatin apa sih ?" tanya Nuari seraya menyandarkan kepala nya pada punggung Yoga


Yoga menghela nafas lalu melonggarkan pelukan Nuari lalu memutar tubuh nya.

__ADS_1


"gak ngelihatin apa-apa kok " sahut nya


"sayang....kok kamu bau sih ?" cetus Nuari tiba-tiba


"kok bau,bau apa?" tanya Yoga bingung


"gak tahu , duh aku mual deh " ucap Nuari lagi seraya menjauh , sementara Yoga mengendus-endus tubuh nya terutama di bagian ketiak


"gak bau kok,kan aku baru saja habis mandi ,ketek aku juga pake deodorant,kan kamu sendiri yang pake in "ucap Yoga ,yang memang Nuari lah yang mengoleskan deodorant itu karena terus merengek


"iya tapi kamu bau ,udah jangan deket-deket" ucap Nuari ketika Yoga hendak mendekati nya


"kamu kenapa sayang ,aku gak bau kok "


"kamu bau ,dan aku gak mau deket-deket kamu sebelum bau nya hilang" ujar Nuari lagi seraya membaringkan tubuh nya dengan posisi memunggungi Yoga


Yoga menghela nafas lalu berjalan menuju kamar mandi,di dalam kamar mandi Yoga membuka pakaian nya lalu menghirup aroma pada pakaian nya.


"orang wangi gini di bilang bau,gimana sih" gumam nya


"apa aku mandi lagi saja ya " gumam nya lagi


Maka tak berfikir lagi Yoga pun segera mempereteli pakaian nya lalu ia mandi lagi,ia memakai sabun yang banyak agar wangi dan tak di bilang bau lagi.


Beberapa saat kemudian Yoga selesai mandi ,ia keluar dari kamar mandi hanya mengenakan jubah mandi.


Aroma sabun yang menguat dari tubuh nya menyeruak ke indera penciuman Nuari ,hingga Nuari yang tengah memainkan ponsel nya itu pun menoleh.


"kok makin bau ?" tanya Nuari menutup hidung nya


"sayang ,kok kamu aneh banget sih,aku gak bau di bilang bau " ucap Yoga tak habis fikir


"hiks...kamu bentak aku ?" lirih Nuari terisak


Yoga terkesiap


"tadi itu apa ,kamu mau nyalahin aku karena kamu bau ,kamu mau bilang penciuman ku bermasalah kan ?" tangis Nuari semakin menjadi bahkan sampai terdengar ke luar


"astaga sayang ....aku gak ada fikiran ke sana loh ,aku..."


Ucapan Yoga terhenti sebab suara tangis Nuari yang terdengar memilukan membuat hati nya bergetar, Yoga pun mendekat dan memeluk tubuh istri nya itu,namun baru saja tubuh mereka menempel Nuari sudah berontak karena rasa mual nya kembali menyerang.


"sudah aku bilang jangan dekat-dekat,kamu bau ,aku mual " seru Nuari yang segera beranjak ke kamar mandi lalu memutahkan isi perut nya


"huueekkk..... huueekkk...."


Yoga tak tega ia menghampiri Nuari dan memijit tengkuk nya,setelah selesai Nuari terduduk di depan kloset dengan tubuh nya yang lemas.


"hemmph..." Nuari menutup hidung nya ketika rasa mual kembali ia rasa ka begitu hidung nya mencium aroma sabun di tubuh Yoga


"kamu keluar dan jangan dekati aku,aku mual banget " lirih Nuari


"tapi sayang,..."


"aku bilang keluar " ucap Nuari lemas


"baiklah jika itu mau mu ,aku keluar ,tapi kalau ada apa-apa panggil aku " lirih Yoga akhirnya mengalah dan melangkah keluar kamar mandi


Nuari menatap nanar kepergian Yoga


"hiks...ada apa dengan ku,harus nya aku tak bersikap seperti itu pada nya " Nuari terisak ,ia bingung dengan apa yang terjadi pada nya


"apa mungkin karena perubahan hormon karena kehamilan ku ?" lirih nya lagi seraya mengusap perut rata nya


Nuari kembali menitikan air mata menyesali nya,ia sangat menyesal karena gak bisa menjaga sikap nya dan telah bersikap tak baik pada Yoga.


Sementara Yoga sendiri pun belum menyadari dengan apa yang terjadi pada Nuari. Perasaan nya kalut ,ia pun bergegas memakai pakaian nya lalu menuju balkon.

__ADS_1


Di luar nampak matahari sebentar lagi tenggelam,terlihat mobil Rifki sudah memasuki garasi.


Tiba-tiba Yoga teringat akan cerita Nuari tentang pada makhluk astral di rumah itu,maka Yoga pun cepat-cepat meninggalkan balkon dan menutup rapat pintu nya.


Dilihatnya pintu kamar mandi masih tertutup.


Yoga mendekat dan mendengar suara isakan dari dalam ,ia pun hendak membuka pintunya,namun ia urungkan sebab ia tak ingin istrinya marah lagi pada nya.


Maka dengan terpaksa Yoga membiarkan Nuari menangis sendiri di kamar mandi.


Beberapa detik kemudian Nuari keluar dan langsung pergi dari kamar dengan mata yang sudah sembab.


Yoga membiarkan saja ,namun kemudian ia terkesiap saat mendengar suara Rifki yang bertanya pada Nuari.


"waduh ,bisa salah faham ini ,nanti di kira nya aku apa-apain anak nya lagi " Yoga pun bergegas menyusul Nuari


"apa yang terjadi ?" tanya Rifki begitu Yoga keluar dari kamar,rupanya Nuari belum mengatakan apapun ,ia hanya terisak di pelukan papa nya


"i...itu...anu pah..."ucap Yoga tergagap


"ini itu anu apa ,bicara yang jelas mau kamu aku pecat jadi menantu " gertak Rifki


"papa " Nuari mendongak ia ingin protes dengan gertakan Rifki


"tidak mau pah,jangan pecat menantu mu,aku akan jelaskan ,tapi ....aku juga tak tahu apa yang terjadi " tutur Yoga


"kenapa bisa sampai gak tahu?" tanya Rifki


Mendengar suara gaduh ,Dewi ,Aranta dan Gibran pun menghampiri


"ada apa ini ,loh Ari...kamu kenapa sayang ?" tanya Dewi ,Nuari tak menjawab


"ada apa ini?" tanya Gibran menatap Yoga dengan tajam,membuat Yoga semakin gelagapan


tapi kemudian Gibran menyeringai,ia ingin tertawa namun ia tahan.


"ceritakan saja " ucap Gibran kemudian


"baiklah ,jadi begini ,tadi tiba-tiba Ari bilang aku bau , padahal aku sudah mandi ,jadi aku putuskan untuk mandi lagi ,tapi tetap saja dibilang bau , kemudian Ari salah faham mengira aku membentak dan menganggap penciuman nya bermasalah, tapi sumpah aku sama sekali tidak membentak Ari " ucap Yoga sambil menggelengkan kepala dengan kedua jari tangan nya di angkat membentuk huruf V


Rifki ,Dewi ,dan Aranta mereka saling lirik dan akhirnya mengulum senyum.


"astaga ada-ada saja ,dasar bumil " batin Aranta ,Dewi ,dan Rifki hampir sama


"ya sudah, kalau gitu kalian harus jaga jarak ,kalau perlu tidur nya terpisah,daripada ada drama lagi " cetus Rifki


"aku gak mau tidur terpisah,gak apa-apa aku di tempat tidur , Yoga biar di sofa saja " celetuk Nuari membuat Rifki kembali menahan tawa


"iya ,terserah kamu saja ,asal jangan nangis-nangis lagi ,jadi jelek nanti bayi kamu ikutan nangis " ujar Rifki lagi


"kalau gitu kita siap-siap sholat Maghrib yuk,sebentar lagi udah masuk waktu nya " ajak Aranta ,mereka pun bersiap-siap melaksanakan sholat Maghrib yang akan mereka lakukan di ruangan mushola


"yang sabar ngaepin bumil ya " bisik Gibran saat hendak beranjak sementara Nuari sudah lebih dulu masuk kamar nya


"iya kak " sahut Yoga


"ibu hamil memang seperti itu,mood nya kadang berubah-ubah,itu karena perubahan hormon di dalam tubuh nya,jadi papa harap kamu bisa lebih sabar dan jangan terpancing emosi, istri ku saat hamil Ari dulu juga begitu malah lebih parah dari Ari,jadi papa minta kau harus ekstra sabar ngaepin tingkah bumil " ucap Rifki menasehati menantu nya


"iya pah,sekarang aku mengerti ,maaf jika tadi aku sempat terbawa emosi " ucap Yoga


"iya tidak apa-apa,papa ngerti ,ya sudah sana siap-siap papa tunggu di ruang mushola " Rifki menepuk pundak Yoga lalu pergi ke kamar nya


"untung Aranta tidak aneh-aneh " gumam Gibran seraya melangkah masuk kamar


"huuuuuffftt.....jadi begitu,astaga Ari ..Ari...kamu bikin aku senewen saja "


...***...

__ADS_1


__ADS_2