
Pemandangan diluar jendela menampakkan segumpalan awan putih yang nampak seperti kapas yang berselimut kabut ada yang tipis juga tebal.
Nuari yang tengah duduk bersandar pada kursi pun nampak memejam kan mata. Di samping nya ada Gibran yang tak pernah jauh dari nya.
Sementara Yoga duduk di kursi belakang Nuari bersama Bu Nur Aini ,Rifki sendiri duduk di kursi lain,ia yang nampak lelah pun memanfaatkan waktu nya untuk tidur sejenak sembari menunggu pesawat jet yang mereka tumpangi landing.
Ya mereka kini berada di dalam pesawat untuk kepulangan nya ke ibu kota.
Sebelum pergi ,tentu nya Yoga sudah mempercayakan peternakan nya pada orang yang benar-benar ia percaya.
Sementara di Jakarta ,Nuri tengah memasak makanan kesukaan putrinya bersama Aranta. Semenjak mengandung Aranta tak lagi di izinkan pulang,sebab sebagai mertua dan calon nenek ia ingin memanjakan calon ibu juga janin di dalam nya,seperti hal nya dirinya saat mengandung dulu yang selalu di manjakan oleh mertua nya.
"kamu bantu mama sambil duduk saja sayang " kata Nuri saat Aranta tengah memotong bawang
"gak apa-apa mah,cuma begini saja tak akan membuat ku kelelahan" ucap Aranta
"kamu ini jangan bandel ya,sudah sana duduk,ayo mama bantu bawa apa-apa saja yang mau kamu potong-potong,oh iya jangan lupa untuk selalu mengucap bismillah dan amit-amit ketika sedang melakukan sesuatu, jangan lupa juga sambil dielus perut nya " ucap Nuri seperti yang selalu ibu nya katakan pada nya dulu ketika sedang mengandung
Aranta hanya tersenyum menanggapi , setelah mengatakan itu Nuri kembali sibuk dengan ayam yang sudah di buat telanjang untuk kemudian ia mutilasi jadi beberapa bagian,sementara Aranta kembali dengan aktivitas nya memotong bawang dan sayuran.
Di sebuah apartemen
Ayu yang tak pernah tahu apa pekerjaan Evan pun hanya bertanya-tanya dalam hati nya mengenai pekerjaan pria itu.
Mau bertanya ia rasa bukan urusan nya,namun dari apa yang pria itu berikan entah itu makanan,pakaian,atau sekedar ikat rambut pun membuat nya penasaran karena ia tahu harga yang pria itu keluarkan tidak sedikit.
Evan membelikan nya ikat rambut sebab ia merasa risih ketika melihat gadis itu mengenakan karet gelang sebagai ikat rambut.
Meskipun ia kuper alias kurang pergaulan,ditambah pendidikan nya yang minim bukan berarti ia tak tahu barang mahal dan murah.
Ia sangat tahu yang mana barang branded dan mana yang imitasi dan biasa-biasa saja alias merakyat.
"sebenarnya apa pekerjaan nya ya,kenapa setiap barang yang ia belikan untuk ku harga nya di atas satu juta,bahkan hanya sendal jepit pun ini bisa ditebak harga nya bisa lebih dari seratus ribu,apa dia gak sayang uang nya" gumam nya pelan
Ia yang sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah pun segera melangkah kan kaki nya menuju kamar mandi di kamar nya.
Kemarin gadis itu meminta sebuah pekerjaan pada Evan,ia tak mau keberadaan diri nya di sana hanya akan menyusahkan nya saja,ia ingin bekerja dan mendapat kan uang sendiri,ia merasa tak enak jika harus selalu menerima kebaikan pria itu.
Namun justru ia bingung ketika ditanyai hendak bekerja apa,karena ia sama sekali tak memiliki pengalaman kerja selain bernyanyi dan menjadi biduan dangdut yang sebenarnya ia sendiri tak nyaman.
Hingga sebuah ide konyol pun tercetus begitu saja dari bibir mungil nya.
"bagaimana kalau aku jadi pembantu mu saja,untuk sebulan sih gak apa-apa deh gak dibayar juga, itung-itung gantiin semua yang kamu kasih ke aku ,tapi bulan berikut nya aku minta di bayar,gak apa-apalah sedikit juga,asal aku masih bisa makan ,aku janji akan selalu membuat tempat tinggal mu rapih dan bersih,mencuci pakaian ,memasak,dan apapun pekerjaan rumah aku bisa kok ,termasuk benerin genting " cerocos nya hingga membuat Evan berkerut kening
"di sini tak ada genting bocor yang harus di perbaiki,atap nya terbuat dari coran semen, lagi pula di atas apartemen ku masih ada lantai lain yang juga tempat tinggal orang lain " ucap Evan
Kini Ayu pun sudah mulai bisa di ajak berkomunikasi dengan baik,tak takut dan gugup lagi terhadap Evan. Tapi tetap saja jika orang lain apalagi asing akan membuat nya susah berkomunikasi,butuh adaptasi lagi agar ia bisa berkomunikasi dengan orang lain.
__ADS_1
Gadis itu terkekeh kecil ketika mengingat obrolan mereka kemarin sore tentang keinginan nya menjadi pembantu.
Suara percikan air terdengar dari kamar mandi,dengan bersenandung kecil Ayu menggosok tubuh nya di bawah guyuran shower,hal yang paling menyenangkan bagi nya,karena ia baru merasakan mandi menggunakan shower,karena biasa nya hanya gayung alat mandi nya.
Pukul 15:00 Nuari dan yang lain sudah sampai di depan rumah,Nuri dan Aranta segera menyambut mereka,Dewi pun turut bersama kedua nya.
"assalamu'alaikum.....mama......" Nuari segera memeluk mama nya erat,ingin rasanya ia menangis karena teringat kejadian beberapa hari yang lalu yang membuat nya sempat down,namun ia menahan dengan sekuat hati agar tak membuat air mata juga tangis nya pecah di depan sang mama
Ia tak mau mama nya kembali mengkhawatirkan diri nya.
"waalaikum salam sayang.... bagaimana keadaan mu ?" tanya Nuri
"aku baik-baik saja mah" sahut nya seraya tersenyum,lebam di wajah nya pun kini sudah tak terlihat
Nuari mengurai pelukan nya lalu beralih pada nenek dan kakak ipar nya
Sementara itu kini Nuri beralih pada Yoga dan Bu Nur Aini,mereka sudah sepakat untuk tidak kembali menceritakan insiden yang menimpa Nuari pada Nuri. Tak hanya menjaga perasaan Nuri,tapi juga agar Nuari tak kembali teringat akan kejadian itu yang mana nantinya akan membuat gadis itu terluka kembali.
Setelah bersalam-salaman saling sapa,mereka pun memasuki rumah.
"kalian pasti sudah lapar bukan,yuk kita langsung saja ke ruang makan,kita sudah siapkan makanan " ajak Nuri
Mereka pun beralih menuju ruang makan,dan mengambil posisi masing-masing di meja makan.
Selama ritual makan,tak ada satu pun yang mengeluarkan suara,semua nya nampak menikmati makanan yang tersaji di meja makan,hingga kemudian suara Nuri yang menanyakan sesuatu yang mereka hindari pun terdengar hingga membuat mereka saling tatap dan gugup.
"memang nya ada masalah apa kamu selama di sana,mama sangat mengkhawatirkan mu nak " tanya nya
"ekhem...sayang ,nanti aku ceritakan,jangan tanyai Ari macam-macam dulu, kasihan dia masih capek " ujar Rifki
"hm... baiklah,apa pun itu masalah nya,yang penting sekarang semua sudah baik-baik saja kan dan kamu juga tak kenapa-kenapa" ucap Nuri seraya mengusap pipi anak gadis nya
"iya mah....semua nya ....a..aku ...aku permisi ke kamar,mau istirahat" ucap Nuari yang kini berkeringat dingin
"ayo aku antar " seru Yoga
"eh....mau ngapain,udah kamu diem saja yang tenang di sini,biar aku saja yang antar adik ku,kalian belum muhrim tak seharusnya kamu mengantar adikku ke kamar nya " larang Gibran
"hehehe....iya deh,aku ngerti,maaf kak " cengir Yoga
Rifki terkekeh begitu pun dengan yang lain
"makanya segera halalin biar tak ada yang membentengi hubungan kalian " cetus Aranta
"segera kak,kalau begitu sekalian saja,karena perut sudah kenyang kami berdua mau pamit" cetus Yoga
"enak ya kalian perut kenyang mau langsung pulang,diem dulu sebentar kek,ada hal yang perlu kita bahas setelah ini " seru Rifki hingga menimbulkan gelak tawa yang lain
__ADS_1
"Yoga...aku ke kamar ya " ucap Nuari, Yoga pun beranjak mendekat
"iya ,kamu istirahat saja,jangan fikirkan apa pun, semua sudah berlalu, senyum mu terlalu berharga jika harus hilang karena kejadian kemarin,ingat aku akan selalu bersama mu " ucap Yoga pelan seraya menyentuh pucuk kepala gadis itu ,ia hendak meraih tangan nya namun tatapan tajam langsung di berikan Gibran pada nya
"ehm...terima kasih karena kamu masih ingin bertahan dengan ku yang sudah ...."
"shhyuutt....jangan katakan ,ya sudah sekarang kamu istirahat saja, aku juga sebentar lagi akan pulang,dan persiapan kan diri mu untuk besok " ucap Yoga seraya mengedipkan sebelah mata nya
"besok ? memang nya ada apa dengan besok ?"tanya nya
"kejutan " jawab Yoga singkat
"hm... baiklah aku tunggu kejutan mu,aku ke kamar ya " ucap Nuari lagi ,kini ia benar-benar menuju kamar nya bersama Gibran
"dek...kakak tahu tak mudah untuk mu melupakan apa yang terjadi kemarin,kamu pasti masih shock dan trauma,kamu tak sendiri ada kakak,mama ,papa, nenek , Yoga dan yang lain nya,jangan sedih lagi ok " ucap Gibran setelah kedua nya berada di dalam kamar
"tapi...aku masih takut kak...." lirih nya
"kamu yang tenang ya,ada kakak di sini,jangan takut lagi,orang itu sudah mendapat hukuman yang setimpal dan kakak pastikan tak akan mudah untuk nya keluar dari penjara,jika pun dia berusaha kabur,kakak dan papa tak akan membiarkan nya lolos begitu saja,apalagi ada nek Wewe ,bang Popo dan kak Wowo
"seandainya Tante Lasmi masih ada ya kak " lirih nya
"iya,...doakan saja semoga Tante Lasmi tenang di sana " ucap Gibran lalu membantu adik nya membaringkan tubuh
"istirahat lah ,jangan ingat-ingat lagi yang kemarin " lirih Gibran lalu mencium ubun-ubun Nuari
"iya kak,akan ku usahakan " senyum manis nya terukir begitu saja
Setelah itu Gibran pun meninggalkan kamar Nuari setelah memastikan jika adik nya benar-benar sudah tidur.
Di ruang tengah,nampak Yoga yang duduk berdampingan dengan Bu Nur Aini,di depan nya ada Rifki dan Nuri,di samping Nuri duduk Dewi dan Aranta,lalu di susul Gibran yang dengan usil nya menggeser duduk sang nenek,agar ia bisa duduk di samping Aranta.
"dasar anak nakal " dengus Dewi pelan ,sementara Gibran tersenyum menggoda nenek nya
"ekhem....jadi bagaimana dengan keseriusan mu terhadap putri ku ?" tanya Rifki pada akhirnya
"saya benar-benar serius om,saking serius nya ,besok saya meminta om dan keluarga datang memenuhi undangan saya di hotel Latasya' pukul delapan pagi,semua sudah saya siapkan dengan matang,om dan keluarga tak perlu repot-repot ngurus ini dan itu"
Kening Rifki berkerut berkali-kali lipat mendengar ucapan Yoga , begitupun dengan yang lain termasuk Bu Nur Aini sendiri. Ia pun hendak bertanya namun Yoga kembali berucap
"besok,sebelum penghulu datang saya harap om dan yang lain sudah sampai terlebih dahulu ,untuk mempersiapkan Ari sebagai mempelai wanita"
"APA......KAMU SERIUS.....?"
"BESOK.....???"
Mereka terkejut dan bertanya secara bersama an , sebenarnya Gibran mengetahui rencana Yoga,namun ia sama sekali tak menyangka jika akan secepat itu.
__ADS_1
"iya serius ...besok aku dan Ari akan menikah " jawab Yoga santai
...***...