
Nuari yang selesai mandi pun segera menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian nya,akan tetapi ketika ia melewati sebuah kalender yang menempel di samping lemari,langkah nya terhenti.
Ia tercenung untuk beberapa saat hingga kemudian ia menutup mulut nya sendiri dengan telapak tangan nya.
Mata nya tiba-tiba berembun,perasaan nya berdesir ketika melihat tanggal yang ia lingkari.
"aku kan melakukan itu setelah selesai haid, sekarang aku sering mual dan muntah,mood ku juga berubah-ubah,apa jangan-jangan.....di sini sudah tumbuh sosok malaikat kecil ,buah cinta ku dan Yoga "lirih nya tangan kiri nya mengusap perut rata nya, sementara tangan kanan nya masih menutup mulut nya sendiri
Dengan meneteskan air mata Nuari segera membawa pakaian nya dan langsung mengenakan nya.
"mudah-mudahan benar,Ya Allah aku akan sangat bahagia jika benar-benar terjadi" ucap nya pelan
Dengan sangat hati-hati ia berjalan menuruni tangga,sebab ia tidak mau mengambil resiko jika ia benar-benar tengah mengandung.
"bi....bibi...." teriak nya memanggul art
"iya nyonya ada apa?" tanya bibi datang dengan terpogoh-pogoh
"saya bisa minta tolong gak bi?" tanya Nuari
"minta tolong apa nyonya, insyaallah bibi bisa bantu "
"bibi bisa tolong belikan aku test pack ?"
"wah...nyonya hamil ?" seru bibi nampak antusias
"saya juga belum tahu bi,tapi dari tanda-tanda nya sih sepertinya iya,bibi jangan bilang suami saya dulu ya,takut nya hasil nya negatif " ucap Nuari
Bibi mengangguk dan segera menerima uang dari Nuari. Setelah itu bibi pun langsung pergi menuju apotik untuk membeli sebuah alat tes kehamilan atau bisa disebut test pack.
Beberapa saat kemudian bibi sudah kembali dengan membawa beberapa test pack dalam kantong kresek kecil berwarna putih.
"makasih ya bi "
"iya minta semoga hasil nya positif " ujar bibi yang ikut senang
"iya bi amin , kalau gitu saya mau coba cek dulu" ucap nya lalu kembali ke kamar nya
Meski ia tahu hasil nya akan lebih akurat jika di lakukan nya di pagi hari saat pertama kali ia membuang air urine nya. Tapi karena ia merasa tak sabar ia pun nekat melakukan nya saat ini juga.
"gak apa-apa deh aku coba sekarang saja,nanti kalau hasil nya tidak memuaskan aku akan mencoba lagi besok pagi " gumam nya seraya berjongkok dan siap menampung air urine nya di wadah kecil
cuuuurrrr'
Air urine nya keluar hanya sedikit,sebab ia baru saja habis mandi.
"bismillah...." Nuari mulai mencelupkan dua buah test pack ia juga menyisakan dua buah test pack untuk digunakan besok pagi
Dengan harap-harap cemas Nuari menanti hasil nya. Ia memejam kan mata saat melihat garis satu mulai terlihat meski samar.
Setelah beberapa saat ia pun mulai membuka mata nya,ia mengerut kan kening dan menatap tajam pada kedua test pack tersebut.
__ADS_1
Satu garis biru samar mulai terlihat, Nuari seakan berhenti bernafas ketika ia melihat nya.
"a..apa...apakah aku positif ?" gumam nya,ia pun meraih pembungkus nya lalu membaca nya dengan teliti
Air mata nya pun meluncur dengan deras kala yakin jika dirinya benar-benar positif.
"Masya Allah.... Alhamdulillah....terima kasih Ya Allah " Nuari sampai sesegukan menahan haru
"baiklah ,mulai saat ini aku akan lebih berhati-hati lagi ,terima kasih ya nak kamu sudah berada di dalam sini,papa mu pasti akan sangat senang " lirih Nuari terisak
Ia pun lantas membereskan wadah kecil bekas menampung air urine dan menyimpan test pack itu di tempat yang aman,Nuari berencana akan menunjukan nya pada Yoga besok pagi,setelah ia kembali mencoba test pack yang belum ia gunakan,untuk yang lebih akurat lagi.
Dengan senyum mengembang , Nuari berjalan kembali ke luar kamar nya,menuruni tangga lalu menuju dapur untuk mengambil pusing coklat buatan nya.
"bagaimana hasil nya nyonya ?" tanya bibi art ketika melihat majikan nya menuju dapur
"garis dua bi,tapi masih samar hasil nya,besok pagi akan saya coba lagi,biar lebih akurat " sahut Nuari
"tapi tetap saja kan nyonya itu hasil nya positif?" tanya bibi lagi
Nuari tersenyum ,lalu mengangguk
"tapi bibi jangan bilang-bilang Yoga dulu ya,biar jadi kejutan " pinta Nuari
"iya nyonya tenang saja,sekarang nyonya mau apa,biar bibi bantu"
"mau ambil puding bi " sahut Nuari
"ya sudah kalau begitu biar bibi yang bawakan,nyonya tunggu saja " ujar bibi lagi
"loh nyonya ini gimana sih ,ya enggak apa-apa lah,kan bibi di sini kerja,sudah kewajiban bibi direpotkan bibi juga iklhas ko " ucap nya
"iklhas kan di bayar " lanjut nya dalam hati
Meski begitu bibi art itu benar-benar tulus bekerja di sana,apalagi sikap Yoga dan Nuari yang tak pernah memperlakukan nya sebagai pembantu,membuat nya betah bekerja di sana.
Nuari pun memilih pergi ke ruang tv dan menonton televisi,tak lama bibi pun datang membawa sepiring puding yang sudah di potong-potong.
"makasih ya bi "
"iya nyonya sama-sama "
Setelah itu bibi art pun kembali ke belakang,dan Nuari menikmati puding coklat buatan nya.
Sambil menonton televisi,tangan kiri Nuari yang tak memegang sendok berada di atas perut rata nya,perlahan ia mengusap perut nya itu sambil berkata.
"sehat-sehat di perut mama ya nak,kita akan segera bertemu "
Sementara itu,Yoga yang tengah memeriksa suatu dokumen pun dibuat tak fokus karena rasa mual yang mendera nya.
Bahkan Yoga harus bolak-balik pergi ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perut nya.
__ADS_1
"huuuhhh....kenapa dengan ku, kenapa aku juga mual dan muntah begini " lirih nya
Ia pun teringat akan Nuari yang semalam dan tadi pagi muntah-muntah. Yoga lalu menghubungi istri nya itu.
panggilan tersambung
"sayang ...kamu sedang apa?" tanya Yoga begitu Nuari mengangkat telpon nya
"sedang makan puding coklat sambil nonton tv,kamu sendiri kok hubungi aku di jam segini sih ,emang nya kamu gak sibuk ?" tanya Nuari ketika ia melihat jam yang menunjukan pukul sepuluh
"sibuk sih ,tapi aku kangen gimana dong "jawab Yoga
"ih kamu tuh ya " Nuari terkekeh mendengar nya
"oh iya sayang ,gimana kamu gak lagi mual muntah?" tanya Yoga
"Alhamdulillah enggak " sahut Nuari
"syukur lah kalau begitu "
Obrolan mereka pun berlanjut hingga Yoga lupa akan kerjaan nya,rasa mual yang tadi ia rasa kan pun sirna ketika ia mendengar suara istrinya walau lewat telpon.
Di tempat lain
Kini Ayu sudah kembali ke apartemen Evan,gadis itu tengah terdiam sambil memperhatikan sesuatu di tangan nya.
"apa memang hanya kebetulan ya,nama ku bisa sama dengan nama mendiang istri dokter Satria " gumam nya
"Ayunia Paramita " lanjut nya
" tapi ini liontin bagaimana cara buka nya ya" lirih nya saat ia merasa kesusahan saat membuka liontin berbentuk love tersebut
Sudah sejak dulu Ayu berusaha membuka liontin itu namun hingga saat ini liontin tersebut tak juga dapat dibuka. Liontin yang ia temukan di laci kamar Jhony saat ia membersihkan kamar nya.
"apa cara buka nya harus menggunakan kunci,tapi mana lubang kunci nya " gumam nya lagi seraya membolak-balik kan liontin tersebut
"huuuuuffftt....sudah lah, seperti nya gak apa-apa deh kalau aku pakai liontin ini,kan om Jhony juga gak ada " fikir nya
Maka Ayu pun langsung memasang kan liontin itu di leher nya,sambil mengaca di kaca rias,Ayu tersenyum.
"cantik nya liontin ini "
Di tempat bersamaan Jhony yang juga kabur ke Jakarta tak sengaja melihat dokter Satria.
Saat ini Jhony tengah membeli rokok pada tukang asongan di depan sebuah rumah sakit hewan.
Ia terpaku untuk beberapa saat ketika melihat nya,terlihat sorot kebencian dari pria paruh baya itu.
"bagaimana rasanya sebuah kehilangan,pasti sakit bukan, begitu pun dengan ku,aku sangat terluka ketika kau bisa mendapatkan Ayunia,dan kini aku telah mengambil putri mu agar kau tahu dan bisa merasakan apa yang aku rasakan " gumam nya dalam hati
"entah dimana gadis itu sekarang berada,aku tak mau ambil pusing, biarkan saja dia terlunta-lunta,yang penting saat ini aku aman " lanjut nya
__ADS_1
Ia lalu pergi menggunakan mobil nya,ia tentu nya tak mengetahui perihal siapa yang melaporkan kejadian malam itu hingga membuat dirinya kini di buru polisi.
...***...