Tarzan Cantik Dokter Idaman Hati

Tarzan Cantik Dokter Idaman Hati
Keinginan Rifki


__ADS_3

Keesokan pagi nya


Nuari sudah semakin segar dari sebelum nya,bahkan dokter mengatakan jika ia sudah boleh pulang hari ini.


Jarum infus yang beberapa hari setia menemaninya kini tengah dilepas oleh suster.Sementara Nuri sedang berkemas di bantu oleh Yoga juga Rifki suami nya.


Setelah semua nya selesai barulah mereka beranjak meninggalkan ruangan tersebut.


Yoga dan Rifki nampak berjalan membawa tas yang berisi pakaian ganti milik Nuari.Sementara Nuari sendiri berjalan di depan para laki-laki bersama mama nya.


Hingga sampai di luar Rifki meminta yang lain untuk menunggu nya mengambil mobil yang terparkir di bagian basemen.


Tak lama kemudian sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan Nuari dan yang lain.


Ketiga nya lantas memasuki mobil tersebut,meski Yoga sempat bingung ia harus ikut atau tidak sebab rasa canggung tiba-tiba menyergapnya,akan tetapi karena Nuari yang ingin ia untuk ikut ke rumah nya pun,mau tidak mau Yoga akhirnya mengikuti kemauan gadis itu.


Empat puluh menit kemudian mobil pun sampai di sebuah rumah besar namun masih tetap seperti dulu,tak ada perubahan sama sekali,hanya pohon dan tanaman nya saja yang nampak berubah.


"ayo masuk " ajak Nuari ,Yoga pun hanya mengangguk dan berjalan mengikuti pemilik rumah


"rumah ini tak banyak yang berubah " batin Yoga


"assalamualaikum......" ucap Nuri di ikuti Rifki dan Nuari


"waalaikum salam , akhirnya kamu pulang juga sayang "ucap Dewi segera memeluk cucu perempuan nya ,kemudian ia beralih menatap pria yang berdiri di belakang Nuari


"dia..... Yoga?" kening nya nampak berkerut


"iya nek ,dia Yoga " sahut Nuari melirik Yoga yang tersenyum ke arah pria itu


"assalamualaikum nek " sapa Yoga hendak meraih tangan Dewi namun tiba-tiba ia terkesiap bahkan yang lain pun nampak terkejut akan reaksi Dewi yang tiba-tiba saja menjauhkan tangan nya dari Yoga


Di detik berikutnya tangan kanan nya terangkat meraih telinga sebelah kiri Yoga hingga pria itu memekik kesakitan


"bagus kamu ya.....kemana saja selama ini hah ,kau tak tahu selama ini cucu ku sangat merindukan mu,kenapa baru nongol sekarang " omel Dewi dengan terus menjewer telinga pemuda itu


"aw...aduh...aduh....nek ....ampun nek ...maaf ...." pekik Yoga sedikit memiringkan kepalanya ke arah Dewi


"ya ampun nek ,sudah lepas nek ,kasihan Yoga" lirih Nuari


"diam kamu Ari ,biarkan nenek melepaskan kekesalan nenek pada pemuda ini,gemas dan gatal rasanya tangan nenek kalau gak menjewer telinga nya " seru Dewi


Sebenarnya ia tak benar-benar marah pada Yoga.


"astaga mah,udah kasihan dia ,lagipula itu kan bukan keinginan nya juga " ucap Rifki ikut melerai


"iya mah ,ini sudah takdir nya mereka seperti itu,sekarang yang penting semua sudah kembali normal, Yoga dan Ari sudah bersama kembali " sambung Nuri


"hm....benar juga ya ....ya ampun telinga nya sampai merah seperti ini,pasti sakit ya ,apa nenek terlalu kencang menjewer mu " ucap Dewi tiba-tiba


"hehehe...lumayan nek" lirih Yoga seraya mengusap telinga nya yang terasa panas


"maaf ya ,nenek hanya bercanda " cengir Dewi seraya mengusap pipi pria yang masih meringis itu


"becanda apa nya,telinga ku serasa pengen copot begini " keluh Yoga membatin


"astaga nenek, aku kira tadi nenek beneran marah pada Yoga " lirih Nuari pada nenek nya kemudian ia pun beralih pada Yoga


" kamu tidak apa-apa kan,maafin nenek ya " lirih nya lagi


"hm...iya tak apa-apa kok " sahut Yoga seraya tersenyum masam


"tapi kamu sekarang berubah ya ,nenek sampai tak mengenali mu " kekeh Dewi


"Alhamdulillah nek,selama di tempat tinggal yang baru banyak kegiatan yang membuat lemak di tubuh ku kabur " jawab Yoga sekena nya

__ADS_1


"duh jadi makin gemas " Dewi beralih mencubit pipi Yoga namun tak sampai Yoga kesakitan seperti tadi, Yoga pun hanya bisa tersenyum kikuk


"ya ampun ada-ada saja,oh iya mah,Aranta mana ?" tanya Nuri yang tak melihat keberadaan menantu nya


"Aranta tadi berangkat ke kantor mau nyusul Gibran katanya,entah lah menantu mu itu akhir-akhir ini agak aneh sikap nya" cetus Dewi


"aneh bagaimana maksud mama?" tanya Rifki menaikan satu alisnya


"ya begitu, tak biasanya dia bersikap manja pada Gibran,tak mau jauh-jauh lengket terus ,biasanya kan Aranta sering menjaga sikap nya di depan kita,apalagi semalam mereka keluar rumah dengan alasan mencari jagung bakar,terus tadi pagi Aranta merengek minta disuapin segala,kan mama jadi gak enak,berasa jadi obat nyamuk, seandainya papa kamu masih ada,mungkin mama gak akan merasa iri " tutur Dewi memasang wajah sendu


"ya ampun mama..." lirih Rifki membatin


"ada apa dengan Aranta,apa jangan-jangan......" batin Nuri ketika ia menyadari sesuatu,ia pun seketika tersenyum


"sudah lah biarkan saja,oh iya sayang sebaiknya kamu istirahat sana,biar Yoga bersama papa,ada yang mau papa bicarakan pada nya " ucap Rifki pada Nuari


"bicara apa pah?" tanya Nuari nampak penasaran


"ada lah,urusan laki-laki " sahut Rifki


"isshh... papa mah gitu " bibir Nuari nampak maju beberapa senti


"sudah lah ,biarkan saja mereka ,ayo ke kamar mama antar " ucap Nuri menggandeng tangan putri nya


"iya iya ,baiklah ,tapi Yoga kamu jangan pulang dulu ya,kalau mau pulang bilang dulu pada ku " ucap Nuari melirik pada Yoga


"iya ,kamu tenang saja aku gak akan main kabur saja kok " ucap Yoga seraya tersenyum


"baiklah aku ke kamar "


Nuari pun melangkahkan kakinya menuju kamar bersama mama nya, sementara Dewi kini beralih ke dapur untuk meminta art nya membuat kan minum untuk anak dan calon cucu mantu nya.


Rifki lalu membawa Yoga menuju ruang kerja nya.


Sementara di kamar nya Nuari segera menghempaskan tubuh nya di tempat tidur.


"gak usah ma,aku gak lapar kok,aku mau tidur saja sebentar " tolak Nuari


"ya sudah kalau begitu,mama mau ambilkan minum buat papa dan Yoga dulu "Nuri pun segera keluar dari kamar nya,lalu menuju dapur,kemudian ia berpapasan dengan art yang membawa nampan berisi dua gelas kopi


"itu buat suami saya kan mbak?" tanya Nuri


"iya Bu" sahut art berusia empat puluhan itu


"biar saya saja yang bawa kan,mbak kerjakan pekerjaan lain saja "pinta Nuri


"baik Bu " art itu pun memberikan nampan itu pada majikan nya


tok tok tok


Nuri mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum membuka pintu ruang kerja,sebab ia selalu menghormati privasi suami nya jika berurusan dengan pekerjaan,apalagi ketika ada orang lain bersama suami nya.


Ia yakin ada hal penting yang akan di sampai kan suami nya kepada Yoga,jika tidak ia tak akan membawa nya ke ruang kerja.


Mendengar ada yang mengetuk pintu,Rifki pun berseru.


"masuk "


Tak lama pintu pun terbuka menaikkan sosok istri tercinta dengan senyum nya yang terlihat tulus.


"ngobrolin apa sih ,sepertinya serius banget ?" tanya Nuri sambil meletakan dua gelas kopi di meja


"biasa sayang ,masalah pekerjaan " jawab Rifki membuat kening Nuri mengerut


"ya sudah kalau gitu aku mau masak buat makan siang ,kalian yang anteng ya " gurau Nuri yang di sambut kekehan suami nya

__ADS_1


Melihat istri nya sudah keluar,Rifki pun kembali berbicara


"jadi benar kan kalau restoran di pusat kota Pontianak itu milik mu ?" tanya Rifki


"aku hanya memberikan sedikit modal dan mencari tempat saja , selebihnya mereka yang menjalankan bisnis ini " tutur Yoga


"itu sama saja,tapi memang nya kamu yakin keluarga itu bisa di percaya " tanya Rifki lagi


"aku yakin mereka keluarga jujur ,sebab sebelum nya aku sudah mengenal keluarga itu dengan baik " jawab Yoga


"ya....semoga saja mereka tak mengecewakan mu,ah iya satu lagi hal yang ingin om sampai kan" ucap Rifki membuat Yoga kembali di buat penasaran


"apa itu om?" tanya Yoga


"setelah kalian menikah ,om mau kamu ikut terjun ke perusahaan,tolong lah bantu om mengelola perusahaan, apalagi sekarang tak hanya satu ataupun dua" tutur Rifki membuat Yoga terdiam


"tapi om,aku tak faham dunia bisnis,aku takut mengecewakan om " jawab Yoga apa ada nya


"kan bisa sambil belajar" cetus Rifki


"tapi om ....."


"tak ada tapi-tapian, pokok nya kamu harus gabung di perusahaan, om akan tempat kan kamu di posisi GM " tegas Rifki yang tak ingin ada bantahan


"baiklah jika om memaksa,tapi om kalau boleh minta aku tak ingin langsung di posisi itu,selain aku masih harus banyak belajar aku tentu tak ingin membuat atensi orang-orang berfikir yang macam-macam tentang ku" pinta Yoga


"lalu posisi apa yang kau ingin kan ?" yanga Rifki


"OB mungkin" cetus Yoga


"jangan ngaco ,masa menantu pemilik perusahaan jadi OB " seru Rifki tak percaya dengan apa yang di katakan calon menantu nya


"lah terus apa dong om?" tanya Yoga namiak bingung


Rifki pun menggeleng seraya tersenyum miring


"bagaimana kalau supervisor,nanti kamu akan bekerja sebagai pengawas dari karyawan pelaksana ,nanti akan ada yang mengarahkan mu juga,kebetulan supervisor yang sebelumnya sudah mengajukan pengunduran diri" cetus Rifki


"hm...ya sudah lah gimana baik nya saja " jawab Yoga akhirnya


"ok kita sepakat " Rifki merasa tenang ketika Yoga mau diajak bergabung di salah satu anak cabang perusahaan nya.


Sebenarnya ia cukup merasa bangga pada calon menantu nya itu karena ternyata bukan hanya peternakan yang dimiliki, diam-diam Rifki mencari info tentang Yoga,dan ia cukup terkejut sebab dari info yang ia dapatkan dari anak buah nya yang mengatakan jika Yoga memiliki usaha restoran di pusat kota Pontianak.


Akan tetapi keinginan nya untuk mengajak Yoga bergabung di perusahaan nya itu karena ia ingin melihat Yoga jauh lebih berkembang.


Sebab ia harus menafkahi putri nya suatu saat nanti, ia tak ingin kehidupan putri dan menantu nya susah,makanya ia akan melakukan apapun untuk kesejahteraan anak dan menantu nya,meski ia yakin jika Yoga akan bisa menafkahi putri nya tanpa bantuan dari nya.


Setelah pembicaraan itu selesai dua pria beda generasi itu pun keluar dari ruang kerja,dan segera menuju ruang makan,karena kini sudah tiba waktunya makan siang.


"akhirnya kalian selesai juga ngobrol nya,ayo duduk ,tapi kita tunggu Gibran dan Aranta sebentar ya,katanya mereka akan makan siang di rumah " ucap Nuri seraya masih menyiapkan makanan


Beberapa saat kemudian terdengar deru mesin mobil di luar ,sudah bisa di tebak siapa yang datang.


Tak lama dua orang yang tengah di tunggu akhir nya datang


"assalamualaikum....." ucap Gibran dan Aranta


"waalaikum salam ......" sahut mereka


"maaf membuat kalian lama menunggu" ucap Gibran


"iya tidak apa-apa kok " sahut Nuri seraya tersenyum kearah Aranta


Mereka pun segera menyantap makan siang mereka,dengan sesekali Nuri melirik ke arah Aranta.

__ADS_1


"semoga saja tebakan ku benar " batin nya


...***...


__ADS_2