Tarzan Cantik Dokter Idaman Hati

Tarzan Cantik Dokter Idaman Hati
S2 episode 69


__ADS_3

Saat ini Nuari tengah berdiri di hadapan sebuah buaya besar. Buaya tersebut berwarna putih berbeda dari buaya pada umum nya. Hal itu pula dikait-kaitkan dengan hal mistis oleh warga. Sebab kemunculan nya yang tiba-tiba juga di tempat yang tak seharusnya membuat warga yakin jika buaya itu adalah buaya siluman.


Namun Gibran meyakin kan warga jika buaya itu bukan lah buaya siluman seperti yang di gembar-gembor warga. Namun unik nya ada salah satu tokoh warga yang dikenal sebagai dukun di sana tetap kekeh jika buaya itu buaya siluman yang harus dimusnahkan,maka dari itu buaya tersebut melukai seorang pawang buaya yang sebelum nya membantu dukun tersebut.


Dengan dikelilingi para petugas damkar,Nuari mencoba mendekatkan diri nya pada buaya tersebut. Buaya itu pun menatap Nuari dengan mata yang berair hal itu tentu saja membuat Nuari tersentuh.


"Aku tahu kamu kesepian kan ,ingin kembali ke tempat mu yang seharusnya? Aku akan bantu tapi kamu juga harus nurut pada ku " Ucap Nuari lirih ,kini telapak tangan nya sudah berada tepat di moncong buaya tersebut ,para warga yang menyaksikan nampak terkejut dan takjub. Mereka menatap ngeri dengan apa yang dilakukan Nuari


"Ya ampun ,berani banget,gak takut di gigit tuh " Gumam orang-orang. Di sisi lain nampak dukun itu mencibir.


"So jago,digigit tau rasa " cibir nya


Gibran pun memfokuskan fikiran nya untuk memanggil arwah saudari buaya itu yang sudah meninggal. Sebelum nya ia sudah mencari tahu nama nya.


"Ya Allah yang Maha Segalanya ,izin kan hamba mu memanggil arwah Syafitri Sukmayanti binti Hendro untuk datang menemui ku .... Syafitri Sukmayanti binti Hendro aku minta datang lah " Batin Gibran dengan mata tertutup


Dukun itu mendecih melihat Gibran ,ia pun nampak tersenyum sinis," Aku akan gagalkan usaha mu. Warga hanya boleh percaya pada ku tidak pada nya" Batin nya


Pria berusia 70 an itu segera menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada,mulut nya komat-kamit entah doa apa yang ia bacakan. Tiba-tiba angin besar datang menyapu apapun yang dilewati nya. Angin tersebut berasal dari energi yang dihasilkan Gibran bukan dari sang dukun.Namun bagi dukun tersebut merasa angin itu adalah angin ciptaan nya ,dukun itu pun tersenyum tipis.


Warga pun menjadi panik dan histeris,mereka berhamburan untuk menyelamatkan diri takut tertimpa sesuatu yang diterbangkan angin.


Melihat itu Wewe merasa kesal tapi juga ingin tertawa.


"Ehehehe.....dasar dukun jadi-jadian,aku kejain kau " Wewe gombel tersebut ingin mengerjai dukun jadi-jadian itu


Hanya dengan satu hentakan kaki ,pria tua itu pun jatuh terduduk ,mata nya melotot melihat Wewe.Wewe melayang mendekat.


"Ehehehe...... berani macam-macam pada cucu ku ,aku habisi kau " Ancam Wewe seraya menarik ujung rambut dekat telinga si dukun


"Ampuuunnnn......." Teriak dukun itu . Orang-orang tak ada yang menyadari karena mereka yang tengah dilanda kepanikan


"Ehehehe....." Wewe nampak tertawa lalu melepaskan pria itu dan pergi mendekat pada Gibran guna membantu anak asuh nya itu untuk menarik arwah Safitri.


"Ah ,setan ! Rupanya anak muda itu punya bekingan jurig " Umpat nya sambil mengusap bagian yang sakit

__ADS_1


Jujur saja nyali nya ciut melihat Wewe, tubuh nya pun gemetaran ,karena seumur-umur ia menjadi dukun baru kali ini ia melihat hantu. Sebenarnya ia hanya bisa mengobati orang kesurupan tanpa bisa melihat.Namun dengan percaya diri nya ia menobatkan diri sebagai seorang dukun. Banyak para warga juga orang luar yang percaya dengan nya ,hingga mereka selalu datang untuk berbagai macam keperluan.Meski tak pernah benar dan tak sesuai ekspektasi mereka tetap percaya pada nya.


Perlahan angin pun reda ,di sertai kepulan asap putih,namun hanya orang tertentu saja yang dapat melihat nya.


Sosok perempuan dengan rambut panjang sepunggung menatap sayu pada Gibran.


"Siapa yang memanggil ku ?" Lirih nya


"Safitri Sukmayanti "ucap Gibran pelan


"Iya,jadi kamu yang memanggil ku ?" Tanya nya lagi


Gibran pun menjelaskan maksud dan tujuan nya. Safitri menoleh pada buaya yang kini sudah dijinakkan Nuari. Nuari terlihat sedang mengusap-usap kepala buaya tersebut.


"Jadi benar kalau aku punya saudara seekor buaya putih?" Tanya nya lirih , Gibran mengangguk


Kedua orangtuanya tentu merahasiakan nya,hingga akhirnya ia meninggal pun tak pernah mau menceritakan yang sebenarnya,dan kini kedua orangtuanya itu sudah pergi jauh ,mereka sudah pindah ke tempat yang sama sekali tak ada warga disana yang mengetahui nya setelah kepergian Safitri untuk selamanya.


Lalu bagaimana Safitri bisa mengetahui jika ia punya saudara seekor buaya putih? Itu karena ia tak sengaja mendengar obrolan kedua orangtuanya sesaat sebelum ia meninggal. Safitri sendiri meninggal karena kecelakaan.


"Maafkan aku karena aku baru mengetahui nya " Ucap Safitri pada buaya putih itu


"Aku yang seharusnya meminta maaf pada mu,jika saja aku bisa mencegah kecelakaan itu ,kau pasti saat ini masih hidup " Ucap buaya itu yang hanya bisa di dengar oleh Gibran dan para makhluk tak kasat mata


"Sudahlah,semua nya sudah terjadi dan itu adalah takdir,kita tidak boleh menyesali nya. Baiklah sekarang kita antarkan buaya itu ke tempat nya " Ujar Gibran membatin ,Safitri pun mengangguk


"Dek,ayo kita bawa buaya itu ke tempat asal nya " Ucap Gibran pada Nuari


"Memang nya dimana tempat asal nya ?"Tanya salah satu warga


"Di danau tengah hutan. Dan maaf saya hanya ingin beberapa dari warga saja yang ikut sebab hutan itu merupakan hutan keramat yang tak sembarangan manusia datangi " Ucap Gibran menatap semua warga yang nampak takut,karena mereka tahu hutan yang dimaksud Gibran.Mereka nampak mundur ,tapi ada salah satu warga yang berseru


"Kalau begitu saya saja yang ikut ,saya kepala desa di sini " Gibran pun setuju


Singkat cerita Gibran ,Nuari dan kepala desa yang masuk ke hutan ,sementara buaya putih nampak merangkak di depan mereka bersama arwah Safitri. Jika orang biasa akan mengira buaya itu yang menujuk kan jalan,padahal tidak. Begitu pula dengan kepala desa yang menganggap jika buaya itu yang menunjukkan jalan nya.

__ADS_1


"Ternyata benar kata orang damkar itu , perempuan itu bisa dengan mudah menaklukkan buaya itu tanpa ada luka sedikitpun,buaya itu juga tidak menyerang nya, dan kini malah menunjukan jalan nya ,amazing "Gumam nya membatin


Sementara itu Lia dan anggota kelompok nya sudah selesai mengerjakan tugas kelompok mereka,hendak pulang. Kedua teman nya sudah pulang kini tinggal lah Lia yang masih di rumah nya Maya.


"Kenapa pak supir belum datang juga ya, harus nya kan sudah sampai dari tadi " gumam Lia merasa BeTe. Ia yang sudah lelah juga ngantuk pun ingin cepat-cepat sampai rumah


"Belum datang juga jemputan nya ?"Tanya Maya yang baru saja keluar dari dalam rumah


"Belum" Jawab nya


"Ya udah aku tungguin kamu di sini deh. Nih sambil nyemil nunggu nya" Ucap Maya seraya menyodorkan keripik kentang rasa balado


"Hehe...iya makasih " dengan senang hati Lia pun menerima keripik kentang tersebut


Kriuk....kriuk ....


Suara renyah keripik tersebut sampai terdengar nyaring. Saat itu ponsel Lia berdering.


"Iya, pak masih dimana?" tanya Lia pada sopir yang menghubungi nya


"Waduh non kaya nya saya agak lama sampai nya,ini ban mobil nya bocor kena paku ,saya lagi antre di bengkel lumayan banyak juga yang ban nya bocor " Sahut sopir


"Yah, berarti masih lama dong " Keluh Lia


"Iya non , maaf" Sopir tersebut merasa tidak enak


"Ya sudah gak apa-apa pak,nanti biar saya pulang pakai taksi online saja "ucap Lia


Setelah panggilan telpon selesai tiba-tiba Riki menghampiri nya.


"Ayo daripada naik taksi online mending saya yang antar "


"Pak Riki "


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2