
Seperti senja yang kehilangan langit nya.
Senja selalu seperti ini,perlahan datang lalu tiba-tiba hilang ,tergantikan keremangan malam menyisakan kehampaan. Senja tak pernah salah,hanya kenangan lah yang kadang membuat nya basah.Warna jingga di sebelah barat adalah isyarat dimana aku menanti tak kunjung lelah.Walaupun aku bukan senja yang kau tunggu aku adalah langit yang siap menemani hari-hari mu.
...***...
Setelah berdiskusi,Nuari dan yang lain di jamu makan siang oleh pak camat,meskipun jam makan siang sudah terlewat.
Bersama pak camat dan jajaran nya mereka pun menikmati hidangan yang sudah tersaji di meja panjang yang dibuat seperti prasmanan.
Ada banyak aneka lauk pauk ,dari mulai yang berkuah sampai yang kering ,menu nya pun dari berbagai ikan-ikanan ,daging dan sayuran khas daerah itu.
Akan tetapi Nuari dan yang lain terkesiap saat melihat ada satu hidangan yang tersaji di sana ,yaitu satu ekor babi panggang utuh dengan ukuran sedang.
"astaghfirullah....." lirih Nuari
Gadis itu melirik pada yang lain nya,dan mereka pun hanya diam tanpa ingin protes atau apa karena ingin menghargai tuan rumah yang sudah menjamu mereka,mereka pun hanya melewati babi guling itu dan memilih lauk yang lain.
"loh kenapa ini babi guling nya tak ada yang makan,ini enak loh jadi andalan banget di desa ini " tanya pak camat
"mohon maaf pak ,bukan nya kita tak menghargai bapak, tapi kami memang tak mengkonsumsi daging babi,agama kami melarang nya " ucap Nuari hati-hati
"oh ...iya ya,maaf saya lupa ,karena kebanyakan tamu yang datang mereka menanyakan babi guling" ucap pak camat sedikit tak enak hati
"tidak apa-apa pak,kami mengerti kok " sahut Evan menimpali
"baik lah kalau begitu silahkan dinikmati " ucap pak camat
Mereka pun akhirnya menikmati hidangan makan siang mereka bersama pak camat dan staf-staf nya yang lain.
Setelah itu mereka pun berpamitan untuk bersiap-siap,karena besok mereka mulai melakukan pekerjaan mereka.
Hari beranjak petang ,Nuari tengah sibuk di dapur,ia tengah membuat bumbu rujak untuk dinikmati nya bersama,entah kenapa meski ia merasa sakit hati,mengingat Renita adalah calon istri Yoga ,pria yang ia cintai, ia merasa tak tega saat melihat Renita menginginkan rujak mangga muda,hati nya tergerak mengingat bayi di dalam kandungan nya yang tak berdosa.
Mungkin karena mendengar pernyataan Yoga yang tak pernah menyentuh Renita,Nuari pun jadi sedikit merasa lega,meski dalam hati nya masih menyimpan kekhawatiran.
Beberapa saat kemudian bumbu rujak pun siap ,ia lalu mencuci mangga muda tersebut. Tanpa mengupas nya gadis itu lalu mengiris nya tipis-tipis ke dalam sebuah piring.
Dengan memasang senyum Nuari membawa bumbu rujak dan mangga yang sudah diiris tipis itu ke ruang tengah.
"apa itu?" tanya Renita
"ini makan lah ,kamu menginginkan nya kan " sahut Nuari meletakan nya di hadapan Renita
Dengan menatap penuh binar Renita pun segera menyantap rujak itu.
"hm...ini enak,lebih enak dari rujak yang pernah aku beli " ucap Renita dengan mulut yang tengah mengunyah
"syukurlah kalau kamu suka,kalian kalau mau boleh kok, ini aku sudah pisahkan buat kalian" ucap Nuari pun menawari yang lain
"wah....asik nih sore-sore makan rujak,pedes gak sih?" tanya Joni dan Jono
"gak terlalu " jawab Nuari
Sementara Yoga hanya menatap heran pada Renita, pasal nya ia tahu dan sangat tahu jika sikap Renita pada Nuari sangat lah tak ramah,tapi saat Nuari memberi nya makanan sikap tak ramah nya hilang begitu saja,Renita bahkan berkali-kali memuji Nuari.
__ADS_1
Melihat teman-teman nya tengah menikmati rujak buatan nya ,Nuari lantas beranjak dan meninggalakan ruangan itu,menuju ke luar dan berhenti di teras,ia duduk lesehan di lantai.
Pandangan nya lurus ke depan,namun tatapan nya nampak kosong.
"huuuuuffftt....."
Nuari pun menghela nafas panjang berulang-ulang lalu menghembuskan nya perlahan.
Gadis itu meraih bandul kalung yang tak pernah ia lepaskan dari leher nya.
"apakah harapan itu masih ada,tapi mungkin itu percuma karena kamu tak juga mengingat ku,cepat atau lambat kalian menikah,dan aku tak bisa mencegah nya" lirih nya pelan
Namun seseorang tiba-tiba duduk di samping nya, Nuari pun buru-buru memasukan kembali kalung itu ke dalam pakaian nya.
"kenapa malah diam di sini,yang lain sedang menikmati rujak ?" tanya nya
"kamu sendiri kenapa malah kesini,bukan nya didalam temani calon istri mu,nanti dia murka lagi lihat kamu disini bersama ku,aku gak mau ya dituduh yang macem-macem" ucap Nuari tanpa melirik pada Yoga
Terdengar helaan nafas dari pria itu
"kenapa?" tanya Nuari melirik sekilas
"tidak ada "sahut nya
"apa kamu mencintai Renita?" tanya Nuari tiba-tiba membuat Yoga mengerut kan kening dan menoleh pada nya
"maaf aku hanya bertanya " ucap Nuari kemudian
"tidak " jawab Yoga
"kok gitu, kalau kamu tidak cinta kenapa kamu mau menikah dengan nya?" tanya Nuari mengerut kan kening sementara hati nya bersorak sorai
"entahlah ,aku hanya ingin menghilangkan rasa gelisah ku saja,siapa tahu dengan menikah perasaan ku akan lebih membaik " sahut Yoga membuat Nuari mengernyit bingung
"maksud nya....?" tanya Nuari bingung
Namun belum sempat Yoga berbicara,suara Evan membuat mereka berdua menoleh
"ternyata kalian di sini ,apa yang sedang kalian obrolkan ,seperti nya serius sekali?" tanya Evan ikut duduk
"ah ...tidak ada hanya obrolan kecil " sahut Nuari
"ini kamu melupakan ponsel mu,tadi bunyi " ucap Evan seraya memberikan ponsel
"oh iya ,makasih ,aku lupa tadi " Nuari pun segera meraih ponsel nya dan mengecek ponsel nya itu
"mama...." gumam nya
"kalian berdua ngobrol saja ,aku tinggal sebentar ya " ucap Nuari segera pergi tanpa menunggu jawaban dari kedua pria itu
Nuari pun segera menghubungi mama nya,sementara Yoga dan Evan nampak diam dengan fikiran nya masing-masing.
Evan bukan lah orang bodoh yang tak mengerti,apalagi ia sudah mengenal Nuari cukup lama semenjak mereka masih kuliah dulu,dan ia tahu tak ada satu laki-laki pun yang mampu menarik perhatian gadis itu termasuk dirinya.
Tapi kini ,Evan dapat melihat tatapan Nuari berbeda pada Yoga,begitu pun sebaliknya,namun ia tak ingin menyimpulkan sesuatu,sebelum semua nya jelas.
__ADS_1
"aku perhatikan kalian cukup dekat ya" ucap Evan memulai pembicaraan
"benarkah seperti nya biasa saja " kilah Yoga
"atau mungkin ini hanya pendapat ku saja " ucap Evan terkekeh
"kalian kapan menikah ?" tanya Evan pada Yoga
"tadinya kami akan menikah hari ini,tapi ya...berhubung aku juga sudah menerima pekerjaan ini mau tidak mau pernikahan diundur ,mungkin nanti setelah kembali dari sini " tutur Yoga
"kenapa jawaban nya terkesan tak meyakinkan begitu?"tanya Evan
"masa sih ?" tanya Yoga
"ah...lupakan saja , ngomong-ngomong mana Nuari,kenapa ia menelpon nya lama sekali " ucap Evan sambil melihat ke arah Nuari pergi tadi
"apa kita lihat saja ,takut nya terjadi sesuatu kan " cetus Yoga
"ayo " tanpa berfikir lagi Evan pun setuju untuk menyusul Nuari
Sementara di bagian belakang rumah dimana Nuari menelpon mama nya ,ia nampak sudah selesai menelpon seraya mengusap air mata nya.
"hiks....hiks....aku sudah berjanji untuk tak lagi menangis ,tapi ini ....kenapa air mata ku bandel sekali gak mau berhenti" lirih Nuari yang kini sudah dalam posisi berjongkok
Berkali-kali ia mengusap air mata nya namun air mata itu terus saja meluncur dengan deras.
Tanpa ia sadari seekor ular berjenis boiga hitam bercorak kuning ,tengah bersikap waspada dan hendak menyerang Nuari.
Di waktu bersamaan Yoga dan Evan pun datang. Kedua nya pun terkejut saat melihat seekor ular sudah bersiap menyerang gadis di depan nya, Yoga pun sontak berseru
"Nuari....awas ... ada ular di hadapan mu "
Mendengar seruan itu Nuari pun lantas mendongak ,dan cepat-cepat mengusap air mata nya. Matanya yang terasa buram karena habis menangis pun tak begitu jelas melihat nya,namun lama kelamaan penglihatan nya itu pun menjadi jelas.
Tanpa rasa takut ,Nuari malah melambaikan tangan di depan ular itu seraya mengatakan
"hai...ngapain kamu di sini,cepat pergi sebelum orang lain melihat mu,mereka akan membunuh mu jika melihat keberadaan mu" dengan santai Nuari mengambil ranting kayu lalu menggiring ular itu hingga pergi dan hilang di balik semak belukar
Hal itu pun sontak membuat Yoga terpukau takjub namun tidak bagi Evan.
"benar-benar ajaib ,biasa nya wanita akan teriak histeris jika melihat ular meski ukuran nya kecil,tapi dia sama sekali tak terlihat takut,padahal ular nya cukup besar " batin Yoga berdecak kagum ,ia pun teringat akan Renita ,waktu itu gadis itu juga menemukan ular saat di jalan,ia begitu histeris sampai-sampai ngompol di celana , Yoga pun melipat bibir ke dalam menahan tawa kala mengingat momen itu,hal itu pun menjadi momen terlucu di pertemuan pertama mereka saat itu.
"Nuari ,kamu menangis lagi ?" tanya Evan saat melihat mata gadis itu basah
"enggak ,tadi hanya kelilipan kemasukan semut " bohong nya
"ayo kita ke dalam,sebentar lagi Maghrib " ajak Nuari lalu berjalan terlebih dahulu
"memang nya dia sering seperti itu ?" tanya Yoga lirih
"entah lah ,tapi seperti nya iya " sahut Evan lalu melangkahkan kaki nya meninggalkan Yoga
"kenapa aku selalu merasa tak tega melihat nya menangis " lirih Yoga membatin
...***...
__ADS_1