
Semua nya serba mendadak bagi keluarga Nuari, bagaimana tidak,mereka sama sekali belum menyiapkan apa-apa,tapi tiba-tiba saja Yoga mengatakan akan menikahi Nuari esok hari.
"jangan main-main kamu Yoga " seru Bu Nur Aini dengan nada setengah membentak
"loh ,kok main-main sih mah,aku serius kok,begini ya semenjak ingatan ku kembali aku sudah mulai mempersiapkan acara pernikahan,dua hari setelah aku berada di Jakarta aku segera menyiapkan nya dari mulai mencari gedung untuk akad dan resepsi,gaun pengantin,MUA, katering, kartu undangan pernikahan ,aku juga sudah mendaftar ke KUA ,bahkan sampai cendramata sekalipun aku sudah urus,kalian tinggal nikmatin saja acara nya,dan itu sudah diatur sedemikian rupa,dan besok adalah hari yang di tunggu-tunggu ,jadi aku harap semuanya siap-siap " tutur Yoga panjang lebar
Semua orang melongo mendengar penjelasan nya
"kenapa kamu tak berbicara pada kami dengan rencana mu ? apa Ari juga tahu rencana mu?" tanya Rifki setelah dari tadi hanya diam mengurut kening nya yang tiba-tiba terasa pusing
"aku tak mau merepotkan om, pernikahan ini aku yang akan menjalani,dalam mempersiapkan pernikahan pasti akan banyak drama adan menguras banyak tenaga juga emosi , apalagi jika yang kita inginkan tak sesuai,sedangkan aku tak ingin membebani siapa pun termasuk Ari,sudah cukup selama ini dia menderita karena ku,kali ini aku tak ingin membuat nya kembali dibebani dengan segala pernik pernikahan" jelas Yoga
"dia lagi nyindir aku atau gimana sih,kok aku ngerasa kesindir ya ,dia bisa nyiapain semuanya sendiri,sedangkan aku nikah ya tinggal nikah saja,semua para orangtua yang atur " batin Gibran mendengus lirih
"tapi itu nanti sesuai tidak dengan Ari ?" tanya Gibran kemudian
"insyaallah Ari akan menyukai nya,karena aku sudah menyesuaikan dengan selera nya " sahut Yoga yakin
"haaah....ya sudah lah kalau begitu sekarang lebih baik kita beristirahat untuk bersiap-siap besok pagi ,kau ini ada-ada saja " ucap Rifki seraya menggelengkan kepala,sedikit kesal karena di momen-momen bersejarah ini ia bahkan tak tahu apa-apa
"kalau begitu aku dan mama pamit pulang " ucap Yoga
Merasa obrolan mereka pun sudah selesai ia pun berpamitan. Dengan di antar supir, Yoga dan mama nya pulang ke rumah peninggalan Dirga ,papa nya Yoga.
Di kamar Nuri yang masih merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada putri nya langsung bertanya pada suami nya begitu mereka sudah berada di atas tempat tidur.
"mas ,ayo ceritakan apa yang terjadi pada putri kita,kenapa aku merasakan firasat kalau kalian tengah menyembunyikan sesuatu dari ku "pinta nya yang duduk menghadap pada Rifki
"huuuuuffftt......baik lah akan aku ceritakan,jadi begini......" Rifki menceritakan kejadian yang menimpa Ari dengan sangat hati-hati
"astaghfirullah halazim......pantas saja perasaan ku tidak enak,jadi seperti itu ... kurang ajar sekali mereka,mereka harus mendapat hukuman yang sangat setimpal atas apa yang sudah mereka lakukan pada putri kita,tapi beneran Ari tidak sampai di apa-apa in kan mas ?" mendengar itu Nuri sangat lah shock,d*da nya bergemuruh,rasa marah,kesal ,dan emosi telah menyelimuti nya,bahkan wajah nya kini sudah merah padam menahan amarah, seandainya kedua pelaku itu ada dihadapan nya mungkin ia akan langsung menghajar kedua nya tanpa ampun seperti yang selalu ia lakukan pada para pelakor yang mencoba menganggu rumah tangga nya
"Alhamdulillah tidak sayang,...Allah masih melindungi putri kita ,meskipun kita datang sedikit terlambat" lirih Rifki ,hati nya kembali berjengkit nyeri ketika melihat penampilan putri nya saat itu
"maksud nya terlambat?" tanya Nuri dengan perasaan yang was-was
"huuuuh...." kembali Rifki menghela nafas nya sebelum kembali berucap
"jika kita telat sedikit saja....entah apa yang akan terjadi pada putri kita....." Rifki tak sampai hati mengatakan yang sebenarnya, ia hanya menceritakan garis besar nya saja yang mengatakan jika putri nya mendapat kekerasan dan hampir di perkosa,ia tak ingin mengatakan bagaimana penampilan dan keadaan Nuari ketika itu
"sekarang kau sudah tahu kan cerita nya ,lebih baik kita tidur dan istirahat,biar besok tak kesiangan " ujar Rifki
"aku mau shalat dulu mas,entah kenapa mendengar cerita mu hati ku tak tenang" ucap Nuri beranjak hendak ke kamar mandi
"ya sudah kita shalat bareng" Rifki pun tak mau ketinggalan,ia berjalan mengekori istrinya menuju kamar mandi
Sementara itu di apartemen milik Evan
Pria berlesung pipi itu baru saja pulang,padahal jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
Dengan menenteng beberapa paper bag ia berjalan menuju kamar Ayu
__ADS_1
tok tok tok
"apa dia sudah tidur ,besok pagi saja lah ngasih nya ?" gumam nya pelan
Namun baru saja ia membalik kan tubuh suara pintu terbuka membuat nya kembali memutar tubuh menghadap pintu kamar Ayu.
"loh...kamu baru pulang ?" tanya Ayu yang nampak nya belum tertidur
"kamu belum tidur? atau aku malah membangunkan tidur mu ?" tanya Evan tak enak
"aku belum tidur kok "jawab nya
"oh gitu,ini ....besok kamu pakai ini,kita akan menghadiri acara pernikahan teman aku " ucap Evan seraya menyodorkan beneran paper bag di tangan nya
"i...ini...apa?"tanya nya
"kamu lihat saja,sudah ya aku udah lelah banget,mau istirahat ,oh iya besok kita berangkat pukul 9 karena acaranya di mulai pukul sepuluh " ucap Evan hendak beranjak
"kenapa aku harus ikut ,dan lagi...kenapa kamu harus belikan aku barang-barang lagi,kalau kamu belikan ini berarti bulan depan aku sama sekali tak dapat gaji,kalau bulan ini kan aku memang tak mengharapkan bayaran " tanya Ayu
Alis Evan terangkat mendengar ucapan gadis mungil di depan nya,wajah nya yang sudah bersih dari luka lebam pun kini terlihat manis,jangan lupakan postur tubuh nya yang hanya sebatas d*da Evan yang menjulang tinggi dan kekar, dimata Evan Ayu terlihat seperti gadis remaja belasan tahun,padahal asli nya sudah lebih dari 20 tahun.
Dan mungkin karena sangkaan nya Ayu masih belasan tahun,ia menganggap gadis itu seperti adik nya sendiri.
"anggap saja itu bonus,dan kenapa aku mau ngajak kamu pergi ke acara itu,karena ... aku pingin saja,aku tahu kamu pasti bosan kan berada di apartemen terus,makanya biar tak merasa bosan aku mau ngajakin kamu " tutur Evan apa adanya
"t...ta...tapi....apa tidak apa-apa kalau aku ikut,apa ....di sana akan baik-baik saja ... maksud ku ...apa tidak akan ada orang jahat seperti yang om Johnny sering bilang pada ku?" tanya Ayu mulai gelisah
"jadi pria yang sudah menjual kamu itu nama nya Johnny?" tanya Evan
"tenang saja ,tak semua orang akan berbuat jahat, lagipula ada aku bersama mu, pasti aman " tutur Evan
Selama ini Evan begitu merasa penasaran dengan kehidupan Ayu dan laki-laki brengsek yang sudah tega menjual nya,namun ia tak ingin terkesan ikut campur dan kepo,makanya ia menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh,dan menunggu gadis itu berbicara sendiri.
"bisa kamu buatkan kopi, tiba-tiba aku ingin minum kopi" pinta Evan sengaja agar ia bisa mengorek sedikit informasi dari gadis itu
"baiklah ,sebentar " Ayu menyimpan dahulu barang pemberian Evan di tempat tidur,setelah nya ia pun bergegas berjalan menuju dapur
"aku tunggu di depan TV, aku mau ganti pakaian dulu" ucap Evan yang sudah mulai gerah memakai pakaian yang sudah ia pakai dari pagi ,beruntung ia sudah mandi di kamar mandi pribadi di ruangan nya di rumah sakit ,hingga saat pulang ia tak perlu mandi lagi
"iya "
Beberapa saat kemudian kedua nya pun sudah duduk di sofa panjang di depan televisi yang menyala.
sshhlluuurrrf'
Evan menyeruput kopi hitam kesukaan nya,lalu meletakan nya di meja
"jadi pria bernama Johnny itu merupakan paman angkat mu ?" tanya Evan langsung pada inti nya
"i..iya ...dari mana kamu tahu ?" tanya Ayu terkesiap
__ADS_1
"aku tak sengaja mendengar ucapan nya saat setelah acara dangdutan selesai,apa maksud nya ia menolong mu dari hewan buas?" tanya Evan
"kata om Johnny saat bayi aku sengaja dibuang kedua orangtua ku di pinggir hutan,kata nya kedua orangtua ku merasa belum siap menerima kehadiran ku,karena mereka sama-sama masih bersekolah,entah benar atau tidak nya aku sendiri tak ingin mempercayai nya begitu saja,...entah lah ....aku merasa dia berbohong " tutur Ayu lirih
"begitu ya...." gumam Evan
Melihat raut sedih dari gadis di depan nya membuat nya merasa tak tega, ia pun meminta gadis itu untuk kembali ke kamar nya.
"baiklah ini sudah malam,sebaik nya kamu segera tidur ,jangan lupa besok kita akan pergi ,dan...terima kasih ....kopi nya enak " ucap Evan dengan menyelipkan kata pujian
"iya , sama-sama,aku senang jika kamu suka dengan rasa kopi nya " Ayu pun beranjak menuju kamar nya
Evan menghela nafas setelah melihat gadis itu hilang di balik pintu.
"wajah kedua nya memang ada kemiripan,tapi ..... kalau gak tak salah anak nya yang hilang itu sekitar dua puluh dua tahun yang lalu ketika masih bayi ,yang artinya usia nya dua puluh dua tahun seumuran dengan Nuari ,tapi Ayu....seperti nya masih remaja tanggung, huuuuuftthhh.....seperti nya dugaan ku salah " batin nya
Evan menyandarkan punggungnya di sofa lalu menatap langit-langit dengan tatapan kosong,lamunan nya kembali teringat pada satu tahun yang lalu ketika seorang laki-laki paruh baya mengatakan jika sudah kehilangan putri satu-satunya karena di culik saat masih bayi,karena hilang nya bayi tersebut istri nya pun harus pergi selama-lamanya karena tak kuasa menahan kesedihan nya ,apalagi saat itu ia masih dalam masa penyembuhan pasca melahirkan,hingga membuat kondisi psikolog nya terganggu
Keesokan harinya
Nuari yang sudah bangun sedari subuh pun merasa malas untuk keluar kamar,ia pun kembali bergelung dengan selimut nya namun tidak tidur.
Fikiran nya masih terbayangi akan kejadian beberapa hari yang lalu yang hampir merenggut kehormatannya,namun meski begitu ia pun merasa jijik dan kotor karena leher,bibir dan d*da nya sudah berhasil di jamah pria brengsek itu. Bahkan sampai meninggalakan bekas yang membuat nya berkali-kali merasa jijik dan terus menggosok bercak merah di leher nya sampai terluka dan mengeluarkan darah.
Ia pun merutuki diri nya sendiri yang tak mampu melawan,bukan tak mampu sebenarnya,hanya saja tenaga nya kalah kuat apalagi dia yang dalam keadaan terikat ,meski pada akhirnya ikatan nya berhasil terlepas.
tok tok tok
Suara ketukan di pintu kamar nya membuat lamunan nya buyar,ia pun mengerjap beberapa kali, menghapus air mata yang sudah membasahi pipi nya.
"iya masuk " teriak nya setelah berusaha menormalkan suasana hati nya
"sayang ....loh kok kamu masih tiduran sih,kamu bangun kesiangan ?" tanya Nuri seraya menyibak gorden kamar itu ,seketika cahaya dari luar pun menyeruak masuk
"enggak kok mah, aku hanya lagi males aja keluar " sahut Nuari
"ayo cepat bangun ,kamu harus segera bersiap-siap, Yoga sudah menunggu mu di sana " perintah Nuri
"Yoga menunggu ku... dimana ?" tanya nya mengerutkan kening
"hari ini adalah hari spesial mu dan juga Yoga,nanti mama kasih tahu,sekarang ayo kamu bersiap ,yang lain sudah menunggu mu " ajak Nuri lagi
Nuari terdiam ,ia pun kembali teringat akan ucapan Yoga tentang kejutan besok yang artinya hari ini.
"baiklah ,aku ganti baju dulu "ucap nya ,ia pun sudah mandi tadi subuh jadi hanya tinggal mengganti pakaian nya saja
"sudah jangan dandan,nanti juga kamu akan di dandani MUA " cetus Nuri ketika Nuari hendak memoleskan bedak di wajah nya
"hah.....MUA???"
"mau ngapain aku di dandani MUA segala?"
__ADS_1
Namun Nuri hanya bisa memberikan nya senyuman tanpa mau menjawab nya.
...***...