
Dalam hening fikiran kedua pria berbeda usia sama-sama terpusat pada Ayu. Evan dan dokter Satria kini berada di dalam mobil yang sama,tujuan nya satu yaitu mencari Ayu,meski Evan tak tahu pasti dimana tempat tinggal om angkat nya Ayu,tapi ia yakin jika ia nekat pergi ke kampung halaman nya ia akan bisa menemukan nya,dan ia sangat optimis sekali.
Dokter Satria kemudian bertanya
"kamu yakin kita akan mendapatkan informasi tentang pria itu di desa mu ?" tanya dokter Satria
"insyaallah saya yakin dok ,karena pada saat saya bertemu dengan pria itu dan Ayu memang di kampung halaman saya,tapi mungkin kita akan sedikit kesulitan mencari nya ,tapi dokter tenang saja saya akan mengusahakan agar Ayu cepat ditemukan" tutur Evan sangat yakin
"iya , mudah-mudahan Ayu dapat segera di temukan,jika benar dia adalah putri kandung ku,aku akan sangat berterima kasih pada mu dokter Evan "ucap nya
"itu tak masalah dok,karena kita sebagai sesama manusia memang harus saling membantu dan ini hanya lah sebuah kebetulan saja dok" ucap Evan yang tak ingin merasa berjasa atas apa yang ia lakukan
"kamu memang pria baik dokter Evan,beruntung sekali wanita yang menjadi istri mu nanti " puji dokter Satria membuat Evan sedikit salah tingkah
"ah dokter jangan terlalu memuji,saya tidak sebaik itu kok "
Tiba-tiba suasana kembali hening. Saat melihat lampu rambu-rambu lalu lintas berwarna merah,Evan menghentikan mobil nya bersama puluhan kendaraan lain nya menunggu berganti nya warna.
Di samping mobil Evan ada mobil berwarna hijau tua yang nampak retak-retak di berbagai sisi,di dalam nya nampak seorang pria paruh baya tengah duduk di balik kemudi,pria tersebut menyalakan rokok lalu menghisap dan menghembuskan asap nya ke luar,kepulan asap putih yang mengandung nikotin itu pun langsung menyebar di udara bercampur dengan asap-asap dari knalpot kendaraan.
Seorang gadis dengan keadaan tak sadarkan diri berada di bagian belakang mobil tersebut. Mobil tersebut menggunakan kaca film yang tak dapat dilihat orang lain dari luar.
"menyusahkan sekali,untung aku melihat mu tadi " dengus nya dengan terus mengepulkan asap rokok yang ia hisap
Setelah lampu merah berganti hijau,pria itu pun kembali melajukan mobil nya bersama kendaraan lain,termasuk dengan mobil yang dikendarai oleh Evan.
Kedua mobil itu melaju di arah yang sama,karena tujuan mereka pun juga sama,namun rupanya Evan sendiri tak menyadari hal itu termasuk pria yang berada di mobil hijau tua tadi yang tak lain dan tak bukan adalah Jhony.
Jika Evan dan dokter Satria tengah harap-harap cemas mencari Ayu,lain halnya dengan Yoga dan Nuari.
Yoga yang baru saja kembali dari meeting nya,langsung memeluk Nuari ,hingga ia terkekeh geli melihat kelakuan suaminya itu.
"ya ampun sayang,kamu tuh ya,kaya yang udah pergi jauh saja " kekeh Nuari
"hm...tak tahu nih bawaan nya kangen terus " ucap Yoga
"huh...modus "
"bukan modus ,tapi cinta " sahut Yoga dengan tanpa melepas pelukan nya
"Yoga ...udah ah,sana kamu kembali kerja,atau nanti aku gak akan datang lagi kalau keberadaan aku ganggu kerja kamu " ucap Nuari mendorong d*da Yoga
"siapa yang ganggu,kamu gak ganggu kok,..
iya deh ini aku lepasin, tapi kamu harus setiap hari datang ke sini ,biar aku tambah semangat " ucap Yoga seraya melepaskan pelukannya
"ya gak bisa setiap hari,aku kan harus kerja juga " sahut Nuari
"iya juga ya " lirih Yoga
"kan masih bisa video call,jangan manyun gitu ah,jelek kaya bebek " cibir Nuari menahan senyum
"hm...iya...iya..."Yoga pun mau tak mau harus kembali ke meja kerja nya, sementara Nuari kembali duduk di sofa, terdapat beberapa cemilan di depan nya
__ADS_1
Menit ke menit berlalu begitu saja ,tak terasa kini sudah waktu nya jam pulang, Yoga pun meregangkan otot-otot nya lalu menoleh pada Nuari yang tengah menatap nya dengan menopang dagu menggunakan sebelah lengan nya.
"sayang kenapa malah melihat ku seperti itu ?" tanya Yoga berjalan menghampiri istrinya
"kenapa ...tidak boleh ?" tanya Nuari lalu menyandarkan punggung nya
"boleh dong , kenapa hem?" tanya Yoga lagi
"aku mau jalan-jalan,seperti dulu saat kita masih berteman,sebelum kecelakaan itu memisahkan kita ,aku ingin mengulang saat-saat itu lagi "ucap Nuari sambil tersenyum
Kini angan nya kembali pada masa dulu masa dimana mereka masih sama-sama pelajar,dan belum saling mengutarakan perasaannya masing-masing.
"baiklah,ayo kita berangkat " ajak Yoga
"ehm... sebentar " Nuari pun segera merapikan diri nya sebelum pergi
"sudah ,yuk " ajak Yoga lagi ketika melihat Nuari sudah siap
Keduanya pun keluar dari ruangan dengan terus bergandengan tangan,terlihat sekali rona bahagia dari keduanya,membuat semua yang melihat merasa iri dan kikuk.
"ya ampun... sweet banget ya mereka,aku jadi ngiri deh,kapan aku punya suami kaya pak Yoga,tak hanya ganteng,mapan ,tapi dia juga sweet abis "
"iya ,aku juga iri,suami ku mana pernah seperti itu, boro-boro mau gandeng tangan istri nya,pergi bareng saja gak pernah,malu kali dia punya istri kaya aku "
"yang sabar ya,mungkin suami mu perlu di ruqiah deh,biar jadi romantis "
"enak saja di ruqiah ,kamu fikir suami aku kesurupan apa "
Kedua staf wanita itu pun terkekeh kemudian.
Nuari dan Yoga pergi ke sebuah mall yang dulu sering mereka datangi,kedua nya masuk ke sebuah bioskop, selesai menonton kedua nya pergi ke sebuah resto yang masih ada di mall itu,mereka memesan makanan yang sama seperti makanan yang dulu mereka pesan.
Selesai makan keduanya masuk ke sebuah arena permainan seperti Timezone. Kedua nya nampak menikmati permainan yang mereka lakukan.
Puas bermain di Timezone Nuari dan Yoga memutuskan untuk pulang,karena merasa sudah cukup bernostalgia nya.
Di jalan nampak Nuari tertidur karena kelelahan. Yoga menepikan mobil nya lalu menurunkan sandaran bangku kursi yang Nuari duduki,agar istri nya itu merasa nyaman.
Setelah itu Yoga pun kembali melajukan mobil nya.
Di tempat lain
Gibran yang baru saja pulang segera membersihkan diri, sementara Aranta menyiapkan pakaian nya.
Tak sampai sepuluh menit Gibran sudah selesai mandi.
"cepet banget mandi nya ,bersih gak tuh ?" cetus Aranta yang duduk di tepi ranjang
"bersih dong,coba nih cium wangi banget aku tuh " sahut Gibran mendekat kan dirinya lalu memeluk Aranta
"hem....iya wangi banget suami aku,ayo sekarang cepat pakai baju mu " ucap Aranta mendorong d*da telanjang Gibran
"ok ,terima kasih ya,kamu selalu saja nyiapain baju buat ku " ucap Gibran
__ADS_1
"iya ,kan sudah jadi kewajiban aku sebagai istri mu, melayani mu dalam segala hal,termasuk masalah pakaian mu " sahut Aranta sambil terus menatap Gibran,namun tatapan nya tiba-tiba tertuju pada bagian yang nampak menonjol terhalang handuk
Awal nya Gibran tak ngeh,karena tengah fokus memakai pakaian,namun ketika ia hendak meraih ****** ***** nya,ia tak sengaja melirik istrinya itu dan mengangkat tinggi-tinggi kedua alis nya. Sambil mengulum senyum Gibran pun dengan sengaja membuat handuk yang sedari tadi melilit pinggang nya terjatuh.
Gluk'
Aranta nampak menelan ludah melihat sesuatu yang sudah berdiri tegak.
"kamu pengen ?" tanya Gibran sengaja menggoda Aranta dengan menyentuh dan mengusap-usap ujung senjata nya
Entah sadar atau tidak,Aranta mengangguk dengan tatapan yang tak pernah ia alihkan.
Gibran tersenyum,lalu kembali membuka baju nya. Aranta nampak belum sadar dengan apa yang Gibran lakukan,karena ia terus saja fokus pada sesuatu yang selalu membuat nya menjerit penuh nikmat.
"aku heran kenapa semakin ke sini ,milik mu ini terlihat semakin besar" lirih Aranta lalu memegang benda itu ,membuat pemilik nya memejam kan mata dengan mulut berdesis
"jangan hanya di pegang dong sayang " pinta Gibran dengan suara yang sudah terdengar berat
Tanpa bertanya apa yang harus ia lakukan,Aranta segera memasukan benda itu ke dalam mulut nya,ia memainkan benda itu hingga membuat pemilik nya merasa ingin terbang.
Merasa tak tahan lagi,Gibran pun segera meminta Aranta untuk menyudahi aksinya,dengan hati-hati Gibran membaringkan Aranta di tempat tidur,karena ia khawatir jika apa yang ia lakukan akan menyakiti janin di dalam perut Aranta.
"assalamualaikum baby...." bisik Gibran ketika ia sudah memasuki istri nya,sementara Aranta hanya bisa melenguh panjang ketika merasakan milik nya terasa sesak
Dan sore itu pun menjadi momen tengok menengok antara calon ayah dan calon anak.
Sementara itu,Evan dan dokter Satria kini sudah sampai di kampung halaman Evan ,yaitu di Bandung.
Evan langsung menuju rumah sanak famili nya yang beberapa waktu lalu mengadakan hajatan,ia ingin bertanya tentang organ dangdut yang di sewa waktu itu.
"loh ,ada apa nih datang-datang nanyain organ dangdut,kamu mau nikah dan nyewa organ dangdut nya juga ?" tanya bibi nya
"enggak bi,bukan itu,aku hanya ingin tanya saja karena ada perlu ,apa bibi masih menyimpan kontak nya ?" tanya Evan ,yang bingung menceritakan masalah nya, jadi nya ia hanya minta nomor telepon pemilik organ dangdut itu lalu akan menanyakan perihal Ayu dan Jhony
"ada sih , sebentar bibi ambilkan dulu kartu nama nya " bibi nya itu pun beranjak untuk mengambil kartu nama yang ia maksud
Beberapa saat kemudian
"ini kartu nama nya "
"terima kasih bi,kalau gitu aku permisi " ucap Evan setelah menerima kartu nama itu
Evan pun segera kembali masuk ke dalam mobil nya, dokter Satria dari tadi menunggu di dalam mobil ,sebab ia tak ingin banyak pertanyaan dari bibi nya Evan.
"bagaimana" tanya dokter Satria saat Evan masuk ke dalam mobil
"kita harus ke alamat ini dulu "jawab Evan seraya menunjukan kartu nama itu
Mobil Evan pun melaju, sedang kan bibi nya Evan nampak memperhatikan mobil keponakan nya yang semakin menjauh.
"sebenarnya untuk apa anak itu menanyakan nya "
...***...
__ADS_1