
Di sebuah rumah yang nampak tak terawat sosok pria tengah menatap nanar seraya berkeliling di setiap ruangan ,tatapan nya terhenti pada sebuah foto-foto dalam figura dengan ukuran sedang yang berjajar rapih di lemari ruang keluarga.
Satu tangan nya terulur meraih sebuah foto seorang pria paruh baya yang mempunyai wajah hampir mirip dengan nya.
"fuuuuuhhhhh....."
Dengan satu tiupan membuat debu yang menempel di foto tersebut terhempas,pria tersebut lalu mengusap nya dengan tangan nya.
"papa....aku kembali....maaf sudah meninggalkan rumah ini terlalu lama" lirih nya ,ia menatap nanar foto yang merupakan foto mendiang papa nya,tatapan nya juga beralih pada seisi ruangan rumah yang nampak penuh dengan debu yang sangat tebal,bahkan jaring laba-laba nampak menghiasi hampir seluruh langit-langit rumah nya.
"aku harus membersihkan nya "
Alih-alih beristirahat,ia justru malah bekerja seharian penuh membersihkan seluruh rumah termasuk kamar nya juga kamar orangtuanya.
Peluh bercucuran membasahi kemeja biru nya,wajah nya pun nampak kotor dan kumal karena sesekali ia mengusap peluh di wajah nya menggunakan punggung tangan nya yang kotor.
"akhirnya....tinggal satu lagi yang harus aku bereskan yaitu bagian kamar mandi ,biar aku bisa langsung mandi jika sudah bersih " gumam nya seraya mengembuskan nafas lelah nya
Nampak rumah itu kembali bersih dan kinclong tanpa ada debu sedikit pun yang menempel,bahkan jaring laba-laba pun sudah berhasil ia bersihkan.
Saking serius nya ia membersihkan rumah sampai tak menyadari jika di luar kini sudah beranjak senja.
kruuccuuukkk.....
Yoga yang tengah menyikat lantai kamar mandi pun menghentikan kegiatan nya setelah perut nya berontak minta di isi.
"ya ampun ternyata sudah sore saja pantas saja cacing di perut ku sudah demo" monolog nya
Yoga pun berhenti sejenak,ia segera memesan makanan online dan kembali pada kegiatan nya sembari menunggu makanan nya tiba.
Sementara di tempat lain
Nuari nampak gelisah sebab dari pagi semenjak kepergian Yoga, pria itu tak kembali juga, sedangkan untuk menghubungi saja ia tak punya kontak nya.
Gadis itu duduk bersandar dengan terus melirik ke arah pintu.
Berkali-kali ia hembuskan nafas frustasi nya,membuat mama nya menggeleng kan kepala.
Ia faham dan mengerti apa yang tengah di rasakan putrinya itu,karena ia pun pernah merasakannya.
"makanlah,jangan liatin terus pintu,mungkin Yoga sedang ada urusan atau mungkin Yoga memang masih beristirahat,perjalanan nya kan cukup jauh,apalagi Yoga juga harus menunggu mu semalaman penuh,pasti ia lelah sayang, tunggulah nanti juga dia datang" hibur Nuri seraya meletakan satu piring buah-buahan segar yang sudah di potong di pangkuan Nuari
"benar juga apa yang mama katakan " batin Nuari
Gadis itu pun segera menggerakan tangan nya menyentuh garpu lalu menusukan nya pada potongan buah peer.
Saat hendak memasukan nya ke dalam mulut , terdengar suara pintu terbuka, dengan cepat gadis itu menolehkan kepala melihat ke arah pintu.
Namun sedetik kemudian ia menghela nafas,ia kecewa karena yang datang adalah papa dan kakak nya.
"assalamualaikum...." ucap keduanya
"waalaikum salam ,mas...." Nuri segera meraih tangan Rifki dan menciumnya,begitu pun dengan Rifki yang mana langsung mendaratkan ciuman singkat nya pada kening sang istri
"bagaimana keadaan mu sekarang dek,kakak lihat wajah mu sudah tak sepucat kemarin,tapi kenapa wajah nya di tekuk ?" tanya Gibran
"biasa lah nak,terkena demam malarindu,demam nya sih sudah turun tinggal rindu nya yang belum sembuh,sebab Yoga nya belum kembali lagi " ucap Nuri sedikit terkekeh
"mama...." rengek Nuari manja
"memang nya Yoga kemana ?" tanya Rifki seraya berjalan menuju sofa
"dia pulang dulu ke rumah peninggalan papa nya,mungkin dia kecapean karena habis menempuh perjalanan jauh ,terus gitu harus menginap di rumah sakit" ucap Nuri
"benar apa yang di bilang mama, Yoga pasti kecapean sayang ,tunggu saja ya nanti juga dia datang "tutur Rifki
"hm...." sahut gadis itu mengangguk pelan
"sebaik nya kalian segera menikah saja " cetus Gibran tiba-tiba
"menikah ?" tanya Nuari
"iya ,menikah,dengan begitu kamu bisa terus dekat-dekat dengan nya " goda Gibran
__ADS_1
"ah kakak....terlalu cepat kalau ke arah sana kak,lagipula aku juga belum yakin bisa menjadi seorang istri yang baik " lirih Nuari
"kakak mu benar sayang, hubungan kalian tidak mungkin seperti ini terus harus ada kejelasan mau dibawa ke arah mana " tutur Rifki
"untuk menjadi seorang istri yang baik bisa belajar setelah menikah,yang penting sekarang kalian terhindar dari hal-hal yang akan membuat kalian berdosa nantinya" tambah Nuri
"seperti hal nya kemarin,kalian berpelukan lama banget,bukan tidak mungkin kedepannya kalian akan melakukan hal yang sama pula,apalagi jika ada setan lewat,kalian tentu akan lebih dari sekedar berpelukan" sambung Gibran
Nuari terdiam mendengar nasehat dari ketiga orang yang usianya jauh diatas nya itu.
"iya ,aku akan bicarakan ini pada Yoga nanti" sahut Nuari
"maaf ya sayang ,bukan mama dan papa memaksa kalian untuk menikah,hanya saja kami takut terjadi apa-apa pada mu,apalagi kamu kan anak perempuan satu-satunya" ucap Nuri tak ingin anak nya berfikir macam-macam
"iya ma ,aku mengerti " Nuari nampak tersenyum
Pada saat itu datang seseorang dengan membawakan sesuatu di kantung kresek.
Nuari yang melihat nya nampak tersenyum dan menghirup aroma yang membuat perut nya meronta, sebab ia sudah bisa mencium aroma lezat dari dalam bungkusan keresek yang di tenteng orang itu ,ia pun langsung menyambut orang itu dengan tatapan berbinar.
"wah...om Dede datang bawa ayam geprek ya ?" tanya Nuari seraya tersenyum lebar
"kamu tuh kalau soal makanan bisa langsung ketebak " decak Febry
"assalamualaikum de....kebiasaan " Nuri sang kakak hanya bisa menggelengkan kepala ,sebab adik nya itu selaku lupa mengucap salam
"eh iya ....maaf, aku ulang ya " dengan konyol nya Febry kembali keluar dan mengucapkan salam
"assalamualaikum...." ucap nya lalu mulai melangkah masuk
"waalaikum salam " sahut Nuari ,sementara Rifki dan Nuari hanya bisa terkekeh geli
"astaga ....kak ,bisa minta teman-teman kakak keluar dulu gak,ngeri aku lihat nya " seru Febry menunduk
"pasti nek Wewe dan kak Wowo " fikir Nuari
"kenapa ,mereka gak ganggu kok " ucap Gibran
"iya memang ,tapi om ngeri saja lihat nya " lirih Febry
"ok kak,tapi nanti kalian ke sini lagi gak ?" tanya Febry
"iya tentu saja kesini lagi,kamu nih gimana sih " seru Rifki
"hehehe....kirain,aku ada acara soalnya nanti malam,gak enak kalau gak datang " cengir Febry
"cie....om punya gebetan baru ya ?"ledek Nuari
"bukan,bukan gebetan,om diundang ke acara syukuran khitanan anak nya teman kerja om " jawab Febry
"kok acara syukuran nya malam sih?" Nuari nampak merasa janggal
"sebenarnya acaranya tadi siang,hanya saja malam ini acara khusus buat orang tua nya, jadi om merasa tak enak kalau tak datang " tutur Febry
"khusus orang tua nya,memang nya acara nya mau seperti apa,bukan yang aneh-aneh kan ?" tanya Nuri
"ya gak tahu kak,kan aku juga belum datang ke acara nya , tapi kakak tenang saja,kalau acaranya diluar ekspektasi aku tak akan berlama-lama di sana,kok " sahut Febry lagi
"ya sudah,bagaimana baik nya saja,kamu pun sudah bukan lagi anak kecil yang harus selalu di beri tahu dan di peringat kan " Nuri pun tak ingin terlalu posesif terhadap adik nya,sebab ia yakin jika adik nya tahu mana yang benar dan tidak
"baiklah ,sayang ...mama ,papa ,dan kakak mu pulang sebentar ya " ucap Nuri
"iya mah ,kalian hati-hati ,sampaikan salam ku pada kak Ara ya " ucap Nuari
"iya ,akan kakak sampai kan "
Beberapa saat kemudian mereka pun meninggalkan rumah sakit.
"seperti nya kondisi kamu sudah makin baik " ucap Febry
"ehm...dokter juga bilang ,besok kalau aku semakin membaik aku sudah boleh pulang kok " sahut Nuari
"syukurlah kalau begitu "
__ADS_1
"kamu kenapa ?" tanya Febry saat melihat keponakan nya nampak lesu
"gak kenapa-kenapa om,hanya lelah saja " lirih gadis itu seraya merebahkan tubuh nya,selang infusan masih menancap cantik di punggung tangan nya
"oh iya ,mana ayam geprek nya aku mau makan sekarang " Nuari nampak tak sabar menikmati salah satu makanan favorit nya
"emang nya kamu sudah boleh makan yang pedes " tanya Febry
"enggak , sebenarnya dokter belum mengizinkan,tapi karena om sudah bawa sayang kan kalau tak di makan,ayo lah om cepat bawa kemari" pinta Nuari setengah memaksa
"baiklah , tapi om bersihkan dulu sambal nya ya ,biar gak terlalu pedas ,takut nya kamu kenapa-kenapa lagi gara-gara makan pedes " Nuari mengangguk dan Febry pun segera membersihkan sambal yang menutupi seluruh permukaan daging ayam tersebut
Sementara itu Yoga yang sudah selesai dengan kegiatan nya bersih-bersih rumah ,segera membersihkan diri nya lalu secepat nya pergi ke rumah sakit.
Akan tetapi baru saja ia hendak mengetuk pintu ruangan inap ,matanya melihat seorang pria tengah duduk di tepi ranjang dengan posisi membelakangi membuat tangan nya menggantung di atas kepala nya.
Pria itu juga terlihat perhatian terhadap gadis yang ingin ia temui bahkan sesekali terdengar tawa sang gadis dari dalam.
"siapa pria itu,kenapa mereka nampak dekat ,pria itu bukan om Rifki,apalagi kak Gibran " Yoga terdiam dengan pertanyaan-pertanyaan di benak nya ,bahkan tangan nya yang tadi hendak mengetuk pintu pun mengepal kuat ketika melihat ekspresi Nuari yang terlihat nyaman dengan pria itu
Di sela tawa nya Nuari tak sengaja melihat Yoga yang menatap nya dengan raut wajah penuh amarah dari balik kaca pada pintu.
Gadis itu tersenyum lebar,namun ia kemudian mengerutkan kening ketika melihat tatapan Yoga.
"Yoga...." seru Nuari , Febry pun sontak menoleh ke arah pintu
Akan tetapi yang di panggil malah pergi begitu saja,membuat Nuari bingung,ia pun dengan cepat meraih kantung infus yang menggantung lalu beranjak turun.
"Ari...kamu mau kemana?" tanya Febry
Namun Nuari tak menggubris pertanyaan om nya,ia berjalan cepat menuju pintu
"Yoga...." panggil Nuari ketika ia melihat punggung Yoga menjauh
"Ari ...tunggu ...kau mau kemana ?"
Gadis itu tak menjawab ,ia berlari mengejar Yoga yang semakin menjauh,bahkan beberapa kali tubuh nya harus bertabrakan dengan para perawat yang berlalu lalang
Tiba dilantai bawah, Nuari kehilangan jejak nya,ia terus mengedarkan pandangan nya,tepat di pintu masuk Nuari melihat sosok Yoga ,ia berlari kembali hingga akhirnya berhasil mengejar nya.
Bruukk
Dengan sebelah tangan yang masih memegang kantung infusan ,gadis itu melingkar kan kedua lengan nya,memeluk Yoga dari belakang.
"Yoga....aku dari tadi menunggu mu,tapi kenapa kamu malah pergi ,apa aku ada salah pada mu " lirih nya
"katakan siapa pria itu " suara Yoga terdengar dingin
"pria....yang mana?" tanya Nuari mengerutkan kening ,namun kemudian ia tersenyum ,sekarang ia mengerti jika pria itu rupanya salah faham dan cemburu
"yang mana lagi ,yang tadi di ruangan mu lah , kalian tertawa bersama, kelihatan sekali kalau kalian dekat "
Dengan mengulum senyum Nuari mengurai pelukan nya ,ia lalu menarik Yoga agar menghadap pada nya.
"benar kau ingin tahu?" goda Nuari
"cepat katakan saja dia siapa " ketus Yoga
"ih...jangan ketus begitu dong ,jelek tahu gak "
"makanya cepat katakan siapa dia ,apa hubungan kalian ?" tanya nya lagi
"ok ...ok aku katakan,nama nya om Febry dia ...."
"om ....om kamu bilang,jadi kamu juga dekat dengan om-om" seru Yoga memotong ucapan Nuari ,nafas nya sudah memburu ,d*da nya pun terlihat naik turun
"iya ,kami memang dekat ,karena dia adik nya mama ,dia tuh om aku,makanya kami dekat ,kenapa ....cemburu ya ?" tanya Nuari dengan menaik-turunkan kedua alis nya ,bahkan bibir nya sudah melengkung memperlihatkan senyuman yang membuat nya semakin cantik
Sontak saja mata Yoga membelalak
"hah....dia om kamu ....."
"iya dia keponakan ku ,kau cemburu pada orang yang salah nak "
__ADS_1
...***...