
Suara denting jarum jam memecah kesunyian malam ini,menemani seorang gadis cantik yang tengah melamun meratapi dirinya.
Tak ada tangisan ataupun air mata yang keluar,hanya helaan nafas yang nampak berkali-kali ia hembuskan.
"kenapa rasanya badan ku tak enak " lirih nya seraya menyentuh bagian leher nya
"apa karena ini sudah terlalu malam " ia melirik pada jam di dinding yang menunjukan angka 24:30
Gadis itu pun beranjak menuju tempat tidur dan membaringkan diri meski kantuk tak juga ia rasakan.
Gadis itu pun meraih sesuatu di nakas lalu mendekap nya erat. Perlahan mata indah nya pun menutup tak lama kemudian terdengar hembusan nafas teratur dari nya, menandakan jika gadis itu sudah masuk alam tidur nya.
Keesokkan hari nya
"Ari.....sayang....bangun nak ,sudah siang,tumben kamu jam segini masih tidur ,ada Evan sudah menunggu mu,kata nya kalian hari ini akan pergi ke pusat observasi " ucap Nuri seraya menyingkapkan gorden jendela kamar
Cahaya terang mulai menyeruak masuk saat gorden tersebut terbuka,membuat Nuari yang masih bergelung dengan selimut tebal nya semakin merapatkan mata dan bergumam yang tak jelas.
Nuari mengernyitkan kening sebab tak biasanya putri nya bersikap seperti itu. Bahkan semenjak putri nya beranjak dewasa baru kali ini ia kembali membangunkan anak gadis nya.
Nuri menghela nafas seraya berjalan kearah Nuari.
"Ari....ayo bangun "
Nuri terkesiap saat melihat wajah putri nya pucat,ia pun dengan cepat menyentuh kening putri nya dengan punggung tangannya.
"astaghfirullah....kau demam "
"maaaasss.......maaasss....." Nuri berlari ke luar kamar seraya memanggil suami nya dengan panik
"ada apa sih sayang,malu sama Evan ,masa teriak-teriak begitu " ucap Rifki mendekati
"itu mas...Ari...Ari...demam " ucap Nuri dengan wajah panik nya
"apa ,Ari demam " sentak Rifki ,ia pun segera bergegas menuju kamar putri nya di ikuti istri nya
"sayang ... Ya Tuhan....panas sekali" Rifki pun terkejut saat merasakan suhu tubuh putri nya sangat panas
"kita bawa Ari ke rumah sakit " seru Rifki kemudian
Tak membuang waktu saat itu juga Nuari di bawa kerumah sakit. Evan yang kebetulan berada di sana pun turut ikut ke rumah sakit.
"hati-hati mas " Nuari membantu membuka kan pintu mobil bagian belakang,ia turut masuk dan meletakan kepala putri nya di pangkuan nya ,Rifki pun segera melajukan mobilnya
Sementara Dewi ikut ke dalam mobil Evan yang mengikuti dari belakang, perempuan yang sudah tak muda lagi tersebut segera memberi tahu Gibran tentang kondisi Ari saat ini.
"mas... kenapa Ari tak juga membuka mata nya ?" cemas Nuri
"kamu sabar sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit " ucap Rifki dengan perasaan yang sama panik nya ,sebab selama ini Nuari jarang dan hampir tak pernah sakit ,palingan hanya demam biasa itu pun hanya gejala flu biasa,namun kali ini berbeda,Nuari demam bahkan sampai tak sadarkan diri
"Ya Allah....kenapa bisa sampai seperti ini nak...." lirih Nuri seraya mengusap-ngusap kepala Nuari
Namun tiba-tiba ia melihat sesuatu di genggaman putri nya,ia pun meraih dan mencoba mengambil nya.
"Ya Allah ....Ari..." wanita paruh baya itu tak dapat lagi berkata-kata,ia begitu sedih melihat keadaan putri nya saat ini ,apalagi sebuah foto yang putri nya genggaman membuat hatinya terasa tersayat
Sebuah foto dimana Nuari yang tengah tersenyum riang bersama seorang pria tambun yang juga tengah tersenyum bersama.
__ADS_1
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit. Nuari segera ditangani dokter sementara Nuri dan yang lain menunggu dengan perasaan cemas.
"assalamualaikum.....ma...bagaimana keadaan Ari ?" tanya Gibran yang baru saja datang ,ia tak sendiri karena Aranta turut ikut bersamanya
Ia segera berangkat ke rumah sakit begitu nenek nya memberi kabar tersebut,beruntung Gibran dan Aranta sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta.
"waalaikum salam ....masih di tangani dokter " lirih Nuri
"mama yang tenang,Ari pasti baik-baik saja" ucap Gibran mencoba menenangkan mama nya seraya menggenggam tangan mama nya , meski ia pun sama cemas nya
"apa itu ma?" tanya Aranta melihat pada genggaman tangan mertua nya ,Rifki dan yang lain pun melihat ke arah yang sama
"ini...mama menemukan ini tengah di genggam Ari " sahut Nuri seraya menunjukan nya
"begitu besar nya rasa cinta di hatinya untuk pria itu " lirih Evan dalam hati nya
"Ari pasti tertekan,sebab ia mengatakan jika Yoga akan menikah " lirih Nuri
"hah....menikah kok bisa ?" seru Aranta
Beberapa saat kemudian pintu pun terbuka
"dokter bagaiman keadaan putri kami ?" tanya Rifki
"putri anda terkena tipes,sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang perawatan " ucap dokter
Beberapa saat kemudian Nuari pun sudah di pindahkan ke ruang rawat.
"jadi mungkinkah Ari tertekan batin nya hingga ia sakit seperti saat ini ?" lirih Dewi menatap iba pada cucu perempuan nya
"lalu kita harus bagaimana,kasihan Ari" lirih Dewi lagi
"entahlah lah mah,setiap orang berbeda,ada yang bisa cepat move on ada yang tak bisa dengan mudah melupakan, contoh nya Ari,jika saja Ari mau mungkin sudah dari dulu aku kenalkan dengan anak rekan bisnis ku,tapi ya itu tadi Ari selalu saja menolak dan bersikeras menunggu Yoga,dan akhirnya sekarang dia sendiri yang terluka" ucap Rifki
"om,Tante ...saya mau pamit ,tapi sebelum nya saya mau melihat Nuari sebentar " ucap Evan ,karena saat ini mereka tengah berada di luar ruangan,sebab Nuari belum sadarkan diri dan hanya boleh satu orang saja yang menunggu di dalam
"iya nak Evan ,silahkan " ucap Rifki
Saat Evan membuka pintu ,Gibran yang berada di dalam pun mengerti dan segera keluar memberi nya ruang untuk berbicara pada adik nya,namun ia pun tak membiarkan adik dan teman nya berdua,ia meminta sosok Wewe menemani di dalam.
"kenapa tiba-tiba bulu kuduk ku merinding" gumam Evan seraya mengusap belakang leher nya
Namun secepat nya ia mengenyahkan rasa itu dan beralih menatap Nuari yang terpejam dengan selang infus menancap di punggung tangan kanan nya.
"aku tahu kamu begitu mencintai nya,aku pun begitu menyayangi mu,dan aku tak bisa melihat mu seperti ini,cepat sembuh,dunia ku terasa gelap saat tak melihat senyuman mu ,adik perempuan ku " lirih Evan seraya mengusap kepala Nuari
Setelah itu Evan pun beranjak meninggalkan ruangan tersebut.
"ehehehehe.....padahal perasaan nya tulus pada mu,tapi kamu masih saja mengharapkan yang belum pasti " kekeh Wewe menatap kepergian Evan
"seperti nya ,aku harus melakukan sesuatu " batin Evan seraya melangkah
Sepeninggal Evan ,Nuari mulai membuka mata nya ,ia menatap seisi ruangan yang nampak putih khas sebuah ruangan rumah sakit.
Gadis itu menoleh pada tangan nya yang tertancap selang infus,lalu netra nya beralih pada sebuah pintu yang terbuka.
"Alhamdulillah...kamu sudah sadar sayang" ucap Nuri melangkah cepat
__ADS_1
"kenapa aku berada di sini,apa yang terjadi ?" tanya Nuari dengan suara serak
"tadi pagi badan kamu demam sayang ,kamu juga pingsan,mama fikir tidur,makanya mama dan papa cepat membawa mu ke rumah sakit " ucap Nuri
"kamu mau minum ?" tanya Nuri,Nuari mengangguk
"ini minum lah , pelan-pelan " Nuri menyodorkan air mineral yang sudah diberi sedotan
Sementara di tempat lain
Seorang pemuda tengah memperhatikan seorang ibu paruh baya yang tengah menghias sebuah barang hantaran berupa seperangkat alat sholat yang sudah di hias sedemikian rupa hingga terlihat sangat menarik.
Besok lusa adalah hari yang akan menjadi momen bersejarah bagi nya untuk mengawali hidup baru bersama gadis pilihan nya,namun entah kenapa hatinya merasa resah dan gundah ,ia malah kembali teringat pada sosok cantik yang telah menarik perhatian nya selama satu bulan terakhir.
Meski pertemuan nya singkat dan kebersamaan nya pun juga terbilang singkat,namun entah kenapa ia merasa seolah mereka sudah mengenal lama,dan perasaan nya sangat nyaman jika bersama gadis itu.
Dalam lamunan nya ia kembali teringat tingkah dan sikap ramah Nuari.
"ah...kenapa aku malah mengingat nya terus , ingat Yoga lusa kau menikah ,lagi pula belum tentu juga dia mengingat mu " kekeh Yoga seraya menunduk
Saat tengah sibuk dengan fikiran nya sendiri tiba-tiba Bu Nur Aini datang dan menanyakan sesuatu pada nya.
"Yoga...ini kamu dapat darimana?" tanya nya seraya menunjukan sebuah kalung berbandul dua hati yang berbeda ukuran
"oh iya ,aku menemukan nya di rumah penginapan mah,aku mau kembalikan pada pemilik nya tapi aku malah lupa " sahut Yoga
"benarkah?"
"iya ,tapi seperti nya aku mau titipkan saja pada teman-teman nya jika mereka sudah sampai,karena pemilik kalung nya sudah mengatakan tak akan datang " sahut Yoga
Yoga sudah dapat menebak jika kalung tersebut milik Nuari ,karena Renita tak mungkin karena ia tak pernah melihat Renita mengenakan kalung serupa,sementara wanita di sana saat itu hanya ada mereka berdua,jadi ia sangat yakin jika Nuari lah pemilik kalung tersebut.
"mereka mau datang ke sini?" tanya Bu Nur Aini
"iya mah " sahut Yoga
"mama kenapa?" tanya Yoga saat melihat mama nya seperti tengah memikirkan sesuatu
"ah...tidak apa-apa,mama hanya merasa pernah melihat kalung yang sama persis seperti ini" jawab nya seraya memberikan kalung tersebut pada Yoga
"dimana?" tanya Yoga
"dulu, dulu banget,bahkan kamu pernah membuat kalung yang sama seperti kalung ini" tutur nya
"benarkah ,apa dulu aku seorang pembuat kalung atau sejenis nya ?"
"tidak,kamu sengaja membuat nya untuk seseorang yang spesial di hati mu ,sudah lah jangan di bahas lagi,percuma kau pun tak akan mengingat nya, lagipula itu hanya lah masa lalu , sebentar lagi kamu menikah "ucap Bu Nur Aini lalu beranjak
Yoga pun tercenung seraya memperhatikan kalung yang ada di tangan nya.
"benarkah aku pernah membuat kalung seperti ini" lirih nya
Namun tiba-tiba saja ia meringis saat sebuah bayangan terlintas di benak nya. Gambaran demi gambaran yang menyerupai puzzle pun mulai berputar dengan jelas,hingga ia merasa tak sanggup dengan rasa sakit yang mendera nya ia pun terkapar di lantai membuat ibu paruh baya yang tengah menghias hantaran pun terkejut.
"Ya Allah.....nak Yoga...."
...***...
__ADS_1