Tarzan Cantik Dokter Idaman Hati

Tarzan Cantik Dokter Idaman Hati
Kesakitan


__ADS_3

Bersama angin ku hembuskan nafas ini,berharap pesan cinta ku akan sampai pada mu. Dan ketika kau datang kembali padaku tak kan ku biarkan kau kembali pergi menjauh. Cinta mu telah menghujam diri ini begitu dalam.


...***...


Tak ada yang merasa tak cemas saat melihat Yoga terkapar tak sadarkan diri. Dengan dibantu para tetangga pria, tubuh Yoga di baringkan di tempat tidur nya.


Seorang bidan datang setelah di jemput salah satu tetangga,dan segera memeriksa keadaan nya.


"bagaimana Bu bidan,kenapa dengan anak saya ?" tanya Bu Nur Aini dengan nada cemas nya


"mas Yoga mungkin hanya kecapean saja hingga menyebab kan kepala nya kembali sakit,tapi ibu tak usah khawatir,saya sudah tuliskan resep nanti di tebus ya " ucap bidan yang berusia tak jauh berbeda dengan Yoga


"beneran tidak apa-apa Bu bidan?" tanya Bu Nur Aini dengan raut ragu


"iya Bu , kalau begitu saya permisi mau kembali ke puskesmas" ucap bidan itu undur diri


Setelah kepergian bidan tersebut,Bu Nur Aini melihat dengan seksama tulisan resep obat yang tadi di tulis bidan itu,tanpa ia tahu obat apa itu,ia meminta seseorang untuk menebuskan nya di apotik yang lumayan jauh dari tempat tinggal nya.


"apa pingsan nya kamu berhubungan dengan kalung ini....apa jangan-jangan pemilik kalung ini adalah Ari ...jika iya berarti mereka sudah bertemu ...." lirih nya


Entah ia harus senang atau sedih,senang karena akhirnya mereka kembali bertemu,namun ia juga sedih jika mungkin Nuari mengenali Yoga yang sekarang,akan seperti apa perasaan gadis itu apalagi ada Renita bersama mereka berbeda jika Nuari tak mengenali Yoga.


"aku harus menyimpan kalung ini baik-baik,semoga saja ingatan mu kembali sebelum semuanya terlambat " lirih Bu Nur Aini bergegas ke kamar nya dan segera menyimpan kalung berbandul dua hati tersebut


Di kamar nya , Yoga mengernyitkan kening, suara tawa seorang gadis terngiang jelas,dalam ketidak sadaran nya Yoga terus menggerakkan kepala nya ke kiri dan ke kanan sambil bergumam tak jelas.


"ayolah Yoga satu kali lagi ....please....." pinta seorang gadis cantik


"baiklah ....satu ku lagi,setelah ini kita pulang,tak enak pada keluargamu kalau pulang terlalu malam " sahut seorang pria berbadan tambun


"yeeeaayyy.....makasih Yoga,kau memang yang terbaik " seru gadis itu kegirangan saat pria tersebut menuruti keinginan nya untuk bermain game di sebuah Timezone


"Ari....." gumam Yoga dengan mata terpejam


"aku cinta kamu "


"hah....hah......apa itu tadi,kenapa aku mimpi seperti itu,gadis itu....mirip sekali dengan Nuari.... aaakkkhhh......"


Yoga terbangun dengan nafas tersengal,ia kemudian memekik saat kepalanya kembali di dera rasa sakit,ia mencengkram erat rambut nya hingga tak sadar jika beberapa helai rambut nya telah rontok.


Bu Nur Aini yang mendengar nya pun segera menghampiri kamar anak nya.


"Yoga.... kamu kenapa ?" tanya Bu Nur Aini nampak panik


"kepala ku sakit ma... " lirih nya


"ini minumlah obat ini,baru saja pak Yadi menebus nya di apotik " ucap Bu Nur Aini seraya menyerahkan obat yang tadi di resep kan oleh bidan


Yoga meraih nya


"tidak ma...obat ini hanya akan membuat ku linglung,ini obat penenang " ucap Yoga dengan nada bergetar


"apa....obat penenang,kamu tahu dari mana?"


"seseorang memberi tahu ku....mana kalung tadi ?" tanya Yoga


"ada,mama simpan di kamar mama " jawab Bu Nur Aini


"bisa berikan kalung itu pada ku,aku merasa ada yang aneh dengan kalung itu " pinta Yoga


"baiklah , sebentar mama ambilkan dulu" Bu Nur Aini pun beranjak ke kamar nya

__ADS_1


Sementara di tempat lain


Nuari yang selesai minum obat pun memilih menonton acara televisi di temani mama nya, meskipun rasa pusing masih ia rasakan.


"kenapa panas nya tak turun-turun sih ?" gumam Nuri setelah menyentuh kening putri nya


Sementara Nuari hanya menatap kosong televisi yang menyala,menayangkan siaran langsung sebuah acara talk show.


Lagi,perasaan nya sakit saat melihat putri nya seperti itu,sudah sekian lama Nuari menyembunyikan kesedihan nya di hadapan semua orang,kali ini gadis itu kembali bersikap seperti saat pertama kali ia ditinggalkan pria yang di cintai.


"sayang..." ucap Nuri menyentuh tangan putri nya yang tidak di infus


Nuari menoleh


"aku ngantuk " ujar Nuari mendahului mama nya yang hendak berbicara


"ya sudah tidur lah, televisi nya mau di matikan ?" tanya Nuri , Nuari mengangguk


Nuri meraih remote lalu menekan tombol power,dalam sekejap televisi mati menampakan layar nya yang bewarna hitam.


Di lihat nya putrinya itu sudah memejam kan mata,ia tak yakin jika putri nya benar-benar tidur.


"kenapa harus seperti ini lagi,...pasti ini berat untuk mu " batin nya seraya menatap sendu


Ia pun kembali teringat akan masa lalu nya yang mana ia pun pernah merasakan sakit karena kehilangan orang yang ia cintai.


Terpukul,dan hancur yang ia rasakan dulu. Air mata nya pun luruh membasahi pipi nya yang masih terlihat kencang di usia nya yang tak lagi muda.


"astaghfirullah.....kenapa aku malah jadi teringat masa itu " lirih nya ,tak ada lagi rasa sakit yang dulu selalu ia rasakan ketika mengingat hal itu, kalau pun tadi ia meneteskan air matanya ia hanya merasa tak tega melihat putri nya yang nampak terpukul


Sedangkan di sisi lain,Evan ,Yudi , Joni dan Jono tengah bersiap untuk menuju desa dimana Yoga tinggal saat ini.


Mereka akan menghadiri acara pernikahan Yoga yang akan di gelar esok hari.


Pria berlesung pipi itu sudah bertekad untuk membuat Nuari bisa bersatu dengan Yoga,apapun akan ia lakukan agar kedua nya bisa kembali bersama.


Tentu nya tanpa sepengetahuan Yudi dan si kembar kompak.


"sayang ya Nuari tak ikut " celetuk Yudi saat mereka baru saja duduk di kursi pesawat. Ia yang duduk bersama Evan pun segera mendengar helaan nafas dari teman nya


"Nuari masuk rumah sakit "ucap Evan


"hah....masuk rumah sakit ...dia sakit apa?" tanya Joni dan Jono yang duduk di belakang ,mereka mendengar kabar tentang masuk nya Nuari ke rumah sakit pun membuat kedua terkejut


"kata dokter dia terkena tipes " sahut Evan


"kenapa kamu tak bilang sebelumya sih,tau gitu kita pergi dulu menjenguk nya tadi " sesal Yudi


"maaf " hanya itu lah kata yang terucap dari Evan


"haaahh....kau ini , keterlaluan sekali ,teman macam apa kita ini,di saat dia sakit kita malah akan pergi tanpa menjenguk nya terlebih dahulu" lirih Joni dan Jono


Evan hanya diam duduk di kursi nya sembari memikirkan cara untuk berbicara pada Yoga nanti.


Beberapa saat kemudian pesawat pun lepas landas,tak ada obrolan apapun lagi di antara ke empat orang itu,mereka larut dalam fikiran nya masing-masing hingga pesawat yang mereka tumpangi telah sampai di bandara.


Ke empat orang itu segera menyetop taksi untuk selanjut nya menuju ke desa tempat tinggal Yoga.


Sementara Yoga sendiri ia tengah berbaring sembari memijit pelipisnya.


"sebenarnya ada apa ini ,kenapa perasaan ku seperti ini ,siapa gadis itu kenapa wajah nya mirip sekali dengan Nuari,...apa jangan-jangan sebelum nya aku pernah bertemu dan kita saling mengenal,...tapi kenapa Nuari tak mengatakan apa pun " monolog nya pada diri sendiri

__ADS_1


Ia kemudikan teringat pada sebuah foto yang mama nya sering tunjukan kepada nya.


Pria itu pun segera bangkit dan mencari keberadaan Bu Nur Aini.


"Bu...apa ibu melihat mama ?" tanya Yoga pada seorang ibu-ibu yang tengah membuat kue di dapur


"kalau tak salah tadi mama mu pergi ke rumah Bu RT,katanya mau ambil wajan kebetulan Bu RT menawari wajan besar milik nya untuk di pinjam kan,karena di sini kekurangan wajan " tutur si ibu yang mengenakan jilbab hitam


"oh gitu ya,makasih ya Bu" Yoga pun berlalu menuju luar


Sesampainya di luar nampak kening nya berkerut melihat siapa yang datang menghampiri nya.


"kamu tak apa-apa...aku dengar kemarin kamu pingsan ?" tanya seorang gadis


"kamu ngapain kesini,bukan nya orang tua kita melarang kita untuk bertemu dulu sebelum acara besok?" tanya Yoga


"halah zaman serba canggih begini masih percaya saja sama mitos,aku tuh khawatir tahu,aku takut kamu kenapa-kenapa jadinya aku mau memastikan sendiri keadaan mu ,makanya aku diam-diam datang ke sini " tutur Renita


Yoga hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Renita.


"loh kok kamu ke sini ,kan pamali " seru Bu Nur Aini sambil membawa wajan besar


"ah Tante .... itu kan hanya pemikiran orang tua jaman dulu,sekarang kan zaman sudah maju serba canggih pula ,masa masih saja berfikiran kolot " sahut Renita membuat Bu Nur Aini mendengus pelan dan membatin


"kenapa semakin ke sini sikap nya tak semanis biasa nya "


"sekarang kamu sudah lihat kan kalau aku baik-baik saja,lebih baik kamu pulang,jangan buat orang tua mu kebingungan mencari mu ,bersabar lah besok kita akan bertemu kembali " ucap Yoga


"tapi..."


"Yoga benar Renita,sebaik nya kamu pulang,ibu dan ayah mu pasti sedang mencari mu " sambung Bu nur Aini


"ya sudah deh ,aku pulang saja "


"padahal aku kepo banget dengan barang hantaran nya, katanya bagus-bagus " lanjut nya dalam hati


Renita memang penasaran sebab ia mendengar dari salah satu tetangga nya yang kebetulan ikut membantu merias hantaran tersebut mengatakan jika hantaran nya itu sangat bagus. Keadaan Yoga hanya ia jadikan alasan saja.


"ma...aku mau lihat foto yang sering mama tunjukan pada ku ,apa foto nya masih ada ?" tanya Yoga


"untuk apa ,toh besok kamu juga akan menikah,jangan aneh-aneh deh kamu "


"aku hanya ingin memastikan saja " jawab Yoga membuat kening wanita paruh baya itu mengerut


"ya sudah, ayo ikut mama,untung saja mama belum membuang nya " ucap Bu Nur Aini pelan


**


Di sini lah kini Yoga berada.


Dengan hembusan angin malam pria itu menatap nanar sebuah foto seorang gadis cantik yang tersenyum menatap kamera. Tak ada lagi rasa sakit ketika melihat foto itu,hanya jantung nya saja yang kini malah berdebar tak karuan,ia lalu teringat akan secarik kertas yang di berikan Evan tempo hari,ia lupa untuk membaca nya,ia pun bergegas untuk melihat dan membaca nya waktu itu.


"kamu bacalah ini,semoga saja setelah membaca tulisan nya memori otak mu kembali "


Itu lah kata-kata yang Evan ucapkan saat memberikan kertas yang didalam nya terdapat tulisan kesakitan Nuari.


Meski bingung Yoga tetap menerima nya ,dan di saat hendak membuka lipatan kertas nya, tiba-tiba Renita muncul dan Yoga pun memasukan kertas itu ke saku celana nya.


Kini pria itu kembali menatap lipatan kertas tersebut,namun saat baru saja kertas itu terbuka


"aaakkkhhh...... kenapa sakit lagi " jerit nya hingga ia memejam kan mata,sedangkan tangan nya meremas kertas

__ADS_1


...***...


__ADS_2