Tarzan Cantik Dokter Idaman Hati

Tarzan Cantik Dokter Idaman Hati
S2 episode 64


__ADS_3

Gibran ,Aranta , Nuri,dan Rifki segera beranjak menuju ke kamar Dewi.


Tok tok tok


"Mah,mama sudah tidur ?" Nuri mengetuk pintu ,namun tak ada sahutan dari dalam


"Buka saja sayang , perasaan ku semakin tidak enak " Ucap Rifki


Nuri pun segera membuka pintu, beruntung pintu nya tidak dikunci.


"Mah," tegur Nuri ,sambil berjalan menghampiri


"Mama "Rifki menyentuh lengan nya


Deg'


"Kok dingin " batin nya


"Mama " ucap Nuri lagi seraya mengguncang tubuh mama mertua nya


Perlahan Dewi membuka kelopak mata nya ,ia menatap anak,menantu juga cucu dan cucu mantu nya. Bibir nya tersenyum.


"Ari mana ?" Tanya nya lemah


"Ari kan di rumah nya mah" Jawab Rifki


"Panggil ke sini,mama mau ketemu dulu" Ucap Dewi


"Nek " tegur Gibran,dengan mata nya yang sayu Dewi melirik pada Gibran


"Mana Atha dan Lia ?" Tanya nya


"Sebentar,aku panggil mereka " Aranta yang seakan mengerti dengan kondisi nenek mertua nya segera berlari menuju kamar kedua anak nya dengan menahan tangis nya


"Raffa dan Yoga juga suruh datang ya" Lirih Dewi


"Mah "Ucap Nuri dengan sudah berurai air mata


"Jangan nangis mama gak kenapa-kenapa kok "


"Gak kenapa-kenapa kok mama begitu ?" Ucap Rifki yang juga merasa jika malam ini akan menjadi malam terakhir mereka bersama


Dewi malah tersenyum menatap putra nya ,kemudian ia melihat ke arah belakang nya Rifki.


Nuri dan Rifki yang menyadari kemana arah tatapan nya pun menoleh.


"Pa...papa ..." lirih Rifki ketika melihat sosok pria yang hampir mirip dengan nya ,bahkan tinggi dan postur tubuh pun sama


"Jangan bilang kalau papa mau jemput mama ?" suara Rifki bergetar menahan tangis ,sementara Gibran sudah menundukkan kepala dengan menangis terisak dari tadi karena ia sudah tahu maksud kedatangan arwah kakek nya


"Ma,mama gak boleh pergi,aku sangat menyayangi mama " Lirih Nuri seraya memeluk Dewi


"Mama juga menyayangi mu nak ,rasa sayang mama bahkan sudah melebihi seorang mertua pada menantu nya ,mama sudah menganggap kamu seperti putri mama sendiri,kasih sayang dan cinta mu terhadap mama ,begitu terasa.Terima kasih karena sudah mau menyayangi mertua mu ini,tetap lah berada di samping Rifki,dan kamu Rifki,selalu jaga dan cintai istri mu ,jangan sekali pun kamu membuat nya menitipkan air mata, sampai kan maaf juga pada kedua orangtua mu di kampung " kini tatapan nya beralih pada Gibran


"Dan kamu cucu ku ,maafkan nenek ya jika nenek pernah membuat mu kesal ,selalu jaga dan lindungi anak serta istri kamu ,hiduplah kalian dengan rukun "


Di ambang pintu nampak Atha dan Lia yang sudah siap hendak pergi sudah berurai air mata.


"Oma..." seru mereka segera menghambur memeluk Dewi


"Huuuhhuuu....jangan pergi Oma ,Oma jangan ikut kakek buyut " Lia nampak histeris

__ADS_1


"Cepat panggil Nuri dan keluarga kecil nya ,waktu mama sudah tak banyak. Sesak sekali rasa nya " Ucap Dewi dengan nafas terputus-putus


Dengan tangan bergetar serta mata yang kabur karena air mata , Nuri menghubungi Nuari dengan menggunakan ponsel milik Atha.


Nuari yang baru selesai membuat puding untuk dibawa nya besok pagi ke kantor,mendengar ponsel nya berdering dan segera mengambil ponsel yang ia letakan di meja makan.


"Atha ,ada apa ya anak itu nelpon ?" Gumam Nuari lalu segera mengangkat nya


"Assalamualaikum" Ucap Nuari


"Waalaikumsalam...Ari ,ini mama,kamu cepat kemari ajak suami dan anak mu " Ucap Nuri


"Ada apa mah ?" Tanya Nuari seketika panik saat mendengar mama nya berbicara sambil menangis


"Nenek kamu ....pokok nya cepat kamu kesini " Nuri tidak bisa menjelaskan karena tenggorokan nya terasa tercekat


"I..iya mah aku akan segera ke sana " Setelah itu ia langsung memanggil Yoga


"Sayang Raffa mana? Kita harus ke rumah mama sekarang " Ucap Nuari panik


"Raffa suda jalan ke rumah Vania,mungkin dia sudah sampai di sana" Sahut Yoga


"Memang nya ada apa ?" Tanya Yoga


"Aku juga gak tahu, baru saja mama nelpon sambil nangis ,mama sempat menyebut nenek ,tapi tidak mau mengatakan apapun,mama hanya bilang kita harus ke sana sekarang " Sahut Nuari


"Ya sudah kita ke sana sekarang ,Raffa biar aku yang telpon " Yoga pun segera menghubungi putra nya


Di rumah Vania


"Sebentar,papa nelpon" ucap Raffa yang saat ini tengah berbincang bersama Evan juga Satria. Ia tak jadi keluar untuk nonton karena Vania mendadak sakit perut


Tanpa pergi menjauh,Raffa mengangkat telpon di depan Evan dan Satria.


"Assalamualaikum pah,ada apa ?" Tanya Raffa


"Kamu sekarang di mana ?"


"Di rumah Vania ,kita gak jadi nonton " Jawab Raffa


"Kalau gitu sekarang juga kamu datang ke rumah nenek ,cepat ini penting ! "Ucap Yoga seraya membuka pintu mobil nya


"Emangnya ada apa pah?" Tanya Yoga bingung


"Papa juga gak tahu ,pokok nya sekarang juga kamu langsung ke rumah nenek ,tadi nenek kamu nelpon sambil nangis nyuruh kita cepat-cepat ke sana. Sudah ya papa mau berangkat ,kamu juga cepat berangkat,papa tunggu di sana "


Panggilan pun terputus


"Kenapa?" Tanya Evan


"Aku diminta untuk datang ke ruang nenek. Ada apa ya ? Seperti nya papa panik banget "


"Ya sudah kalau gitu kamu segera ke sana ,takut nya ada sesuatu yang terjadi " ucap Satria


"Iya deh , kalau gitu aku pamit om,kek. Bilanging maaf ke Vania aku tidak bisa pamitan "Ucap Raffa beranjak dari duduk nya


Setelah Raffa pergi dengan mobil nya, Vania yang mendengar deru mesin mobil menjauh pun segera beranjak mendekati balkon kamar nya. Ia melihat mobil Raffa pergi.


"Kak Raffa kok pergi ,kenapa gak bilang. Apa kak Raffa marah karena kita tidak jadi pergi? Tapi kan aku lagi sakit perut,harus nya dia ngerti dong " Vania merasa kesal karena Raffa pergi tak berpamitan terlebih dahulu


Tak lama terdengar suara ketukan pada pintu kamar nya ,ia segera beranjak membuka pintu namun sebelum nya ia menutup pintu balkon nya.

__ADS_1


"Eh,papa. Ada apa pah?" tanya Vania


"Gimana perut kamu ? masih sakit ?" Tanya Evan


"Sudah agak mendingan sih setelah minum wedang jahe buatan mama" Jawab Vania apa adanya ,saat ini memang masa nya gadis itu datang bulan,jika sedang datang bulan Vania memang sering merasa sakit pada perut nya ,bahkan perut nya seringkali kram


"Oh iya Raffa sudah pulang ,tadi dia buru-buru karena ditelpon papa nya , seperti nya penting jadi tidak sempat pamit sama kamu. Tapi Raffa titip pesan kok buat terus aktif kan hp kamu " ujar Evan


Vania tidak merespon iaalah terdiam.


"Ya sudah kalau gitu papa keluar ya" Setelah Evan keluar Vania pun mengambil ponsel nya


"Baiklah ,aku gak akan matiin ponsel nya " Gumam nya , sudHenjad kebiasaan baginnya jika sedang kesal ia tak ingin siapa pun mengusik nya ,maka hal yang ia lakukan yaitu mematikan ponsel juga mengunci pintu kamar. Ia akan mengurung diri di kamar selama kekesalan nya belum sirna


Beberapa saat kemudian Raffa sudah sampai di rumah nenek nya. Nuari dan Yoga pun sudah sampai lebih dulu. Raffa langsung masuk namun ia bingung kenapa tidak ada siapapun.


"Om jin mereka pada kemana ?" Tanya nya,namun Ki Jamal hanya mengarahkan jari telunjuk nya ke arah kamar Dewi


Tanpa bertanya lagi ,Raffa pun pergi menuju kamar Dewi. Sesampai nya ia di sana ,ia tertegun melihat semua anggota keluarga nampak menangis,bahkan Lia sampai menangis sesegukan sambil memeluk Atha.


Tatapan nya terarah pada sang Oma yang terbaring lemah dengan tarikan nafas yang terlihat sering dan cepat.


"Oma "Raffa langsung memeluk Oma nya


"Akhir...nya kamu datang ...ju...ga ..."


"Oma sakit ? Kita ke ruang sakit ya ,mah ,pah,kakek,nenek,cepat bawa Oma ke ruang sakit " seru Raffa


Namun mereka yang dipanggil malah semakin terisak.


"Raffa ...Oma tidak apa-apa,Oma tidak sakit ,tapi .... Oma....mau pamit,waktu Oma sudah selesai,sudah saat nya... Oma pergi ,kakek buyut mu sudah menjemput ...Oma. Jadilah pria yang bertanggung....jawab ,jaga kedua... orang tuamu....dan hidup lah dengan bahagia ...Oma...sayang ...kamu" Tarikan nafas nya semakin panjang ,Raffa semakin histeris


"OMAAA....."


"Gib...ran...cucu nenek ..." panggil nya pada Gibran


Gibran pun mendekat. " Iya nek " Sahut Gibran dengan suara yang tercekat


"To... long,bantu...nenek ya ...."pinta nya


"Iya nek , bismillah....." Gibran pun membimbing Dewi untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.


Nuri tak kuasa menahan tangis nya ,ia pun menangis sejadi-jadinya di pelukan Rifki. Begitupun dengan Nuari.


Setelah selesai mengucapakan dua kalimat syahadat,Dewi pun menghembus kan nafas terakhir nya tepat pukul sembilan malam.


"Innalilahi wainailaihi roji'un...." lirih Gibran sambil menangis


"MAMA....." Teriak Nuri langsung menghambur memeluk Dewi yang sudah tak bernyawa


"NENEK ..."lirih Nuari dan Aranta


"OMA......"Jerit tangis dari Atha ,Lia ,dan Raffa membuat situasi malam ini sungguh memilukan ,para art yang sebelum nya sudah dibebas tugas kan diatas jam tujuh malam pun berlarian menuju kamar itu


Sosok pria yang merupakan ayahnya Rifki tersenyum menatap arwah istri nya yang kini sudah bersama nya.


"Ayo kita pergi " Ucap nya. Saat kedua arwah itu berbalik badan tiba-tiba suara lantang seseorang membuat tangisan mereka berhenti


"TUNGGU ,JANGAN PERGI DULU ! "


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2