
Hari berganti hari,Minggu pun berganti bulan,kini tiba saatnya dimana Evan dan keluarga nya datang melamar. Ayu merasa dunia nya seakan runtuh dan gelap,ia tahu jika hari ini akan ada pria yang akan melamar nya,namun ia tidak tahu siapa pria itu,karena dokter Satria tak memberi tahu kan nya,dokter Satria berfikir putri nya itu sudah mengetahui sebab saat ia dan Evan membicarakan masalah lamaran dan nikahan, Ayu ada bersama mereka,namun tanpa sepengetahuan mereka rupanya Ayu salah faham dan mengira jika Evan tengah berkonsultasi mengenai rencana nya.
"kamu siap-siap ya ,tidur lebih awal sebab besok mereka akan datang melamar mu " ucapan dokter Satria mengusap kepala Ayu
"a..apa...me...melamar ?" tanya Ayu tergugu
"iya ,ya sudah kalau gitu ayah masuk kamar dulu kamu langsung tidur ya " ucap nya segera berlalu menuju kamar nya
Ayu terdiam di depan meja rias dengan penampilan nya yang sudah di rias sedemikian rupa,kebaya berwarna pink press body dengan sanggulan yang di beri kepangan di bagian depan samping membuat nya terlihat sangat cantik dan anggun. Postur tubuh nya yang tak tinggi namun terlihat proposional membuat nya terlihat semakin menarik.
Sebenarnya Ayu ingin sekali menolak nya atau sekedar bertanya siapa pria dan dari keluarga mana yang akan datang melamar nya,namun ia sungkan, rasa canggung ternyata masih ada pada diri nya. Maklum ia baru saja bertemu dengan ayah kandung nya yang selama dua puluh dua tahun baru bertemu.
"padahal kita baru saja bertemu setelah berpisah sangat lama,kenapa ayah tidak menanyakan nya dulu pada ku ?" batin nya bertanya
Ponsel nya pun berdering ,ia melihat siapa yang menelpon.
"Evan....kenapa dia menelpon ku ,bukan kah hari ini dia juga akan melamar Rina " tanya nya dalam hati
Dengan enggan Ayu pun menerima panggilan telpon nya.
"ya hallo....Evan ..." sapa Ayu
"hallo Yu ,gimana kamu sudah siap belum,kamu pasti nervous ya ,sama aku juga,tapi bismillah saja semoga acara kita lancar ya " ucap Evan dari sebrang
"hm...iya amin " sahut Ayu lesu
"hey kenapa suara kamu terdengar lemas gitu,kamu sakit kah ?" tanya Evan
"enggak kok aku baik-baik saja ,ya sudah kalau gitu sudah dulu ya,semoga acaranya berjalan dengan lancar " lirih Ayu segera menutup telpon tanpa mendengarkan ucapan Evan terlebih dahulu
"loh kok di tutup,padahal aku mau bilang kalau aku sudah hampir sampai" gumam Evan, ia pun hendak menghubungi kembali Ayu namun ia urung kan karena mobil yang membawa nya sudah memasuki kawasan perumahan Ayu
Ayah Evan terlihat sangat senang namun berbeda dengan ibu Evan yang sedari kemarin terus menekuk wajah nya,ia masih belum terima jika anak nya tetap mau melamar Ayu.
"ok aku akan biarkan saja mereka dulu,toh hanya lamaran kan,masih ada kesempatan untuk Rina masuk ke kehidupan Evan,lagian aku heran sama Rina,katanya suka dan cinta sama Evan tapi seperti nya tak ada usaha apa pun yang ia lakukan untuk mendapat kan Evan " gumam nya dalam hati
Hingga mobil pun sampai di pelataran rumah dokter Satria.
"masih seperti dulu "gumam ayah Evan setelah melihat rumah kawan lama nya itu
Ayah Evan lebih tahu apapun tentang dokter Satria meski mereka tak pernah bertatap muka,berbeda dengan Jhony yang tak pernah mengetahui rumah dokter Satria setelah menikah dulu,karena ia langsung menghilang tanpa kabar dan jejak.
Di kamar nya Ayu nampak melihat sebuah mobil yang memasuki halaman rumah nya,ia mengerutkan kening ketika ia merasa mengenali mobil itu.
"mobil itu....seperti nya aku kenal,tapi ....ah mana mungkin,mobil seperti itu kan tak hanya satu " gumam Ayu yang tak dapat melihat dengan jelas plat nomor kendaraan nya
"Ya Tuhan.... sebentar lagi aku akan di lamar oleh pria yang bahkan aku sendiri tak tahu siapa,bisa kah aku menjalani hidup ku dengan pria asing itu " lirih nya menatap kosong keluar jendela
__ADS_1
Tak lama pintu pun terketuk,Ayu terkesiap ia pun segera membuka pintu kamar nya.
"iya bi " ucap Ayu yang ternyata bibi art yang datang
"ayo non kita keluar,tamu nya sudah datang ,non Ayu diminta segera ke ruang tamu " ucap bibi art
"huuuuuffftt....baiklah " dengan langkah gontai Ayu pun segera berjalan di dampingi bibi art
"seharusnya yang berjalan mendampingi ku adalah ibu,tapi sekarang malah bibi...ibu...doakan anak mu ini agar bisa menerima apapun keputusan ayah ,aku yakin apa yang ayah lakukan demi kebaikan ku " lirih Ayu dalam hati
Tak dipungkiri jauh di dalam hati nya ia merasa sedih saat ini,sebab di momen penting dalam hidup nya tak ada ibu di samping nya,tapi Ayu tetap berbesar hati, bagaimana pun semua nya sudah digariskan oleh Sang Pencipta,ia masih merasa bersyukur sebab masih ada seorang ayah di samping nya.
Di ruang tamu nampak ayah Evan terus berbincang-bincang dengan dokter Satria,melihat keakraban kedua nya membuat Evan merasa bingung.
"kenapa mereka terlihat seperti sudah lama kenal " batin Evan
"senang nya ,ternyata hubungan kekeluargaan kita akan semakin erat dengan bersatu nya anak-anak kita,aku tak pernah menyangka jika ternyata Evan lah yang menemukan putri mu " tutur ayah Evan
"ya ... hidup itu sebuah misteri,tidak ada yang tahu akan seperti apa kedepan nya,aku benar-benar tak hanya berhutang nyawa tapi juga hutang budi pada kalian aku sendiri bingung akan membalas nya seperti apa " tutur dokter Satria
"sudah lah jangan ungkit masalah itu lagi,aku ikhlas membantu mu ,begitu pun dengan Evan ,iya kan Van ?" tanya ayah nya
"eh...iya ...maaf sebelum nya aku mau tanya, apa sebelum nya kalian sudah saling kenal?" tanya Evan menatap kedua pria paruh baya itu bergantian
Kedua paruh baya itu pun nampak saling lirik dan tersenyum.
"rupanya memang benar kalau kamu sudah lupa pada ku " kekeh dokter Satria
"jadi begini,calon mertua mu ini sebenarnya adalah kawan lama ayah,kita di pertemukan dalam kondisi tak baik saat itu,dia juga dulu sering ngajak kamu main dan jalan-jalan,tapi di usia mu yang menginjak tiga tahunan dia sudah mulai jarang dan tidak lagi menemui mu" jelas ayah nya , Evan terdiam,ia mencoba mencerna dan mengingat masa kecil nya ,namun sama sekali ia tak mengingat nya,jelas saja usia nya saat itu di bawah tiga tahun,jadi memori ingatan nya mudah hilang seiring momen-momen lain yang terjadi di hidupnya
"benarkah ?" tanya Evan
"iya ,kamu sendiri dulu memanggil ku dengan sebutan ayah,sampai ayah mu merasa cemburu " ujar dokter satria seraya terkekeh
"ya siapa yang tak cemburu,pada ku saja Evan terlihat biasa kalau aku pulang kerja ,tapi giliran mu yang datang dia langsung jingkrak-jingkrak dan lari m
ke arah mu sambil terus bilang 'ayah....ayah....sudah pulang ,ck " ayah Evan berdecak lidah
"hahaha....dan sekarang kamu mau cemburu lagi? apalagi sebentar lagi dia juga akan jadi anak ku ,tinggal di sini bersama ku " tanya dokter Satria
"yah....mau gimana lagi,sekarang kan Evan sudah dewasa sudah bisa menentukan jalan hidup nya sendiri,sekarang yang penting anak ku ini bahagia dengan gadis pilihan nya dan tak melupakan kedua orang tua " lirih ayah Evan menatap Evan haru
"insyaallah ayah...aku tak akan pernah lupa dengan segala kebaikan dan kasih sayang ayah juga ibu,tidak ada kata mantan ayah maupun ibu,sampai kapan pun kalian akan tetap jadi orang tua ku" tutur Evan
Suasana yang tadinya hangat pun kini berubah jadi melow.
Sementara itu Ayu nampak terdiam,ia begitu shock karena ternyata tamu yang di gadang-gadang kan akan melamar nya adalah Evan,pria yang selama ini diam-diam dia sukai.
__ADS_1
"jadi....yang akan melamar ku adalah Evan " begitu bisik hati nya,ia begitu tercenung pada Evan hingga ia tak mendengar kan apa-apa saja yang mereka bicarakan
Pandangan nya beralih pada ibu Evan yang nampak terlihat datar,ia sudah dapat menebak jika ibu nya Evan tak suka dan tak mau jika Evan melamar nya.
"ayo non " ajak bibi art
Mendengar suara bibi art mereka yang di ruang tamu pun menoleh
"nah ini dia yang ditunggu-tunggu,sini nak " ucap dokter Satria
Dengan pelan dan sangat nervous Ayu melangkah ,dan duduk di samping ayah nya,pandangan nya terarah pada beberapa bingkisan yang di bawa keluarga Evan.
"Masya Allah....cantik nya putri mu,mirip sekali dengan mendiang istri mu " puji ayah Evan berdecak kagum
"iya cantik,tapi tetap saja hanya Rina yang cocok dengan Evan " batin ibu Evan menimpali
"tentu saja hahahaha...." sahut dokter Satria tertawa renyah
Sementara itu di tempat lain
Saat ini Nuari dan Yoga sudah berada di rumah mereka,Nuari tahu jika hari ini Evan akan melamar Ayu ,ia pun sudah tahu jika ternyata Ayu itu adalah putri kandung dokter Satria yang hilang dua puluh dua tahun yang lalu, sebenarnya ia ingin datang ,namun mendengar jika acara nya hanya sederhana dan hanya keluarga inti yang datang ia pun tak memaksakan keinginan nya itu,nanti saja jika acara nikahan nya saja ' begitu fikir nya
"sayang kamu sedang apa ?" tanya Yoga memeluknya dari belakang
"loh sayang,kok kamu sudah pulang ?" tanya Nuari ,ia yang berada di halaman belakang rumah nya pun tak mengetahui kedatangan suami nya itu
"iya ,tak ada yang bisa aku kerjakan di kantor ,jadi ya aku pulang saja , si Otong kangen pengen di manja kamu " ucap Yoga dengan nada genit seraya meraih tangan Nuari dan meletakkan nya pada bagian bawah nya yang sudah menegang
"ih Yoga...jangan begitu dong ,malu tuh ada bibi " tunjuk Nuari pada bibi art yang tengah memotong daun-daun kering tanaman hias
"biarin bibi juga pernah muda kok,pasti bibi mengerti ,iya kan bi?" tanya Yoga tiba-tiba
Bibi yang mendengar nya pun hanya menoleh dan tersenyum menanggapi
"tuh bibi senyum , yuk ah aku sudah tak tahan " ajak Yoga seraya menarik lengan Nuari berjalan menuju kamar mereka di lantai dua
"iya...iya tapi pelan-pelan kalau aku jatuh gimana " seru Nuari
"iya maaf ,ya sudah sini aku gendong" Yoga pun segera menggendong Nuari ala bridal
"kamu kok datang-datang langsung on saja ,curiga aku ... apa ada sesuatu di kantor hem?" tanya Nuari menatap menyelidik
"nanti saja cerita nya,aku sudah benar-benar di ujung nih" suara Yoga semakin berat
"iya tapi hati-hati dan pelan-pelan ya,jangan sampai kamu menyakiti junior kita " pinta Nuari yang entah kenapa ia merasa khawatir dengan ekspresi Yoga,sebab tak biasa nya Yoga bertingkah seperti itu
iya tenang saja aku ingat itu kok " sahut Yoga
__ADS_1
Yang akhirnya siang itu keduanya melakukan pergulatan yang panas sepanas cuaca di luar rumah saat ini.
...***...