
Semakin berusaha ku melupakan mu ,semakin besar rasa ini untuk mu. Bagaimana aku bisa pergi sedangkan hatiku sudah terbelenggu cinta mu terlalu dalam.
...***...
Hari pertama berada di tempat asing tak membuat Nuari kesulitan. Justru itu membuat nya bersemangat menjalani hari-hari nya di desa tersebut.
Berbeda dengan Renita ,gadis yang tengah berbadan dua itu nampak selalu mengeluh,ada saja yang ia keluhkan ,entah itu makanan,air di kamar mandi ,bahkan hal sekecil apa pun ia keluhkan.
Yoga pun merasa heran melihat sikap Renita yang baru kali ini ia lihat,karena biasanya Renita selalu bersikap lemah lembut dan ramah.
Hari ini mereka akan bersiap menuju kantor kecamatan setempat , nanti nya mereka akan mendata ulang peternakan yang ada di sana ,juga akan blusukan ke setiap rumah penduduk yang memiliki hewan ternak.
"kamu mau ikut?" tanya Nuari pada Renita
"ya jelas ikut lah,kalau enggak nanti kamu bisa seenaknya deketin Yoga" sahut Renita
"yah... terserah lah " balas Nuari malas
Nuari pun keluar dari kamar nya tanpa menunggu Renita yang masih sibuk memoles wajah nya.
"mana Renita,apa dia tak ikut?"tanya Yoga
"ikut kok ,mungkin sebentar lagi keluar " sahut Nuari
Jantung nya terus berdegup kencang jika ia berhadapan dengan Yoga,seiring rasa sakit yang terus menjalari perasaan nya.
Nuari yang tak ingin terhanyut dalam rasa itu pun segera mengalihkan pandangan nya pada Evan yang baru saja habis mandi,ia sudah memakai pakaian di kamar mandi.
"baru selesai mandi?" basa basi nya
"ya seperti yang kamu lihat" Evan berjalan lalu duduk di kursi kayu Nuari pun menghampiri dan duduk di sebelah nya
"Yudi kemana ?" tanya Nuari saat tak melihat pria itu di sana
"tadi sih keluar ,cari makanan seperti nya,kamu sudah sarapan ?"
"belum sih " sahut Nuari
"kalau gitu kita tunggu saja Yudi,siapa tahu dia datang bawa makanan untuk kita,kalau pun tidak nanti kita cari sarapan sambil menuju kantor kecamatan" tutur Evan
"baiklah , lagipula aku belum terlalu lapar juga " sahut Nuari
"berarti itu artinya sekarang kamu sedang lapar?" tanya Evan
"iya ,tapi tak terlalu ,karena tadi sehabis subuh aku makan sereal " sahut Nuari lagi
Keduanya terus saja mengobrol membuat Yoga semakin resah sendiri,pasal nya ia bingung pada dirinya sendiri.
"kenapa aku merasa tak suka melihat mereka begitu dekat ,apa aku cemburu .....ah yang benar saja,Yoga... Yoga.... siapa kau sampai punya fikiran seperti itu,kalian berbeda lagipula kita kan baru saja bertemu dan saling kenal ,masa iya aku tiba-tiba merasa cemburu " batin Yoga seraya menunduk dan menggeleng pelan
Hingga beberapa saat kemudian Renita sudah keluar ,berbarengan dengan itu Joni juga keluar dari kamar nya,lalu segera menuju ke kamar mandi.
"loh Jono nya mana ?" tanya Nuari
"dia kan keluar bareng Yudi " sahut Evan
"oh...."
Beberapa saat kemudian Yudi dan Jono pun datang
__ADS_1
"makanan datang......" seru Jono
"akhirnya....datang juga makanan nya,lama banget sih " sambut Evan
"iya kan kita gak tahu yang jualan makanan dimana, jadi kita muter-muter dulu deh" sahut Yudi
"ya udah kalau gitu aku ambil piring nya dulu" Nuari hendak beranjak namun tiba-tiba Yoga menyela
"biar aku saja,kaki mu pasti masih sakit " ujar nya lalu berlalu menuju dapur
Renita hanya mendengus kesal melihat nya.
Tak lama Yoga kembali dengan membawa tujuh piring,berbarengan dengan itu Joni pun keluar dari kamar mandi dan langsung ikut bergabung menikmati sarapan pagi mereka.
Setelah selesai mereka segera bersiap untuk berangkat ke kantor kecamatan yang berjarak dua kilometer dari rumah penginapan mereka.
Dengan menaiki mobil dinas ke tujuh orang itu pun segera menuju ke kantor kecamatan.
Selama di jalan Nuari tak banyak berbicara,bibir nya seakan kelu, hatinya sakit melihat Yoga yang nampak mesra dengan Renita,mereka yang duduk di bangku belakang pun tak luput dari perhatian yang lain.
"Ya Tuhan....kuatkan aku " lirih Nuari dalam hati nya
"seandainya ada Tante Lasmi di sini,pasti dia sudah menghibur ku " lirih nya seraya menolehkan kepalanya ke arah samping kaca
Namun tiba-tiba perjalanan mereka menjadi tegang karena terjadi pecah ban,laju mobil pun menjadi tak terkendali.
"Ya Tuhan .... lindungilah kami " lirih Nuari seraya memegang erat pegangan pada pintu mobil
"aaakkkhhh....aku tak mau mati sekarang " pekik Renita
Evan yang mengemudikan mobil pun tengah berusaha membuat mobil berhenti akan tetapi jalanan yang licin membuat nya kesusahan,ditambah lagi jalanan itu merupakan turunan yang cukup curam.
Gadis itu memejam kan mata seraya berdoa salam hati.
"Ya Allah....jika hari ini kami akan celaka maka selamat kan lah teman-teman ku " lirih nya dalam hati
"Van....injak rem nya ...." teriak Joni dan Jono
"iya Van,kau ingin kami semua celaka " seru Yudi
"diam kalian,tak lihat ini turunan ,kalau aku injak rem sekarang, mobil ini bisa kebalik " seru Evan dengan terus berkonsentrasi mengemudikan setir
Sebenarnya Evan juga tengah menginjak rem namun ia menginjak nya secara perlahan.
Hingga sampailah di jalan yang datar,Evan lalu mulai memperdalam injakan pada pedal rem nya ,dan akhirnya beberapa saat kemudian mobil pun berhenti.
"Alhamdulillah..... terima kasih Ya Allah...." lirih Nuari
Rasa lega dan penuh syukur mereka panjatkan ,mereka pun keluar dari dalam mobil dan segera memeriksa ban yang kempes.
"ya ampun hampir saja kita celaka " ucap Joni dan Jono
"kalian tidak apa-apa kan ,tak ada yang terluka ?" tanya Evan melihat teman-teman nya satu persatu
"tidak ,hanya sedikit shock saja " sahut Nuari
"lalu ini bagaimana ,apa ada ban cadangan ?" tanya Yoga
"ada ,ayo bantu aku buat ganti ban nya " ajak Evan
__ADS_1
Yoga pun mengikuti Evan ke bagian bagasi dan membantu mengambil ban cadangan itu.
"biar aku yang pasang dongkrak " seru Yudi
Mereka pun bersama-sama mengganti ban tersebut,sementara Nuari dan Renita hanya diam memperhatikan.
Pandangan Nuari tertuju pada Yoga yang nampak keren saat mengangkat ban ,apalagi ia membuka pakaian nya agar tak terkena kotoran,terlihat otot-otot tangan nya yang nampak menonjol di kiri kanan serta gambaran perut sixpack nya tercetak jelas pada kaos singlet yang ia kenakan.
"Ya ampun kemana semua lemak di perut nya,kenapa sekarang dia bisa sekeren itu" batin Nuari memuji tanpa sadar Nuari pun menggigit bawah bibir nya
Sementara Renita ,gadis itu tak terlalu memperhatikan,tatapan nya malah tertuju pada pohon mangga yang nampak berbuah lebat.
"kenapa sepertinya enak banget ya buah mangga itu apalagi yang masih muda,pasti seger " gumam nya pelan
Nuari yang mendengar pun lantas menoleh,lalu mengikuti arah pandang nya.
"kau mau mangga muda itu ?" tanya Nuari
"hah.... tidak kok siapa juga yang mau mangga muda itu,emang nya kamu fikir aku lagi ngidam apa " sangkal Renita gelagapan
"kamu fikir hanya orang ngidam saja yang pengen mangga muda ,aku juga pengen,kau tunggu di sini " ujar Nuari lalu beranjak dari tempat nya
Gadis itu pun memperhatikan sekeliling
"kira-kira siapa pemilik pohon mangga ini ya " fikir nya ,pohon mangga itu tumbuh di pinggir jalan yang nampak penuh dengan rumput ilalang
"eh ...tapi kenapa tadi Renita bilang seperti itu ,dia seperti nya menyangkal kalau dia lagi ngidam,apa .... dia merahasiakan kehamilan nya ,bahkan dari Yoga" gumam Nuari saat menyadari ucapan Renita barusan
"kalau iya ,kenapa....harusnya kan Yoga di kasih tahu , bagaimana pun juga kan itu hasil perbuatan nya " lirih Nuari lagi , hati nya kembali terasa sakit mengingat itu
Saat tengah tercenung seseorang tiba-tiba menyapa nya
"nona....kenapa melamun di pinggir jalan, hati-hati nanti ada mobil nyasar " ucap seorang wanita paruh baya
"eh...tidak ...aku hanya ingin bertanya ,ini pohon mangga nya punya siapa ya ,buah nya lebat sekali " tanya Nuari
"oh ...pohon ini tak ada yang punya ,tumbuh sendiri ,siapa saja boleh mengambil nya,asal bisa manjat nya " tutur wanita paruh baya tersebut
"wah ...benarkah kalau begitu apa aku boleh meminta nya " tanya Nuari lagi
"tentu ,nona,kalau begitu mari saya duluan " ucap wanita itu lalu pergi
"haaah....syukurlah ,kalau begitu ayo kita manjat " seru Nuari lalu mulai menyiapkan diri untuk memanjat pohon mangga tersebut
Pohon itu lumayan tinggi,bagi perempuan seperti Nuari pasti akan kesulitan memanjat nya dan harus menggunakan tangga terlebih dahulu,namun berbeda dengan Nuari.
Yoga yang tak sengaja melihat nya pun terkesiap.
"astaga ....itu....apa yang dia lakukan "seru nya
Sontak saja Evan dan yang lain pun menoleh
"apa an?" tanya Evan
"tuh " tunjuk Yoga
"hadeuh....anak itu paling gak bisa lihat pohon kalau gak manjat " decak Evan sambil menepuk kening
...***...
__ADS_1