Tuan Mudaku Adalah Jodohku

Tuan Mudaku Adalah Jodohku
Episode 142


__ADS_3

Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.


Biar author tambah semangat lagi.


Selamat membaca 🙂


Aris tersenyum ke arah Alena.


"Sudah beberapa lama aku tidak berjumpa dengan nya," Batin Aris.


"Kamu di sini?" tanya Aris basa-basi pada Alena.


"Iyah nih kak" jawab Alena.


"Kamu mau kemana?" tanya Aris.


"Mau Beli Makan untuk mas Arka! Kalau Kakak sendiri mau kemana?" tanya Alena.


"Sama! Kakak juga mau cari makan, gimana kalau kita bareng saja!" ucap Aris.


Sebenarnya Alena ingin menolak nya tapi tidak enak akhirnya dia pun mengiyakan.


Mereka berdua naik mobil Aris ke restoran yang tidak jauh dari perusahaan.


"Gimana Hadiah yang Kakak Kasih? Suka?" tanya Aris basa basi di dalam mobil.


Alena Mengingat kalau Kado itu sudah dia sumbangkan banyak hadiah itu yang dia sumbangkan karena perintah Arka.


"Hmm suka kok Kak, Makasih yah!" ucap Alena sambil tersenyum.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sudah kembali ke Perusahaan dengan Nasi di tangan masing-masing.


"Arka Sangat beruntung memiliki Alena di hidup nya, aku yakin Karena Alena lah semua nya bisa seperti ini. Dulu sama sekarang sangat lah jauh berbeda!" Batin Aris sambil melihat Alena yang berjalan ke arah Ruangan Arka.


Alena masuk ternyata Arka masih sibuk dengan Laptop nya.


"Makan dulu mas!" ucap Alena sambil membuka nasi yang di Beli nya.


Arka menghentikan kerjaan nya dan ikut bergabung dengan Alena makan bersama.


Mereka pun sudah selesai makan, Alena membersihkan sampah bekas Mereka makan.


Handphone Arka yang ada di atas meja berdering.


"Siapa mas?" tanya Alena yang baru saja keluar dari kamar mandi dan Melihat Arka yang memegang Handphone.

__ADS_1


"Ayah!" ucap Arka.


Arka menjawab telepon itu.


Dan ternyata Wijaya minta di Antar untuk Check up Bagian dada nya malam ini.


Ternyata Kemarin dia tidak jadi periksa karena dokter tidak ada.


Arka menginyakan saja karena dia mengerti di masa-masa tua seperti itu Wijaya ingin di manjakan oleh anak nya itu, Arka pun tidak ingin lagi membuat hati Wijaya bersedih.


"Ada apa mas?" tanya Alena pada Arka yang baru saja sudah berbicara dengan Wijaya.


"Ayah minta di antar ke rumah sakit nanti malam!" ucap Arka. Alena paham dan tidak banyak tanya lagi karena Wijaya kemarin sudah bilang juga pada nya bahwa tidak jadi Kontrol.


Mereka berdua pun melanjutkan pekerjaan masing-masing, Alena memeriksa data-data yang mendaftar jadi Sekretaris.


Harus sangat teliti karena ini adalah tanggung jawab yang sangat besar dan tidak bisa di main-main kan.


Hari pun semakin Malam tepat jam Delapan malam Arka dan Alena Sudah sampai di rumah pak Wijaya.


"Kita langsung berangkat saja yah!" ucap Wijaya yang baru saja turun dari lantai atas.


Mereka berangkat menggunakan mobil Arka. Arka Sendiri lah yang jadi supir di samping nya ada Wijaya dan di belakang ada Alena dan pelayan pribadi Wijaya.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di rumah sakit, Arka terlebih dahulu mendaftar, karena Arka orang terpandang jadi tidak ada kesulitan untuk dia seperti orang lain yang harus mengantri.


Akhirnya Dokter pun datang dan betapa terkejutnya Arka dan Alena kalau dokter nya adalah Intan sementara Wijaya biasa saja karena intan lah yang biasa memeriksa keadaan nya.


"Selamat malam Pak! Boleh kita segera melakukan pemeriksaan terhadap Bapak!" ucap intan dengan sopan seakan Bodoh amat dengan Arka dan Alena karena lagi di rumah sakit dan juga banyak perawat-perawat yang ikut dengan nya.


Arka Sangat muak melihat sok kelembutan Intan dia pun keluar dengan perasaan dongkol karena dia yakin betul Intan lah yang Telah membongkar semua nya.


Walaupun berujung dengan bahagia dia tetap masih benci dengan orang yang telah memberikan surat Nikah Siri itu pada Ayah nya.


Arka duduk di depan ruangan Wijaya di periksa sementara Alena tetap di dalam.


"Bagaimana dengan keadaan mertua Saya Dok?" tanya Alena Setelah intan selesai memeriksa nya.


"Keadaan nya sudah membaik, sudah jauh lebih baik namun walau sudah baik seperti ini harus tetap menjaga kesehatan, pola makan dan juga harus banyak istirahat dan jangan banyak fikiran!" ucap Intan dengan baik menjelaskan pada Alena.


"Alhamdulillah! Terimakasih yah Dok!" ucap Alena sambil tersenyum.


"Sangat beruntung sekali Perempuan ini bisa mendapatkan suami seperti Arka dan sangat kaya raya," Batin Intan sirik.


"Sama-sama! Kalau begitu kamu bisa ikut saya ke ruangan saya. Saya akan memberikan resep obat yang akan di tebus di kasir!" ucap Intan.

__ADS_1


"Baik lah saya bisa!" Jawab Alena.


"Kalau begitu Saya mohon diri dulu yah pak, semoga bapak cepat sembuh dan harus jaga kesehatan!" ucap intan sambil tersenyum ke arah Wijaya.


Wijaya tersenyum.


"Terimakasih yah, Kamu Sangat baik mungkin bapak tidak bisa seperti ini kalau bukan kamu yang jadi dokter Bapak!" ucap Wijaya.


Intan merasa sangat senang di puji oleh Wijaya di depan Menantu nya itu.


"Aku harus pandai mengambil hati pak Wijaya Agar perempuan kampungan ini tersingkir kan!" batin Intan.


"Tidak usah berlebihan seperti itu pak ini juga karena Bapak sendiri yang semangat untuk sembuh!" ucap intan.


"Seperti nya Pak Wijaya dan Intan sudah sangat lama saling mengenal bahkan pak Wijaya seperti nya sangat menyanyangi Intan!" Batin Alena.


Mereka pun segera menyudahi pembicaraan nya.


Intan keluar dan di ikuti oleh Alena.


Arka Berdiri ketika melihat Intan dan Alena keluar.


"Kamu mau kemana?" tanya Arka pada Alena.


"Mau ke ruangan Dokter mas mau ngambil resep obat Ayah!" jawab alena.


"Biar aku saja!" ucap Arka langsung karena dia tidak percaya pada intan kalau dia akan bersifat baik pada istri nya Itu.


Arka akhirnya ikut dengan intan ke ruangan nya.


"Ini resepnya, di tebus di Kasir yah!" ucap Intan memberikan satu lembar kertas pada Arka yang memasang wajah datar.


Arka tidak mengatakan apa-apa pun dia segera keluar namun tiba-tiba Kata-kata intan menghentikan langkah nya.


"Seperti nya Ayah kamu sangat membutuhkan aku!" ucap Intan. langkah Arka terhenti dan menoleh ke arah intan.


"Apa maksud kamu?" tanya Arka dengan nada datar tatapan tajam.


"Kamu tau sendiri kan kalau karena aku kah ayah kamu bisa seperti sekarang ini!" ucap Intan dengan sombongnya.


...----------------...


***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.


Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.

__ADS_1


Terimakasih 🙏***


__ADS_2