
like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.
Biar author tambah semangat lagi.
Selamat membaca 🙂
Arka lagi-lagi mengganti Kain basah yang ada di dahi Alena, namun tak kunjung panas nya turun.
Arka berniat ingin membawa Alena ke rumah sakit, dia pun mengangkat tubuh Alena.
Tiba-tiba Alena terbangun.
"Tuan mau ngapain?" tanya Alena.
Arka menoleh ke rumah wajah Alena.
"Aku akan bawa kamu ke rumah sakit, Demam kamu gak turun-turun," ucap Arka.
"Enggak tuan, saya tidak mau, nanti juga saya sembuh sendiri," ucap Alena dan turun dari gendongan Arka.
Dia membaringkan tubuhnya lagi di kasur,
"Kalau kamu tidak periksa ke dokter, kamu gak akan sembuh," ucap Arka.
Alena terdiam.
"Kamu ikut aku ke rumah sakit yah, kamu demam tinggi," ucap Arka sambil duduk dan Samping Alena berbaring.
"Gak usah tuan, mendingan sekarang tuan pulang, gak enak di lihat orang," ucap Alena dengan lemas.
"Bagaimana saya bisa pulang, kalau kamu sakit kaya gini," ucap Arka kesal.
"Saya gak apa-apa sendiri Tuan, saya dengar hari ini Tuan ada pertemuan dengan keluarga Clara kan," ucap Alena.
Arka Pun terdiam, bahkan dia harap Alena tidak tau tentang ini, namun Alena sudah tau Lebih awal, karena dia lah yang merancang pertemuan keluarga Mereka.
Karena bagi Alena dan pendapat Alena, Arka dan Clara sudah mulai dekat, dan mulai mempunyai perasaan.
"Aku mohon jangan buat pak Wijaya malu kali ini, mau bagaimana pun dia Ayah mu, tidak baik durhaka kepada orang tua," ucap alena.
Arka menoleh ke arah Alena.
"Aku tidak mencintai Clara! dan aku tidak mau menikah dengan nya," ucap Arka menatap serius ke wajah Alena.
Alena mengambil tangan Arka,
"Pergilah! Dengar kan apa saja kesimpulan di sana, kamu hanya cukup mendengar kan, kalau memang kalian jodoh, mau bagaimana cara pun kamu tidak menyukai Clara, dia akan tetap jodoh mu," ucap Alena.
Arka menggenggam tangan Alena yang sangat terasa hangat, jujur saja dia sangat rindu pada Alena, dan tidak ingin jauh-jauh dari Alena lagi.
__ADS_1
"Tidak! aku sama sekali tidak akan pergi, aku akan menjaga ku di sini," ucap Arka.
"Kamu jangan keras kepala Arka, aku gak papa, bagaimana kalau orang tau, kalau kamu di sini, bisa-bisa orang mikir aneh, apalagi kamu gak pakai baju," ucap Alena.
Arka menoleh ke arah badan nya yang bertelanjang dada.
"Abis nya tadi shubuh kamu muntah-muntah cium bau baju aku," ucap Arka.
"Kamu Udah gak mau dengar kata-kata aku lagi!" ucap Alena.
Arka pun tertunduk menyelesal, karena dia sudah tau apa yang di maksud oleh Alena.
"Tapi ini semua karena kamu, kenapa kamu mutusin hubungan kita, karena kamu sudah mempunyai perasaan sama orang lain," ucap Arka.
"Kok jadi salah aku sih, kamu yang mabuk aku yang di salahin," ucap Alena.
"Bukan gitu, aku gak mau putus sama kamu, aku sangat mencintai kamu, aku gak mau kamu dekat-dekat sama Aris," ucap Arka.
"Yah terserah aku dong, kamu juga boleh tuh dekat-dekat sama Clara, mau nikah lagi," ucap Alena.
Tiba-tiba Arka menindih tubuh Alena dan menyekap tangan Alena di atas kepala nya.
"Kamu mau ngapain Arka!" ucap Alena takut.
"Aku akan buktikan seberapa besar cinta aku sama kamu, dan aku rela kehilangan semua nya demi kamu, tapi aku masih memikirkan harga diri keluarga ku, dan juga harga diri ku," ucap Arka.
"Tapi aku gak mau kamu batalin pernikahan kamu sama Clara!" ucap Alena.
Alena terdiam,
Arka mendekat kan bibir nya ke bibir Alena.
Sekarang Alena sudah merasa kan hembusan nafas Arka, dan itu semakin memacu jantung nya berdetak dengan kencang.
Arka mendarat kan bibir nya di bibir tipis Seksi milik Alena, Arka langsung bermain dengan bibir Alena.
Alena tidak ada penolakan sama sekali, bahkan sekarang dia sudah menikmati nya.
Dia membalas ciuman Arka, siapa sih yang bisa menolak nya, nama nya juga cinta.
Mereka hanyut di percumbuan yang sangat ganas, walau pertama kali Alena melakukan nya, namun dia bisa melakukan nya dengan baik.
Sekarang Arka sudah memainkan benda kenyal yang ada di dalam sana, Alena pun menikmati Bibir Arka yang manis bagi nya.
Tiba-tiba handphone Arka berdering, mereka langsung tersadar, Arka melepaskan bibir Alena.
Namun dia tidak beranjak dari atas tubuh Alena dia meraih Handphone yang ada di atas nakas.
Dia melihat Paman Sam lah yang menelpon nya.
__ADS_1
Alena memegang Bibir nya yang masih terasa hangat.
Sementara Arka menjawab telepon dari Paman Sam.
"Halo paman!" sapa Arka.
"Halo Arka! kamu di mana nak? kamu tidak lupa kan, sekarang keluarga Clara akan datang," ucap Paman Sam.
"Seperti nya hari ini Arka tidak bisa pulang paman," ucap Arka.
"Jangan seperti itu lah nak, paman tau sebenarnya kamu tidak menginginkan ini, tapi ini adalah permintaan ayah mu," ucap Sam.
Arka terdiam, dia melihat ke arah wajah Alena yang terdiam sambil memegang Bibir nya, seperti nya dia juga mendengar kan pembicaraan mereka.
"Baiklah paman, Aku akan datang, namun sedikit terlambat," ucap Arka.
"Terimakasih nak, paman tau kamu tidak akan mengecewakan semua keluarga," ucap Paman sam mematikan sambungan telepon.
Arka Menghela nafas panjang dan meletakkan Handphone nya di atas nakas.
Arka Melihat Alena, Lalu dia tersenyum, tiba-tiba Alena mendorong tubuh Arka. sehingga tangan nya merasakan roti sobek milik Arka.
Arka pun beranjak dari atas tubuh Alena dan duduk di samping nya.
"Kamu jangan marah lagi yah," ucap Arka.
Alena pun terdiam.
Arka meletakkan tangan nya di atas dahi Alena, namun panas yah tak kunjung turun.
Arka menelpon dokter keluarga nya untuk datang ke rumah Alena.
"Kamu pergi lah, kasihan Mereka pasti nungguin kamu," ucap Alena.
"Baiklah, ini karena mendengar kan kata-kata kamu sama pamam sam, aku akan pergi," ucap Arka.
Alena pun tersenyum,
Tiba-tiba Arka mencium kening nya.
"Cepat sembuh yah Sayang!" ucap Arka sambil tersenyum
...----------------...
***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, Jika ada saran tulis di kolom komentar ya, jangan pernah bosan tungguin terus kelanjutan ya.
like, komen dan vote sebanyak-banyak nya,
terimakasih 🙏
__ADS_1
S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S***