
Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.
Biar author tambah semangat lagi.
Selamat membaca 🙂
Arka sangat tidak menyangka jika Alena lah yang telah mengatur semuanya, jujur saja dia Sangat kecewa.
"Aku tidak ingin membawa-bawa kamu ke masalah aku, hidup aku yang berantakan, orang miskin dan orang desa, sangat beda jauh dari kamu," Jawab Alena.
"Kamu mikir gak sih Alena, kamu tidak ingin membawa-bawa aku, tapi kamu Tampa sengaja melibatkan perasaan aku," ucap Arka.
"Memang aku yang salah, aku yang buat semua nya jadi seperti ini, Aku minta maaf, Aku tidak ingin orang tua ku di masa tua nya dan nenek yang sedang di rumah sakit, harus berfikir juga tentang keadaan aku di sini," ucap Alena.
"Iyah! Memang kamu yang salah, kamu terlalu egois," ucap Arka kesal.
Arka Langsung pergi meninggalkan Alena di depan pintu kamar nya.
"Arka! Arka! Aku mohon maaf kan aku, aku Salah, Kamu jangan pergi gitu aja,' ucap Alena mencoba mengejar Arka ke bawah.
"Aku kecewa sama kamu Alena, kamu pikir perasaan aku main-main sama kamu, aku sudah berusaha bagaimana cara nya untuk mempertahankan ini semua, namun ternyata kamu yang tak ingin di pertahankan," ucap Arka dan segera keluar dari rumah Alena.
Alena hanya bisa tertunduk menyelesal, kata-kata Arka sangat menusuk jantung nya.
Arka pun mengendarai mobil nya pulang ke rumah nya.
Setelah sampai di rumah dia langsung membersihkan badan nya di kamar mandi.
Setelah selesai mandi dia membaringkan tubuhnya,
Dia mencoba melupakan apa yang terjadi, dan mencoba menahan emosi nya.
Sementara Alena baru saja menyeka sholat Dhuhur nya, hati nya sudah mulai tenang.
Dia mencoba menghubungi Arka, namun Handphone nya Pelayan yang menjawab.
Pelayan mengatakan jika Saat pulang, Arka meletakkan Handphone nya di atas meja dan masuk ke kamar nya.
Tiba-tiba Alena merasa khawatir, dia takut jika Arka akan pergi mabuk lagi.
Hari pun semakin sore, tiba-tiba handphone Alena Berdering setelah Alena selesai minum obat.
"Pak Wijaya! Ada apa dia menghubungi ku," Batin Alena.
Dia pun menjawab telepon itu.
"Halo Alena! saya dengar dari Staf kantor, kamu dan Aris sakit, apa benar?" tanya Wijaya.
__ADS_1
"Iyah pak, tiba-tiba saja saya kurang enak badan, Kalau tentang pak Aris saya kurang tau pak," ucap Alena.
"Oohh, biar saya menghubungi nya nanti, sekarang bagaimana badan kamu, apa masih sakit?" tanya Wijaya.
"Alhamdulillah, udah baikan ko pak, hanya pusing-pusing sedikit saja," ucap Alena.
"Bagus lah kalau begitu, Bapak menghubungi kamu, karena kita Besok pagi ada rapat, kamu besok pagi tidak ada jadwal kuliah, jadi sangat kebetulan," ucap Wijaya.
"Baik lah pak, saya akan datang tepat waktu," ucap Alena.
Dia pun mematikan sambungan telepon nya.
"Hufff, Bagaimana mungkin aku jadi menantu nya, itu sangat mustahil, bahkan dia menelpon ku saja hanya urusan pekerjaan," Batin Alena.
"Pak Wijaya tidak mungkin mau mempunyai menantu seperti aku, yang sangat mempunyai utang banyak pada nya," tambah nya lagi.
Dia melihat ke luar ternyata hari sudah mulai gelap, tiba-tiba dia teringat Arka.
Dia langsung mengambil jaket, handphone dan dompet nya, dia berlari keluar dari rumah nya itu mencari taksi.
Namun tiba-tiba dia berhenti di halaman nya.
"Ngapain sih kamu perduli kan dia Alena! Dia sama sekali tidak akan mau mendengarkan mu, kamu lah yang salah," ucap Alena pada diri nya sendiri.
Karena dia sangat takut jika Arka mabuk dan gila-gilaan di luar.
Dia memutar kan badan nya ke arah teras rumah nya, dia membatalkan niatnya untuk ke rumah Arka.
Memastikan kalau Arka memang masih di rumah, seakan-akan dia tadi lupa jika Arka sedang kecewa berat pada nya.
"Alena!" Panggil Aris yang baru saja datang dan memarkir mobil nya di dekat Alena yang berjalan lesu.
"Assalamualaikum!" sapa Aris pada Alena.
"Walaikumsalam!" Jawab Alena Tampa menoleh pada siapa yang menyapa nya.
"Kamu kenapa? Kamu Masih sakit yah, tapi kok di luar?" tanya Aris sambil memegang bahu Alena.
Tiba-tiba Alena terkejut dan menoleh ke arah Aris.
"Eh Pak Aris! maaf pak, saya kaget bapak datang gak nyapa dulu," ucap Alena.
"Saya dari tadi udah ngajak kamu ngomong bahkan salam saya saya kamu jawab," ucap Aris.
Alena mencoba mengingat nya, karena dia sama sekali tidak mengingat nya.
Lalu mata nya menatap tajam ke wajah Aris.
__ADS_1
"bibir bapak kenapa? kok memar gitu?" tanya Alena.
"Hmm, ini Abis jatuh Kemarin," ucap Aris bohong sambil memegang sudut bibir nya.
"Kok bisa jatuh memar nya di situ sih pak, aneh-aneh aja," ucap Alena, Aris pun Terkekeh.
Alena duduk di Tangga teras rumah itu.
Dan di ikuti oleh Aris.
"Kamu kenapa kok bengong kaya gitu tadi?" tanya Aris.
Alena menggeleng,"Gak apa-apa kok pak," jawab Alena.
"Hmmm, Seperti nya kami lagi mikirin sesuatu," ucap Aris lagi.
"Sudah lah pak, jangan bahas itu lagi, kalau boleh tau bapak ko bisa di sini?" tanya Alena.
"Hmm, kata pak Wijaya kamu sakit, dan aku juga gak tau kamu gak masuk kantor," ucap Aris.
"Terus?" tanya Alena.
"Karena saya khawatir kamu kenapa bisa sakit, dan saya pikir Masih sakit akhirnya saya ke sini, eh ternyata kamu udah baik-baik saja," ucap Aris.
"Makasih yah pak, udah mau jengukin Alena, tapi Alena lagi pengen sendiri, gak apa-apa kan pak?" tanya Alena.
"Oke baiklah, saya juga harus segera pulang, udah malam!" ucap Aris.
Alena hanya tersenyum saja.
Aris pun pamit pulang dan masuk ke dalam mobil nya itu, namun dia keluar lagi.
"Nih CFC buat kamu, cepat sembuh yah," ucap Aris.
"Wahh, Terimakasih yah pak, kebetulan sekali perut saya laper," ucap Alena menerima Kotak kcf itu.
Aris hanya tersenyum dan dia pun segera pulang.
...----------------...
***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, Jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.
Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.
terimakasih 🙏
S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S***
__ADS_1