
Hari semakin gelap Sarah pun ijin untuk pulang terlebih dahulu.
"Len aku pulang dulu yah, ini sudah malam!" ucap Sarah.
"Kamu pasti sudah di telpon sama om-om hidung belang itu kan!" ucap Alena tiba-tiba saja Sewot.
"Enggak Alena! Aku juga ngapain lama-lama di sini, di sini sudah ada suami kamu!" ucap Sarah.
"Huf kamu gak usah cari alasan lain, jika kamu jujur gak apa-apa kok Lagian gak bisa di larang ya udah kamu hati-hati makasih udah mau nemenin aku ke sini!" ucap Alena dengan wajah Cemberut.
Sarah tersenyum dia pun mencubit pipi Tania dan segera pergi.
"Loh Sarah kemana?" tanya Arka yang baru saja datang ke ruang tamu.
"Mau pulang!" jawab Alena.
"Hmm malam ini kita nginap di sini gak apa-apa yah!" ucap Arka.
"Iyah mas, Sekalian juga nemenin Ayah!" ucap Alena.
Arka tersenyum.
Wijaya yang mengetahui menantu dan Anak nya itu menginap dan rumah nya dia pun sangat senang.
Keesokan harinya Arka berangkat kerja dan juga Alena berangkat ke kampus.
Kali ini dia ada kuliah sampai pagi.
Dia menitipkan Tania di rumah Wijaya dengan pengasuh nya.
Alena di antar oleh Arka berangkat ke kampus.
"Kamu jangan terlalu kecapean yah, wajah kamu sudah pucet seperti itu karena kurang istirahat!" ucap Arka.
Karena semalaman Wijaya merasakan sesak nafas tiba-tiba saja penyakit nya Kambuh.
Dokter sudah memberikan obat yang biasa di konsumsi Wijaya namun tidak kunjung baikan.
Sebentar baikan namun kumat lagi.
Namun setelah di coba untuk di pijit dada nya akhirnya sedikit baikan dan akhirnya Wijaya tidur.
Alena karena terbangun dia susah untuk tidur lagi.
Dan sampai pagi dia tidak bisa tidur.
"Iyah Mas! Kamu semangat yah kerja nya!" ucap Alena.
"Iyah!" jawab Arka sambil tersenyum dia pun mencium kening Alena.
Alena segera keluar dari Mobil.
Supir Arka pun melanjutkan perjalanan ke perusahaan Shengu.
__ADS_1
Setelah sampai di perusahaan seperti biasa Aris membaca kan jadwal Arka.
Tidak ada yang terlalu penting hanya menanda tangani surat-surat perjanjian saja.
"Bagaimana dengan pendaftaran Sekretaris?" tanya Arka.
"Masih sedang di proses Pak, saya serahkan kepada Tangan kanan saya!" ucap Aris.
"Bagus lah, usahakan seperti apa yang saya mau dan nilai nya di atas rata-rata!" ucap Arka.
"Baik pak, saya akan memberikan yang terbaik!" ucap Aris.
"Saya percaya sama kamu," ucap Arka.
Hari ini Arka tidak terlalu sibuk sehingga dia bisa menghubungi ayah nya sekedar mempertanyakan keadaan nya saja.
Tepat jam Tiga Sore dia sudah pulang karena Alena juga pulang jam Tiga Arka menjemput Alena.
Mobil Arka berhenti di depan kampus dan Melihat Alena yang sedang berjalan dengan seorang wanita yaitu Aisyah.
"Aku duluan dulu yah Kak!" ucap Alena pada Aisyah.
"Iyah! Kamu hati-hati lah!" ucap Aisyah.
"Iyah kak," ucap Alena tersenyum dia pun masuk ke dalam mobil karena akhir-akhir ini Alena dekat dengan Aisyah.
"Itu Siapa? Kenapa aku baru lihat dia di kampus ini?" tanya Arka.
"Huff bukan nya aku kamu tanyai dulu, kamu Malah nanya Orang lain!" ucap Alena cemberut.
Arka tersenyum.
"Hmm ya sudah aku beritahu dia Siapa! Nama nya Aisyah dia kakak kelas ku, dia juga Dekat dengan tangan kanan mu itu!" ucap Alena menyebut Aris.
Karena Arka bilang kalau dia tidak mau mendengar Alena menyebut nama Aris Kepada nya saat itu.
"Bukan tangan kanan ku, tapi perusahaan!" ucap Arka dengan nada datar.
"Apa bedanya," ucap Alena.
"Apa dia pacar Aris?" tanya Arka.
"Seperti nya kamu salah bertanya pada siapa deh mas, aku gak tau!" ucap Alena.
"Hmm kalau mereka pacaran, akhirnya aku bisa tenang tanpa khawatir kalau Aris akan berusaha mendekati kamu lagi!" ucap Arka.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di rumah.
Namun tiba-tiba Pelayan berlari keluar.
"Tuan muda! Pak Wijaya sesak nafas nya kambuh lagi!" ucap Pelayan itu dengan sangat Panik.
Arka Sangat Terkejut sama juga dengan Alena mereka segera berlari ke atas.
__ADS_1
Ternyata di kamar hanya ada Tania yang berusaha menenangkan Wijaya.
"Ayah!" ucap Arka Melihat Wijaya yang menahan sakit nya.
"Dokter mana?" teriak Arka.
"Dia baru saja pulang Tuan, kami berusaha menelpon nya dari tadi namun tidak bisa!" ucap Pelayan.
"Kurang ajar! Dia di gaji untuk merawat Ayah, dia tidak bsia sesuka hati nya saja!" ucap Arka Sangat emosi.
Arka meminta laki-laki yang ada d rumah itu membawa ayah nya ke dalam mobil dia tidak bisa tinggal diam dia harus membawa ayah nya ke rumah sakit walau pun Wijaya menolak nya.
Sementara Alena hanya bisa menangis dia sangat Khawatir di tambah lagi Arka yang sangat emosional karena khawatir.
Arka memangku ayah nya di dalam mobil sambil menangis dia selalu mengurut Dada Ayah nya.
"Cepat! Kemudikan mobil nya dengan cepat! jangan buat aku memecat mu sekarang!" teriak Arka.
Sementara Alena menyusul dari belakang menggunakan mobil Wijaya di antar oleh supir.
Walaupun perut nya terasa sakit dia harus ikut ke rumah sakit.
Tidak beberapa lama Arka langsung menggendong tubuh tua milik Wijaya ke dalam rumah sakit sambil berteriak.
Seluruh rumah sakit langsung heboh dan melakukan perawatan untuk Wijaya.
Arka bertemu dengan dokter yang di gaji khusus untuk dokter pribadi Wijaya.
Arka memaki-maki nya dan memecat nya saat itu juga seluruh isi rumah sakit sangat lah takut.
Mereka melakukan perawatan yang terbaik pada pak Wijaya.
Arka meninju dinding karena sangat emosi.
"Jika ayah ku kenapa-kenapa kalian semua harus tanggung akibat nya!" maki Arka lagi.
Tiba-tiba Alena datang dan melihat seluruh pegawai rumah sakit sudah tertunduk.
Alena mendekati Arka yang terlihat sedih.
"Sabar mas! Kita harus banyak berdoa, percuma saja kamu marah-marah seperti ini!" ucap Alena.
"Ayah ku sakit namun dokter sialan itu pergi! Bagaimana aku tidak emosi!" ucap Arka.
"Tapi mas kamu marah-marah seperti yang ini tidak berdampak pada kesehatan Ayah, hanya membuang tenaga saja!" ucap Alena.
"Kamu tidak mengerti apa yang aku rasakan saat ini!" ucap Arka dengan nada datar dia mengawas kan tangan Alena dari bahu nya dan duduk di kursi panjang.
...----------------...
***Terimakasih sudah mau mampir ke karya Author.
jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author.
__ADS_1
Biar author tambah semangat lagi.
LIKE, KOMEN DAN VOTE SEBANYAK-BANYAK NYA***.