
Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.
biar author tambah semangat lagi.
Selamat membaca 🙂
Sementara di jendela kamar Alena sudah memerhatikan.
"Kalau begitu terimakasih yah pak udah mau nganterin saya pulang!" ucap Alena sambil tersenyum.
Aris pun membalas dengan senyuman.
"Kalau begitu kamu masuk lah, saya akan segera pulang sudah mulai gelap!" ucap Aris.
Alena pun segera masuk ke halaman rumah nya setelah mobil Aris Sudah pergi.
Dia melihat rumah nya terbuka dia berfikir jika Tukang bersih-bersih belum selesai bekerja di dalam.
Alena pun masuk dan ternyata rumah nya sudah sangat sepi.
"Loh kok jadi sepi, kemana semua orang!" Batin Alena.
Dia pun berfikir jika Tukang servis lupa untuk menutup pintu kembali.
Dia pun naik ke atas untuk masuk ke kamar nya.
"Kamu dari mana aja sama Aris?" tanya Arka dengan tatapan dingin pada Alena yang baru saja sampai di lantai atas sementara dia sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Loh mas, kamu kok bisa di sini?" tanya Alena heran.
"Gak usah basa-basi kamu dari mana aja sama Aris?" tanya Arka kedua kali nya dengan nada marah.
"Kamu kok marah gitu sih mas," ucap Alena kesal.
"Aku nanya, kamu bilang bakalan nunggu di mobil dan kunci mobil aku sama aku, dan aneh nya kamu aku telpon gak ada kamu jawab!" ucap Arka tambah marah.
"Handphone aku tinggal di mobil Pak Aris, aku lupa kalau aku ada janji dan bawa kunci mobil kamu, aku terlanjur pergi menjenguk Pak Wijaya ke rumah sakit," ucap Alena mencoba menjelaskan dengan tenang.
"Dengan segampang itu kamu mengatakan kamu lupa! kamu mikir gak sih, bisa-bisa nya kamu pergi sama Aris ke rumah sakit!" ucap Arka.
__ADS_1
"Aku minta maaf Mas, kebetulan saja pak Aris mau ke rumah sakit dan aku juga ingin memeriksa keadaan pak Wijaya!" ucap Alena lagi.
"Bilang aja kamu mau dekat-dekat sama Aris! Alasan nya mau menjenguk Ayah!" ucap Arka.
"Kamu ngomong apa sih mas, kamu gak usah mikir aneh-aneh deh, aku minta maaf," ucap Alena.
"Sudah lah aku tidak perlu Maaf mu itu, sini kunci mobil aku! lanjutkan saja berhubungan dengan Aris!" ucap Arka sambil menyodorkan tangannya ke arah Alena.
"Kamu ngomong apa Sih mas, aku sama pak Aris gak ada apa-apa, kamu salah paham!" ucap Alena tidak memberikan kunci pada Arka.
"Tidak ada perasaan, namun di bawah tadi kamu kelihatan sangat akrab dan tersenyum serta sangat kompak dengan dia, selama aku kenal sama Aris, dia tidak pernah bersifat seperti itu kalau dia tidak menyukai mu!" ucap Arka.
"Kamu hanya sebatas teman kerja saja, tidak lebih kalau pembicaraan yang akrab itu biasa saja, Sudah hal biasa!" ucap Alena.
"Hal biasa? bagi kamu hal biasa, namun coba lah untuk menghargai perasaan aku, Suami kamu!" ucap Arka.
Arka mengambil tas Alena dari tangan nya dan mencari kunci mobil nya.
"Mas! Mas! kamu kenapa sih, kamu marah yah, kan aku udah bilang aku ke rumah sakit!" ucap Alena.
"Kamu Tanya aku marah? pikir saja Sendiri!" ucap Arka dan akhirnya dia pun mendapat kan kunci dari tas Alena.
Tiba-tiba Arka menghempaskan tangan Alena dan pergi begitu saja meninggalkan Alena yang terdorong ke arah Dinding.
Arka pergi dengan wajah Marah sangat emosi.
Sementara Alena Sudah sangat bingung dengan sifat Arka.
Dia mencoba berdiri dan mengambil tas nya yang terjatuh dia mencoba nelpon Arka namun tak dia jawab.
"Apa sih yang di cemburuin sama mas Arka tentang kedekatan Pak Aris sama aku, aku hanya teman kerja!" ucap Alena dalam hati.
Dia melihat ke arah jendela yang bisa melihat ke arah halaman, ternyata Arka pulang di jemput oleh supir nya.
"Ya Allah mas, kamu kok kaya gini sih, bisa-bisa nya kamu kasar sama aku Tampa mau mendengarkan aku baik-baik!" Batin Alena.
Karena badan nya sudah letih dia pun segera mandi dan menunaikan sholat Isa.
Sementara Arka baru saja sampai di rumah dia langsung masuk begitu saja, Pelayan-pelayan yang melihat wajah emosi nya semua nya pun kaget dan takut.
__ADS_1
karena mereka sudah jarang melihat Arka berwajah dingin apalagi dengan wajah emosi seperti itu.
Arka langsung melemparkan Jas nya ke kasur dan juga tas kerja nya di letakkan begitu saja.
Dia memerhatikan diri nya di Kaca besar yang ada di kamar mandi nya, tiba-tiba dia menghancurkan kaca itu dengan sekali tinjuan.
"Sialan!" teriak Arka.
Dia pun segera merendam diri nya di kamar mandi.
Setelah selesai mandi dia pun segera membaringkan tubuhnya dia melihat Handphone nya sudah ada panggilan beberapa kali dari Alena.
Namun dia pun mengabaikan nya dia memilih untuk tidur.
Sama hal nya seperti Alena dia pun mengistirahatkan tubuh nya dia mencoba melupakan apa yang terjadi pada nya dan Arka.
Namun mata nya tak kunjung bisa tidur dia pun memilih untuk menghubungi Ayah nya. Alena pun Berbincang-bincang di telepon.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam Arka yang mencoba mencoba untuk tidur pun tidak bisa, dia melihat kembali layar handphone nya.
Ada rasa bersalah di hati nya karena dia tidak bisa melupakan waktu dia menghempaskan tubuh Tangan Alena dari Lengan nya sehingga Alena terdorong ke dinding.
Arka menghubungi Alena ingin meminta maaf namun Tiba-tiba Arka mematikan handphone nya saat nada sambung berbunyi yang mengatakan jika Nomor yang anda tuju sedang sibuk.
Dia sangat marah kali ini sehingga wajah nya sampai merah.
"Aku sudah bisa menebak nya, pasti dia akan bertelepon dengan Aris!" Batin Arka.
Dia menyesal telah menghubungi Alena dia segera mengambil jaket dan kunci mobil nya.
Dia sudah sampai di depan pintu rumah itu namun langkah nya terhenti di saat dia mengingat kata-kata Alena yang melarang nya untuk mabuk lagi.
"Argh sial!" ucap Arka sambil menendang pintu rumah itu dia kembali lagi duduk di kursi Sofa yang ada di ruang tamu.
...----------------...
***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya, jika ada saran tulis di kolom komentar ya.
like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.
__ADS_1
Terimakasih 🙏***