
Tampa ijin dari Alena, Daniel langsung membopong tubuh Arka ke dalam dan menidurkan nya di sofa.
Alena hanya bisa diam saja, dia mencium bau minuman, Alena sudah bisa tebak jika Arka kembali ke dunia nya dulu.
Alena memerhatikan Arka yang sangat berantakan,
"Mas kok tau rumah Alena di sini?" tanya Alena pada Daniel yang membenarkan kaki Arka.
"Mas gak tau ini rumah kamu, mas hanya ngikutin Arahan dari bapak ini saja!" ucap Daniel.
Alena pun mengambil minum pada Daniel yang kelihatan sangat capek membopong tubuh Arka yang sangat berat.
"Mas kenal sama dia?" tanya Alena.
Daniel menggeleng sambil minum.
"Loh! kok dia bisa sama mas ke sini? Kalian ketemu di mana?" tanya Alena.
"Tadi Dia mabuk berat, dan juga marah-marah di bar tempat mas kerja!" jelas Arka.
"Oohh, sekarang mas kerja di bar, Bukan nya dulu Alena dengar, mas kerja di Perusahaan gitu!" ucap alena.
"Enggak! Orang kampung dan ibu juga tau nya aku kerja di kantoran, namun sebenarnya yah begini!" ucap Daniel, dia juga terpaksa bohong karena dia tidak ingin ibu nya Marah pada nya.
Karena menurut ibu nya anak nya harus kerja di kantoran sementara Daniel Hanya tamatan SMA saja.
"Tapi kamu janji yah sama Ibu, atau sama siapa pun jangan kasih tau ini semua!" ucap Daniel.
"Iyah mas, Alena paham kok," ucap Alena.
"Ngomong-ngomong kamu kenal sama dia? Dia Siapa kamu!" ucap Daniel.
"Apa mas tidak kenal dia?" tanya Alena.
"Wajah nya tidak asing bagi mas, tapi mas gak ingat dia Siapa!" ucap Daniel.
"Dia Anak dari Pak Wijaya mas, dia bos Alena, sekarang Alena kerja di perusahaan Shengu sebagai sekretaris!" ucap Alena.
"Wah! kamu sangat beruntung Alena, pantesan saja kamu bisa tinggal di rumah besar seperti ini, mas salut. banget sama kamu!" ucap Daniel sambil tersenyum.
"Tapi kok Dia nunjukin alamat pulang nya ke sini yah!" ucap Daniel melihat ke arah Arka.
Alena pun terdiam, dia juga sama sekali tidak mengerti. karena dia juga tidak ingin lagi mau tau tentang Arka, dia akan mencoba untuk mengiklaskan nya.
"Ya udah kalau gitu Mas, pergi dulu yah, harus lanjutin kerja lagi!" ucap Daniel.
__ADS_1
"Loh ini bagaimana Mas, masa iya dia mau di sini!" ucap alena.
"Gimana yah, mas pengen sih nemanin kamu di sini, tapi mas harus kerja sampai pagi!" ucap Daniel.
"Ya udah mas berangkat kerja saja dulu, entar bos nya marah lagi, tapi besok mas ke sini lagi yah!" ucap Alena.
Daniel pun mengangguk, Alena pun menyalim tangan Daniel.
"Hmm, kasian sekali mas Daniel, sementara adik dan Ibu nya berfoya-foya dengan hasil kerja nya, badan nya aja sampai kurus seperti itu," Batin Alena.
Dia pun masuk dan melihat ke arah Arka.
"Kenapa kamu ke sini lagi sih, Semakin kamu aku lihat, kamu semakin menyiksa aku!" batin Alena.
Dia masih kurang enak badan, malahan sekarang badan nya sudah sangat berat, Kepalanya pusing.
Dia sejenak membaringkan tubuhnya di sofa panjang dekat Arka, karena dia mempunyai dua sofa panjang.
Namun Tampa dia sadari akhirnya dia tertidur di sofa itu.
Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, nada alarm handphone Alena Berdering yang ada di atas meja.
Karena suara alarm itu sangat berisik, tidur Arka pun terganggu, dia pun terbangun.
"Hmm!" Alena yang seperti mengingau, Arka langsung menoleh ke arah Suara itu, dia terlebih dahulu mematikan alarm handphone alena.
Dia mencoba mengingat kejadian tadi malam, dia pun mengingat semua nya.
Dia memerhatikan Alena yang kedinginan, dia membuka Melihat jas nya di Atas meja, dia pun menyelimuti Alena.
Tanpa sengaja dia menyentuh kulit wajah Alena yang sudah terasa hangat.
"Kok panas yah!" batin Arka dia pun menempel kan tangan nya di dahi Alena ternyata benar saja Alena Demam.
"Alena! Alena!" Panggil Arka.
Dia sangat panik, dia bingung mau melakukan apa-apa.
"Hmm, Kepala ku sangat pusing Arka!" ucap Alena dengan suara serak.
"Apa dia menyadari aku di sini!" batin Arka.
Arka memerhatikan rumah itu, dia mengingat waktu pertama kali dia ke sini, Alena waktu itu naik ke atas untuk tidur.
Arka pun mengangkat tubuh Alena ke kamar nya, namun baru saja mau mengangkat, tiba-tiba Alena muntah-muntah.
__ADS_1
Arka pun mengerti apa penyebab nya, dia langsung membuka kemejanya dan menggendong Alena yang lemas ke kamar nya.
Ternyata setelah sampai di atas, hanya ada kamar satu saja, arka langsung masuk dan membaringkan Alena pelan-pelan di kasur.
"Aku harus iklas, demi keluarga ku!" ucap Alena lagi namun mata nya tak kunjung terbuka.
Arka dengan cepat dia mengambil air kebawah dan mengompres dahi Alena, siapa tau bisa mengurangi panas nya.
Arka memerhatikan Alena.
"Tadi Kamu baik-baik saja, kenapa tiba-tiba kamu bisa sakit!" batin Arka dia menggenggam tangan Alena sambil menyelimuti nya.
Alena sangat mengigil.
Akhirnya Arka pun tertidur di samping kasur Alena sambil memegang tangan Alena.
Lagi-lagi Handphone yang membangun Arka, handphone nya Berdering.
Dia terbangun dan melepaskan tangan Alena dia merogoh handphone yang ada di saku nya.
Dan itu dari Clara. Arka mengingat kemarin yang tidak sengaja melihat Clara.
Dia pun menjawab telepon Clara.
"Kamu di mana aja sih Arka, Semua nya sudah sibuk nyariin kamu, kamu di mana?" tanya Clara langsung.
"Bukan urusan kamu, ada perlu apa kamu nelpon aku?" Tanya Arka dengan nada datar.
"Kok kamu nanya nya gitu sih, aku nyariin kamu,. aku khawatir kamu di mana, kamu gak ingat yah, Siang ini keluarga kita akan membicarakan pernikahan kita!" ucap Clara.
"aku lagi sibuk!" ucap Arka dan mematikan sambungan telepon, Dia juga menonaktifkan handphone Nya.
Dia melihat ke arah Alena yang belum bangun, dia men cek suhu badan Alena, namun panas Alena tidak turun-turun.
dia semakin panik.
...----------------...
***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, Jika ada saran tulis di kolom komentar ya, jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.
Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.
Terimakasih 🙏.
S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S***
__ADS_1