Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 99


__ADS_3

Takumi


Pasir, panas, tandus, kering, dan debu. Angin yang membawa butiran pasir kesana kemari. Beberapa batang kaktus yang tumbuh, pohon kering yang hampir mati. Ganasnya panas dari cahaya sang surya yang bersinar terang di atas langit. Aku menginjakan kaki ku di padang gurun ini untuk membunuh satu orang Tenshi yang memiliki kemampuan mengendalikan angin.


Aku harap dia bisa sedikit menghibur ku sebelum aku bisa mencabut nyawanya. Seperti biasa, aku menyembunyikan kedua tangan ku ke dalam saku jaket hitam ku ini. Aku menghentikan langkah ku saat melihat pria botak yang mengenakan jubah panjang warna putih yang ujungnya hampir menyentuh tanah. Dia memakai kain merah yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Aku hanya bisa melihat sorot mata tajam darinya. Ia juga mengenakan ikat kepala bertuliskan Mati. Namanya adalah Gin, itulah yang ku dengar dari petinggi Enjeruhanta di telepon tadi.


"Ekhem, apa kau yang namanya Gin itu?" Tanya ku sembari membersihkan debu yang menempel di lengan jaket ku.


"Kau pasti Takumi kan?"


"Sang Tenshi yang berubah jadi iblis." Ujarnya tanpa bergerak sedikit pun.


"Hua, ternyata kau tau ya?" Aku tebak dia adalah lawan yang lumayan tangguh.


"Jika kau ingin membunuh ku, sepertinya masih terlalu cepat seratus tahun bagi mu." Kata Gin meremehkan ku dengan tatapan tajam yang terpancar dari bola mata hitamnya itu.


"Ohh ... hoi botak! sepertinya hitungan mu itu salah." Aku kembali memasukan tangan kiri ku ke salam saku jaket dan bersiap menghajarnya.


"Seharusnya aku yang bilang begitu!!!" Dengan cepat aku melesat ke arah Gin dan meniggalkan debu yang beterbangan di udara.


Swush!!! Bwush!!!


Sebelum aku bisa menjangkaunya dengan tendangan kaki ku. Gin menghantam ku dengan kekuatan angin yang dia miliki itu. Aku terpental mundur ke udara, sebelum aku jatuh ke tanah. Aku sudah mengendalikan tubuh ku kembali dan mendarat dengan aman menggunakan kedua kaki ku di atas pasir ini.

__ADS_1


Dia bahkan tak bergerak sama sekali ya?


"Hahaha, ini baru yang namanya seru!" Aku terkekeh dan meringis lebar.


Aku kembali melancarkan serangan ku. Kali ini aku mencoba menyerangnya dengan cara lain. Dalam sekejap mata aku sudah berada di belakangnya. Aku bergerak secepat bayangan dan bersiap mengayunkan kaki kanan ku ini. Sebelum ujung sepatu ku menghantam kepalanya, Gin terbang ke langit dengan sangat cepat untuk menghindari serangan ku. Dan tanpa mengatakan sepatah kata pun, Gin mengumpulkan angin di depan badannya. Tak lama kemudian terlihatlah bola angin yang sangat besar.


"Woah!" Aku hanya diam dan berdiri terkagum kagum melihat bola angin sebesar itu.


Booomm!!!


Bola angin itu menghantam ku dan membuat debu debu melayang di udara. Pandangan ku tertutupi oleh pasir pasir ini. Karena aku mulai kesal, aku meledakan aura kegelapan ku dan membuat debu di sekitar ku pergi. Aku sama sekali tak terluka karena serangannya tadi. Bagi ku tadi itu hanya serangan murahan. Aku pernah menghadapi serangan yang jauh lebih kuat. Di saat yang sama Gin keluar dari kabut pasir yang menutupi pandangan ku itu. Dia berlari ke arah ku dengan membawa katana di tangan kanannya.


Pedang? Samurai?


Gin mengayunkan katananya itu dengan sangat cepat. Aku menghindari setiap tebasannya yang hampir tak terlihat dengan mata biasa. Kecepatannya sangat luar biasa, dia pasti adalah samurai yang hebat dulunya. Aku perlahan mundur karena menghindari serangannya itu. Saat aku melihat sedikit celah yang dibuatnya. Aku langsung memanfaatkannya. Aku menendang tangan kanannya yang menggenggam katana itu dan membuat pedangnya terlempar ke udara.


"Hua, maaf!"


Buak!!!


Aku menendang perutnya dan membuatnya terpental jauh ke belakang. Dia berguling guling di atas tanah yang tandus ini dan membuat debu kembali beterbangan di udara. Tak lama kemudian dia bangkit dengan darah yang menetes keluar dari mulutnya. Kain yang ia pakai untuk menutupi wajahnya itu terlepas karena serangan ku tadi.


"Ternyata kau lumayan juga!!" Gin melepas jubahnya ke udara. Sekarang terlihatlah tubuh kekar berotot dan sarung pedang katana yang ada di pinggangnya.

__ADS_1


"Wind Slash!!!" Teriak Gin mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah. Ayunan pedangnya itu membuat angin berbentuk bulan sabit itu melaju ke arah ku.


Aku melompat ke udara untuk menghindari serangannya itu. Tapi saat aku melayang di udara, angin itu tetap berusaha mengejar ku.


Serangan yang hidup ya?


Karena sudah tak bisa menghindarinya, aku pun mengayunkan kaki kiri ku dan membuat angin berbentuk bulan sabit itu meledak sebelum akhirnya lenyap. Aku kembali mendarat ke tanah dengan santai. Serangannya belum ada yang membuat hati ku senang sampai detik ini. Aku pikir aku akan melenyapkannya sekarang juga. Aku tak ingin membuang waktu lebih banyak lagi di sini. Udara panas di sini sudah membuat ku muak untuk berlama lama di sini.


"Cih, tak ku sangka aku kembali membunuh seseorang."


Dengan cepat aku melesat ke arah Gin dan menendang pelipisnya menggunakan bagian belakang kaki ku. Aku membuatnya terpental tanpa kendali. Sebelum dia sempat mengedipkan matanya, aku sudah ada di belakangnya dan mengayunkan kaki ku dari atas kebawah untuk mengembalikannya ke tanah. Aku membuat ledakan dan lubang yang cukup besar menggunakan tubuh Gin itu. Aku menginjak dadanya dengan kaki kanan ku dan mulai mengeluarkan tangan kanan ku dari saku jaket.


"Dark Ball ...," aku mengarahkan telapak tangan ku ke depan kepala Gin dan mengumpulkan energi kegelapan yang akhirnya membentuk bola energi berwarna hitam kemerahan.


"Cih, akhirnya hanya ada pertarungan membosankan." Gumam ku sembari menutup kedua mata ku.


Duar!!!


Aku menembakan bola energi ku dan membuat ledakan yang sangat besar. Pasir pasir di tanah kembali menutupi pandangan ku. Aku kembali memasukan tangan kanan ku ke dalam saku jaket dan memandang ke atas langit. Sesaat setelah debu yang mengelilingi ku hilang, aku kembali bisa melihat langit biru yang indah itu. Aku membuat tubuh Gin terbakar tidak tersisa sama sekali. Hanya tertinggal pedangnya saja yang tergeletak di samping kaki ku. Aku mengambil katana itu dan menancapkannya ke tanah. Dengan ini aku akan menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya.


"Hana, apa ini sudah cukup?"


Aku kembali melanjutkan langkah ku untuk menunggu misi selanjutnya yang akan diberikan oleh petinggi Enjeruhanta. Semakin banyak aku membunuh Tenshi, maka semakin kuat pula kekuatan ku ini. Akhir musim panas nanti, ku harap Kaito jauh lebih kuat dari sebelumnya. Karena jika tidak, aku bisa saja membunuhnya kali ini. Mungkin besok aku akan ke rumah Kaito dan mengunjungi Hanabi. Aku bisa membelikanya sesuatu mungkin. Entah itu jepit rambut atau makanan yang manis seperti wajahnya itu. Wajahnya begitu mirip dengan Hana, aku selalu saja berpikir kalau Hanabi itu adalah adik perempuan ku.

__ADS_1


Hana aku menyayangi mu ...


__ADS_2