Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 211


__ADS_3

Aku ... Iblis? Aku akan segera berubah jadi iblis?


"Apa ini?"


Kegelapan abadi ada di depan mataku saat ini. Tempat dimana kesunyian, dan rasa sakit berkuasa. Aku hanya bisa berdiri dalam diam di sini. Tak bergerak, tak berbicara, tak bernapas, dan tak bersuara.


Suara gemericih tetesan air, mulai terdengar. Setiap tetes, setiap detik, semakin terdengar jelas. Basah, ada air yang menggenang sampai ke pergelangan kakiku. Secercah cahaya mulai muncul tepat saat aku membuka mata.


"Okino Kaito, kamu bisa melakukannya!" Bisikan seorang gadis yang datang entah dari mana.


Siapa kamu?


Mulutku terkunci rapat, kakiku dibelenggu hawa dingin ini. Tanganku beku karena kesunyian ini. Telingaku tak bisa mendengar karena kegelapan ini. Mataku buta karena secercah cahaya itu. Tapi, tak lama kemudian, cahaya terang itu perlahan kembali redup. Cahaya itu akan segera hilang karena dikalahkan oleh kegelapan dan hawa dingin ini.


Tidak! Jangan menghilang, aku butuh cahayamu!


Aku butuh kehangatanmu!


Srak!!


Saat aku berusaha menggerakan kaki kananku. Lagi lagi sebuah tangan bayangan muncul dari dalam genangan air. Tangan itu kembali menggenggam erat pergelangan kaki-kiriku.


Kenapa aku berhenti?!


Aku menguatkan tekad dan hatiku untuk melangkah. Kali ini, aku harus mengejar cahaya itu, kali ini aku tak akan tenggelam kedalam kegelapan itu lagi. Kali ini, aku pasti akan pergi ke tempat Ai.


"Jangan halangi aku payah!!!"


Teriakanku membuat tangan bayangan itu seketika lenyap. Akhirnya aku bisa bergerak bebas, aku bisa melangkah maju. Tapi cahaya itu semakin redup, aku takut, aku tak bisa menggapainya tepat waktu.


"Tak ada gunanya takut!"


Aku tetap berlari menuju cahaya itu. Genangan air ini menghambat gerakanku. Setiap langkah yang aku lalui, kakiku semakin terasa berat. Setiap senti aku maju, jantungku semakin terasa sakit. Setiap kali aku mencoba untuk berharap, luka goresan muncul di tubuhku.


Aku, harus berhasil!


Meskipun takdir tak ingin aku melangkah maju. Aku tetap melakukannya, walau aku harus terluka, walau aku harus mati, walau aku harus kehilangan segalanya. Aku terima semua resikonya. Aku akan terus melangkah maju. Aku tak bisa berhenti, aku tak bisa hanya berhenti begitu saja dan melihat kebelakang. Percuma, aku juga tak bisa mundur.


Tak ada pilihan lain selai terus maju ke depan. Hadapi semua yang ada, walau seburuk apa nanti hasilnya. Aku tetap ingin mengejarnya. Cahaya harapanku, masa depan ada ditanganku. Aku sudah memilihnya sebagai pasanganku, aku sudah memilihnya sebagai masa depanku.


Mirai Ai, tunggu aku ... aku pasti akan membawamu pulang!


Cahaya itu semakin dekat, aku berhasil mendekati cahaya itu. Walau darah merah mulai keluar dari seluruh luka goresan yang ada di tubuhku. Aku hampir sampai, tangan kananku berusaha meraih secercah cahaya yang semakin redup itu.


"Kenapa kamu menghampiriku?" Bisikan gadis itu kembali teringiang di kepalaku.


"Karena aku mencintaimu! Ai!"


Aku mengatakannya, semua harapan dan masa depanku. Aku sudah mengatakannya, kumohon jangan menolak semua harapan dan impianku. Aku sudah mengorbankan segalanya, aku sudah berjuang sekuat tenaga untuk sampai di sini.


Akhirnya, sebuah tangan keluar dari cahaya itu dan menggapai tangan kananku. Tangan itu menarikku, membuatku masuk kedalam cahaya terang ini. Mataku otomatis tertutup karena tak bisa menahan silaunya cahaya.


Beberapa detik kemudian aku mendengar suara yang sangat amat aku rindukan.

__ADS_1


"Kenapa kamu kesini?"


Suara Mirai Ai, membuatku bisa membuka mata. Melihat tepat ke wajah cantiknya itu. Langit biru nan indah, awan awan putih yang berenang kesana kemari. Terbaring lemas di atas tanah, Ai memangku kepalaku di atas kedua pahanya. Ia memakai gaun putih yang sangat indah.


Ai bahkan dua kali lipat lebih cantik dari pada saat terakhir kali aku melihatnya. Rambut panjangnya itu sudah berubah jadi putih, biji mata ungunya itu semakin terlihat berkilauan.


"Nee, Ai ... aku merindukanmu ...," ucapku lirih.


"Kenapa kamu kesini!?" Sergahnya mengalirkan air matanya keluar.


"Aku ingin membawamu pulang," jawabku dengan senyum tipis.


"Bodo!! Padahal kamu tinggal memilih Saika! Dia sudah ada di sisimu setiap saat!"


"Dari dulu, dia selalu memperhatikanmu ... tapi aku malah merebutmu darinya!"


"Dia lebih dulu jatuh cinta padamu! Dia lebih dulu bertemu denganmu!"


"Kamu harusnya memilihnya, dan bunuh saja aku! Aku bukanlah diriku yang dulu! Aku ini orang jahat!"


"Tapi kenapa kamu masih ...," Ocehan Ai sampai ia tak sanggup lagi berkata kata. Air matanya itu jatuh tepat ke pipi kananku.


Aku meraih pipinya dengan tangan kiriku dan menghapus air matanya. "Aku tak peduli, aku sudah memilihmu, kamu adalah pilihanku." Suara kecilku berusaha menghentikan tangisannya.


"Kaito, kenapa kamu memilihku?" Pertanyaan yang Ai lempar padaku.


"Jawabannya cuma satu, karena aku mencintaimu!" Sahutku memasang senyum tipisku padanya.


"Karena aku mencintaimu," aku mengulangi jawaban yang seharusnya cukup untuk mengatasi seribu pertanyaan lain.


Aku bangkit dan duduk di hadapannya lalu bertanya. "Terus, kenapa kamu nangis?"


"Aku kesepian ...," ucap Ai dengan kepala tertunduk.


"Ai ... aku akan berusaha ...,"


"Jangan!! Kamu itu memang bodo ya!" Sergahnya menghentikan kalimatku.


"Ai?"


"Kamu bisa mati tau!" Teriaknya terus menunduk dan menangis.


Aku pun melihat ke arah dadaku yang bersinar oranye terang ini. Sebentar lagi jantungku ini keluar dan aku akan jadi Akame seutuhnya.


"Aku ga akan mati ...,"


"Dari mana kamu tau!?" Lagi lagi Ai menyela ucapanku.


"Ada satuhal yang belum aku selesaikan, novelku untukmu." Jawabku dengan penuh senyuman di wajahku.


"He?" Ai mengangkat wajahnya dan menatapku dengan mata indahnya itu.


Aku melihat ke sekeliling dan menyadari kami berada di tengah taman bunga yang sangat indah. Kami duduk di tanah lapang yang dikelilingi oleh berbagai jenis bunga yang memanjakan mata. Udara sejuk disertai hembusan angin sepoi-sepoi yang nikmat.

__ADS_1


"Nee ... Ai, aku tak akan mati sebelum menepati janjiku itu." Aku meraih tangan kanannya dan menggenggamnya dengan kedua tanganku.


"Walau aku harus menderita, aku tetap harus membawamu pulang."


"Aku akan menjadi orang pertama yang akan melihat senyuman di wajahmu."


"Aku akan jadi orang pertama yang memelukmu!"


"Aku akan jadi orang pertama yang selalu ada di sisimu!"


"Aku akan memberikan segalanya untukmu, jadi ... biarkan aku membawamu pulang ya?"


Bruak!!!


Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Ai langsung memelukku. Kehangatan ini tak pernah aku lupakan. Aku akan selalu mengingatnya, aku pasti akan membawanya kembali.


Seketika keadaan menjadi sunyi dan gelap, tapi kehangatan ini belum menghilang.


"Senpai?"


Suara kecil dari adik Ai itu membuatku kembali membuka mataku. Terbangun kembali dan menyadari diriku sedang berada di kamar. Ini artinya Ai menungguku untuk menjemputnya.


Melihat Saika yang sudah duduk di sampingku ini, membuatku sedikit menyesal. Tapi itu tak ada gunanya. Aku juga akan membuat Saika merasakan sedikit kebahagiaan.


"Nee Saika?" Aku bangun dan duduk di sampingnya.


"Apa?"


"Terima kasih," aku memberikan senyumanku sembari mengusap kepalanya.


"Eh?!" Wajahnya langsung memerah sembari memalingkan pandangannya dariku.


"Senpai ... apa aku boleh ada di sisimu setiap saat?" Tanya Saika dengan suara lirihnya itu.


"Boleh," sahutku perlahan.


"Kita bakal nyelametin Kak Ai kan?" lanjutnya bertanya.


"Yap, aku akan berusaha sekuat tenaga!" Ujarku berdiri dari tempat tidurku itu.


"Saika, jangan lupa rahasia kita ya?" Kata kataku yang membuat dia kembali memandangku.


"Hnm," anggukan perlahannya lalu ikut berdiri di hadapanku.


"Senpai, tolong jangan memaksakan dirimu," Saika meletakan tangan kirinya di tengah dadaku dan mendekatkan wajahnya padaku.


"Aku ada di sini ... untukmu!" Wajahnya semakin dekat, aku semakin yakin ia kembali ingin menciumku.


"Iya, aku tau!"


Aku memeluknya erat dan membuatnya tak bisa bergerak. Dengan ini dia tak akan bisa mengecup bibirku seenaknya lagi. Dasar mesum, sekali mesum tetap saja mesum.


"Simpan ciumanmu untuk nanti ...,"

__ADS_1


__ADS_2