
"Nee ... Kaito, kekuatanku yang tadi pagi. Apa sekarang aku bisa bertarung bersamamu?" Pertanyaannya yang membuat ku mengalihkan perhatianku dari novel yangku baca.
"Aku kasihan melihatmu selalu pulang malam, mungkin kalau aku bantu ... kita bisa pulang lebih awal." lanjutnya meletakan jari telunjuk di dagunya sembari sedikit memiringkan kepala.
"Jangan, aku tak ingin melibatkanmu dalam hal ini." Jawab ku langsung menolak pemikirannya itu.
"Hee ... kenapa emangnya?" Ai membuatku terkejut saat melihat wajahnya tiba tiba berada sangat dekat denganku.
"Gak ada apa apa." Aku memalingkan pandanganku dan berpura pura membaca novel yang ada di tanganku ini.
Tanpa kusadari, Ai menyandarkan kepalanya ke pundak kiriku. Aku terperanjat dan menoleh ke arahnya. Lagi lagi aku dibuat terkejut karena yang di sampingku ini bukan lagi Ai yang beberapa detik lalu berbicara denganku. Rambut pirang keemasan yang terurai panjang. Seragam putih dan rok pendek biru mudanya itu.
Mirai Ai yang satunya ya?
Waktu seakan membeku bagiku. Paras cantiknya itu membuat ku terpana. Bola mata biru yang berkilau seperti berlian, senyum tipis yang terpancar melalui bibir merah meronanya itu. Aku sadar dia adalah bagian dari masa laluku. Tapi, bahkan aku tak bisa mengingat kehidupanku yang sebelumnya.
Apa mungkin, perpustakaan ini adalah keinginannya?
Mirai mengambil pulpen yang ada di saku seragamnya dan menulis sesuatu di telapak tangan kirinya.
'Kaito, terima kasih'
Tulisan di telapak tangannya yang ia tunjukan padaku. Senyuman manisnya itu tak luput menyertainya. Ai, Mirai, senyuman mereka selalu membuat mataku tak bisa berhenti memandang paras cantik mereka itu.
'Maaf, tapi aku gak bisa lama lama'
'Apa aku bisa pinjam ponsel?'
Tulisannya yang ia tunjukan padaku lagi. Tanpa pikir panjang aku segera meraih ponsel dari saku seragamku ini dan memberikan ponselku padanya. Setelah menerima ponselku dia menggesekan jari jarinya itu di layar dengan wajah seriusnya. Tak lama kemudian aku dikejutkan dengan suara yang di keluarkan speaker ponselku.
"Sekarang kita bisa komunikasi dengan jelas!"
__ADS_1
Dia sepertinya menggunakan aplikasi pembaca teks yang ia tulis di ponselku. Aku baru sadar aplikasi itu berguna di saat saat seperti ini. Aku tersadar dari lamunan ku dan menepuk pipiku sendiri.
"Ohh, kenapa kamu muncul tiba tiba?" Pertanyaan pertama yang kulontarkan padanya.
"Aku cuma mau bilang terima kasih banyak." Suara robot yang keluar dari speaker ponselku setelah Ai mengetik beberapa saat.
"Untuk apa?" Aku memiringkan kepalaku.
"Tempat ini penuh dengan kenangan yang tak terlupakan bagimu."
"Mungkin sekarang kamu tidak ingat."
"Tapi, aku akan selalu mengingatmu yang dulu."
"Seseorang yang mencoba melawan takdir hanya untukku."
"Aku dan Ame sangat berterima kasih, sekarang ...,"
"Mirai, akulah yang seharusnya berterima kasih. Karenamu aku masih bisa hidup sampai sekarang."
"Di kehidupan kita yang lalu, aku yakin aku pasti sangat mencintaimu."
"Sampai sekarang, aku masih terpaku saat melihat senyumanmu itu."
"Seandainya aku tidak membuat Yume melakukan Fate Restart, mungkin ..."
"Kita masih bisa bersama." Entah kenapa semua ucapanku itu langsung keluar dari mulutku.
"Enggak, kamu sudah melakukan yang seharusnya kamu lakukan."
"Sampai jumpa lagi Kaito, aku akan membantumu sebisaku dengan memulihkanmu dari resiko Time Control itu."
__ADS_1
"Aku akan menjaga jantungmu dengan hidupku ini."
"Walau sebenarnya aku bisa saja tiada, tapi, aku akan membalas kebaikanku yang dulu." Senyuman seindah pelangi itu kembali ia berikan kepadaku.
"Tu-tunggu, Mirai?" Sebelum aku bisa bertanya satu hal tentang kata katanya barusan, Mirai kembali berganti tubuh menjadi Ai.
"Eh?!" Ai bingung ketika melihat ponsel ku ada di tangannya.
"Ini punya mu kan?" Ai mengembalikan ponselku.
"Ohh ... iya," aku menerima kembali ponsel ku sembari melihat sekelilingku.
Aku heran kenapa pengunjung lain tak menyadari keanehan dari gadis di sampingku ini. Dan sebenarnya aku tenang karena tak ada masalah yang timbul karena orang lain melihat Ai bisa berubah jadi orang lain.
"Kenapa? Apa aku berubah jadi Ema tadi?" Ai menarik lengan seragamku berkali kali.
"Bukan Ema tapi Mirai." Jawabku dengan wajah malas.
"Oohh, entah kenapa Mirai itu selalu datang tiba tiba." Ai meletakan jari telunjuk di dagunya.
"Oh iya, apa Kaito mau makan cokelat?" Tiba tiba Ai kembali mendekatkan wajahnya ke arahku.
"Eh? cokelat? kenapa tiba tiba?"
"Apa kamu yakin itu keinginanmu?" Aku curiga itu bukan keinginan dari hatinya. Melainkan keinginan dari gadis lain yang ada di dalam dirinya.
"Hehe, kayaknya Ema yang pengen ...," Ai terkekeh sembari memiringkan sedikit kepalanya.
"Hmm, sebenernya aku itu jalan sama kamu atau sama tiga cewek sekaligus seh?!" Aku menepuk keningku sendiri.
"Eh? Bukanya kamu harusnya seneng?" Aku tak tahu kenapa Ai bisa berkata seperti itu dengan senyuman di wajahnya.
__ADS_1
"Pokoknya jangan berubah di tempat umum, bahaya tau." aku memperingatkannya karena aku khawatir orang pemerintahan itu bisa menemukan kami lagi.