
"Senpai ... aku takut ...," dengan wajah datar dan tatapan dinginnya. Saika memeluk lengan kananku dan menempelkan wajahnya pada bahuku.
Ruangan yang gelap, pancaran cahaya dari layar kaca besar di depan kami. Tempat duduk yang berbaris rapi seperti anak tangga. Keramaian orang orang yang ikut duduk di ruangan besar ini. Bau pendingin udara yang menusuk hidung. Walaupun banyak orang yang duduk di dalam ruang bioskop ini. Tak ada keramaian yang aku benci. Hanya ada suara dari film yang sedang ditayangkan di layar lebar itu.
Kami berdua pergi berkencan ke pusat perbelanjaan atau mall kota Natsu. Gedung besar dan luasbdengan tinggi tujuh lantai di tengah kota. Sekarang aku berada di lantai tiga dimana ada tempat menonton film atau bioskop. Kali ini aku akan menuruti semua permintaannya. Lagi pula setelah ini perang akan segera berkecamuk, walau aku tak mengerti perang macam apa itu.
Kami duduk di baris paling belakang. Dari sini terlihat jelas kepala orang orang yang memenuhi tempat duduk yang menurun seperti anak tangga itu. Saika memilih menonto film horror yang baru saja rilis beberapa hari lalu. Yang ku bayangkan adalah, si mesum itu akan berteriak dan mengeluarkan ekspresi di wajahnya. Aku sangat menunggu hal itu, tapi sayangnya itu tidak terjadi.
Huufff ... sia sia ... dia memang cewek tanpa ekspresi sama sekali ... untuk apa aku berharap.
"Oi, salah sendiri milih film horor." Ujarku dengan wajah bosan.
"Huumm? Aku pikir Senpai takut." Kata Saika dengan wajahnya yang begitu dekat denganku. Bola mata ungu yang berbinar. Poni rambut yang menutupi mata kanannya. Bau parfum dan shampo yang ikut menerobos masuk ke dalam lubang hidungku.
"Hmm? Cih, mana mungkin aku takut sama orang make up an ...," ujarku benar benar bosan menatap ke layar besar yang ada di depan.
"Humm, apa aku boleh menciummu?" Pertanyaan yang membuatku terbelalak dan tak tahu harus menjawab apa.
"Hoi?! Jangan ...," Sebelum aku menuntaskan kata kataku, ia mengecup pipi kananku dengan bibir lembut dan hangatnya itu.
"Kenapa? Orang di sana boleh kok, bibir sama bibir malahan." Setelah melepas bibirnya ia menunjuk ke arah pasangan orang mesum yang duduk di pojok belakang itu.
Mati aja deh aku ...
"Hmm, terserah ...," Setelah kata kataku itu kami sama sekali tak berkomunikasi sampai film yang diputar itu selesai. Selama dua jam dia terus memeluk tangan kananku karena ketakutan melihat hantu di film itu. Ya, walaupun dia sama sekali tak mengubah raut mukanya sejak dari awal kami bertemu.
Setelah saat saat yang membosankan itu selesai. Kami berdua pun keluar dari ruangan bioskop itu bersama pengunjung lain yang menyertai kami. Aku pun segera melangkah menuju drink machine yang ada di ruang tunggu. Aku membeli dua botol teh dingin lalu memberikan satu kepada si mesum yang berdiri di belakangku ini.
"Makasih Senpai ...," ucapnya seraya menerima sebotol teh dingin itu.
"Mau kemana lagi?" Aku membuka tutup dan meneguk setengah dari isi botol teh dingin itu.
"Umm ... aku, apa aku boleh ke kafe neko?" Tanya Saika memeluk botol teh dingin yang barusan aku berikan.
__ADS_1
"Haa? Apaan itu?" Aku mengangkat alis ku tinggi tinggi.
"Gak boleh ya?" Saika menunduk tanpa ekspresi. Tapi aku tau sepertinya dia sedang sedih.
"Hoi? Siapa yang bilang ga boleh?"
"Boleh?!" Bola matanya berbinar dan ia langsung menggenggam tangan kananku. Saika membawaku melangkah menerobos keramaian pengunjung dan turun ke lantai dua mall ini. Di lantai ini tempat dimana toko toko makanan dan kafe berbaris rapi. Setelah beberapa puluh langkah, akhirnya kami sampai di depan kafe dengan cat merah muda yang membuatnya terlihat mencolok.
Di tambah lagi ada gambar kucing besar yang ditempel di kaca jendela. 'Neko Cafe' tulisan yang terpajang di atas pintu masuk. Dan aku bisa melihat belasan kucing yang lalu lalang diantara pengunjung
"Apa boleh?" Saika menarik lengan kemejaku berkali kali dengan tatapan dinginnya itu.
"Ya iya ...," jawabku seraya menghela nafas.
"Yee, ayo masuk!" Dia kembali menyeretku masuk ke dalam kafe itu. Seperti biasa, ada meja dan kursi yang disediakan untuk sepasang kakasih. Kami tak langsung duduk, Saika menyeretku ke meja kasir. Bukan untuk membayar pesanan, tapi untuk memesan makanan dan minuman. Dan tak lupa juga satu ekor kucing. Di belakang petugas kasir itu terdapat beberapa kucing yang duduk di rak yang terpajang di dinding layaknya boneka.
"Aku pilih kucing putih!" Saika melompat kegirangan dengan wajah tanpa ekspresinya itu.
"Silahkan pilih tempat duduk kak ... pesanan akan segera kami antar." Ujar petugas kasir itu ramah.
Hmm, kenapa si mesum itu suka kucing?
Kami duduk berhadapan dan hanya dipisahkan dengan meja bundar warna putih. Di atas meja ada kucing berbulu putih polos yang menatapku dengan bola mata emasnya itu.
"Imutnya ...," Saika mengelus punggung kucing itu dengan tangan kanannya.
"Saika? Kenapa suka kucing?" Aku tak lagi bisa menahan rasa penasaranku.
"Umm? Ngga tau, mungkin, mereka imut?" Jawabnya sembari meletakan jari telunjuk di dagu dan melirik ke atas.
Mungkin? Alasanya hanya mungkin?
"Ini kak, kue cokelat dan dua cokelat panas." Seorang pelayan menyela pembicaraan kami lalu meletakan sepiring pie cokelat dan dua gelas cokelat panas ke atas meja.
__ADS_1
"Makasih ...," ucap Saika menggendong kucing itu supaya sang pelayan bisa meletakan pesanan kami di atas meja. Setelah pelayan itu pergi, aku tak tahu harus berkata apa. Saika terus saja menggesekan pipinya ke bulu kucing yang ia gendong itu.
"Hoi? Nanti bersin lagi loh," ujarku seraya menyeruput segelas cokelat panas milikku.
"Hachuh!" Suara bersin imutnya itu kembali terdengar di telingaku untuk yang kedua kalinya.
"Hmm, mau kusuapin?" Aku mengarahkan sendok berisi secuil kue cokelat itu.
"He?!" Saika tersentak dan pipinya memancarkan rona merah lagi.
"Aaahh ...," dia membuka mulutnya dan membiarkan aku menyuapinya.
"Umm wah enak!" Ujarnya sembari mengunyah kue cokelat di dalam mulutnya itu.
"Hmm," sekarang giliranku untuk menikmati kue cokelat itu. Ternyata si mesum itu benar kue ini memang enak.
"Senpai? Malam ini kita akan ke festival kan?" Tanya Saika terus mengelus punggung kucing putih itu.
"Iya, kenapa?" Aku menelan kue cokelat yang ada di dalam mulutku.
"Berdua?" Tatapan dingin yang terpancar itu selalu mengambil perhatianku.
"Iya, nanti hari ketiga baru kita semua pergi ke sana rame rame." Jelasku seraya menyeruput segelas cokelat panas.
"Apa kita bakal nginep?" Si mesum itu kembali beraksi.
"Nggak ada nginep nginepan!"
"Habis ini aku anter kamu ke markas Fumio, terus mandi ganti baju."
"Aku jemput lagi kalo aku udah siap."
"Dan jangan tanya soal nginep nginepan!" Aku menjelaskan semua rencanaku agar dia tak bertanya seperti itu lagi padaku.
__ADS_1
Haaahh ... kenapa aku selalu aja sebel sama dia ...