
-----------
Unmei: Alternative Future 2
Langit malam yang berselimut dengan awan hitam tebal. Kepulan asap yang menjulang ke langit. Bulan sabit yang berwarna merah darah. Keadaan kota Natsu sangatlah kacau. Gedung gedung pencakar langit itu sudah rata dengan tanah. Hanya tersisa reruntuhan yang penuh dengan api yang membara.
Seorang pria dengan jubah hitam dan seluruh wajahnya yang di perban itu tergeletak di tanah. Sebuah pisau menancap di kepalanya. Itu adalah Ten Kara No Ken milik Kaito. Hujan abu mulai turun dari awan tebal yang ada di langit. Laki laki rambut oranye itu berdiri dan mencabut pisau dari kepala The Key itu.
"Dengan ini berakhir sudah," ucap Takumi sembari memandang ke atas langit.
"Kaito ... sisanya, aku serahkan pada mu." Takumi kembali memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya itu.
Di saat yang sama, tempat yang berbeda. Seorang pria berjubah cokelat dan rambut putih. Kepalanya diikat perban dan perban itu menutupi mata kiri dan keningnya. Mata hijau padam yang memandang ke arah cahaya yang sangat terang. Dia memakai masker kain hitam yang menutupi setengah dari wajahnya.
"Senpai? apa itu kamu?"
Cahaya di depan laki laki itu ternyata berasal dari gadis yang duduk dan bersandar di dinding goa itu. Gadis itu memakai baju zirah besi yang berteknologi tinggi. Di tengah dadanya terdapat lampu yang bersinar terang yang menghalau kegelapan di dalam goa itu. Baju zirah besinya itu sudah penuh dengan goresan dan hampir hancur.
Mata ungu yang berbinar, rambut putih yang terurai panjang. Poni rambut yang menutupi mata kanannya. Dan sorot mata dinginnya itu. Saika, itu adalah Saika. Hanya saja rambutnya sudah tumbuh panjang.
"Saika ... semuanya sudah selesai."
Laki laki itu membuka masker kain hitamnya dan terlihatlah siapa yang ada di depan Saika itu. Itu adalah Kaito, entah apa yang terjadi hingga rambutnya berubah seluruhnya menjadi warna putih.
"Saika, maaf sudah membuatmu bertarung sekuat tenaga." Kaito berlutut dan menggenggam tangan Saika.
"Senpai memang jahat, tapi aku sangat mencintai Senpai." Ucap Saika lemas.
"Hmm, terserah." Kaito tersenyum tipis.
"Sekarang, tinggal membuka segel Fate Stone yang ada di dalam diriku kan?" Saika mulai menahan air matanya yang berkumpul.
"Saika! aku tak mau membuka segel itu!" Kaito juga mulai menahan air matanya yang ingin keluar.
"Apa senpai sudah kehilangan kepercayaan diri lagi?"
"Bukan begitu!!!" Kaito berteriak sangat keras dan membuat mata Saika terbelalak.
"Kau tau kan?! Resiko yang ada jika aku membuka segel itu?!
"Aku ... aku akan kehilanganmu!" Kaito meneteskan air matanya.
"Dan bukan itu saja!! jika Fate Stone itu tak memilihku, maka ... aku akan lenyap sia-sia!!" Kaito meletakan tangan Saika yang ia genggam itu di pipi kanannya.
"Aku tak ingin kehilanganmu lagi di kehidupanku yang ini!"
"Sudah cukup sakit ... kau meninggalkanku di musim panas itu!"
"Kau sudah membuatku hampir mati!"
"Dan tanpa alasan yang jelas kamu menyerahkan aku ke kakakmu yang bernama Mirai Ai itu!"
__ADS_1
"Ame ... maafkan aku." Semua kata kata Kaito itu membuat air mata Saika mengalir keluar.
"Senpai, jangan pikirkan kehidupanmu di masa lalu."
"Masa depan sudah ada di depan matamu." Saika mencoba meyakinkan hati Kaito yang mulai goyah itu.
"Dan juga, jangan sia siakan pengorbanan Ai-senpai."
"Dan juga semua teman temanmu yang sudah berjuang sampai akhir."
"Bukanya Senpai ingin menjaga senyuman mereka semua?" Saika membelai pipi Kaito dengan tangan kanannya.
"Saika, Saika, Saika, Saika." Kaito terus menangis karena tahu bahwa ia akan kehilangan satu orang yang berharga di hidupnya.
"Senpai, aku ingin menyampaikan sesuatu dari Ai-senpai." Saika meminta Kaito mendekatkan telinganya ke depan mulut Saika.
"Apa itu?"
"Kami semua mencintaimu." Bisik Saika perlahan.
Mata Kaito terbelalak karena mengingat orang orang penting yang sudah direbut oleh takdir darinya. Ema, Mirai, Ai, Ame, dan sekarang hanya tersisa Saika di depan matanya. Dan tak lama lagi Kaito juga akan kehilangannya.
"Saika!, aku tak tahu harus berkata apa."
"Sekarang, takdir sudah merebut kalian semua dariku."
"Kenapa selalu begini?!"
"Aku sudah siap Senpai ... sampai bertemu di kehidupan selanjutnya."
Bibir mereka berdua saling bersentuhan. Mata Kaito terbelalak lebar menyadari dirinya mencium gadis yang berharga di dalam hidupnya itu. Di saat yang sama tubuh Saika perlahan berubah menjadi butiran cahaya.
"Terima kasih Senpai,"
"Saika!? kenapa?! kenapa?! aku masih belum siap kehilangan mu!!" Teriak Kaito menyadari Saika yang perlahan lenyap dari dunia ini.
"Senpai jahat!" Saika tersenyum tipis.
"Saika!!!!"
Saika pun lenyap dan sebuah batu keluar dari dada Saika yang mulai memudar itu. Batu itu berbentuk seperti berlian dan memancarkan cahaya biru yang menyilaukan mata.
"Aaaaaghhh!!!"
Kaito berteriak penuh penyesalan sembari memukul tanah menggunakan kedua tangannya itu. Air mata tak ada hentinya menetes, sekali lagi, Kaito kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya. Sekarang Saika sudah lenyap dan meninggalkan Fate Stone yang melayang di udara itu.
"Sekarang, aku hanya perlu menangkap batu itu dan mengulang kembali seluruh alam semesta ini!!" Kaito bangkit berdiri dan memandang ke arah Fate Stone yang bersinar terang di hadapanya itu.
"Saika, Ai ... tunggu aku!" Kaito melangkah maju dan hendak meraih Fate Stone itu dengan tangannya.
Zrak!!!
__ADS_1
Ketika tangan Kaito mendekat ke arah batu itu. Kaito terbelalak karena melihat jari jarinya berubah menjadi butiran cahaya. Tak sampai di situ saja, Kaito mencoba meraih batu itu dengan tangan kirinya. Hal yang sama pun terjadi. Tangan kirinya lenyap menjadi butiran cahaya sebelum menyentuh batu itu.
"Gak mungkin!"
"Ini gak mungkin!!!!"
"Kenapa?! Kenapa?! Kenapa!!!"
"Kenapa takdir selalu saja tak membiarkanku merasakan kebahagiaan!!!"
Sebuah cincin melayang tepat di depan mata Kaito. Seketika Kaito kembali mengingat Saika. Cincin itu adalah milik Saika. Kaito sangat mengenalinya, cincin perak dengan hiasan batu berwarna hijau di atasnya.
"Saika!!!!"
Tubuh Kaito perlahan juga berubah menjadi butiran cahaya. Sang penentang takdir akhirnya ditiadakan oleh sang dewa. Fate Stone itu membuat Kaito menjadi butiran cahaya sama seperti Saika.
"Jadi ini akhirnya ya?"
"Begitu ya?"
"Semuanya ... maaf"
"Aku membuat pengorbanan kalian semua sia sia."
"Pada akhirnya aku hanya menjadi sampah tak berguna."
"Tuhan, kenapa kau selalu merebut semuanya dariku?"
"Setidaknya, tak usah memberi aku kesempatan hidup lagi jika akhirnya hanya seperti ini!!"
"Aku, aku kalah dari takdir ..."
-----------------------
Whua whua ...
Chapter 85 dan chapter ini adalah kemungkinan ending dari novel ini.
loh kenapa kok kasih spoiler?!
Gak tau kenapa, tapi aku mau buat novel yang beda dari yang lainnya mwehehe ...
tenang aja, semua ending yang aku bocorin ini belum tentu endingnya kok.
soalnya aku itu penulis yang gak pakai kerangka cerita yang pasti.
maaf kalo kadang ceritanya melenceng jauh dari awalnya atau malah aneh.
makasih buat kalian yang udah support aku sampai sini ya ...
jangan lupa like setiap chapter ya hehe ...
__ADS_1
See You Next Chapter guys ...