
Kriing~ Kring~
Bel pulang sekolah akhirnya kembali terdengar oleh telinga ku. Semua siswa kegirangan dan segera membereskan barang barangnya dan membawa tas mereka keluar dari kelas.
"Kaito ... aku tunggu di ruang klub ya?" kata Ai dengan senyumannya lalu berjalan keluar dari kelas.
Huff ... ya udah lah ... mungkin hari ini aku masuk aja ...
"Kaito? ... ikut klub?" tanya Raku yang masih duduk di bangkunya.
"Kayak nya ... kasihan Ai cuma sendiri", ucapku seraya berdiri lalu menggendong ranseku.
"Hua ... sejak kapan kamu bisa kasihan?" ujarnya mengejekku karena sikapku yang selalu dingin ini dari dulu.
"Hmm ... terserah," aku langsung berjalan keluar dari kelas.
Keramaian koridor sepulang sekolah ini membuatku merasa bosan. Kebisingan, keributan, kakacauan, hal itulah yang paling ku benci di hidup ku. Aku hanya berusaha mengabaikan semua itu dan segera menaiki tangga untuk menuju ke lantai dua gedung sekolah.
"Hahaha ... si cewe tuli itu pasti bingung sekarang"
"Gimana kalo ada anggota klub lain yang liat coba"
"Bodo amat"
Percakapan antar dua gadis yang takku kenal saat kami berpapasan di tengah tengah anak tangga. Tak salah lagi mereka baru saja melakukan sesuatu pada Ai.
Ahh ... emang urusanku apa?
Aku pun tak menghiraukan kata kata mereka dan tetap melanjutkan langkah ku menuju ke ruang klub sastra.
__ADS_1
Greek~
Aku masuk ke ruang klub dan melihat Ai berdiri di depan rak buku tua yang besar dan tinggi itu dan menatap ke atas rak itu. Karena aku yakin ia tak akan mendengarku jika aku memanggilnya, aku melangkah mendekat dan berhenti tepat di sampingnya.
"Ano Kaito ... bisa tolong ambilin gak?" Ai menunjuk ke arah tasnya yang ada di atas rak buku tua itu.
Ohh ... cuma itu ...
Dengan mudah aku meraih tas merahnya itu dengan tubuh tinggiku ini.
"Nih ... kamu di kerjain anak kelas tiga ya?" aku memberikan tas itu sekaligus bertanya padanya.
"Maaf ngerepotin ya ... makasih," mendengar kata kata nya itu aku baru ingat kalau gadis di depanku ini tak bisa mendengar.
"Etto ... Kaito ... apa kamu mau denger cerita ku?" ujarnya lalu duduk di kursi yang ada di depan meja besar yang ada di tengah ruangan klub.
Gimana aku mau dengerin kamu, sedangkan kamu aja gak bisa dengerin aku. Ya sudah lah, hanya untuk hari ini aku mau mendengarnya.
"Ano ne ... gini pertama tama ..."
Ai bercerita panjang lebar tentang mimpi mimpi aneh yang sering ia dapat setiap malam. Katanya dia selalu bermimpi bertemu gadis rambut putih dan mata merah. Ai berkata gadis itu sangat cantik dan selalu tersenyum padanya.
"Ohh ... cuma mimpi biasa ...," gumamku.
"Bukan!!!"
Lagi lagi Ai seakan mendengar apa yang aku katakan. Aku semakin ragu kalau Ai benar benar tuli. Mungkin aku akan bertanya padanya sekarang. Aku mengambil ponsel dari saku seragam ku dan mengirim chat padanya.
{Kenapa kamu kadang denger aku ngomong apa?} chat yang kukirim.
__ADS_1
"Emm ... sebenernya aku gak denger, cuma ... kaya ada seseorang yang ngasih tau aku," jawabannya yang tak masuk akal dan pasti aku tak akan mempercayainya.
"Emm ... satu lagi ... aku sering juga mimpi cowok yang matanya hijau loh," ucap Ai sambil meletakan jari telunjuk di dagunya.
"Hmm," aku hanya mengangguk malas.
"Eh? ... loh ... Kaito? ... matamu!" Ai mendekatkan wajahnya ke arahku.
Jarak antar wajah kami hanya sekitar satu sentimeter. Aku sampai bisa merasakan nafasnya. Mata ungunya yang berkilauan itu terlihat sangat jelas. Aku yang gugup ini langsung memalingkan wajahku dan berusaha tetap terlihat tenang.
"Warna mata mu hijau loh ...," katanya menunjuk ke arah wajah ku dengan jari telunjuknya.
"Cuma kebetulan," kataku tanpa menatap wajahnya itu.
"Oh iya ... satu lagi ... aku udah nulis novel untuk lomba besok loh," ucapannya yang sangat membuatku terkejut.
Ai mengeluarkan buku berisi naskah yang ia tulis itu dari dalam tas merah nya.
"Ini ... coba di baca," Ai memberikan naskahnya padaku.
"Ohh ...," aku menerimanya dan mulai membaca naskah itu dan perlahan memahaminya.
Dari yang ku baca, novelnya bercerita tentang tokoh utama perempuan rambut pirang dan mata biru seperti berlian. Dan anehnya dia tak bisa berbicara. Aku bingung kenapa karakter utamanya harus bisu seperti ini.
Dan di saat yang sama aku menoleh ke arah Ai yang sedang memandang keluar jendela menikmati warna oranye dari matahari yang mulai tenggelam. Aku pun sadar bahwa sang penulisnya bahkan tak bisa mendengar, dan dia sengaja membuat tokoh utamanya memiliki kekurangan yang hampir sama dengan dirinya.
"Gimana?" Ai langsung menoleh ke arah ku dan membuatku terperanjat karena terkejut.
"Hmm ... bagus kok," aku mengembalikan naskahnya pada Ai.
__ADS_1
"Bagus lah kalo kamu suka ...," lagi lagi kata katanya membuatku semakin bingung dengan dirinya itu.
Dia ini sebenernya tuli atau gak seh?!