
Kaito
"Sudah saatnya kau menjelaskan semuanya!" Teriakku karena aku tak sabar mendengar kebenaran tentang kehidupanku ini.
Kami berdua kembali berhadapan di ruangan putih tak berujung ini. Lantai putih yang mengkilap, sinar sinar aneh yang berbaris rapi di langit langit layaknya lampu. Gadis rambut putih yang terurai sampai ke punggung, bola mata merah padam yang indah. Ia mengenakan gaun serba putih yang membuatnya terlihat seperti malaikat sungguhan.
"Kaito, sebelumnya aku minta maaf telah merahasiakan semua ini ...,"
"Sebernarnya ...,"
Kejutan, bukan, ini bukan lagi kejutan. Aku tak tahu harus menyebutnya apa tapi. Aku adalah reingkarnasi Dewa Keabadian. Ribuan bahkan jutaan kali aku sudah pernah mati. Yume menjelaskan semuanya dari awal mula kenapa aku bisa terjun ke dunia ini. Semua berawal dari Eden, tempat dimana para malaikat dan dewa hidup damai bersama sama. Tapi kata 'Damai' itu tak seindah yang dibayangkan.
Sampai suatu ketika malaikat bernama Mirai Munmei kerasukan roh iblis yang membuatnya kehilangan kendali. Ia hampir saja membuat kekacauan di Eden, tapi saat itu aku berhasil menghentikan dan menyegel kutukan Munmei. Tapi, sang pencipta atau dewa tertinggi tetap memutuskan untuk menghukum Munmei atas perbuatan yang seharusnya bukan kesalahannya itu.
Dan hukuman yang diberikan pada malaikat atau dewa yang berbuat kesalahan adalah. Dibunuh dan terlahir kembali di dunia ini. Dunia ini jauh lebih mengerikan dari pada neraka, karena itulah sang pencipta menganggap hukuman itulah yang sesuai. Karena di dalam neraka, jiwa kami hanya dirantai dan dibakar selamanya. Tapi jika di dunia, jiwa kami akan terus mendapat penderitaan. Tak ada cara untuk kabur dari penderitaan itu. Jika mati, kami akan tetap terlahir kembali di dunia yang disebut Earth ini. Earth adalah tingkatan terendah dari semua dunia yang ada.
God atau sang pencipta menciptakan Alam Kehidupan dengan kekuatannya dan Alam Kehidupan dibagi menjadi tiga. Eden, Underworld, dan Earth. Eden adalah tempat dimana perdamaian sejati itu ada. Underworld atau neraka adalah tempat dimana peperangan dan pertumpahan darah tiada henti. Dan Earth adalah tempat yang tak terikat oleh apa pun. Semua makhluk bisa melakukan apa yang dia suka.
Kembali ke diriku, Yume mengatakan bahwa diriku tak terima atas hukuman yang diberikan dewa pada Munmei. Dan akhirnya aku menjadi pengkhianat dan berbalik melawan God. Tentu sang pencipta tak bertarung denganku. Dia mengutus dewa kematian bernama Shinjiro untuk membunuhku. Setelah aku mati dalam pertarungan itu, semua kekuatan dan ingatanku lenyap. Dan petualanganku di dunia ini pun dimulai.
Dari Jutaan kali aku mati dan hidup kembali. Bisa saja beberapa kali aku mendapat kekuatan baru di salah satu kehidupan paralel. Setiap kali aku mati, aku tak terlahir kembali di dunia yang sama. Aku akan terlahir di Earth yang lain, singkatnya Earth memiliki jumlah tak terbatas. Tapi Earth satu dengan yang lain itu sama sekali tak berhubungan.
Apa itu? Aku tak paham?!
"Intinya seperti dunia paralel, jika kau mati, kau akan terlahir kembali di dunia yang lain." Jelas Yume.
"Hmm, lanjutkan saja ...," pintaku sembari berusaha mencerna penjelasan tak masuk akal itu.
"Aku, Ai, Saika, sebenarnya adalah satu orang ... yaitu Munmei." Kata kata yang membuatku terbelalak.
"Apa?! Maksudmu?!"
Dari jutaan kali aku mati dan hidup kembali, hanya sembilan kali aku mendapat kekuatan spesial. Dan salah satu dari reingkarnasiku itu mendapat kekuatan Parallel Fate. Kekuatan yang bisa menghubungkan Earth satu dengan Earth yang lain. Intinya dia adalah penjelajah takdir. Namanya adalah Okino Kazuma. Tujuannya menjelajah takdir adalah bertemu dengan dirinya sendiri di kehidupan yang lain. Kazuma ditemani gadis yang tentu saja itu adalah Munmei.
Dan suatu ketika Kazuma bertemu dengan dirinya yang lain. Okino Hiro yang sedang bersama dengan Gadis bernama Mirai Ai. Mirai Ai dan Mirai Munmei adalah satu gadis yang sama dalam kehidupan parallel itu. Sama dengan Kazuma dan Hiro yang sejatinya adalah satu orang. Dari situlah kekacauan takdir dimulai.
Singkat cerita dalam suatu pertarungan Hiro meninggal dunia. Dan Kazuma akhirnya membawa Ai ikut bersamanya untuk kembali ke dunia asalnya. Dan sekarang di dalam satu Earth ada dua Munmei yang harusnya hanya satu saja. Dan kekacauan dimulai saat mereka tiba tiba mati dalam satu pertempuran besar. Mulai saat itu Diriku ditakdirkan untuk bertemu dua gadis yang mencintaiku. Seperti Ai dan Saika yang jatuh cinta padaku sekarang ini.
__ADS_1
Tunggu?! Jika hanya ada dua maka?!
"Lalu? Kenapa sekarang kalian ada tiga?" Tanyaku bingung.
"Bukan tiga, aku bukan manusia, aku hanya roh yang membimbingmu." Kata Yume dengan senyuman manisnya itu.
"Yume, aku masih belum paham," kepalaku yang sempit ini tak sanggup menerima semua penjelasan rumit Yume.
"Sebenarnya, aku bilang ini kesempatan terakhirmu karena ...,"
"Dirimu yang ini berpotensi besar untuk memperbaiki takdir yang kacau ini." Yume mendekat dan menggenggam tangan kananku.
"Maksudmu?"
"Kau adalah reingkarnasi terkuat dari pada yang lainnya." Ia menatapku dengan bola matanya yang sangat indah itu.
"Yume, aku ...," Aku kehabisan kata kata karena masih belum bisa menerima kenyataan ini.
"Tenangkan pikiranmu Kaito, sebelun perang dimulai, nikmati saat saat tenang ini ya?" Senyuman seindah pelangi disertai kilatan cahaya yang menyilaukan mataku.
"Oi?!" Aku tersentak dan terbangun dari alam mimpiku itu. Aku menoleh ke segala arah dan sadar kalau aku sedang duduk di atas ranjang kamarku di rumah Ai yang besar ini. Aku bangkit berdiri dan melangkah menuju jendela kamarku yang masih terbuka lebar malam ini. Aku sedikit membungkuk dan meletakan kedua sikuku sebagai penopang tubuhku.
"Kaito, apa kau ada waktu?" Suara kecil Ai yang perlahan membuka pintu kamarku.
"Hmm? Ada apa Ai?" Aku berbalik dan menghampirinya perlahan.
"Ai? Siapa? Ohh ...," Dia nampak kebingungan dan linglung.
"Kamu kenapa?" Aku menepuk pundak kanannya.
"Aku, apa aku mengganggu?" Dia masuk dan menutup pintu kamarku.
"Ngga kok ada apa?" Aku bingung melihatnya melangkah perlahan lalu akhirnya duduk di pinggiran ranjangku.
"Ano, aku ...," Ai hanya menunduk seakan kehabisan kata-kata.
"Hmm? Ada masalah apa?" Aku mendekat kepadanya.
__ADS_1
"Aku, aku mimpi buruk." Ia memandangku dengan air mata yang sudah mengalir keluar.
Ha?! Dia kenapa?!
"Oi oi, kenapa nangis?" Aku duduk di sampingnya dan mengusap air mata di pipinya menggunakan ibu jariku.
"Aku tak tau, tapi, kita berdua akan mati!" Ai tiba-tiba memelukku dengan erat.
"Hmm? Bukanya kita sudah mati berkali-kali?" Aku membelai kepalanya dengan lembut.
"Kau juga mengingatnya?" Tanyannya terus memelukku.
"Belum, tapi Yume memberi tauku." Aku rasa, Ai mengingat potongan kenangan di kehidupan kami yang sebelumnya.
"Kaito! Aku takut!" Pelukannya semakin erat.
"Hmm, ga perlu takut, aku ada di sini, selalu di sampingmu ...," Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, Ai mendorongku sampai terbaring di ranjang. Ia berlanjut dengan menindih perutku. Tak sampai di situ saja. Ai mendekatkan wajahnya padaku.
"Aku bukannya takut mati ...,"
"Aku takut kehilangan kendali diriku ini ...," Tatapan dan raut wajahnya itu berubah drastis.
"Yuuta, aku mencintaimu!" Ai menyebut nama itu lalu langsung mengecup bibirku tanpa basa basi.
"Yuuta! Yuuta! Yuuta!"
Hoi hoi hoi?! Dia terus menyerangku! Kalau begini aku bisa?!
----------------------------------
Note:
Bagi yang bingung kenapa jalan ceritanya jadi kesana kemari. Setelah Unmei To Shiawase ini tamat.
Masih ada prekuelnya dengan judul
'Kami no Unmei'
__ADS_1
jadi di sana bakal dijelasin awal mula cerita Kaito kenapa bisa sampai di sini.
udah gitu aja makasih support kalian ya hehe...