Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 49


__ADS_3

Langit malam yang penuh bintang. Rembulan yang masih menunjukan setengah dari seluruh cahayanya. Awan yang lalu lalang tanpa tujuan. Kota Natsu, tempat dimana keramaian yang kubenci itu selalu ada.


Gemerlap lampu gedung gedung pencakar langit yang berbaris rapi. Kendaraan yang lalu lalang meninggalkan sedikit polusi. Pohon pohon kecil yang ada di pinggir jalan itu siap menghirup karbon dioksida yang melimpah di sini.


Trotoar yang luas serta ratusan pejalan kaki yang lewat setiap lima menitnya. Lampu lalu lintas yang menjalankan kewajibannya untuk mengatur lalu lintas. Aku berada di dalam salah satu kafe yang ada di pinggir jalanan kota.


Di dalam kafe pun ada keramaian. Aku sebenarnya sangat membenci hal ini, tapi mau bagaimana lagi. Meja bundar kecil dan dua tempat duduk yang berseberangan. Aku duduk tepat di samping kaca besar yang langsung menghadap ke luar kafe.


Di depan ku duduk seorang gadis kemeja merah muda dan rok hitam selutut. Bola mata merah padamnya itu serasi dengan rambut sebahunya dengan warna yang sama. Di hadapan kami ada segelas kopi panas dan segelas teh hangat.


"Kaito? ... kenapa kamu gak ganti baju aja?" Tanya Haru ketika melihat ku masih mengenakan seragam sekolah.


"Males ...," jawabku tetap memandang ke arah luar jendela kafe.


"Hehe ... kamu ini memang cowok unik ...," Haru memujiku tiba tiba.


"Hoi hoi ... jangan pacaran pas lagi kerja ...," suara Kakume yang kami dengar melalui earphone yang kami pakai di telinga kanan kami masing masing.


"Diem aja kamu playboy kampungan ...," ejek ku dengan nada datar.


"Playboy kampungan? ... Hehe sejak kapan Kakume itu playboy?" Haru mengernyitkan dahinya dengan sedikit tawa.


"Apa aku boleh mengatakan alasannya?"


"***** ... aku mau fokus dulu ...," kata Kakume dengan nada kesalnya lalu memutus sambungan komunikasi kami.


"Kaito ... terima kasih sudah mau gabung ke kelompok kita ...," Haru menyeruput segelas kopi panasnya.

__ADS_1


"Hmm ...," aku hanya mengangguk dan tetap memandangi kendaraan yang lalu lalang dari jendela yang tepat berada di sebelah kananku ini.


"Sejujurnya ... tim ini hampir di tiadakan oleh kantor pusat ..."


"Karena kami kehilangan satu teman kami dalam pertempuran ... kami bertiga putus asa dan tak menjalankan misi lagi ..."


"Terutama ... Kakume ... dia sampai menangis di dalam kamar berhari hari ..."


"Kakume biasanya adalah laki laki yang penuh dengan canda tawa ... dan dia orangnya keras kepala ..."


"Dia juga tangguh ... tapi ..."


"Kehilangan seorang Sayuta Yuki memang berat baginya"


"Gadis itu adalah orang yang pertama kali membuat seorang Kakume Christ meneteskan air matanya." Haru mulai membasahi pipinya dengan air mata.


"Perjuangan kalian pasti berat ... demi dunia yang busuk ini ... kalian rela mengorbankan diri ...," aku mengepalkan tangan kananku yang berada di atas meja.


"Kaito ... aku mohon jaga Yuriru ... aku mohon ...," suara Fumio yang kami dengar melalui earphone kami.


"Hmm ... aku tak akan membiarkan seorang pun terluka malam ini," aku tak ingin takdir kembali merenggut nyawa orang seenaknya.


"Ano ... maaf ... tapi apa kamu mau tahu kekuatan ku?" Tanya Haru.


"Gak terlalu ..."


"Hee? ... dasar payah ... etto ... sebenernya aku cuma bisa ...," dia menundukan kepalanya seakan ragu ragu dengan apa yang hendak ia katakan.

__ADS_1


Perasaanku kok gak enak ...


"Aku cuma bisa nyembuhin luka kecil ... hehe," Haru terkekeh sembari menggaruk kepalanya.


"Hmm ... sekecil apa pun yang penting itu berguna"


kenapa tim ini punya orang yang gak guna seh?!


"Kaito ... soal kekuatanmu ... apa kamu memang bisa mengendalikan kekuatan iblis"


"Gak tau ...," jawab ku cuek.


"Maaf mengganggu kencan kalian ... tapi aku sudah terpojok dengan si tua bangka ini!" Kata Kakume dengan nafas yang tak beraturan.


"Hmm ... kami akan ke sana ...," aku dan Haru pun segera berlari keluar dari kafe itu dan mengikuti arahan Fumio dari komunikasi radio jarak jauh kami.


Kami terus menerobos keramaian dan tetap patuh dengan arahan Fumio. Kami berhenti di depan sela sela dua gedung yang sedikit sempit. Gang itu terlihat sangat gelap dan tanpa ujung. Aku salut Kakume bisa membawanya jauh dari keramaian.


"Mati kau sialan!!!" Teriakan Kakume yang kami dengar dari dalam gang itu.


Kami berdua melangkah masuk ke gang gelap ini dan menghentikan langkah kami. Aku melihat Kakume yang terpojok ke tembok karena pria yang kerasukan iblis itu.


Setelan jas kantoran yang serba hitam. Kacamata yang sudah retak. Retakan aneh yang muncul di wajahnya. Mata merah menyala. Pria itu membawa sebilah pedang di tangannya. Dia berbalik dan melihat ku dengan tatapan tajamnya.


"Ka-kaito ...," Haru melangkah mundur perlahan karena ketakutan.


"Haru ... biar aku yang atasi dia ...," aku mulai memejamkan mataku dan menarik nafasku dalam dalam.

__ADS_1


"Kegelapan tak berujung ... bantu aku melenyapkan semua yang ada di depanku ...," aku mengatakan kata kata baru lagi. Entah apa lagi yang akan terjadi, tapi aku bisa merasakan kekuatan mulai mengalir di dalam tubuhku.


"Kaito!!! ..."


__ADS_2