
"Kaito?" Suara kecil nan lembut masuk ke lubang telingaku. Perlahan tapi pasti aku membuka kedua kelopak mataku yang tertutup rapat ini.
"Hmm?" Aku menoleh ke sumber suara dan melihat hal yang mengejutkan. Ai dan aku sedang berbaring dan mengapit Kai di tengah tengah. Kami jelas seperti suami istri yang baru saja punya bayi. Sontak aku langsung terduduk dan ingin bertanya dengan suara keras. Tapi, Ai menunjuk ke arah Kai yang tertidur pulas.
"Huff ... Ai? Kenapa kalian ada di sini?" Tanyaku perlahan.
"Dia nangis gak mau diem ... waktu aku bawa ke sini dia langsung diem terus tidur." Jelas Ai dengan suara lembutnya sembari membelai kepala Kai. Saat menyadari Kai masih belum punya pakaian dan perlengkapan, aku memutuskan untuk menelrpon Sora.
"Etto, Sora ... aku ano ...,"
"Ohh mau pesan perlengkapan bayi? Aku sudah ada di depan pintu rumah kalian." Sela Sora langsung memutus sambungan telepon kami.
"Huff, aku bukain pintu dulu ya?" Aku tetap berusaha untuk tidak membangunkan Kai. Aku berdiri perlahan dan melakukan semua hal dengan hati hati.
Tapi saat aku hendak melewati pintu kamar hal yang tak terduga terjadi.
"Aaaa ... Aaaa ... Oaaa!!!" Kai mulai menangis dengan sangat keras.
Hadeh!!! Repot juga ngurus bocil ...
"Eeh?! Kai Kai ... kak Ai di sini loh ... jangan nangis ya?" Dengan cekatan Ai menggendong Kai dan menenangkannya dengan senyuman manis yang membuatku diabetes itu.
"Mama ...," kata kata pertama yang keluar dari mulut Kai. Aku dan Ai langsung bertatap tatapan tanpa suara selama beberapa detik. Pipi Ai mulai memerah tanda ia pasti berpikir yang aneh aneh.
Mampus ...
"Ai, ikut aja yuk ke depan ... dari pada dia nangis lagi kan?" Aku tersenyum gugup sembari menggaruk kepalaku.
"Hmm," Ai hanya diam dan mengikuti langkahku menuruni tangga menuju ke pintu depan. Aku segera membuka pintu dan melihat Sora membawa kotak kardus besar yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Lama banget sih?! Berat tau?!" Keluh Sora menerobos masuk dan meletakan kotak kardus besar itu di lantai.
"Waahh ... akhirnya! Dasar *****! Bukain pintu ... wah imutnya!" Sora yang hendak marah itu mengurunkan niatnya karena perhatiannya diambil alih oleh Kai yang digendong Ai.
__ADS_1
"Hmm, lagian kenapa bawa kardus besar sendirian coba?" Aku mengangkat alisku tinggi tinggi.
"Woi! Ga ada yang bantu tau!" Kata Sora dengan wajah kesalnya.
"Ya ya ... sekarang Kai butuh pakaian dan botol ...,"
"Semua ada!!" Sora langsung mengambil kaos bayi dan botol susu dari dalam kardus tadi.
"Hmm, ya sudah aku mau keluar bentar ...," Entah kenapa aku merasa ingin ke tempat yang tenang.
"Eh? Mau kemana?" Ai kembali menghentikan langkahku dengan suaranya.
"Sungai Mabuta, aku butuh ketenangan." Aku berbalik dan mengusap kepala Kai sejenak.
"Kalian memang cocok kalau nikah ...," ujar Sora.
Tanpa basa basi lagi aku langsung keluar dari gerbang dan berjalan kaki menuju aliran sungai Mabuta yang sering kudatangi di saat aku butuh ketenangan. Beberapa ratus langkah ku jalani dan akhirnya aku sampai di tempat tujuanku. Aku hanya duduk di kursi kayu panjang di samping lampu taman. Aku suka sekali duduk dan memandangi aliran sungai yang tenang itu. Suara air yang mengalir itu sungguh bisa menyejukan hatiku.
Fuuuu~
"Kaito, aku tau kau pasti di sini." Aku mengenali suaranya, itu adalah Raku. Sahabatku yang menghilang beberapa waktu lalu. Tak kusangka dia tiba tiba muncul seperti ini.
"Raku, kemana aja kamu?" Aku tetap berusaha santai dan memandang ke aliran sungai.
"Aku tak punya banyak waktu, aku hanya minta, bilang pada Mina aku sudah mati." Kata kata yang sama sekali tak ada di pikiranku keluar dari mulut sahabatku itu.
"Kenapa?"
"Agar dia tetap hidup ...,"
Angin kembali bertiup disertai dedaunan yang beterbangan di sekitarku. Raku kembali lenyap seakan menyatu dengan angin. Caranya datang sama seperti caranya pergi. Dia memang benar benar ninja, tak ku sangka sahabatku diam diam mempunyai kemampuan sehebat itu.
Dari kata katanya itu aku mengerti. Raku diancam oleh pihak Shogun akan menghabisi orang yang berhubungan dengan dirinya. Dan sekarang dia dikejar kejar sampai tak bisa hidup tenang. Aku merasa kasihan padanya telah memilih pihak yang salah sebelumnya. Aku merogoh saku celanaku dan mengambil ponselku. Tanpa pikir panjang aku langsung saja menelepon Mina.
__ADS_1
"Halo, ada apa Kaito?" Mina mengangkat teleponku dengan suara beratnya.
"Raku masih hidup ...,"
"Haaa?! Apa?! Yang bener kamu?! Dimana dia?! Dia sehat kan?! Apa dia sakit?! Sekarang dia ada dimana Kaito?!" Mina pastinya terkejut dan ia langsung melempariku denhan berbagai pertanyaannya.
"Tenang dulu ... aku masih belum ketemu dia, cuma kamu bisa tenang sedikit karena dia masih hidup." Tentu aku tak akan mengatakan kejadian yang sebenarnya pada Mina. Dan aku juga tak berbohong sepenuhnya.
"Hmm, Kaito ... temukan dia secepatnya ya? Besok aku gak ikut festival dulu." Tentu aku terkejut mendengarnya.
"Loh, hmm tapi aku akan kerumahmu saat festival." Setelah kupikir pikir dia memilih untuk tak datang dari pada datang tanpa Raku. Dan itulah Mina, jika dulu salah satu dari kami bertiga tak bisa ikut. Dia seenaknya membatalkan rencana pergi ke festival musim panas.
"Terserah ... sampai nanti ..," nadanya kembali berubah lirih dan langsung memutus sambungan telepon kami.
"Yo! Kaito!" Tiba tiba Takumi melompat dari belakang kursi lalu langsung duduk di sebelahku.
"Hmm, apa lagi? ...," aku mulai malas menjalani sisa hari ini.
"Kita ada misi, kudengar kau ingin mengikuti jejakku? Menjadi lebih kuat untuk melindungi teman temanmu?" Ujar Takumi dengan seringai senyumnya itu.
"Tapi bukannya aku bantu Fumio malam ini?" Tanyaku bingung.
"Soal itu, kita berdua yang gantikan tugas Fumio ...," Takumi kembali memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaket seperti biasanya.
"Kalo urusan sama kamu berarti, tugas malam ini berat ...," aku memasang wajah malasku. Aku yang berharap malam ini hanya terjadi pertarungan santai ternyata salah. Jika misi ini melibatkan Takumi, lawannya pasti bukan main main.
"Tenang oi ... malam ini tugasmu hanya satu, kembalikan aku jadi manusia." Takumi menepuk pundakku dengan senyumannya itu.
"Hell Breaker? Memang lawan kita malam ini apa?" Lanjutku bertanya karena penasaran siapa lawan kami sampai Takumi membuka mode penghancur nerakanya itu.
"Pertanyaan yang tepat bukan siapa, tapi berapa ... kita akan menghancurkan markas kecil milik Shogun." Kata Takumi, aku tahu kata Kecil tadi artinya tidak semudah yang di bayangkan.
"Apa kau bisa menyelesaikannya dalam beberapa detik? Aku lelah," Aku memang sudah terlalu lelah untuk bertarung malam ini. Kekuatanku juga masih belum bisa dikeluarkan. Tak kusangka lock kali ini sedikit lebih lama.
__ADS_1
"Ya sudah, boleh aku ketemu Hanabi sebentar?" Takumi berdiri dari tempat duduknya.
"Huff, ayo ...," tanpa pikir panjang aku segera mengantarnya pulang ke rumah Ai.