
"Eh? Apa aku mati?"
Aku tersadar dan menoleh ke segala arah mencoba mengenali tempat ini. Keramaian yang khas di siang hari. Suara bising percakapan banyak orang. Tawa, teriakan, candaan, semua itu bercampur aduk di dalam ruangan ini. Papan tulis yang terpajang di depan, pintu ruangan yang terbuka lebar.
Meja kursi yang berbaris rapi. Beberapa meja kayu panjang dilengkapi dua kursi di belakang masing masing meja itu. Jam dinding yang menunjukan pukul setengah tiga sore. Langit biru yang akan segera berubah menjadi oranye. Aku bisa melihat sang cakrawala hanya dengan menoleh ke luar jendela yang tepat berada di sebelah kiriku ini.
Bukanya ini kelasku? Ohh, iya ... Tunggu?! Ada yang salah.
Perhatianku diambil oleh seseorang yang menyentuh lenganku dengan jari telunjuknya berkali kali. Sontak aku menoleh ke arahnya, dan betapa terkejutnya aku melihat gadis cantik yang duduk sebangku denganku ini. Rambut pirang keemasan dengan bola mata biru seperti berlian. Ai, gadis yang menyembunyikan suaranya tanpa alasan yang jelas.
Aku ingat, ini adalah kehidupanku sebelum Fate Restart Yume yang kedua kalinya. Laki laki kacamata yang duduk di bangku depanku ini pasti adalah Raku. Dan gadis cerewet rambut pendek yang sedang asyik dengan temannya di depan kelas itu pasti adalah Mina.
"Ne, ne, Kaito, apa kalian sudah siap siap untuk study tour besok?" Ujar gadis rambut merah padam terurai yang duduk sebangku dengan Raku di depanku ini.
Haru? Aku mengingat semuanya?! Apa aku benar mati?!
"Study Tour?! Ha?" Tentu saja aku terkejut, aku seperti baru bangun dari mimpi burukku setelah ditusuk oleh dewa kematian.
"Kenapa kaget gitu? Apa ada yang salah?" Tanya Raku dengan wajah datarnya. Suara dan wajahnya benar benar berbeda. Sikapnya itu bahkan hampir mirip denganku.
"Emm iya, kayaknya aku habis anu ...," aku melihat telapak tanganku sendiri dan melihat ke seluruh tubuhku sendiri.
"Heh? Kamu kenapa sih, cari apa dasar Kaitolol!?" Mina berlari menghampiri kami berempat.
"Humm, mungkin dia lupa bawa uang?" Ujar Raku dengan tatapan dingin yang memancar keluar dari kacamatanya itu.
"Bu-bukan, ahh ... lupakan." Aku sadar tubuhku berubah jadi sedikit lebih kurus dan pendek.
"Jadi, kita bakal kemana?" Aku kembali memasang wajah santai dan menyangga daguku dengan tangan kanan yang ada di atas meja.
"Heeeeee?!" teriak Raku, Haru, dan Mina serentak.
"Aku ga perhatiin tadi, bisa kalian jelasin?" Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela.
"Huff, dasar Kaitolol! Ya udah aku jelasin ulang!" Mina duduk di atas mejaku dan Ai.
Menurut penjelasan Mina, besok adalah study tour musim panas yang dilakukan rutin setiap tahun. Seluruh murid kelas 2A sampai ke 2F akan pergi ke daerah pegunungan Nayama. Berbeda dengan gunung Okiyama, Nayama adalah pegunungan yang sangat besar. Daerah itu terletak di bagian selatan negara Hatsu ini. Gunung Nayama juga ada di kehidupanku yang sekarang, daerah itu dipenuhi dengan pepohonan hijau nan rimbun. Jalanan yang menanjak dan meliuk-liuk, dan udara sejuk khas pegunungan.
Kami akan menginap selama tiga hari di sana. Dan itu cukup lama jika aku harus menjalani hari hari itu, aku tak punya banyak waktu di kehidupan nyataku sekarang ini. Jangan-jangan aku benar benar sudah mati. Ah, sudahlah, nikmati saja saat saat tanpa pertarungan yang merepotkan ini. Lagi pula Ai juga ada di samping kananku sekarang ini. Ya walau bukan Ai yang kukenal sekarang, tapi si tuli itu dan si bisu di sampingku ini adalah gadis yang sangat aku cintai.
__ADS_1
"Etto, Sumimasen! Apa aku mengganggu?" Ujar seorang gadis jepang yang tiba tiba ikut menghampiri kelompok kami.
Dia?! Naya?! Dan didalam dirinya, pasti ada Yume kan?!
"Naya-chan! Tentu tidak! Kau penyelamatku, aku jadi obat nyamuk dua pasangan ini!" Mina melompat turun dari meja dan berlindung di balik punggung Naya.
"Hee ... bilang aja kamu jomblo,"
Buak!!
"Aduh!!!?!"
Tanpa basa basi Mina melepas sepatunya dan melemparkanya ke wajah Raku.
"Awas aja bilang gitu lagi!!? Aku lempar sepatu satunya nih?!" Acamnya dengan wajah penuh amarah.
"Udah udah, aku mau pulang!" Aku bangkit berdiri dari tempat duduk seraya menggendong ranselku.
"Humm, buru buru banget?" Tanya Raku yang keningnya masih terdapat bekas sepatu Mina.
"Ai? Mau pulang bareng?" Tentu saja aku ingin menghabiskan banyak waktu bersama si bisu itu. Ia hanya mengangguk menanggapiku lalu membawa tas tangannya itu.
"Ai, apa ga masalah?" Aku meminta izin untuk menggenggam tangannya lebih lama. Dan seperti yang aku duga, ia hanya mengangguk dengan rona merah yang memancar di kedua belah pipinya itu. Setelah beberapa saat menyusuri koridor, akhirnya kami berhasil melewati pintu keluar gedung sekolah.
Aku sangat merindukan suasana ini. Suasana dimana tak ada pertempuran dan konflik. Hanya ceritaku bersama si bisu di sisiku ini. Ketika kami keluar dari gerbang sekolah, Ai memintaku untuk menghentikan langkah. Ia mengambil buku catatan kecil beserta pulpen di saku seragamnya itu.
'Kenapa kamu berbeda dari biasanya?' Tulisan yang ia tunjukan kepadaku.
"Umm? Ga tau, apa kamu ga suka?" Aku mengangkat alisku tinggi tinggi. Dan ia hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah tersipu malunya yang khas itu.
"Hmm, jadi, ayo pulang bareng?" Ucapku lalu mendahului langkahnya.
Kami berdua berjalan berdampingan di jalan menuju rumah kami. Suasana musim panas yang khas, juara serangga yang meninggi. Langit biru mulai merubah dirinya menjadi oranye.
"Ai, apa kamu mengingat sesuatu?" Gumamku di tengah langkah kami. Seketika Ai menghentikan langkahnya dan mencorat coret buku catatan kecilnya.
'Apa maksudmu?' Ia menunjukan hasil coretannya itu padaku.
"Ohh, ga apa apa." Aku menggelengkan kepalaku. Ai kembali menulis ke halaman baru dari buku catatan kecilnya itu.
__ADS_1
'Aku pulang duluan ya?' Setelah menunjukan tulisan itu ia langsung berlari pergi meninggalkanku.
"Eh? Kenapa dia lari?" Aku mengeryit heran.
"Kaitolol!! Ngapain masih di sini??!" Mina berlari dan menabrak punggungku dengan sengaja.
"Oi? Sakit tau," ucapku cuek. Dan aku baru ingat, di kehidupanku yang ini. Rumah Mina tepat di sebelah rumahku. Juga, aku mengingatnya, dia punya perasaan denganku.
"Mau pulang bareng?" Ajaknya dengan senyum cerianya itu.
"Hmm," aku kembali berjalan tanpa mempedulikan sahabatku itu.
Sepanjang perjalanan Mina mengoceh tanpa henti. Dia bertanya tentang barang apa yang akan kubawa besok. Sampai ia menanyakan keadaan Hanabi. Tentu aku tak menanggapinya dengan serius.
"Oh ya, Ai kemana? Bukanya dari tadi kalian jalan bareng?" Pertanyaannya itu membuat jantungku berdegup kencang. Dan aku pun menghentikan langkah kakiku karena merasa ada yang tak beres.
"Kai? Ada apa?" Tanya Mina bingung.
Aku menoleh ke segala arah dan menyadari sedang berdiri di tengah perempatan jalan. Dan jika aku belok ke arah kanan, itu berarti aku bisa menuju ke rumah Ai.
"Mina, kau pulang saja dulu, aku ingin ke rumah Ai." Aku menepuk pundak sahabatku itu lalu pergi meninggalkanya.
Ada yang ga beres, kenapa aku kembali ke sini?! Dan kenapa perasaanku tak enak?!
Apa aku benar benar mati?!
---------
Unmei Series
•Ai No Koe
>Umei To Shiawase
• Penjelajah Takdir
(Masih banyak yang belum rilis)
Jangan lupa like-nya ya!
__ADS_1