
"Senpai?"
Aku mendengar suara yang belum pernah kudengar sebelumnya. Hanya saja, suara itu terdengar tak asing bagiku. Dan juga, suasana ini. Rak rak buku besar yang berbaris rapi. Bau kertas yang khas, suara halaman buku yang saling bergesekan. Aku duduk di depan meja kayu panjang warna putih.
Di depan ku ada sebuah buku tulis dan pulpen yang tergeletak di atas meja. Aku masih mengenakan seragam SMP-ku sekarang. Dan ada seorang gadis yang duduk di sampingku. Rambut pirang keemasan sebahu, bola mata biru yang seperti berlian. Dia juga mengenakan seragam SMP-nya dan rok pendek warna biru muda.
Siapa dia?
Di saat yang sama aku terbangun karena merasakan tetesan air yang jatuh di pipiku. Aku tersadar dan menyadari aku masih ada di dalam hutan bersama Saika yang ada di samping kiriku. Tak lama kemudian tetesan air mulai berjatuhan dari angkasa. Hujan, tak kusangka malam ini akan turun hujan.
Untung saja kami dilindungi oleh dedaunan lebat di atas kami. Untung saja pohon ini memberi kami tempat berlindung sementara. Walau ada tetesan air yang berhasil menembus celah celah kecil dan jatuh di atas rambutku.
"Senpai? hujan ya?" Saika juga ikut terbangun karena tetesan air yang mengenai wajahnya.
"Apa kamu masih kuat?" Tanyaku karena melihat wajah pucatnya itu.
"Hmm," Saika mengangguk lemas.
Kenapa Fumio lama sekali?!
Apa terjadi sesuatu?!
Krak!
Di saat yang sama aku mendengar suara ranting pohon yang terinjak oleh kaki seseorang. Di tambah sorot lampu seperti cahaya lampu senter yang bergerak kesana kemari tanpa tujuan.
Apa itu Fumio?
"Saika jangan berisik ya ... mereka ada di sini." bisik ku perlahan.
Mereka pasti orang dari pemerintahan itu. Fumio sudah memperingatkanku agar terus bersembunyi sampai ia datang. Fumio bisa melacak keberadaan kami dengan mudah. Dia tak akan repot repot menggunakan senter seperti itu. Aku bisa merasakan mereka semakin dekat dengan kami berdua. Aku tak bisa membiarkan mereka menemukan Saika yang tak berdaya sekarang ini.
Lebih baik aku saja yang mereka tangkap. Benar, aku akan mengalihkan perhatian mereka supaya Saika tetap aman di sini. Aku juga bisa kabur dengan mudah dengan Light Speed-ku. Aku juga punya kesempatan untuk mengalahkan mereka.
"Senpai, jangan." Saika menahan tangan ku ketika aku hendak berdiri dan menjalankan rencanaku.
"Saika ... bahaya kalau kita sampai ketahuan di sini."
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka, kamu di sini aja oke?" Jelasku perlahan.
__ADS_1
"Senpai jahat"
Satu kata yang paling ku benci jika aku mendengarnya. Aku seakan tak bisa menolak permintaannya setelah kata kata itu keluar dari mulutnya.
"Tetaplah di sini bersamaku."
"Kalau perlu, kita bisa mati bersama di sini." aku tidak mengharapkan kata kata itu dari gadis mesum sepertinya.
"Maaf tapi aku belum ingin mati."
"Ada orang yang menungguku di rumah."
"Owh ... jadi memang bener Ai-senpai itu istrinya Kaito-senpai." Ujarnya dengan sorot mata dinginnya itu.
"Masih sempet ya kamu bercanda?!" aku selalu saja kesal dibuatnya.
Oh iya!
Aku baru sadar disampingku ada anak panah dari orang pemerintahan itu. Mungkin saja benda inilah yang membuat kami bisa dilacak dengan mudah. Kenapa aku sangat bodoh!! Saika bisa saja dalam bahaya karena kesalahanku ini.
Sekarang sudah terlambat untuk menyadarinya. Dasar bodoh!! Bodoh!!! Bodoh!!!
"Kami akan menggunakan cara kasar!"
Ternyata benar, itu adalah suara pria yang tadi menodongkan pistol padaku. Sekarang tak ada tempat untuk bersembunyi lagi. Mereka pasti akan membunuh kami berdua jika mereka mau. Kami pasti akan mati jika tak berbuat apa apa. Berpikirlah dasar bodoh!!
"Senpai, biar aku yang menghadapi mereka." Saika malah berusaha berdiri walau dirinya sudah tak berdaya karena kehilangan banyak darah.
"Dasar cewek *****!" Aku menarik tangannya dan membuatnya kembali jatuh di pelukanku.
"Kamu gak akan bisa kencan kalau kamu sendiri gak punya nyawa tau?!"
"Duduk diam di sini dan tunggu aku kembali oke!" Aku kembali menyandarkan Saika di batang pohon besar itu.
"Apa Senpai mau kencan denganku?" Pertanyaan tanpa ekspresi yang selalu ia lontarkan padaku.
"Hmm ... sekarang, tunggu di sini sampai aku kembali ya?" Aku mengangguk dan mengusap kepalanya perlahan.
Aku bangkit berdiri dan membawa anak panah besi itu berlari bersamaku. Di saat yang sama sorot lampu senter itu langsung mengarah kepadaku. Aku tak menghentikan langkah ku dan terus berlari menjauh dari tempat persembunyian Saika.
__ADS_1
"Kesini payah!!!" Teriakku mengambil semua perhatian mereka.
"Dasar orang bodoh!"
Zrak!!!
Bocah laki laki itu kembali menembakan anak panahnya. Untung saja perhitungannya salah dan anak panah itu menancap di pohon tepat di depanku.
"Cih ..."
Aku terus berlari entah kemana arahku ini. Aku terus menghindari anak panah yang terlontar padaku. Beberapa kali aku menghentikan langkahku di balik batang pohon besar untuk sekedar menarik nafas. Mereka terus menghujaniku dengan anak panah yang tiada habisnya.
"Kabur atau lawan?!" Gumamku dengan nafas yang tak beraturan.
Jika aku melawan, Saika pasti bisa dalam bahaya!
Jika aku kabur, mungkin mereka tetap bisa melacak kami!
"Kaito! jangan lawan mereka." Suara bisikan Kakume yang tubuhnya sama sekali tak terlihat karena kemampuan Stealth-nya itu.
"Lalu?" Aku sedikit tenang karena mengetahui bala bantuan sudah tiba.
"Mereka bisa melacakmu hanya jika kau menggunakan kekuatan mu."
"Sekarang bawa Saika pergi dan serahkan sisanya padaku!" Ucap Kakume penuh percaya diri.
"Payah! tapi jangan mati!"
"Tenang lah, aku tak akan mati perjaka tau!" Kakume muncul di sampingku dan menepuk pundakku.
"Hmm ... aku pegang omonganmu itu ya?!"
"Hehe! serahkan mereka padaku ketua!" Kakume terkekeh dan berlari keluar dari balik pohon untuk menarik perhatian orang pemerintahan itu.
"Aku di sini payah!" Teriak Kakume lalu berlari mengalihkan perhatian mereka.
Aku pun mengambil kesempatan ini dan kembali berlari ke tempat persembunyian Saika. Aku senang karena Saika masih duduk dan menunggu ku di sini. Aku segera menggendongnya di punggungku dan membawanya keluar dari hutan Hagume ini.
Kakume! tolong jangan kecewakan aku!
__ADS_1