Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 187


__ADS_3

Kaito


Terik matahari yang menyengat kulit. Sang surya yang bersinar terang tanpa ditemani para awan awan seperti biasa. Angin hangat yang bertiup kesana kemari. Aku berada di atas atap salah satu gedung di kota Seoul ini. Siang ini adalah hari terakhirku di Korea selatan. Tentu aku tak ingin membuang buang waktu. Seharian kemarin aku sudah membunuh beberapa Tenshi tanpa mencuri kekuatan mereka.


Membunuh, ternyata menyenangkan juga ...


Jaket hitam dan celana panjangku ini sudah kotor dengan debu. Aku sama sekali tak pernah beristirahat. Setiap detik sangat berharga bagiku sekarang ini. Aku mengecek kembali daftar targetku di ponsel sembari menikmati angin musim panas di atas atap gedung ini.


"Maru, gadis yang sudah membantai seratus orang tanpa alasan yang jelas?" Gumamku membaca informasi targetku ini.


Ia adalah ahli pedang, Maru bisa memanfaatkan keahliannya itu dengan baik. Dia bahkan memiliki kemampuan sihir untuk mengeluarkan aliran listrik. Lawanku sekarang ini adalah gadis yang ganas. Aku harus menggunakan Ten Kara No Ken milikku. Mungkin tak masalah jika aku menggunakan mode Dark Beast sekali ini saja.


"Wah wah wah, ada cowok nih?" Suara gadis yang tiba tiba berdiri di belakangku.


"Ha?!" Dengan santai aku menoleh ke belakang dan memasukan ponsel ke dalam saku celanaku.


"Apa kamu mau main pedang pedangan?!" Ujarnya memamerkan dua bilah pedang di tanganya itu.


Dia berumur sekitar satu atau dua tahun lebih muda dariku. Tingginya hanya se daguku. Dan ia memakai topeng kayu warna putih polos dengan lubang yang ada tepat di depan matanya. Ia memakai zirah warna merah seperti yang digunakan para Samurai wanita di anime.


"Apa kau Maru?" Tanyaku santai.


"Dari mana kamu tau? Apa kamu penggemarku?" Ia melangkah mendekat kepadaku.


"Hmm, aku datang untuk memburumu." Karena merasa terbebani, aku meletakan ranselku di belakang kakiku.


"Hwa!? Kamu ternyata tampan," ia menyentuh daguku dengan jari telunjuknya.


"Dan ... itulah yang membuatku semakin ingin membunuhmu!"


Bruak!!!


"Whoa!!?"

__ADS_1


Maru menendangku dan membuatku kehilangan keseimbangan lalu akhirnya terjun bebas dari atas atap gedung itu.


"Huff, dasar cewe sadis," ujarku lemas sembari menunggu tubuhku menghantam tanah.


Boomm!!!


Pada akhirnya punggungku menghantam aspal jalan raya dan membuatnya remuk. Para pejalan kaki di trotoar berteriak panik dan mobil mobil yang hendak menabrakku berhenti mendadak. Tentu tubuhku baik baik saja, berkat kekuatan yang kucuri dari Lee kemarin. Tubuhku jadi sekeras batu, dan sangat kuat pastinya.


"Hadeh, oi? Bahaya tau!" Aku bangkit berdiri dan membersihkan debu yang menempel di jaketku ini.


"Hahahah!! Siapa peduli!!" Maru juga ikut melompat dan hendak menerjangku dari atas menggunakan kedua pedang yang sudah dialiri listrik itu.


"Terlalu lemah," aku tak menghindari serangannya itu. Aku hanya diam dan menunggu kapan ia menghantamku.


Duar!!!


Kedua bilah pedangnya berbenturan dengan lengan kiriku dan menimbulkan amukan angin yang sangat besar. Pejalan kaki lain berhamburan menjauh dari area ini. Dan para pengendara mobil meninggalkan kendaraan mereka di tengah jalan. Aspal yang kupijak makin hancur dan bahkan sudah membentuk kubangan.


"Apa cuma itu kemampuanmu?"


"Ten Kara No Ken ...," gumamku perlahan lalu sebuah pisau muncul di genggaman tangan kananku.


"Wah wah wah, ternyata kamu tidak lemah, sepertinya siang ini aku dapat hiburan!" Ia kembali bangkit dan melesat ke arahku.


Aku menghindari setiap serangannya itu dengan mata yang mulai mengantuk ini. Sebenarnya aku tak ingin buang buang waktu, jadi mungkin aku langsung saja mengakhiri hidupnya. Ketika melihat sedikit celah, aku langsung memanfaatkannya. Aku melancarkan satu tendangan dan dua kali pukulan ke perut dan dagunya. Tak sampai di situ saja, aku menggores lengan kirinya dengan pisau dari surgaku ini.


"Aww!!! Sakit tau?!" Maru melompat mundur menyadari darah yang mulai keluar dari goresanku tadi.


"Tak peduli kau ahli pedang atau apa, jangan buang waktuku terlalu lama!!!" Tanpa basa basi aku melancarkan seranganku tanpa ampun sedikit pun. Aku mengayunkan pisauku kesana kemari dan membuatnya kualahan menahan usahaku ini. Beberapa kali serangan yang kulayangkan ini membuahkan hasil. Beberapa kali pisauku ini berhasik merobek kulitnya. Dan secara tak sengaja aku membuat retakan kecil yang membelah topeng kayunya itu.


"Maafkan aku!" Aku menjegal kakinya dan membuatnya tergeletak di atas aspal jalan ini.


"Ternyata, kamu lebih kuat dari yang kuduga," ujarnya lemas tak berdaya.

__ADS_1


"Dengan ini selesai sudah tugasku di negara ini!" Aku menusukan pisau tajamku ini tepat ke jantungnya dan membuat darah merah segar muncrat keluar.


"Siapa na-ma-mu?" Tanya Maru saat ajal hendak menjemputnya.


"Kaito, Okino Kaito." Jawabku.


Krak!


Topeng kayunya itu terbelah jadi dua dan terlepas dari wajah Maru. Dan sekarang terlihat jelas seperti apa muka gadis yang baru saja aku bunuh ini. Ia memiliki rambut pirang yang dikuncir, dan bola mata hijau padam. Maru tersenyum padaku dengan darah yang keluar dari mulutnya. Kelopak matanya perlahan menutup, dan entah kenapa aku mengingat sesuatu.


"Munmei?" Aku terbelalak saat mengingat Munmei yang pertama kali aku temui di Eden. Rambut pirang dan mata hijau padam, gaun sekaligus zirah berwarna biru tua itu masih melekat di kepalaku sampai sekarang.


Apa ini?! Ingatanku mulai kacau!?


Aku kembali bangkit berdiri perlahan dengan isi kepalaku yang kacau ini. Munmei, aku mengingat wajahnya saat pertama kali kami bertemu di Eden. Aku mengingatnya, aku baru saja membunuhnya. Langkah kakiku mulai tak beraturan, cara berjalanku hampir sama seperti Akame.


"Apa ini?!" Aku berhenti di depan tiang lampu jalan dan menyandarkan keningku ke tiang itu.


"Kaito!"


Aku menengok ke belakang dan melihat Shinjiro berdiri di hadapanku. Laki-laki eksotis berbadan tinggi. Rambut putih dan manik mata kecoklatan yang menatapku tajam. Ia masih mengenakan zirah merah yang sama seperti saat terakhir kali aku melihatnya beberapa waktu lalu.


"Apa?"


Bruak!! Buk!!! Crat!!!


Karena pikiranku yang sangat kacau ini aku tak bisa menghindari serangan tiba tiba yang ia lancarkan. Ia memukulku beberapa kali dengan tinjunya lalu menusuk perutku menggunakan sebilah pedang yang dari tadi ia bawa. Aku hanya bisa diam dan merasakan rasa sakit yang luar biasa. Perutku mulai mecucurkan darah keluar. Saat Shinjiro mencabut kembali pedangnya itu, aku langsung tersungkur lemas tak berdaya.


Apa aku mati? Mana mungkin aku mati?! Ya aku mati kali ini, lagi ...


Pandanganku mulai kabur dan kesadaranku perlahan memudar. Tunggu, aku melihat seorang gadis yang berdiri di samping Shinjiro, sial, pandanganku semakin buram. Aku tak bisa mengenali wajahnya.


"Shinjiro! Apa yang kau lakukan?! Seharusnya kau ....,"

__ADS_1


Sebelum mendengarnya menyelesaikan kalimat itu. Kesadaranku sudah sepenuhnya menghilang.


__ADS_2