Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 73


__ADS_3

Kaito


Suara air keran yang mengalir keluar di wastafel. Aku melihat wajah ku sendiri dari pantulan cermin yang ada di atas wastafel. Rambut hitam dan poni yang berada di antara kedua mataku. Bola mata hijau padam. Lagi lagi aku merasa aku bukanlah diriku.


Memang sulit menjelaskannya. Tapi aku benar benar merasakannya. Aku terkadang lupa dengan wajah ku sendiri. Aku terkadang berpikir untuk apa aku di sini. Kutukan, iblis, dewa, Tenshi, gebang neraka, semua itu membuat hidup ini tak masuk akal.


Aku sudah merasa lelah sejak awal. Dan sekarang aku merasa tak ada gunanya berjuang untuk dunia yang setengah busuk ini. Sebenarnya aku ingin kembali ke masa lalu dan merasakan kehidupan ku sebelum Fate Restart.


Aku tak tahu kenapa aku berada di sini. Aku hidup tanpa arah. Aku berjuang tanpa alasan yang jelas. Hanabi, hanya untuknya aku berjuang sampai sekarang. Tapi, mungkin Takumi benar. Aku belum cukup kuat untuk melindunginya.


Aku bahkan tak bisa melindungi Kakume dan Haru. Omong kosong, aku sama sekali tidak bisa melindungi mereka. Aku hanya bertarung sendirian tanpa mempedulikan mereka. Aku egois, aku bodoh, tak bisa diandalkan. Aku selalu gagal dalam semua hal yang ingin aku lakukan.


Aku pasti akan gagal ...


Maafkan aku, aku hanya orang gagal yang berusaha untuk tetap hidup. Seseorang, tolong bantu aku menemukan tujuan hidup. Seseorang, tolong berikan aku tujuan hidup.


"Cih ..."


Aku mematikan keran air di wastafelku dan melangkah keluar dari kamar mandi.


"Kaito? ... udah baikan?"


Ai duduk di atas ranjangku dan melempar senyum manisnya itu padaku. Aku terkejut karena sebelum aku masuk ke kamar mandi, yang ada di dalam kamarku adalah Ema.


"Ai ... jangan berubah ubah seenaknya oi ...," ucap ku kesal.


"Ohh ... tadi pagi alat bantu dengarku masih rusak ... jadi aku memanggil Ema untuk menggantikanku sementara"


"Sekarang alat bantu dengarku udah normal kok," alasan yang aneh untuk menggunakan kemampuan spesialnya.


"Oh iya ... apa kamu gak sekolah?", tanyaku.


"Terus kamu gimana?" Ai memiringkan kepalanya, ekspresinya itu terlihat sangat imut.

__ADS_1


"Aku kan cowok ..."


"Terus kalo cowok emang gak bisa mati?"


"Hmm ..."


"Udah sini tiduran lagi ...," Ai menuntun ku untuk kembali ke ranjang.


Aku duduk di pinggiran ranjangku. Aku tidak pernah menyangka Ai akan tinggal satu atap denganku. Ditambah lagi dia sangat peduli padaku. Entah apa yang ada di pikirannya sampai membuatnya sangat peduli padaku.


"Ai ... makasih ...", gumamku.


"Apa? ... kamu bilang sesuatu?", tanyanya sembari duduk di kursi kayu yang ada di samping kasurku.


"Hmm ...", aku menggelengkan kepalaku dan menatap lantai.


Kaos putih dan celana pendek warna ungu yang ia kenakan. Bola mata ungunya yang terlihat indah. Rambut hitam panjang yang terurai. Gadis yang bersamakku ini, dia juga adalah bagian dari masa laluku.


Apa mungkin dia bisa membei ku tujuan hidup?


"Hemm ... untuk saat ini sih ... aku cuma ingin menulis novel dan menghidupkan kembali klub sastra di sekolah"


"Ohh ..."


Bukannya bermimpi untuk bisa mendengar denga normal. Si tuli payah ini malah memimpikan hal yang tak berguna.


"Kalau Kaito?", Ai menatapku dengan matanya yang berbinar itu.


"Aku cuma ... ingin menjaga senyuman kalian ..."


"Haa? ... impian apa itu? ... senyuman?", Ai mengernyit heran meletakan jari telunjuknya ke dagunya.


"Apa aku harus senyum sekarang? gini kah?" Lanjut Ai sembari tersenyum lebar ke arahku.

__ADS_1


Sikapnya itu, entah kenapa hati ku selalu merasa tenang ketika melihat senyuman indah nya itu. Sepertinya suatu perasaan mulai tumbuh di hatiku. Tapi apa itu?


"Ai ... apa kamu udah ngumpul naskah novel kamu untuk lomba yang kemarin?"


"Oh ... udah ... semoga aja aku menang ya ...,"


"Kaito? ... kenapa kamu keliatan murung?" Ai mendekatkan wajahnya padaku.


"O-oh ... gak ada apa apa kok", aku memalingkan pandanganku karena wajah kami begitu dekat.


"Ne ... ne ... aku pengen dong denger cerita dari kamu ...," Ai menarik lengan kaos ku berulang kali.


"Ce-cerita apaan?" Entah kenapa aku malah gugup karena sikapnya padaku.


"Pasti seru kan? ... setiap malam bunuhin iblis apalah itu namanya ...",


"Kalo aku gak mau gimana?"Aku berusaha cuek dan memalingkan wajahku darinya.


"Heee? ... Kaito ... ayolah ... sedikit aja ... ya ya ya?!" Ai menarik lengan kaosku berulang kali dan terus menatapku dengan wajah memelasnya itu.


"Huff ... oke oke ...," aku menyerah, aku tak bisa menolak permintaanya sama sekali.


"Tapi janji jangan cerita ke siapa siapa ya?" Pesanku sebelum bercerita panjang lebar.


"Janji!" Ai mengacungkan jari kelingkingnya.


"Jangan ngalamun aja katanya janji ...", Ai menarik tangan kananku dan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking tangan kananku.


Apa ini?


Aku terpaku melihat senyumannya itu lagi. Aku seakan tak bisa melepaskan pandanganku darinya.


Apa ini adalah cinta?

__ADS_1


*****!!! ... jangan terlalu berharap!


__ADS_2