
Akiba Takumi
Kegelapan yang menyelimuti kamarku. Jendela yang terbuka lebar dan membiarkan angin musim semi masuk. Pancaran cahaya lampu dari pintu kamar mandiku yang sedikit terbuka. Jarum pendek jam dinding yang terpajang di kamarku sudah berada di angka sepuluh.
Malam ini, lagi lagi, aku akan membunuh para mayat hidup yang berada di jalanan. Aku bangkit dari ranjang ku dan melangkah menuju ke cermin yang ada di atas wastafel kamar mandiku.
"Cih ..."
Warna rambutku seperti warna api yang menyala di sumbu lilin, warna oranye cerah. Poni rambut yang menutupi mata kananku. Bola mata hitam yang memantulkan cahaya. Entah kenapa aku merasa tak suka kepada wajahku sendiri.
Aku membasuh wajahku dan mengeringkannya dengan handuk yang ada di samping wastafel.
Ting tung~
Ponsel yang ada di atas meja samping ranjangku berbunyi tanda pesan masuk. Tanpa pikir panjang aku segera keluar dari kamar mandi dan mengambil ponselku.
{Bereskan barang barang mu}
{Kota selanjutnya adalah Natsu}, chat yang ku terima dari petinggi Enjeruhanta.
"Ohh ... apa ada yang menarik di sana?" gumamku sembari memegang daguku dengan senyuman tipis.
"Tapi ... esok adalah esok ... hari ini tetaplah hari ini"
Aku segera memakai jaket hitamku dan tak lupa memakai sepatu olahraga warna putih milikku. Aku keluar dari kamar yang ku sewa di sebuah hotel. Aku menyembunyikan kedua tanganku di dalam saku jaket ku dan melangkah dengan santai.
Aku turun dari kamarku yang ada di lantai tiga menuju lobby hotel. Aku segera keluar dari hotel itu dan menghadapi kegelapan malam hari ini. Aku berjalan di trotoar yang ramai ini.
Kendaraan yang lalu lalang di tengah jalan. Gemerlapnya gedung gedung pencakar langit yang berbaris rapi. Orang orang yang lalu lalang di sekitarku. Mereka tersenyum dan tertawa karena tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Aku terus melangkah dalam diam melewati kerumunan manusia yang katanya tanpa dosa itu. Aku terus berjalan kemana hatiku mau. Setelah beberapa menit aku berjalan mengelilingi indahnya kelap kelip lampu gedung. Aku menghentikan langkahku di depan sebuah gang sempit yang tercipta karena ada jarak di antara dua gedung besar.
Gang itu gelap, sunyi,dan kotor. Sampah sampah berserakan di sekeliling bak sampah besar yang ada di sisi gang itu. Yang menarik perhatianku adalah, aku melihat dua bola mata merah yang bersinar terang di tengah kegelapan. Dan juga jantung iblis yang bersinar warna oranye.
Orang orang lain hanya melewatiku tanpa sadar apa yang ada di dalam gang sempit nan gelap itu. Dasar manusia buta dan tak berguna. Aku perlahan masuk ke kegelapan itu dengan santai. Aku tetap meletakan kedua tanganku di dalam saku jaket yang ada di kedua sisi pinggangku ini.
"Hoi ... pulang sana ...," aku menghentikan langkahku di depan hadapan Akame tak berguna itu.
__ADS_1
"Cih ..."
Tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke arahnya dengan sangat cepat.
Swush!! Jrat!!! Buk!!!
Aku mengayunkan kaki kananku ke arah kepala Akame itu dan membuat lehernya putus. Kepalanya melayang sejenak sebelum jatuh kembali di tanah dengan darah hitam yang mengalir keluar.
"Cuma satu tendangan saja ya?", gumamku dengan senyuman tipis.
"Angkat tangan!!"
Tiga orang pria yang membawa senapan laras panjang. Mereka semua mengenakan pakaian militer lengkap dengan armor dan helmnya. Mereka menodongkan moncong senjata tak bergunanya itu padaku.
"Untuk apa?" Tanyaku tanpa takut sedikitpun.
"Kami dari Enjeruhanta! ... kau pasti Tenshi! ... kami harus membunuhmu sekarang juga!" Teriak pimpinan mereka yang berdiri paling depan.
"Hee?" Aku memiringkan kepalaku dengan senyuman santai di wajahku.
"Tembak!!!"
Tratatatatata!!!!!
Mereka menghujaniku dengan peluru yang keluar dari tiga moncong senapan mereka itu. Aku hanya berdiri santai menunggu mereka selesai menembak.
"Ano ... maaf ... tapi gak ada satu peluru yang kena," ucapku santai tanpa mengeluarkan kedua tanganku dari saku jaket.
"Mana mungkin?!"
Mereka terkejut saat melihat peluru dari senjata mereka hanya berhenti di udara tepat sebelum menyentuhku.
"Huff ...," aku menghela nafas dan puluhan peluru yang berhenti di depanku itu terjatuh ke tanah.
"Sepertinya kalian anak baru di Enjeruhanta ya? ... dasar bodoh!"
Aku melesat ke arah mereka dengan sangat cepat.
__ADS_1
Bak!!! Buk!!! Bruak!!!
Aku menendang mereka satu per satu tepat di bagian kepala mereka yang tak memiliki otak itu. Dengan sekejap mata aku merobohkan mereka bertiga ke tanah. Aku menginjak punggung dari salah satu mereka yang tersungkur itu dengan kaki kiriku.
"Nama ku Akiba Takumi ... anggota Enjeruhanta nomor lima ... aku boleh membantai Akame sesuka hati ku,"
"Jika kalian menghalangiku ... mungkin ketua tidak masalah bila kalian mati di tanganku", ucapku dengan senyuman kejamku dan tetap meletakan kedua tanganku di dalam saku jaketku.
"Maafkan kami ...," kata salah satu dari mereka yang tubuhnya kuinjak ini.
"Ohh ... maaf ya?" Aku mengambil senapan mereka yang tergeletak di tanah itu.
Duar!!!
Aku menembak kepala orang yang meminta maaf pada ku tadi lalu kembali melempar senapan itu ke tanah. Alhasil darah pun bercucuran dan sampai menggenang di sekitar kepala orang itu.
"Apa? ... aku hanya membalas kalian dengan satu peluru?"
"Lain kali ... jangan asal tembak," aku kembali memasukan kedua tanganku ke dalam saku jaket dan berjalan keluar dari gang sempit itu.
------------------------
Huaa ... Akiba Takumi itu siapa ya?
Hehe ... buat kalian yang udah baca sape sini aku ucapin makasih banyak ya ...
Dan jangan lupa buat like ke setiap chapternya ya ... satu like dari kalian sangat berharga tau ...
jadi kalo semisal ada chapter yang lupa kalian like ... sempetin like ya ... paling cuma beberapa detik kan?
Sekali lagi makasih buat kalian yang udah support aku ... kalo ada kesalahan pengetikan mohon bantuannya di kolom komentar ...
soalnya aku juga kadang gak teliti hehe ...
OkOk!! udah gitu aja ...
Makasih banyak ...
__ADS_1