
Apa itu tadi?
Aku terduduk di ranjangku dan menyandarkan punggungku ke dinding. Aku terbangun di tengah malam ini karena sebuah mimpi. Tapi aku lupa mimpi yang kudapat setelah aku membuka mataku. Entah kenapa sekarang aku merasa gelisah.
Kamarku masih gelap gulita dan hanya sedikit cahaya yang masuk dari celah tirai yang tertutup. Di dalam kegelapan ini hatiku terus berteriak kesana kemari. Hati ku seakan mengingatkan ku akan sesuatu. Hanya saja aku tak mengingatnya.
Di saat yang sama ponsel di samping bantalku berdering tanda telepon masuk. Aku sedikit melirik jam sebelum mengangkat telepon dari Saika ini. Ternyata aku terbangun tepat pukul satu dini hari. Dan si dingin mesum itu meneleponku di jam-jam seperti ini.
"Senpai, tolong."
"Cih, apa ada PR lagi?" Tanyaku kesal karena mendengar nada datarnya itu.
"Apa Senpai bisa bukain pintu depan rumahmu?" Permintaannya membuatku sangat terkejut.
"Tu-tunggu! jangan bilang kamu ada di depan rumahku sekarang?!" Aku langsung berdiri dari ranjangku dan turun ke lantai bawah untuk membuka kan pintu.
"Apa Senpai gak tidur?" Pertanyaan yang langsung ia lempar pada ku setelah aku membuka pintu depan rumahku.
Gadis rambut putih tak sampai sebahu, poni rambut yang menutupi mata kanannya. Bola matanya terlihat sangat mirip dengan milik Ai malam ini. Ia mengenakan kaos putih dan rok pendek seragam sekolahnya. Dia juga masih memakai kaos kaki hitam dan sepatu sekolah warna putihnya. Tatapan dingin tanpa ekspresi yang selalu ia berikan kepadaku. Untuk apa perisai pribadiku ada di sini?!
"Gimana bisa tidur kalo kamu ganggu malem malem begini?!" Ujarku kesal sembari memegang keningku sendiri.
"Ini jaketnya Senpai." Saika mengembalikan jaket hitam milikku.
"Ha? dateng ke sini malem malem cuma buat ini?" Aku menerima kembali jaketku seraya mengernyit heran.
"Bukan, aku ingin ngajak Senpai keluar sebentar." Alasan sebenarnya malah membuatku menyesal telah bertanya.
"Kalo aku gak mau gimana?" Aku mencoba untuk tak menerima permintaannya kali ini.
__ADS_1
"Senpai jahat!" Saika menggelembungkan pipinya dan memasang ekspresi datarnya itu.
"Huff ... kenapa coba aku harus nurutin dia." Aku keluar dan menutup pintu depan rumahku.
"Apa senpai mau?" Saika memiringkan kepalanya.
"Sebentar aja," aku terpaksa menerima lagi permintaan anehnya itu.
"Ayo," Saika langsung menarik tangan kananku dan membawaku melangkah entah kemana.
Aku mamakai jaket hitamku dan terus mengikuti langkahnya dari belakang. Kami melangkah menyusuri jalanan yang sunyi. Kami berdua hanya ditemani sorot lampu jalan yang kami lewati. Saika meletakan kedua tangannya di belakang pinggang dan terus melangkah maju tanpa kata kata sedikitpun.
"Ano Senpai ... apa Senpai pernah mimpi yang aneh?" Saika terus melangkah ke depan tanpa menoleh ke arahku.
"Aneh gimana maksudmu?"
"Ya aneh, aku sering mimpi tentang laki laki yang aku panggil Senpai."
"Anehnya, aku mulai sering bermimpi tentangnya setelah bertemu denganmu." Saika berbalik dan menatapku dengan sorot mata dinginnya itu.
"Ha?"
"Kakakku selalu bilang, jika aku memimpikan orang yang sama berkali kali. Artinya, mungkin aku pernah hidup di masa lalu dan bertemu dengannya."
"Kakak ku juga bilang, jika orang itu ada di dekatmu. Aku akan lebih sering bermimpi aneh." Saika memandang ke atas langit dan membuat bola matanya itu berkilauan.
"Hmm, jadi ... kamu pikir aku adalah orang yang sering ada di mimpimu?" Aku menyimpulkan semua yang ia katakan.
"Apa Senpai juga mimpi aneh? ... apa senpai mimpi tentang aku?" Pertanyaan yang bisa kujawab dengan mudah.
__ADS_1
"Tidak"
Swush!!
Tiba tiba angin berhembus melewati kami berdua dan membuatku mengingat sesuatu. Gadis rambut pirang keemasan sebahu yang duduk di ranjang rumah sakit. Dia sedang memandang ke cahaya yang masuk melalui jendela yang terbuka lebar.
He? Siapa itu?
"Senpai? ... kenapa?" Saika menyentuh pipiku dengan jari telunjuknya.
"Ohh ... gak ada apa apa," aku langsung tersadar dari lamunanku.
Swash!!! Jrak!!
Saika tiba tiba memelukku dengan erat. Aku langsung terbelalak saat menyadari bola mata merah bersinar yang ada di tengah kegelapan di depan kami. Saika, dia melindungiku dari sebuah anak panah yang melesat ke arahku. Aku sadar saat merasakan darah yang membasahi punggung Saika. Aku melihat telapak tangan kananku yang penuh dengan darah Saika.
Kenapa?!
"Senpai ... apa ada yang sakit?" Saika tetap memasang wajah datar walau suaranya mulai terdengar seperti orang yang hendak pingsan.
"Sa-Saika?! kenapa?!"
"Aku adalah perisai hidup milikmu." Aku mulai merasakan tubuh Saika yang semakin berat.
"Saika?!"
Saika kehilangan kesadarannya di pelukanku. Sekarang aku tak tahu harus berbuat apa. Aku harus lari dan menyelamatkan Saika terlebih dulu, atau aku akan menghadapi seseorang yang ada di balik kegelapan itu.
Cih ... Terpaksa!
__ADS_1
"Time!! Reverse!!"
Aku menggunakan jurus Time Control ku dan membuat waktu mundur beberapa detik sebelum Saika terluka karena panah yang harusnya mengenai diriku ini.