
"Shinjiro!?"
Langit oranye yang menjadi latar belakang cerita ini. Pemukiman yang sudah mati karena tak ada seorang pun yang tinggal di sini. Rumah keluarga Okino yang sudah rata dengan tanah. Saika tersungkur tak berdaya dengan badannya yang terluka parah. Bahkan lengan kanannya sudah terpisah dari tubuhnya itu.
Yang menyelamatkan Saika kali ini adalah dewa kematian bernama Shinjiro. Laki laki tinggi dengan kulit eksotis. Rambut putih dan manik mata berwarna kecokelatan. Tentu ia memakai Zirah merah yang sama dan tak pernah berubah.
"Munmei? Huff ... sepertinya aku gagal memburumu ...," Shinjiro menghela nafas dan memegang dahinya sendiri.
"Hika, apa urusanmu selesai?" Tepat saat Shinjiro menyelesaikan kalimat pertanyaannya itu, sorang gadis tiba tiba muncul seperti hantu.
"Dia sudah sembuh dengan sendirinya." Gadis itu berdiri di samping Shinjiro.
"Ha? Keajaiban? Kenapa aku tak terkejut." Shinjiro tersenyum tipis.
Gadis bernama Hika itu memiliki rambut hitam panjang yang dikuncir jadi dua. Bola mata hijau padam, dan ia mengenakan jubah merah sama seperti yang dikenakan Shinjiro.
"Hika, sembuhkan Saika, aku atasi Munmei." Pinta Shinjiro lalu sebilah pisau tiba tiba ada di genggamannya.
"Kenapa kamu selalu aja merintah sih! Huff ...," keluh Hika dengan wajah kesal.
"Oi? Kenapa kamu selalu protes di saat yang salah ... dasar." Shinjiro langsung menerjang Ai dengan kecepatan tinggi.
Trank!!!
Bilah pedang mereka saling beradu dan menimbulkan bunga api yang menyebar ke segala arah. Shinjiro mengesampingkan fakta bahwa Ai adalah perempuan. Ia menendang gadis itu sampai Ai terpental jauh kedepan.
"Hika, tolong jaga dia!" Shinjiro berlari mengejar Ai yang melesat jauh karena tendangannya tadi.
Badan Ai jadi seperti peluru dan menembus beberapa rumah yang berbaris. Untuk menghentikan gerakannya, Shinjiro mengejar Ai lalu mengayunkan kakinya kembali. Alhasil punggung Ai terantuk ke aspal jalan sampai retakan retakan muncul di jalan itu. Tak sampai di situ saja, Shinjiro menusukan pisaunya pada gadis yang sudah tergeletak tak berdaya itu. Darah merah memuncrat keluar setelah bilah pisau Shinjiro menembus perut Ai.
"Munmei! Hentikan, ini bukan takdirmu! Ini bukan ceritamu! Ini bukan tempatmu!" Teriak Shinjiro dengan tangannya yang masih kuat menggenggam gagang pisaunya itu.
"Hahahahahah! Lucu sekali kata kata itu keluar dari orang yang pernah membunuhku." Ai tertawa jahat walau cairan merah keluar dari mulutnya.
"Mati kau payah!"
Booommm!!!
Entah apa yang terjadi, ledakan besar, sangat besar terjadi. Hika yang sedang menuntun Saika untuk berjalan menjauh dari medan pertempuran ini terkejut dengan suara ledakan besar itu.
"Kakak ... apa dia terluka?" Tanya Saika walau tubuhnya sudah tak berdaya. Hika melingkarkan lengan kiri Saika di pundaknya untuk membantunya berdiri dan berjalan pergi dari tempat ini.
"Hatimu terlalu baik, walau kamu terluka, kamu masih memikirkan kakakmu?" Hika tersenyum tipis menyadari kebaikan hati Saika.
__ADS_1
Setelah ledakan besar itu terjadi. Rumah dengan radius seratus meter dari pusat ledakan sudah rata dengan tanah. Sekarang terbentuk lingkaran yang hanya berisi reruntuhan dan api membara di tengah pemukiman Chizu. Terlihat Shinjiro yang berdiri berhadapan dengan Ai atau Munmei. Bisa kita panggil Munmei saja, karena wajah dan sifatnya sudah jauh berbeda dengan Ai.
"Shin, apa kamu masih berpikir untuk menyelamatkan sahabat lamamu itu?" Pertanyaan Munmei disertai seringai senyuman jahatnya.
"Cih, tentu! Aku sudah berjanji padanya!" Jawab Shinjiro dengan penuh kepercayaan diri.
"Nahh ... kalau gitu, nikmati pertempuranmu ...," Munmei lenyap seperti salju yang ditelan oleh api.
"He?! Kemana dia?!" Shinjiro kebingungan dan menoleh ke segala penjuru arah.
Tentu saja menghilangnya Munmei bukan akhir dari pertempuran ini. Sebuah lingkaran cahaya kecil muncul tepat di depan Shinjiro. Dan lihat siapa yang muncul di tengah lingkaran sihir itu. Laki laki rambut merah padam dengan bola mata yang hampir sama seperti milik Shinjiro.
Ia mengenakan jaket hitam dan celana panjang hitam pula. Tatapan tajamnya pada Shinjiro itu memancarkan dendam yang tak terbatas.
"Takdir ini semakin kacau ... kalau begini ...," Shinjiro tertegun sejenak karena pikirannya yang mulai kacau.
"Yuuta, ternyata kita bertemu lagi." Shinjiro menguatkan genggaman tangannya pada pisau yang ada di tangan kanannya itu.
Di saat yang sama, tetapi di tempat yang berbeda. Saika terbaring lemas di atas ranjang dengan mata yang sedikit terbuka. Hika menutup jendela dan tirai kamar yang mereka tempati ini. Mereka berdua memasuki salah satu rumah di oemukiman Chizu ini. Para warga sudah diminta untuk mengevakuasi diri menuju ke bunker besar yang ada di bawah tanah kota Natsu ini. Para Akame mulai keluar dari Jigoku Gate dengan jumlah yang sedikit. Namun mereka tiada hentinya keluar dari gerbang neraka itu.
"Saika! Bertahanlah!" Hika duduk di kursi samping ranjang Saika dan mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah perut Saika yang terluka akibat tusukan pedang itu.
"Sia-pa ... namamu?" Tanya Saika terbata bata.
"Hika, apa dia baik baik saja?" Suara Shinjiro yang terngiang di kepala Hika. Selama ini mereka berdua menggunakan telepati untuk saling berkomunikasi jarak jauh.
"Hmm, aku sedang menyembuhkan lukanya!" Hika menjawab tanpa perlu membuka mulutnya.
"Munmei melakukan pemanggilan lagi." Lanjut Shinjiro.
"Apa?! Apa dia ga puas manggil Gillbert ke sini? Kenapa Munmei yang ini bisa melakukan pemanggilan?!" Keringat dingin mulai mengalir dari pelipis Hika.
"Kali ini Yuuta," ucapan Shinjiro kali ini membuat Hika terbelalak seakan menyadari sesuatu.
"Shin! Jangan ceroboh!" Hika memperingatkan Shinjiro.
"Shin!? Oi! Sialan, dasar bodo!" Umpat Hika karena tak menerima jawaban lagi dari Shinjiro.
"Hika-chan, gimana keadaannya?" Suara seorang wanita yang tiba tiba berdiri di depan pintu kamar ini.
"Arin!?" Hika menoleh ke sumber suara dan mengenali wanita yang mengenakan kimono warna merah muda itu.
"Kurasa, kebohongan kita malah menghasilkan kekacauan ini." Ucap Arin.
__ADS_1
"Cih, aku tau!" Pekik Hika terus fokus menyembuhkan Saika dengan sihirnya.
"Kenyataannya, kalian berdua datang bukan semena mena untuk membunuh Kaito dan Ai."
"Kalian hanya ditugaskan untuk menjaga takdir tetap berjalan pada tempatnya."
"Walau dia adalah dewa kematian ... tapi kebaikan hatinya tak bisa disangkal lagi."
"Karenanya, takdir semakin kacau."
"Benarkan? Hikari Munmei?" Arin bahkan mengetahui nama lengkap Hika. Ternyata Arin mengetahui cerita sebenarnya mengapa takdir menjadi kacau sekarang ini.
"Jangan menyebut nama itu! Namaku Hanami Hika!" Pekik Hika dengan raut muka yang dipenuhi kekesalan.
"Hmm, Shinjiro bahkan mengubah namamu? Benar benar dewa yang baik ...,"
"Diam!! Kalau kau bukan sang pengawas, aku sudah membunuhmu!" Teriakan kemarahan Hika itu menyadarkan Saika.
"Humm? Tenanglah, aku kesini cuma mau bilang ... peperangan kali ini. Kalian harus memanggil Fuyuka." Ucapan terakhir Arin lalu menghilang begitu saja.
"Fuyuka? Ohh ...," gumam Hika.
"Ano, terima kasih." Saika terduduk di ranjang dengan badannya yang sudah kembali utuh. Lengan kanannya yang tadi terputus sekarang sudah kembalu normal.
"Hmm, bukan masalah!" Ujar Hika dengan senyuman ramahnya.
"Apa tadi kamu menyebut nama Fuyuka?" Lanjut Saika sembari menggerakan tangan kanannya perlahan.
"Iya, ada apa?"
"Aku ... seperti mengingat sesuatu ... laki laki dengan mata hijau ... dan ...," Saika memegang kepalanya sendiri seakan menahan rasa sakit.
"Sa-saika!? Udah udah ... tenangkan dirimu!" Hika duduk di samping Saika dan merangkulnya dengan penuh kehangatan.
Walau sebenarnya Hika sudah tahu kenapa Saika jadi seperti itu setelah mendengar nama Fuyuka. Dia adalah salah satu reingkarnasi Kaito yang mendapat kemampuan memanggil orang berkemampuan khusus. Singkatnya, Fuyuka punya kekuatan sihir yang bisa memanggil penyihir lain walau ia dari dunia yang berbeda.
Sama seperti paralel fate. Hanya saja Fuyuka tidak pergi ke Earth yang lain. Ia hanya mengambil orang yang berasal dari Earth yang terhubung dengan sihirnya. Sebenarnya Saika ada hubungan yang erat dengan Fuyuka. Tentu, mereka berdua adalah reingkarnasi yang bertemu di kehidupan itu.
Saika terlahir kembali ke Earth ini menggunakan tubuh dan kemampuan yang sama seperti waktu dia hidup bersama Fuyuki.
"Saika, tenanglah ...,"
"Mana mungkin aku bisa tenang! Kakakku sudah membenciku! Dia bahkan menyebutku Murahan!" Pekik Saika disertai air mata yang mengalir keluar.
__ADS_1