
"Okino-sama ... aku tak akan mengecewakanmu lagi," kata-katanya yang sangat membuatku terkejut.
Dia memanggilku dengan sebutan Okino-sama, itu artinya dia sangat menghormatiku. Tapi apa yang sebenarnya terjadi sekarang. Siapa dia, dan apa masa laluku dengannya?
"Ano ... boleh aku tau namamu?" Tanyaku.
"Leona Emilia ... Okino-sama bisa panggil aku Ema"
Setelah memperkenalkan dirinya. Ema langsung berlari maju ke arah iblis itu seakan tak merasakan rasa takut sama sekali.
"Hoi!!!"
Duar!!!
Entah apa yang terjadi dengan Ema. Aku tak sempat melihatnya berhasil menusuk iblis itu, ledakan disertai asap tebal sudah menghalangi pandanganku terlebih dahulu.
Di saat yang sama tiba tiba cahaya kembali berkumpul di depanku. Itu tandanya aku bisa memakai pedangku lagi. Aku segera mengulurkan tanganku dan membuka telapak tanganku di bawah cahaya yang sedang berkumpul itu.
"Ema?! ... apa kamu gak apa apa?!"
Di saat yang sama pisau yang berasal entah dari mana ini jatuh di genggaman tanganku. Saat ini, pertarunganku yang kedua dimulai. Dan sekarang aku bertarung bersama gadis asing yang memanggilku dengan sebutan aneh itu.
"Okino-sama ... sekarang!!!" Teriakan Ema yang ku dengar dari balik asap hitam tebal yang menyelimuti pertarungannya dengan iblis itu.
Sesaat kemudian asap hitam itu memudar dan terlihat lah pria yang di ambil alih oleh iblis itu sedang berdiri terpaku memandangku dengan mata merahnya yang menyala itu. Dan saat asap itu menghilang sepenuhnya, aku melihat Ema berdiri di belakang pria itu dan ternyata Ema berhasil menusuk bagian kanan leher pria itu dengan pisaunya.
"Okino-sama!!! ... tunggu apa lagi!!" Ema menggenggam kuat pisau yang menancap di leher pria itu.
"Tapi!!! .... dia tak punya jantung iblis ... lalu dimana aku harus menusuknya?"
Pria itu tak memiliki jantung iblis yang bersinar di dadanya. Yang berarti aku tak bisa melenyapkan iblis yang ada di dalam pria itu.
__ADS_1
"Tusuk saja di jantungnya ...," pinta Ema sembari terus menahan gerakan iblis itu.
"Sial!!!"
Aku tak mengerti apa yang harusku lakukan. Bahkan pisauku saja tak mengeluarkan cahayanya. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku bingung, bimbang, ragu, takut, semua itu menjadi satu di dalam hatiku.
"Okino-sama"
Setelah ia memanggilju aku seakan tak bisa menolak permintaannya. Tanpa pikir panjang aku berlari ke arah iblis itu sembari menggenggam pisau di tangan kananku dengan erat.
"Maaf!!"
Craak!!!
Aku menembus dada kiri pria itu menggunakan bilah pisauku yang tajam ini. Dan artinya aku menusuk jantungnya. Entah kenapa aku tak bisa berkata kata. Aku sudah menusuk manusia dan artinya aku adalah pembunuh.
"Nak ... siapa nama mu?" pria itu tak lagi berbicara dengan suara iblis. Pria itu menggenggam lengan tangan kananku yang menggenggam gagang pisau yang tertancap di dadanya itu.
"Kaito ... terima kasih ...," kata katanya yang membuatku melihat wajahnya. Pria itu meneteskan air mata dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Kenapa?" Entah kenapa aku ikut mengeluarkan air mataku.
"Terima kasih telah membebaskan ku dari dunia ini," ucap pria itu lalu keluar cahaya putih terang dari dalam mulutnya.
"Okino-sama ...," Ema mencabut pisaunya dari leher pria itu dan menarik tangan kiriku seolah meminta ku untuk menjauh dari pria itu.
Sekarang retakan retakan yang ada di tubuh pria itu pun memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan mata.
Apa dia selamat?
Tidak ...
__ADS_1
"Okino-sama!!!!" Teriak Ema sembari terus menarik tanganku.
Aku merasa ada yang tak beres. Kenapa dia tak kembali seperti semula. Dan kenapa Ema meminta ku untuk segera lari?
"Kaito ... ledakan!!" Ucapan Yume yang berasal dari dalam kepalaku itu.
"Ledakan?" Aku tersadar dari lamunan ku dan melepas tangan kananku dari gagang pisauku yang menusuk jantung pria itu.
Sinar dari dalam tubuh pria itu semakin terang dan membuat aku tak bisa melihat apapun lagi. Dengan cepat aku memeluk Ema dan melindunginya dari ledakan yang di peringatkan Yume barusan.
Duar!!!
Aku tak tahu dari mana asal ledakan itu. Tapi aku tahu yang meledak itu adalah pria tadi. Manusia yang bisa meledak?, hidup ini makin tak masuk akal.
Aku tak lagi bisa merasakan tubuhku. Sepertinya aku kehilangan kesadaranku karena ledakan tadi.
Apa aku mati?
Apa Ema baik baik saja?
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Okino-sama ..."
Di saat yang sama aku melihat Ema dengan darah di sekujur tubuhnya, ia duduk di depanku dan meneteskan air matanya. Sepertinya aku berada di tengah hutan yang terbakar bersamanya. Itu seperti ingatan masa laluku dengannya.
Ema siapa kamu sebenarnya?
"Okino-sama? ...apa kamu gak apa apa?" Suara Ema yang membuat ku kembali sadar dan merasakan hawa panas serta bau asap kebakaran ini lagi.
"Ema ...," aku membuka mataku perlahan dan melihat Ema duduk di depan ku dan menggenggam tanganku dengan erat.
__ADS_1
Kami masih berada di dalam gedung yang hancur berantakan karena ledakan tadi. Aku lega karena Ema tak terluka sedikit pun.