
"Ne, ne ... kak Ai, apa ciuman itu enak?"
Kami bertiga duduk di atas sofa ruang keluarga bersama sama. Kami menyaksikan acara televisi kesukaan Ai dan Hanabi. Aku duduk di sisi paling kiri, Hanabi ada di samping kanan ku, dan Ai ada di sisi paling kanan sofa ini. Kami memang sudah seperti keluarga saja. Entah apa yang membuatku meminta Ai tinggal di sini. Tapi yang penting, Hanabi sekarang sudah punya kakak selain aku.
Sekarang juga, aku punya alasan untuk tetap hidup di dunia ini. Bukan hanya Hanabi saja, Ai juga pasti akan menungguku pulang ke rumah setiap malam. Dengan ini hatiku sedikit terasa damai. Tuhan tolong jangan rebut mereka, aku tidak bahagia, aku hanya sedikit merasa tenang.
"*****! untung saja Ai gak denger." Aku menarik daun telinga Hanabi sedikit keras.
"Sakit kak! dasar emang mes-" Dia tak jadi mengeluarkan kata kata yang aku larang itu. Jika dia mengejekku mesum lagi aku tak akan mengajaknya ke festival. Tak kuduga ancaman itu bekerja dengan baik.
"Hmm, ciuman pagi tadi itu juga karena kamu. Untung aja gak ada masalah." Aku tetap menatap ke layar televisi.
"Mwehehe ... tapi kakak seneng kan?" Hanabi tersenyum jahat sembari menyipitkan matanya.
"Cih, terserah kamu."
"Kaito, apa malam ini kamu bakal tidur sama Ema?" Pertanyaan yang tak ingin ku dengar sekarang, apa lagi Hanabi si otak mesum itu tepat di sampingku.
"Eh?! Loh?! Ema??"
"Hwaaa!!! Pacar kakak yang bule itu ya?!"
"Apa maksudnya itu?! Haa?!" Hanabi mencubit pipiku dengan capitan tangannya yang sangat kuat itu.
"Hanabi, tenang dulu!" Aku berusaha menyingkirkan tangannya dariku.
"Oh ya, Hanabi belum tau ya?" Ai meletakan jari telunjuknya di dagu.
"Ha?! belum tau apa?!" Hanabi menoleh ke kanan dan ke kiri dengan wajah bingungnya itu.
"Ema itu sebenernya adalah Ai,"
__ADS_1
"Dia itu Tenshi seperti kakak. Kemampuannya adalah berubah jadi orang lain." Aku menjelaskanya dengan singkat padat dan jelas.
"Woaah!!! hebat! jadi selama ini aku dikelilingi pahlawan super ya?" kedua bola mata Hanabi itu langsung berbinar.
"Dan juga, apa malam ini kakak akan ena ena?" Hanabi menyipitkan matanya dan mendekatkan wajahnya padaku dengan senyuman jahatnya itu.
"Hmm, kata kata terlarang sudah kamu ucapkan." Ujarku dengan wajah datar.
"Eh? Iya maap maap!!" Hanabi langsung menyatukan kedua telapak tangannya dan memajang wajah memelasnya.
Waktu terus berjalan, kami menyaksikan film Horor yang tayang di televisi malam ini. Bukanya takut karena seramnya film horor itu, aku malah selalu terkejut karena teriakan Hanabi. Dia selalu memeluk Ai ketika ia ketakutan. Ai juga tak terlihat takut ataupun terkejut, pasti karena dia tak bisa mendengar efek suara dari film itu.
Saat saat seperti ini adalah saat yang paling langka. Atau bisa dibilang sangat sangat langka di dalam hidupku. Duduk santai di temani kedua orang yang berharga bagiku. Mungkin takdir akan cemburu dan melarangku untuk merasakan hal seperti ini lagi. Bagiku, tak apa aku tak merasakan hal seperti ini lagi. Asalkan jangan rebut mereka dariku.
Beberapa jam berlalu, Hanabi tertidur dan menyandarkan kepalanya ke bahu kananku. Tanpa kusadari, Ai juga sudah tertidur lelap dengan posisi duduknya itu. Akhirnya aku juga yang repot karena mereka. Aku mematikan televisi dan segera mengangkat tubuh Hanabi yang ringan itu dan membaringkannya di atas ranjang kamarnya.
"Selamat malam kak," ucapnya dengan matanya yang sedikit terbuka itu.
"Dasar mesum!" Hanabi tersenyum tipis dan matanya sudah tertutup rapat.
Aku kembali keluar dari kamar Hanabi dan hendak memindahkan Ai yang juga sudah tertidur di sofa. Tapi saat aku keluar dari pintu kamar, Ema lah yang duduk di sofa itu. Aku tak terlalu terkejut, karena dia sudah mengatakannya terlebih dahulu. Sebelumnya dia selalu memberiku kejutan karena mendadak masuk ke kamarku dan menyerang sisi laki lakiku.
Aku pun menutup pintu kamar Hanabi dengan rapat lalu melangkah mendekat pada Ema.
"Ema? jadi kamu tetep mau tidur sama aku malam ini?" Tanyaku dengan wajah malas.
"Tolong gendong aku Okino-sama." Pinta Ema dengan tatapan kosong dan wajah tanpa ekspresinya itu.
"Cih, kamu kok malah punya keinginan paling banyak seh?!" Aku pun menggendongnya dan membawanya menaiki tangga menuju kamarku.
"Nih, udah sana tidur." Aku membaringkannya di atas ranjangku.
__ADS_1
"Okino-sama mau kemana?" Tanya Ema.
"Mau nonton TV dulu." Aku membuat alasan supaya aku tidak kembali tidur seranjang dengannya.
"Jangan bohong." Ema menarik tanganku ketika aku hendak berbalik dan keluar dari kamar.
Aduh! ketauan!
"Hanya untuk malam ini saja." Ema menarik tanganku hingga aku hampir terjatuh dan menimpanya.
"Oi Ema?!" Untung saja aku bisa mengendalikan tubuhku supaya tak menimpanya. Aku kembali berbaring di samping gadis buta itu.
"Okino-sama, terima kasih sudah menuruti semua keinginanku." Wajah kami begitu dekat dan hidung kami nyaris bersentuhan. Nafas lembutnya itu bisa kudengar dan kurasakan.
"Hmm, terserah kamu." Aku cuek dan berusaha memejamkan mataku.
"Apa aku boleh minta satu hal lagi Okino-sama?" Aku mengangguk dan tetap memejamkan mataku.
"Kalau begitu ..."
Aku membuat kesalahan besar saat menganggukkan kepalaku tadi. Mataku terbelalak saat merasakan bibirnya mulai menyentuh bibir ku dengan lembut. Ini adalah ciuman keduaku, takku sangka aku akan memecahkan rekor pribadiku. Aku berhasil berciuman dengan dua gadis sekaligus hari ini. Ema membelai pipiku dengan tangan kanannya itu. Setelah melepas bibirnya dariku, dia menyatukan keningnya dengan keningku. Aku bisa melihat bola mata birunya itu dengan sangat jelas sekarang.
Entah apa yang terjadi sekarang. Aku tak bisa berpikir jernih. Entah aku senang, sedih, atau apa. Perasaanku sekarang campur aduk bagaikan gula pasir yang di aduk di dalam air teh hangat.
"Aku mencintai Okino-sama selamanya." Ema memejamkan matanya dan tetap meletakan tangan kanannya di pipi kiriku.
"Aku harap bisa seperti ini setiap hari."
"Aku akan selalu berada di sisi Okino-sama selamanya ...," Ia menghembuskan nafasnya dan mulai tertidur lelap.
Apa apaan malam ini?!
__ADS_1
Aku mengencani tiga gadis sekaligus hari ini. Ditambah aku mencium dua gadis sekaligus hari ini. Mungkin hari ini adalah hari bersejarah bagi diriku sendiri.