Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 79


__ADS_3

Aku dan Ren pun duduk berseberangan di antara meja makan markas timku ini. Dari wajahnya itu aku tahu pembicaraan ini pasti tentang hal yang sangat serius. Benar saja, baru beberapa detik berbincang bincang dengannya.


Aku dikejutkan dengan Ren yang ternyata adalah tunangan Takumi. Dia adalah mantan rekam satu tim Takumi. Ren juga bercerita tentang kebenaran kenapa Takumi bisa masuk ke Enjeruhanta. Ternyata kemampuan Takumi dan keinginan adiknya yang sudah meninggal itu memicunya menjadi dirinya yang sekarang.


Kekuatan iblis yang ada di dalam dirinya akan semakin kuat hanya bila dia membunuh Tenshi lainnya. Dan permintaan terakhir adiknya, supaya Takumi tumbuh menjadi lebih kuat. Itulah yang membuat Takumi bergabung dengan Enjeruhanta. Bukan hanya itu, Takumi ingin membalaskan dendam Ren yang kakaknya dibunuh oleh pasukan Enjeruhanta.


Takumi, sang iblis berhati malaikat. Ternyata takdir lah yang membuatnya jadi seperti ini. Pantas saja dia melepaskanku dengan mudah hanya karena Hanabi. Tak sampai di situ, Ren juga bercerita tentang Saika muridnya itu.


Lagi lagi, masa lalu Saika tak lepas dari kejamnya takdir. Kakak laki laki Saika menghilang entah kemana beberapa tahun lalu. Belum ada kabar pasti, tapi kemungkinan besar kakaknya sudah meninggal dunia. Kakak laki laki Saika terlibat kecelakaan kapal pesiar yang menewaskan ratusan orang.


Sejak saat itu kakaknya tak pernah terlihat kembali. Sejak saat itu sikap Saika menjadi sangat dingin. Dia tak pernah tersenyum lagi. Alasan Ren meminta Saika bergabung dengan tim ini adalah, karena mata kakak Saika mirip dengan milikku. Ren berharap Saika akan kembali tersenyum lagi setelah bertemu denganku.


Kemampuan spesial Saika adalah memanggil perisai besi yang sangat kuat. Sampai sekarang belum ada serangan yang bisa menembus perisai milik Saika. Saika juga memiliki julukan dari Demon Hunter. The Dark Shield, itulah julukannya.


"Mulai sekarang ... Saika adalah perisai pribadi milikmu ...," kata Ren sembari berdiri dari kursinya.


"Ha? ... perisai pribadi?" Aku mengernyit heran.


"Sudahlah ... aku akan langsung pamit ... sampai jumpa nanti ... musuh abadi kekasihku ...," Ren langsung keluar dari markas tim ini meninggalkan berbagai pertanyaan dalam kepalaku.


Musuh abadi?!


"He? ... Sensei kemana?" Gadis cantik dengan poni rambut putih yang menutupi mata kanannya itu baru saja turun dari tangga.

__ADS_1


"Dia sudah pergi ...," ucapku yang masih duduk di kursi meja makan.


"Senpai ... apa kamu juga mesum seperti si pirang payah itu?" Saika menatap ku dengan tatapan dinginya itu.


"Ukhuk ... ***** ... mana mungkin aku seperti dia!" Aku sampai tersedak karena menelan pertanyaannya itu.


"Ya sudah ... aku mau ganti baju ... mau temenin gak?" Dia selalu memasang sorot mata dinginnya itu tanpa ekspresi sama sekali di wajahnya.


Mati aja deh aku ...


"Saika ... apa apaan sih kamu ... jangan godain Kaito gitu lah ... dia kan juga laki laki hehe ...," ujar Haru yang berlari menuruni tangga dan memeluk Saika dari belakang.


"Ukhuk ... ukhuk ... haah!! ... aku pulang dulu ...," aku kembali tersedak karena kata kata Saika. Aku pun memutuskan untuk kembali pulang karena tak ada misi malam ini.


"Sampai besok senpai ..."


Kata kata yang kudengar setelah aku keluar dan menutup pintu depan markas timku ini. Syukurlah besok aku libur, belakangan ini aku kurang tidur karena misi misi yang kujalani. Dan juga hari ini aku pulang tepat waktu, semoga tak ada masalah agar aku bisa makan malam dengan adikku dan juga Ai.


Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya aku sampai di depan pintu rumahku. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka pintu dan masuk ke dalam.


"Hanabi kakak pulang ..."


"Whahh!!! ... kakak pulang awal!!!" Seru Hanabi yang sibuk di dapur bersama Ai yang tersenyum ke padaku.

__ADS_1


"Woah ... bau apa ini?" Aku melangkah menuju meja makan yang masih kosong.


"Ini dia!!!" Hanabi meletakan sepiring kue berselimut lelehan keju kesukaanku.


"Woaah!!!"


"Masih ada lagi ...," Ai meletakan sepiring ayam bakar dan roti isi yang besar.


"Hoi hoi ... Hanabi ... apa ini gak boros?" panyaku karena kami belum menerima uang bulanan dari ibu.


"Kak Ai yang traktir semua ...," Hanabi memeluk Ai dengan erat.


"Haa? ... Ai?! apa gak ngerepotin?" Aku merasa tak enak padanya.


"Udah ... gak perlu ngomong gitu ... ayo duduk ...," Ai menarik kursi meja makan dan mempersilakan aku duduk.


"Untung kakak pulang awal hari ini ..."


"Kaito ... maaf kalo masakan ku gak enak ...," ucap Ai khawatir.


"Bohong kak ... masakan kak Ai enak banget!"


Malam ini aku kembali merasakan apa yang dinamakan kehangatan keluarga. Makan malam bersama adik dan teman ku, canda tawa yang selalu mengisi ruangan. Aku sedikit melupakan beberapa masalahku. Hatiku juga merasa lebih tenang. Ditambah aku bisa melihat senyuman Ai dan Hanabi di depan mataku. Bagiku, ini pun sudah cukup.

__ADS_1


Tolong biarkan aku terus merasakan hal ini ...


Takdir ... aku mohon jangan rebut mereka dariku ...


__ADS_2