Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 160 Life in the Shadow


__ADS_3

Raku


Di malam musim panas yang seharusnya penuh kebahagiaan. Saat yang harusnya aku tunggu tunggu. Malam di mana seharusnya aku berada di sisi Mina. Malam seharusnya aku melihat senyum manisnya. Semuanya berubah, berubah menjadi neraka. Aku jatuh ke dalam lembah kegelapan tak berujung. Aku tak bisa lagi keluar. Aku sama sekali tak bisa melihat secercah cahaya pun saat kepalaku menengadah. Aku, aku sudah hilang ditelan kegelapan yang kudatangi sendiri.


Jrak!!! Bruak!!


Aku membunuh polisi polisi yang bekerja sama dengan Shogun untuk menyambung hidupku. Malam ini, di gang sempit sela sela dua gedung pencakar langit. Aku membuat seorang pria terbujur kaku dengan darah yang menggenang di sekitarnya. Aku mencabut nyawanya dengan sebilah pisau yang ada di tangan kananku. Tanpa merasa berdosa aku segera menggeledah mayat itu dan mengambil dompetnya. Aku mengambil semua uang yang ada di dalam lalu melemparnya ke sembarang arah.


"Aduh!" Suara gadis kecil yang terdengar dari balik kotak sampah besar itu. Karena gelap aku tak bisa melihat dengan jelas. Tentu aku tetap waspada, aku masih menggenggam kuat pisauku.


"Siapa? Apa kamu anggota Shogun?!" Tanyaku. Dan tanpa sepatah kata pun seseorang keluar dari balik kotak sampah itu.


"Ma-maaf ... apa aku boleh mi-minta ...," ucap gadis kecil itu terbata bata.


Gadis berumur lima tahunan, rambut merah muda sebahu. Ia hanya mengenakan kaos lusuh dan celana pendek yang sangat tak layak pakai. Aku kembali menyelipkan pisauku di ikat pinggangku dan menutupinya dengan hoodie biruku. Dia hanyalah gadis kecil gelandangan yang tak punya apa apa. Mana mungkin dia adalah anggota Shogun.


"Ano, siapa namamu?" Tanyaku sembari mendekat kepadanya.


"Mi-Mizuka Yukki," jawabnya sembari terus menundukan kepalanya.


"Ohh, kenapa kamu di sini?" Lanjutku bertanya.


"Aku ... aku gak punya rumah ... aku gak punya orang tua ... aku gak punya temen ... aku gak punya apa apa." Jawaban disertai air mata yang mulai menetes.


"Oi oi ... jangan nangis, apa mau ikut kakak? Aku mau beli makanan." Ajakku karena pasti dia kelaparan karena tak punya apa apa.


"Apa boleh?" Yukki mengangkat kepalanya dan terlihatlah mata hijau mudanya yang sangat indah.


"Hmm, ayo ... kakak gendong." Aku langsung menggendongnya seperti tas ransel di punggungku.


"Yukki tolong tutup matanya dulu ya?" Pintaku halus karena tak ingin dia melihat mayat yang tergeletak itu.


"Hmm," dia hanya mengangguk dan menuruti perintahku. Aku kembali menutupi wajahku dengan masker dan melangkah keluar menuju ke keramaian kota. Aku berada di pusat kota Natsu, tentu aku lebih memilih bersembunyi di keramaian dari pada aku bersembuyi di hutan atau pegunungan. Alasannya mudah, aku butuh orang untuk kubunuh dan kujarah uangnya. Tentu aku tak membunuh sembarangan orang. Aku hanya mengincar orang yang berhubungan dengan Shogun.


Ya, walau itu artinya aku meninggalkan jejak. Tapi mau bagaimana lagi. Semua orang menganggapku sudah mati, kecuali Kaito dan teman detektifnya. Aku senang sahabatku itu memilih jalan yang benar. Sekarang aku terjebak masalah karena ulahku sendiri. Tapi bodo amat lah, aku harus bertanggung jawab atas kesalahanku.

__ADS_1


"Nama kakak siapa?" Suara lembut yang keluar dari mulut Yukki.


"Raku, Hideko Raku." Jawabku terus melangkah maju di tengah keramaian orang orang yang lalu lalang.


"Ohhh ... apa kakak punya rumah?" Pertanyaan yang membuat hatiku sedikit sakit.


"Hmm, dulu punya ... tapi sekarang kakak sama kaya kamu." Aku melirik ke kanan dan kekiri mencari minimarket yang biasanya ada di pinggir jalan. Seperti biasanya, trotoar kota ini selalu ramai orang yang lalu lalang. Dan inilah yang melindungiku selama ini. Aku bersembunyi dalam bayangan mereka.


"Nah, akhirnya ...," gumamku saat melihat minimarket di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang aku segera melangkah melewati pintu masuk.


"Yukki-chan pengen apa?" Tanyaku saat kami sampai di depan drink machine ujung ruangan minimarket ini.


"Etto ... jus jeruk!" Serunya sangat bersemangat.


"Iya iya," aku memasukan koin dan menekan tombol, dua botol jus jeruk dingin terjatuh di lubang drink machine itu. Aku berlanjut melangkah ke rak yang penuh dengan roti roti isi yang dipajang rapi.


"Kak Raku, itu ...," Yukki menunjuk ke arah sebungkus roti isi strawberry. Tanpa pikir panjang aku mengambil dua bungkus lalu membayarnya ke kasir. Setelah itu kami berdua duduk berdampingan di kursi panjang depan meja yang menghadap keluar kaca jendela.


"Yukki ...," sebelum aku menyelesaikan kalimatku, aku terpaksa berhenti karena melihatnya memakan roti isi dengan lahapnya. Dia pasti sudah tidak makan beberapa hari. Di dunia ini masih saja ada orang seperti Yukki. Takdir sama sekali tak berpihak kepada mereka.


"Aaahhh ...," Yukki langsung menghabiskan sebotol jus jeruk miliknya. Aku yang merasa dia masih lapar pun akhirnya memberikan setengah bagian rotiku untuknya.


"Yukki, apa kamu mau pakaian baru?" Aku tak tega melihat Yukki memakai pakaian yang sudah tak layak pakai itu.


"Heee? Apa boleh?!" Matanya berbinar dan ia mendekatkan wajahnya kepadaku.


"Hmm, iya," aku mengangguk dan melempar senyum tipisku. Setelag kami mengisi perut, aku mengajaknya ke toko baju dan membeli beberapa pakaian baru untuknya. Aku tak mengijinkan ia memakainya terlebih dahulu. Yukki harus membersihkan badannya terlebih dahulu baru aku memperbolehkan ia memakai pakaian barunya. Aku membawa anak kecil yang entah datang dari mana itu ke tempat persembunyianku. Aku tinggal di apartemen kumuh yang murah. Aku menyewanya dengan uang hasil perburuanku setiap malam.


Ruanganku ada di lantai empat, nomor tiga puluh lima. Setelah bebrapa saat menaiki tangga akhirnya kami berdua sampai di depan pintu apartemen kecilku. Aku merogoh kunci dari saku celana lalu membukakan pintu untuk si kecil itu. Ruangan kecil dengan satu jendela yang terbuka lebar. Satu ranjang di pojok ruangan dekat jendela. Satu pintu kamar mandi di sisi kanan ruangan. Lemari pakaian kecil yang terbuat dari kayu.


"Yukki mandi dulu ya? Kakak tungguin." Ucapku memberikan baju baru itu padanya.


"Wahhh!! Makasih kak Raku!" Senyum indahnya itu membuatku sedikit lebih tenang menjalani kehidupanku yang sekarang. Ia berlari masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya rapat rapat. Aku melepas masker dan membuka tudung hoodie ku. Aku kembali mengasah dan membersihkan pisauku di wastafel samping pintu kamar mandi.


"Malam ini ... lagi ...," gumamku sembari mengelap bilah pisauku dengan handuk. Aku duduk di pinggiran ranjang untuk merenung sejenak. Besok adalah malam festival musim panas. Mina pasti tidak bisa menikmati itu tanpaku. Sejak dulu, jika aku atau Kaito tidak ikut. Dia seenaknya membatalkan rencana yang sudah di sepakati keluarga kami.

__ADS_1


Maaf ini semua salahku ...


"Kak Raku? Kenapa?" Yukki keluar dari kamar mandi memakai kaos merah muda dan rok pendek hitam yang baru saja aku belikan.


"Hemm ... ngga ada apa apa, kamu kalau mau tidur sini aja. Biar kak Raku tidur di bawah." Jelasku.


"Hee? Kenapa kita gak tidur bareng?" Kata katanya itu membuatku tak sengaja berpikiran kotor.


Tenang! Dia masih bocah polos tau!?


"Ohh, kakak mau pergi lagi ... kamu tunggu di sini bentar ya, anggep aja rumah sendiri." Aku berdiri dan mengusap kepalanya perlahan.


"Mau kemana?" Tanya Yukki dengan wajah polosnya itu.


"Hehe, kakak mau beraksi!" Aku terkekeh sembari mengambil kostumku dari dalam lemari.


"Hee? Kakak pahlawan super?" Mata Yukki berbinar seperti bintang bintang.


"Hemm, bisa dibilang gituh ...," aku masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaianku. Aku memakai kostum ninja serba hitam milikku. Sebelum aku memakai ikat kepalaku, aku menggores logam di tengahnya. Sekarang ada garis horizontal yang seolah mencoret huruf J yang adalah lambang pangkatku. Setelah menutup wajah dan memakai ikat kepala aku kembali keluar dan bertemu Yukki yang sedang memandang keluar jendela.


"Yukki? ada apa?" Tanyaku penasaran.


"Whuah?! Ternyata kak Raku ...," Yukki terperanjat saat melihatku menggunakan kostum ninjaku ini.


"Gak perlu kaget gitu lah ...," Aku mendekat ke arahnya.


"Kakak bakal pulang ke sini lagi kan?" Tatapan kesedihannya itu membuatku tak tega memandangnya.


"Iya iya, tenang ... kakak bakal pulang buat kamu! Tapi kalo ngantuk tidur aja loh ya?" Aku kembali mengusap kepalanya perlahan untuk menenangkan hatinya.


"Hmmp! Oke kak!" Dia mengangguk dengan imutnya.


"Ya udah," aku memasang perlengkapanku. Pedang di punggungku dan kotak berisi beberapa shuriken di pinggangku. Tak lupa aku mengikat tali sepatuku kuat kuat.


"Kakak pergi dulu ya!" Seruku seraya melompat keluar dari jendela.

__ADS_1


__ADS_2