Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 24


__ADS_3

"Ke-kenapa?" Entah kenapa aku malah merasa gugup saat melihat senyumannya itu.


"Mau baca novelku gak? Udah selesai loh," ujarnya seraya kembali duduk di kursi yang biasa ia tempati.


"Ohh ... cepet banget," aku pun duduk di kursi ku yang ada tepat di sampingnya itu.


"Nee ... nee ... kemarin malem aku mimpi ketemu laki laki mata hijau lagi loh ... kenapa belakangan ini aku sering mimpi in dia ya?" kata Ai dengan wajah bingungnya.


"Hmm," aku hanya diam dan membaca naskah novel karyanya itu.


Eh?!


Ai menambahkan satu karakter perempuan yang sama sekali tak kuduga. Gadis eropa rambut pirang bergaya poni tail. Bola matanya juga berwarna biru. Kebetulan yang membuat ku sangat curiga akan apa yang sebenarnya terjadi.


Jujur saja, karena pikiranku kacau saat ini. Aku bahkan tak mengerti jalan ceritanya. Aku selalu membaca setiap kalimat secara berulang ulang tapi tetap saja aku tak bisa memahami alur cerita, latar, bahkan aku tak bisa membayangkan tokoh yang berdialog.


"Kaito? ... gimana? ... menurutmu apa kita bisa menangin lomba?" Ai menepuk pundakku dan menyadarkanku dari lamunan.


"O-oh ... bagus ... pasti bisa" aku asal menjawab tanpa mengerti apa yang aku katakan barusan.


"Beneran?!" Ai menatapku dengan kedua bola mata ungunya yang berbinar itu.


Heh?! tunggu? ... dia denger?!


"Walau aku gak bisa denger tapi aku bisa rasain perasaan mu loh ... hehe," kata-katanya barusan menjawab pertanyaan yang ada di dalam hatiku.


Greek~


Tiba tiba seseorang membuka pintu ruang klub. Kami berdua pun menoleh ke sumber suara secara serentak.


"Oh ... ternyata kalian anggota baru klub ini"


Seorang gadis kelas tiga dengan rambut biru tua dan memakai bando warna putih. Wajah datarnya itu terlihat sangat menyeramkan. Tapi tidak bagiku, aku baru saja menghabisi dua iblis. Bagaimana mungkin aku bisa takut dengan kakak kelas dengan wajah datar sepertinya itu.


"Ano ... senpai siapa?" Tanya Ai.


"Nama ku Kaguya Ruui ... aku dulu ketua klub ini," jawabnya dengan tatapan bola mata hitamnya itu yang terasa sangat dingin.


"Hmm ..."

__ADS_1


"Nama ku Mirai Ai!" katanya setelah berdiri dan membungkukkan badannya.


"Aku Okino Kaito ...," aku hanya duduk dan memperkenalkan diriku dengan santai.


"Hmm ... apa urusan Ruui senpai ke sini?" Lanjutku bertanya.


"Cuma mau lihat kalian aja," Ruui menarik kursi yang ada di ujung ruangan dan meletakannya di belakang meja besar yang ada di ruangan ini.


Ruui duduk di seberang kami berdua dengan wajah dinginnya itu. Aku sedikit mengenalnya, dia sering dijuluki ratu es oleh murid murid lain di sekolah ini. Dan juga kabarnya dia sangat pintar sampai meraih peringkat satu di sekolah ini.


"Ano ... gimana yah bilangnya," Ai menyatukan kedua jari telunjuk nya di depan dadanya sembari menundukan kepalanya.


"Maaf ... tapi sebelum kita ngomong lebih jauh ... cewek di sebelahku ini tuli"


"Hmm ...," Ruui hanya mengangguk tanpa mengubah ekspresi wajahnya itu.


Hua ... dia mirip seperti Ema ...


"Apa kalian pacaran?" lanjut Ruui.


"Iya!" Jawaban Ai yang membuat )ku melirik ke arahnya dengan mata yang terbuka lebar.


Salah banget!!


Ya, bodo amat, lagi pula aku tak bisa sepenuhnya menyalahkannya.


"Ano ... ini cuma salah paham ... aku bukan pacarnya", jelasku.


"Ohh ...", Ruui melihat ke arah luar jendela.


Ting tung~


Notifikasi yang berbunyi dari ponsel Ruui. Keadaan ruang klub mendadak menjadi sunyi tanpa suara.


"Maaf ... adik ku sakit ... kayak nya aku pulang dulu," ucapnya pamit dengan tatapan dinginnya itu.


"Ohh ... semoga adikmu cepat sembuh"


"Hmm," dia hanya mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan klub.

__ADS_1


Haaa? ... wajahnya bisa sesantai itu padahal adiknya sakit?


"Nee ... Kaito ... enak ya bisa denger suara orang lain," ucapan Ai yang mebuatku langsung menoleh ke arahnya.


Ai meneteskan air matanya ke atas meja yang ada di depan kami berdua. Aku tak tahu seberapa sakit hatinya karena menyadari dirinya tak bisa mendengar. Tapi aku tahu jika di biarkan begitu saja malah akan berbahaya baginya.


Aku mengambil ponsel dari saku celanaku dan mengirimkan pesan padanya lewat aplikasi.


{Maaf}


{Tapi aku yakin kamu punya kelebihan yang tak dimiliki orang lain} chat yangku kirim untuknya.


Entah kalimat itu keluar dari mana. Tapi aku sedikit merasa malu setelah mengirimkan itu pada Ai. Setelah membacabya dia mengusap air mata nya dan tersenyum padaku.


"Kaito ... matamu hijau tau?" Kata-kata yang keluar dari mulutnya disertai senyuman yang selalu ia berikan padaku itu.


Apa hubungannya coba?


"Apa kamu bisa jelasin suara kucing?" Pertanyaannya yang tiba tiba ia lempar padaku.


"Haa?"


"Etto ... aku tuli sejak umur tujuh tahun tapi aku belum pernah denger suara kucing ... hehe," ujarnya dengan sedikit tawa.


Bercandanya kebangetan ...


{Nyaan ...}


{Meow ...}


{Gitu lah suaranya}


{Nyebelin pokoknya}, chat yang kukirim.


"Nyaan~ Nyaan~ Meow~" Ai menirukan suara kucing dan sekaligus berpose seperti karakter anime yang biasaku lihat di televisi.


"Gimana udah mirip belum?" Lanjutnya bertanya dengan senyumannya itu.


Bhuaah .... apa apaan itu?!

__ADS_1


Untung aku gak pingsan ...


__ADS_2