
Suara bising mesin helikopter yang kubenci. Baling baling yang berputar sangat cepat, aku berdiri di dalam ruang penumpang helikopter militer bersama si mesum itu. Aku memakai jubah hitam untuk menutupi Kensetsu yang ada di pinggangku. Saika sudah berubah ke mode Cyber Shield dan memakai zirah hitamnya itu. Langit malam musim panas yang penuh bintang itu menarik perhatianku.
Chou dan Chen kembali menjemputku malam ini. Kami terbang menuju kota Natsu dengan kecepatan tinggi. Sebentar lagi aku akan kembali bertarung. Jangan gunakan mode Light Chaser, atau nanti aku bisa repot sendiri. Malam ini kami akan menyegel Jigoku Gate atau gerbang neraka yang berada di pusat perbelanjaan besar kota Natsu. Lebih tepatnya di atas atap gedung mall itu.
"Kaito-sama Saika-sama ... kita sudah ada tepat di atas gedung itu!" Seru Chou dan helikopter ini berhenti bergerak maju. Aku melihat kebawah dan benar saja, di atap gedung lima lantai yang sangat luas, atapnya saja melebihi luas lapangan sepak bola. Dan aku melihat sebuah lubang hitam yang mengeluarkan Akame satu per satu dari sana.
"Senpai, aku akan melindungimu!" Ujar Saika menatapku dengan tatapan dinginnya itu.
"Pikirkan keselamatanmu juga ...," aku berdiri di ujung pintu keluar helikopter ini dan bersiap melompat ke bawah.
"Kalian berdua hati hati!" Kata Chen memperingatkan kami.
"Hmm, baiklah ... terima kasih telah mengantar kami!" Aku langsung melompat keluar dari helikopter itu. Terjun dari ketinggian puluhan meter dari atap gedung itu. Rasa takut mati sudah tak ada dalam diriku ini. Selama ada Kensetsu, tubuhku ini seringan kelopak bunga Sakura. Aku mendaratkan kedua kakiku dengan mulus. Saika juga ikut mendarat dengan sayap dipunggungnya dan perisai di tangannya yang sudah siap. Kami sudah disambut dengan puluhan Akame yang baru saja keluar dari lubang neraka itu.
"Saika aku ...,"
Sebelum aku menyelesaikan ucapanku. Kejutan sudah kembali menghantamku. Tiba tiba pemandangan di sekeliling kami berubah, bukan lagi perkotaan dengan generlap lampu. Kami sekarang berada di padang pasir putih, langit malam tanpa bintang, bulan sabit berwarna merah yang diselimuti awan putih.
Tunggu?! Bukannya kalau datang lebih dari satu orang aku tidak akan terkena ilusi?!
"Sora, kenapa aku dan Saika berada di alam ilusi?!" Aku mengubungi asisten pribadiku itu dari T-Phone yang ada di telinga kananku.
"Kalian masuk ke alam Devil King, itu adalah kekuatannya, kalian tak akan bisa keluar sebelum membunuh raja setan itu!" Jelas Sora yang menurutku sangat terlambat.
"Kenapa kamu gak jelasin dari tadi?! Sekuat apa setan itu?!" Lanjutku bertanya.
"Rank SSS!" ucapan Sora yang membuatku sedikit terkejut. Pantas saja aku dan Saika yang dikirim ke sini. Nampaknya iblis yang kami hadapi ini benar benar kuat. Triple S, setara dengan kekuatan Takumi. Kalau begitu, kami sudah tak bisa lari lagi. Tak ada pilihan lain selain membunuh raja iblis itu.
__ADS_1
"Senpai," Saika menyenggol pinggangku dan menunjuk ke depan. Aku melihat ribuan pasukan Akame yang siap menyerbu kami, tapi aku masih belum melihat raja iblis yang dimaksud.
"Saika, jangan sampai terluka ...," aku menarik Katana ku keluar dari sarungnya.
"Baiklah Senpai! Aku akan menyerangnya lebih dulu!" Saika terbang ke atas dan bersiap menyerang.
"The Great Blast!!!" Teriak Saika diiringi cahaya biru bersinar terang di tengah perisainya itu. Tak lama kemudian laser biru memancar ke arah ribuan Akame itu dan membuat ledakan yang sangat besar. Ratusan mayat hidup itu terlempar ke udara, yang lainnya masih tetap berdiri dan berjalan perlahan ke arah kami.
"Giliranku!!!" Aku melesat maju dan mulai menebas satu per satu tubuh Akame. Aku mengayunkan pedangku secepat dan sekuat mungkin. Aku melepas beberapa kepala Akame sekaligus. Aku terus mengayunkan Kensetsu ku tanpa henti.
"Senpai!!!" Saika mendarat di sampingku dan ikut bertarung bersamaku. Ia menggunakan perisainya itu sebagai senjata. Ujung piringan perisainya yang tajam itu membuatnya dengan mudah membelah tubuh Akame seperti menggunakan pedang. Kami berdua terus melancarkan serangan dengan berbagai cara. Beberapa menit berlalu, aku bisa melihat jumlah Akame itu mulai berkurang. Kami berdua berjuang sekuat tenaga mengurangi jumlah iblis rendahan itu. Dan tibalah saat saat yang tak kami inginkan, lelah, kami berhenti menyerang dan menarik nafas sejenak.
"Saika, apa kamu masih sanggup?!" Kami saling menyandarkan punggung kami dan menghadap ke sisi yang berlawanan.
"Tentu Senpai!" Seru Saika tegas.
"Seandainya ada cara untuk membunuh mereka semua sekaligus." Aku menggenggam Kensetsu ku kuat kuat dengan nafasku yang masih tak beraturan.
"Aku akan melempar Senpai ke bawah! Bersiaplah!" Saika melemparku ke atas dan membiarkan aku berdiri di atas perisai yang ia angkat di atas kepalanya.
"Ha?! Lalu apa yang harus kulakukan?!" Aku bingung karena aku tak punya serangan jarak jauh bersekala besar dengan Kensetsu ini.
"Senpai lebih kuat dari yang Senpai pikir!!!" Saika menggunakan perisainya untuk mendorongku kembali ke tanah sekuat tenaganya.
Haaa?! Mati aku!!!!
Aku memejamkan mataku dan mulai merasakan kekuatan yang ada di dalam Katana ku. Cepat, sangat cepat, lebih cepat, jauh lebih cepat. Aku bisa merasakanya, aku bisa mengendalikannya. Ini dia, jurus terkuat pedang legendaris milik sang samurai. Aku membuka kedua kelopak mataku kembali.
__ADS_1
"Teknik angin dan api: Thousand Bladeworks!!!" Teriakan pembakar semangatku. Aku merasakan tubuhku seribu kali lebih ringan dari kelopak bunga Sakura. Sebelum kakiku menyentuh tanah, aku sudah menghilang. Bukan menghilang, aku berlari melebihi kecepatan cahaya, aku berlari mengelilingi kerumunan mayat hidup itu. Angin mulai membentuk cincin yang membuat para Akame itu bingung karena tak ada tempat untuk pergi kemana pun. Tak lama kemudian cincin angin itu menjadi sebuah pusaran angin yang membuat para Akame itu berterbangan karena terperangkap tornado besar yang aku buat.
"Aaaaaaagghhh!!!" Aku menghentikan langkah kakiku dan melompat ke udara. Aku memotong setiap tubuh Akame menjadi dua bagian. Satu per satu badan mereka terbelah dan darah hitam mulai menyebar ke segala arah. Aku melakukannya dengan sangat cepat, aku bahkan tak sempat berpikir, tubuhku bergerak lebih cepat dari cahaya, dalam hitungan detik aku berhasil membunuh ratusan Akame yang melayang dalam pusaran angin yang kubuat. Tak sampai di situ saja, bilah Katana ku tiba tiba mengeluarkan api yang sangat besar. Dengan gerakanku yang secepat ini, api dari bilah pedangku bereaksi dengan pusaran angin. Dan sekarang pusaran angin itu sudah menjadi pusaran api yang menghanguskan semua Akame yang ada di dalamnya.
Dengan cepat aku melesat keluar dari pusaran api itu dan mendarat di pasir putih yang lembut ini. Aku menancapkan ujung pedangku ke dalam pasir, perlahan aku kembali berdiri tegak dengan Saika yang sudah berdiri di sisi kiriku.
"Senpai berhasil," Ucap Saika sembari menepuk pundakku.
"Hmm, pertarungan masih belum berakhir." Aku menarik pedangku yang menancap di pasir. Seiring berjalannya waktu, pusaran api raksasa itu lenyap dan hanya menyisakan butiran debu yang melayang di udara. Api itu membakar habis semua yang ada di dalamnya. Dan sekarang kami menunggu boss level ini untuk segera keluar.
"Senpai ...,"
"Saika!"
Suara yang kami dengar dari seberang gurun pasir ini. Kami tak bisa melihat orang yang berdiri di balik debu yang menutupi pandangan ini. Tapi terdengar jelas, bahwa suara itu adalah suaraku dan juga Saika. Lagi lagi, kejutan menghantamku, lihat siapa yang keluar dari kabut itu. Saika dengan zirah merah, dan aku yang memakai jubah merah. Aku terbelalak saat melihat apa yang terjadi sekarang ini. Ini ilusi, pasti hanya ilusi, jangan bilang iblis itu bisa punya kekuatan menirukan orang lain.
"Saika, apa kamu tahu tentang ini?!" Tanyaku bingung.
"Emm, enggak ... sebelumnya belum pernah ada yang selamat setelah melawan Devil King, jadi belum ada yang tahu kekuatan sebenarnya dari iblis itu." Kata kata yang sama sekali tak ku harapkan. Jadi itu juga alasan kenapa kami berdua yang dikirim ke sini malam ini. Jadi misi ini lebih berbahaya dari yang kupikirkan.
"Aku akan melawan diriku yang palsu itu, kamu atasi kembaranmu ya?" Ujarku sembari memikirkan strategi untuk memenangkan pertempuran ini.
"Baiklah Senpai!"
---------------------
Oh ya jangan lupa jaga kesehatan yah ... soalnya virus itu tuh udah mulai menyebar di Indonesia. Buat kalian tetep jaga kesehatan dan selalu cuci tangan. Dan ikutin tips tips kesehatan yang ada.
__ADS_1
Udah gitu aja, makasih banyak.
see you next chapter!